
Di Ruangan Kerja Maxim Almero
"Sayang? Kenapa kamu lama sekali datang ke sini? Kamu tahu aku sudah lama menunggu kamu di sini," ujar Maxim seraya memasang wajah pura-pura marah.
"Maaf mas, tadi aku lagi sibuk di restoran." Alice merasa bersalah karena sudah membuat suaminya menunggu terlalu lama.
"Tidak apa-apa, yang penting kamu sudah datang ke sini," ujar Maxim seraya menuntun istrinya menuju ke arah sofa yang ada di dalam ruangan kerjanya.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Maxim dengan lembut.
"Belum mas, aku sengaja ingin makan siang dengan kamu. Makanya aku bawakan kamu makan siang biar kita bisa makan bersama," ujar Alice seraya menaruh makanan yang dia bawa dari restoran nya.
"Ahhh, kamu tahu saja aku lagi lapar. Ayo kita makan biar kamu ada tenaga nanti saat kita melakukan itu," ujar Maxim seraya menggoda istrinya.
Mendengar perkataan Maxim membuat Alice salah tingkah. Bahkan wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus. Padahal dia sudah sering mendengar suaminya bicara mesum seperti itu tapi dia masih saja malu saat mendengarnya.
"Kenapa wajah kamu merah seperti itu sayang?" tanya Maxim pura-pura polos padahal dia sangat tahu kalau istrinya sedang malu saat ini gara-gara ulahnya.
"Tidak apa-apa mas," balas Alice dengan tenang agar suaminya tidak tahu kalau dia sedang malu.
"Ya, sudah. Lebih baik kita makan saja aku sudah lapar sedari tadi," ujar Maxim yang di tanggapi anggukan kepala oleh Alice.
Beberapa Menit Kemudian
"Bagaimana sayang? Apa kamu sudah siap melakukan hubungan suami istri dengan aku?" tanya Maxim yang sudah di selimuti kabut nafsu yang sedari pagi belum dia tuntaskan.
"Siap mas," balas Alice dengan wajah merona malu.
Mendengar jawaban istrinya tanpa kata apapun Maxim langsung saja menggendong istrinya menuju kamar yang ada di ruangan kerjanya dan meletakkan istrinya di atas ranjang dengan perlahan.
Maxim yang sudah di penuhi kabut gairah langsung saja melancarkan aksinya. Alice hanya bisa mengigit bibirnya dan memejamkan mata saat jemari Maxim menelusup ke *** *** dan mencari-cari milik istrinya yang sensitif. Dia sangat tahu dimana letak kelemahan istrinya. Dia sengaja melakukan itu untuk membuat istrinya ikut larut terbakar dalam gairah.
"Mmmhh..." Alice melenguh dan meliukkan pinggulnya dengan sensual.
Maxim harus memastikan istrinya agar terangsang dan basah terlebih dahulu sebelum memulai inti permainan cintanya. Jemarinya menekan dan memutar daging sebesar biji kacang itu dengan liar dan nakal.
"Uuuhh..." Kaki Alice gemetar saat menerima rangsangan dari suaminya yang semakin menjadi.
Maxim memasukkan dua jarinya ke dalam milik istrinya dan **** perlahan. Tangannya yang satu lagi **** buah melon Alice dan sesekali **** istrinya. Alice mendesah manja sambil meliukkan pinggulnya dengan lebih cepat.
__ADS_1
Permainan jari Maxim selalu sukses membuatnya menggeliat kepanasan. Semakin Alice terangsang, maka Maxim juga akan semakin bersemangat melancarkan aksinya.
Saat Maxim menarik tangannya dari milik Alice, dia merasakan cairan bening yang licin membasahi organ kewanitaan istrinya. Alice telah basah dan siap untuk menerima tusukan milik suaminya yang sedari tadi sudah sesak di balik ****.
"Here we go, honey," ujar Maxim, lalu dia segera melakukan itu ke dalam milik istrinya hingga terbenam.
Alice tidak dapat menahan desahannya saat miliknya di penuhi oleh milik suaminya yang keras, besar, dan panjang. Alice menengadah pasrah dan menikmati sensasi ngilu dan nikmat yang kini menjalari setiap saraf tubuhnya.
"Pelan-pelan mas," ujar Alice lirih.
"Kamu sempit sekali, dan aku sangat suka... sayang," balas Maxim yang merasa puas dengan milik istrinya.
Alice menatap suaminya dengan tatapan sayu, pasrah, dan mendamba akan sentuhan suaminya.
"Ya Tuhan, tatapan mu saja sudah membuatku gila," ujar Maxim.
Kemudian Maxim semakin dalam menenggelamkan miliknya ke dalam milik istrinya demi membuat istrinya semakin mendesah kenikmatan. Wajah Alice yang sedang hanyut dalam gairah menjadi keindahan tersendiri yang membuat nafsu Maxim semakin bergejolak naik.
Alice terus mendesah tanpa jeda. Tubuhnya terguncang dalam kenikmatan yang hanya di dapatkan dari Maxim suaminya sendiri.
Setelah berlangsung hampir tiga puluh menit itu kemudian Maxim akhiri dengan hentakan kuat dan sangat dalam.
"Thank you, honey," bisik Maxim seraya tersenyum puas.
Alice hanya membalas dengan anggukan pelan, tangan Alice mengelus rahang suaminya dengan pelan, rambut Maxim yang acak-acakan jatuh di keningnya membuat laki-laki itu tampak semakin mempesona.
"Tampannya suami aku." Puji Alice terhadap Maxim.
"Benarkah?" tanya Maxim kurang percaya.
"Ini memang fakta dan semua orang mengakuinya mas," ujar Alice.
"Bagiku, pujian darimu jauh lebih berharga dari apapun. Aku sangat senang dan benar-benar merasa tersanjung," ujar Maxim.
Kemudian di ciumnya bibir Alice sebentar.
Setelah itu Maxim langsung beranjak ke kamar mandi yang ada di dalam ruangan pribadinya. Sedangkan Alice hanya menyelimuti dirinya karena dia tidak tahu harus memakai apa, karena pakaian yang dia pakai tadi sudah di robek oleh suaminya hingga tidak berbentuk.
Beberapa Menit Kemudian
__ADS_1
Cklek
"Apa kamu tidak mau mandi honey?" tanya Maxim dengan penasaran.
"Aku juga ingin mandi. Tapi, bagaimana dengan pakaian ku? Aku tidak mungkin memakai pakaian yang sudah robek itu," ujar Alice seraya menunjuk ke arah pakaian yang di robek oleh Maxim.
Mendengar perkataan istrinya membuat Maxim menahan tawanya agar tidak keluar. Dia tidak sadar telah merusak pakaian istrinya.
"Lebih baik kamu mandi saja, masalah pakaian biar menjadi urusan ku," ujar Maxim yang di tanggapi anggukan kepala oleh Alice.
Dreet... Dreet... Dreet...
π "Hallo? Ada apa tuan? Apa bisa saya bantu?" tanya Jessica sekretaris Maxim Almero.
π "Belikan pakaian nganti untuk istri ku sekarang juga," titah Maxim dengan tegas.
π "Baik tuan," balas Jessica seraya mematikan smartphone nya.
"Untuk apa tuan Maxim menyuruh ku membelikan pakaian nganti untuk istrinya? Apa mereka sedang melakukan hubungan suami istri? Ahh... kenapa aku jadi kepo begini sih? Lebih baik aku laksanakan perintah tuan Maxim dari pada terkenak masalah nanti," ujar Jessica segera melakukan perintah atasannya.
Beberapa Menit Kemudian
Cklek
"Bagaimana sayang? Apa pakaian aku sudah ada?" tanya Alice dengan penasaran.
"Tunggu saja di sini. Jika sudah ada akan aku kasih nanti," titah Maxim dengan lembut.
Sebenarnya dia ingin sekali menerkam istrinya lagi saat melihat keadaan Alice yang hanya memakai handuk sebatas dada sehingga buah melon nya hampir keluar. Tapi dia terpaksa memendam nafsunya agar tidak membuat istrinya kelelahan gara-gara melayani nafsunya yang sangat besar.
"Baik mas," balas Alice dengan singkat.
β’
β’
β’
Bersambung....
__ADS_1
πΏπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌπΌβοΈ