
Pagi ini cuacanya sangat cerah dan indah. Sama halnya dengan perasaan Ara saat ini yang sangat senang dan bersemangat untuk pergi ke moll sesuai janji Claudia kemarin.
"Ara sayang kamu mau pergi kemana? Kenapa cucu oma yang cantik ini sudah cantik begini?" tanya Ariana dengan suara lembut.
"Emang na kemalin-kemalin Ala ndak antik begitu?" tanya Ara dengan wajah kesal.
"Maksud oma bukan begitu sayang. Tapi Ara hari ini lebih cantik dan seksi," ujar Ariana.
"Tentu Ala halus selalu telihat antik oma. Kalena Ala calon model telkenal jadi Ala halus selalu melawat kulit Ala agal ndak usam dan jelek," ujar Ara.
"Wah... pintar nya cucu oma. Emangnya Ara mau pergi kemana sayang? Kenapa Ara sudah rapi seperti ini?" tanya Ariana dengan kening mengkerut.
"Ala mau pelgi ke moll oma. Jadi Ala halus antik, bial ndak maluin kalau pelgi ke tempat lamai cepelti itu. Macak calon model telkenal jelek sih," ujar Ara dengan sombongnya.
Ariana yang mendengar perkataan Ara hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Kalau mau di nasehatin juga percuma. Yang ada Ara malah membenci dirinya. Jadi yang perlu dia lakukan hanya bersabar menghadapi sifat Ara yang menyebalkan ini.
"Sabar Ariana... Sabar. Tahan emosi kamu. Jika tidak mau Ara ngambek dan malah membenci kamu," batin Ariana.
"Hallo anak nakal. Senang ya... habis manfaatin mommy nya? Masih kecil saja sudah jadi cewek matre. Dasar bocah cadel," ujar Alice dengan wajah sinis.
"Maksud kamu apa Alice? Emangnya siapa yang Ara manfaatin?" tanya Ariana dengan penasaran karena kemarin dia tidak mendengarkan pembicaraan mereka.
"Tanya saja sama cucu kesayangan mama, " ujar Alice.
"Apa maksud perkataan aunty Alice sayang?" tanya Ariana dengan suara lembutnya.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Tenapa aunty Lilis jadi olang ILi banget? Dengal ya aunty Lilis. Kita itu ndak boleh jadi olang sombong apalagi ILi cama olang lain. Helan deuh Ala cama aunty Lilis. Keljaan na selalu ikut campul ulusan olang. Membuat Ala Kesal saja," ujar Ara.
"Hey bocah. Kenapa kamu selalu menyalahin aunty? Apa kamu tidak sadar yang dari tadi menyombongkan diri itu kamu bukannya aunty Alice," sahut Alice dengan wajah kesal.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Dengal ya aunty Lilis. Ala itu ndak ada sedikitpun puna niat untuk jadi olang sombong. TapiAlla bicala itu sesuai kenyataan kalau Ala emang anak yang sangat antik dali pada kalian semua.
"Apa salah Ala memiliki cita-cita menjadi model telkenal? Kenapa aunty Lilis selalu menghina Ala? Sakit sekali hati Ala... Hiks... Hiks... Tenapa batin Ala selalu sakit dan teltekan... Hiks... Hiks..." Ara berucap seraya menepuk hatinya yang sakit.
"Kenapa aku selalu sial saat berdebat dengan bocah licik ini? Padahal dia sendiri yang menjadi orang sombong. Tapi dia malah menyalahin aku lagi," batin Alice.
"Sudah cukup berdebat nya. Mama pusing dengarin kalian bertengkar sejak tadi," sahut Ariana dengan cepat.
"Ini bukan salah Ala oma. Tapi salah aunty Lilis yang selalu ajak Ala beltengkal," kata Ara yang tak mau disalahkan.
Alice yang mendengar perkataan Ara hanya memutar bola matanya malas.
"Sekarang Ara jawab pertanyaan oma tadi? Siapa orang yang Ara manfaatin?" tanya Ariana.
__ADS_1
"Tentu saja mommy oma. Itu bukan salah Ala tapi salah mommy yang jadi olang pelit. Jadi Ala ndak salah kalau sekali-kali minta di belikan balang mahal cama mommy."
"Kapan lagi Ala meminta cama mommy kalau bukan cekalang.? Helan deuh Ala... Tenapa mommy bisa jadi olang kaya? Apa kalena mommy jadi olang pelit?" tanya Ara yang membuat Ariana melongo saat mendengar perkataan cucunya yang bermulut pedas itu.
"Siapa yang kamu sebut pelit?" tanya Claudia seraya berjalan ke arah mereka.
"Sudah lah mommy. Dali pada mommy menanyakan itu. Lebih baik kita pelgi ke moll saja. Bial kita ndak telat pelgi na," sahut Ara dengan cepat sebelum Alice mengadu pada Claudia.
"Pintar sekali anak ini mengalihkan pembicaraan. Apa dia tahu aku mau mengadukan perbuatan nya pada Claudia? Aku tak menyangka bocah ini benar-benar licik," batin Alice.
Mendengar perkataan Ara, Claudia langsung mengiyakan ucapan anaknya." Baiklah. Kak Al... sebaiknya kita pergi sekarang juga," ujar Claudia seraya mengandeng tangan mungil Ara.
"Ma... kami pergi dulu," ujar Alice.
"Oke. Hati-hati di jalan," ujar Ariana dengan cepat.
*
*
Beberapa Jam Kemudian
Saat ini mereka semua sudah sampai di moll terbesar yang ada di kota California Amerika serikat.
"Ara mau beli apa dulu sayang?" tanya Claudia.
"Lebih baik kita beli bajuna dulu mommy," ujar Ara dengan antusias.
"Permisi nona... nona kecil! Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya pelayan toko itu.
"Tentu saja aunty. Ala mau aunty ambilin Ala pakaian kelualan Balu cekalang juga," titah Ara dengan tegas.
"Baik nona kecil. Saya akan ambilkan pakaiannya," ujar pelayan itu seraya mengambilkan pakaian yang Ara minta.
Beberapa Menit Kemudian
"Ini baju yang nona kecil minta," ujar pelayan itu seraya memberikan pakaian pada Ara.
"Apa aunty yakin ini pakaian mahal?" tanya Ara dengan kening mengkerut.
"Tentu saja nona kecil. Ini pakaian yang mahal," ujar pelayan itu.
"Iya Ala tahu ini mahal. Tapi ini bukan balang paling mahal di sini. Aunty sengaja mau menipu Ala, atau mungkin aunty belpikil Ala ndak sanggup bayal. Makana aunty kasih Ala balang jelek kayak gini," kata Ara dengan tatapan tajamnya.
"Astaga... Bagaimana mungkin anak ini bisa tahu kalau aku memberikan dia barang keluaran lama," batin pelayan itu.
"Hey bocah. Kamu seharusnya sadar diri. Orang miskin saja sok-sokan mau membeli barang brended. Kamu itu lebih cocok pakai pakaian murah kayak gitu. Masih kecil saja sudah sombong. Kayak kamu punya uang saja," ujar pelayan itu dengan tatapan meremehkan.
__ADS_1
Claudia yang mendengar pelayan itu menghina anaknya tidak tinggal diam. Saat ingin menjawab perkataan pelayan itu langsung di hentikan oleh Ara dengan cara menggelengkan kepalanya. Hingga membuat dia langsung terdiam.
Sementara Alice yang sudah tahu sifat Ara hanya bisa menarik nafas pasrah. Karena dia sudah tahu sebentar lagi pertunjukan drama akan segera di mulai.
"Sepertinya pelayan ini mau cari mati? Dia tidak tahu saja kalau bocah ini bukanlah bocah biasa. Kita lihat saja drama apa lagi yang akan di buat oleh si ratu kita Arrabella," batin Alice.
"Apa aunty ini mau cali gala-gala dengan Ala? Kita lihat saja aunty. Apa yang bisa Ala lakukan padamu. Oke, saatnya belaksi," batin Ara dengan seringai liciknya.
"Ihhh, pucing pala Ala..."
"Apa yang aunty katakan? Tenapa aunty halus menghina Ala cepelti itu? Ala tahu kalau Ala... bukanlah olang kaya. Tapi... Hiks... Hiks... Tenapa aunty halus bicala dengan kasal cepelti itu?"
"Lihat semua na. Olang cepelti ini ndak pantas bekelja di sini. Kalena menulut Ala... dia salah satu olang sombong. Kalian tahu apa yang dia katakan cama Ala? Dia menyebut Ala sebagai pengemis yang lebih cocok membeli baju di pinggil jalan.
"Coba kalian semua bayangkan. Jika ini menimpa kalian semua na. Apa hati kalian ndak sakit... Hiks... Hiks... Ala tahu. Ala... cuman olang miskin yang ingin memiliki baju Balu yang mahal juga.
"Kalena Ala... Hiks... Hiks... belum pelnah melasakan memakai baju mahal kelualan Balu. Kelena mommy Ala cuman bekelja sebagai penjual kue keliling.
"Dan Balu cekalang mommy bisa mengumpul uang buat ajak Ala beli baju Balu di sini. Bahkan Ala, sengaja ndak makan selama seminggu agal Ala bisa beli baju disini... Hiks... Hiks..."
"Tapi... Hiks... Hiks... pada saat Ala... mau meminta baju mahal. Aunty ini malah menghina Ala. Dan lebih kejam lagi. Aunty ini malah mengusil Ala dali moll ini. Sakit hati Ala... Hiks... Hiks... Tenapa semua olang membenci Ala? Apa Ala... ndah belhak bahadia?" tanya Ara seraya terisak.
Mereka yang mendengar perkataan Ara merasa kasihan dan Air matanya mengalir begitu saja dari pipinya saat melihat Ara menangis seperti itu.
"Dasar pelayan rendahan..."
"Pelayan tidak tahu diri..."
"Seharusnya pelayan itu yang di usir dari sini. Bukan malah anak kecil yang lugu dan polos seperti itu..."
"Benar. Baru jadi pelayan saja sudah sombong..."
"Pelayan tidak punya hati..."
"Pecat saja pelayan itu..."
Itulah Umpatan-umpatan dari orang-orang yang berlalu lalang di moll tersebut. Mereka tidak menyangka ada pelayan yang tega bertindak kurang ajar dengan anak kecil yang masih suci dan polos seperti itu. Apa karena anak ini berasal dari kalangan bawah.
Claudia yang melihat apa yang telah di lakukan oleh anaknya hanya bisa melongo dan juga terkejut. Karena yang di lakukan oleh Ara sungguh di luar pemikiran dia. Bahkan orang-orang yang tidak tahu apa permasalahan nya, malah berbondong-bondong membela Ara.
Sementara pelayan yang tadi membuat ulah dengan Ara malah terkejut. Sekaligus sangat malu dan dia menyesal karena sudah membuat masalah dengan anak ini. Dia tidak menyangka anak kecil ini bisa mempermalukan dia lebih kejam dari pada saat dia yang menghina anak ini tadi.
•
•
•
__ADS_1
Bersambung.....
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁