
Suasana penuh kebahagiaan kini memenuhi ruangan perawatan yang cukup mewah itu.
Kelahiran bayi Claudia seolah menjadi sebuah kunci utama akan hadirnya kebahagiaan bagi mereka semua.
Senyum bahagia tak henti-hentinya terpancar dari wanita yang baru mendapatkan gelar ibu baru itu.
Claudia tidak pernah menyangka sebelumnya, jika kebahagiaan seperti ini yang dia rasakan, kehadiran buah hatinya benar-benar telah membawa kebahagiaan baru dalam hidupnya.
Beda halnya dengan Alice yang dari tadi tidak hentinya memperhatikan keponakan barunya itu. Sesekali dia mennoel-noel pipi tembem keponakannya itu. Sepertinya menganggu keponakan cantiknya itu menjadi hobi baru untuknya sekarang.
"Aduh, keponakan Tante ini kenapa tidak bangun-bangun sih, hobi sekali tidurnya Hem," seru Alice dengan menekan-nekan lembut pipi bayinya Claudia.
"Clau? Kamu mau kasih nama siapa buat bayi cantik kamu ini? Kamu sudah persiapkan nama untuk nya kan?" tanya Alice lagi.
"Tentu saja aku sudah Persiapkan nama untuknya. Namanya adalah Arrabella Anastasia," sahut Claudia tersenyum manis saat memandangi wajah cantik bayinya.
"Wow... namanya sangat bagus. Sesuai dengan wajahnya yang cantik. Berarti di panggil Ara benar tidak?" tanya Alice dengan antusias sedangkan Claudia hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Sudah cukup ngobrol nya. Ini ibu bawakan makanan untuk kalian, sebaiknya kita sarapan dulu. Pasti kalian sedang lapar karena belum makan sejak pagi tadi," sahut Ariana yang baru kembali sehabis membeli sarapan di kantin rumah sakit.
"Oh... ya ampun. Aku sampai lupa makan gara-gara melihat keponakan cantik aku ini. Mama emang terbaik. Terima kasih sudah membelikan makanan untuk Alice yang cantik ini," sahut Alice terkekeh.
Sedangkan Claudia dan Ariana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Alice yang heboh hanya karena makanan.
"Mama sudah tau belum, nama anak Claudia?" tanya Alice dengan mulut penuh karena sedang sarapan.
"Alice sayang. Lain kali kalau mau bicara kunyah dulu makanannya jangan langsung bicara tidak sopan mengerti," titah Ariana dengan tegas.
"Sorry ma. Alice janji tidak akan mengulangi lagi." Alice berucap dengan wajah cemberut.
"Emang siapa nama anak kamu Clau?" tanya Ariana dengan wajah penasaran.
"Namanya... Arrabella Anastasia.
Di panggil Ara atau Bella juga bisa ma," sahut Claudia dengan senyum bahagia.
"Nama yang sangat bagus. Tapi kenapa kamu tidak memberikan nama belakang keluarga kamu?" Bagaimana pun dia tetap cucu kandung Daddy kamu?" tanya Ariana dengan heran.
Claudia yang di ingatkan tentang ayahnya merasakan kesedihan, dan teringat dengan keadaan ayahnya itu. Bagaimana pun ayahnya selama ini sudah berlaku kasar terhadap nya, tetap saja dia orang tua kandung satu-satunya yang dia punya.
__ADS_1
Ariana yang melihat Claudia sedih, merasa bersalah karena sudah mengingatkan dia dengan ayahnya itu.
"Maaf clau. Mama tidak bermaksud membuat kamu sedih. Jika kamu tidak mau memberikan nama belakang keluarga kamu juga tidak masalah. Nama yang kamu berikan juga bagus kok sayang, jadi jangan di pikirkan ucapan mama tadi ya sayang." Ariana berucap seraya memeluk tubuh Claudia.
Akhirnya tangis yang sejak tadi dia tahan langsung saja tumpah begitu saja... Hiks... Hiks...
"Aku kangen sama Daddy ma. Bagaimana pun sikap Daddy selama ini sama aku.
"A... aku... Hiks... Hiks... aku tetap sayang sama Daddy ma.
"Aku takut Ara di hina dan dibenci karena memberikan nama belakang Daddy. Apalagi kalau mereka tahu Ara lahir di luar nikah pasti Daddy malu punya cucu yang lahir di luar nikah.
"Dan Aku tidak akan sanggup, kalau Ara sampai di sebut sebagai anak haram hanya karena dia tidak memiliki ayah. Tidak ma... Hiks... Hiks... lebih baik Ara hanya mengenal kita saja. Aku tidak akan sanggup melihat hati Ara hancur karena di tolak kehadiran nya oleh kakeknya sendiri.
"Aku... Hiks... Hiks... aku tidak sanggup Ara di caci maki dan di permalukan oleh Daddy dan juga keluarga barunya itu," ujar Claudia seraya terisak.
Saat membayangkan anaknya di sebut anak haram, hati ibu mana yang tidak akan sedih dan hancur saat anak yang kita kandung selama sembilan bulan di hina dan lebih parah lagi di tolak oleh kakek kandung nya sendiri.
Alice, yang sedari tadi mendengar nya merasa sedih dan iba terhadap nasib yang di alami Claudia selama ini. Dia tidak menyangka nasib Claudia lebih menyedihkan di bandingkan dengan hidupnya selama ini yang hanya tinggal di panti asuhan. Setidaknya hidupnya tidak pernah merasakan penyiksaan dan di benci oleh ayahnya sendiri.
"Sudah sayang jangan menangis lagi, kamu tidak sendiri masih ada kami yang akan menjaga kamu serta merawat bayi kamu ini," ujar Ariana seraya memberikan semangat pada Claudia.
"Wah... anak mommy sudah bangun ya. Pintarnya anak mommy," ujar Claudia saat mengangkat Ara dalam pangkuan nya.
"Benar. Ara emang anak yang pintar dia tahu ibunya sedang sedih makanya dia tidak menangis. Kalau bayi lain mungkin sudah menangis dari tadi," ujar Ariana dengan antusias saat melihat Ara yang anteng dalam pangkuan ibunya.
"Yang dikatakan mama benar banget. Ara anak yang pintar dan juga cantik, aku yakin kalau dia sudah besar nanti pasti akan menjadi rebutan para laki-laki," ujar Alice seraya terkekeh geli saat mendengar perkataan nya sendiri.
•
•
•
Waktu terus berlalu, hari-hari menuju kebahagiaan sejati kini masih terus mendesak.
Hari yang di nanti-nantikan pun telah tiba, tanpa terasa sudah satu Minggu lamanya Claudia dan juga baby Ara telah berada di rumah sakit.
"Ayo, kalau semuanya sudah siap, kita berangkat sekarang," seru Ariana pada semua orang yang ada di ruangan rawat Claudia.
__ADS_1
Akhirnya mereka semua pulang ke rumah yang selama ini mereka tempati. Tak lupa pastinya baby Ara, yang berada di box bayi itu sudah siap mengikuti perjalanan. Dan ini perjalanan pertama bagi baby Ara.
Sedangkan Claudia sudah berada di atas kursi roda meski kondisi dirinya sudah pulih dan lebih baik. Namun tetap saja Ariana dan Alice tidak ingin Claudia kelelahan karena berjalan.
Beberapa Jam Kemudian
Sebuah mobil berwarna hitam milik Claudia, kini sudah nampak menyinggahi kediamannya. Dan akhirnya mereka semua sampai juga di rumah yang mereka tempati selama ini.
Rumah Claudia
"Hallo baby Ara. Kita sudah sampai di rumah mommy. Pasti kamu senang bisa tinggal di rumah mommy Hem?" tanya Claudia dengan mennoel-noel pipi gembul baby Ara yang sedang asyik terlelap itu.
"Tentu saja baby Ara senang tinggal di sini. Apalagi kalau ada Tante cantik seperti aku ini. Aku akan mengajarkan dia menjadi wanita yang pandai memikat laki-laki kaya untuk di jadikan ATM berjalan," sahut Alice dengan percaya diri dengan misinya itu akan berhasil.
Bruk
"Aduh..." Alice berteriak karena kesakitan.
"Sakit ma. Kenapa Alice di pukul sih?" tanya Alice dengan cemberut.
"Jangan pernah berani mengajarkan cucu mama melakukan hal yang tidak benar. Awas kalau sampai mama tahu kamu memberikan pengaruh buruk pada cucu cantik mama ini, " ancam Ariana dengan tegas.
"Sorry ma. Aku hanya bercanda tadi. Mana mungkin aku tega mengajarkan keponakan cantik aku ini menjadi wanita matre," ujar Alice dengan cepat.
Sedangkan Claudia yang melihatnya hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka itu.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam. Tidak baik Baby Ara terlalu lama ada di luar rumah," ujar Ariana yang di jawab anggukan kepala oleh mereka seraya pergi dari sana.
•
•
•
Bersambung......
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1