
Di Mansion Alexander Lemos
"Hallo sayangnya daddy, lagi ngapain di dalam sini?" tanya Alex sambil menempelkan telinga ke perut sang istri tercinta.
"Sepertinya dia lagi kangen sama daddy nya," jawab Claudia seraya tersenyum.
"Benarkah?" Alex mengangkat kepalanya untuk menatap istrinya.
"Buktinya dia tidak bisa diajak tidur sebelum daddy nya pulang," ujar Claudia.
Alex tertawa kecil dan mencium perut Claudia dengan gemas. Di Kehamilan memasuki bulan ke tujuh, perut Claudia sudah terlihat membuncit dan mereka hanya perlu menunggu dua bulan lagi maka bayi mereka akan segera lahir ke dunia ini. Dia tidak sabar menunggu kelahiran anak kedua mereka dan dia sangat penasaran apa jenis kelamin anak kedua mereka apa akan di berikan bayi perempuan lagi atau laki-laki. Jika seandainya di berikan bayi perempuan lagi dia tetap bersyukur yang penting anak dan istrinya sehat.
Setiap malam, Claudia akan menunggu Alex pulang terlebih dahulu, barulah dia bisa tidur dalam pelukan suaminya. Bahkan saat Alex terpaksa pulang telat sekali pun, maka Claudia tetap akan terjaga hingga larut malam.
"Daddy juga kangen," ujar Alex sambil terus mengelus perut istrinya dengan lembut. Di tatapnya Claudia dengan sorot mata penuh damba." Jadi, bolehkah kita saling melepas rindu malam ini, mommy?" tanya Alex dengan penuh harap.
"Bagaimana caranya?" tanya Claudia dengan lagak pura-pura tidak tahu.
Alex menurunkan tali gaun tidur Claudia dari bahunya, lalu berkata," Pertama-pertama, lepas dulu kain ini. Nanti kutunjukkan cara selanjutnya," ujar Alex dengan tatapan menggoda.
"Hanya kain ini saja yang harus kulepas?" Claudia tak mau kalah dengan suaminya sehingga dia balik menggoda suaminya dengan mata genit.
Melihat tingkah istrinya membuat Alex semakin bernafsu dan dia ingin bisa secepatnya melakukan itu dengan istrinya. Jujur saja setiap hari berdekatan dengan istrinya dia tidak bisa menahan nafsunya dan dia ingin selalu melakukan itu kalau perlu setiap hari.
"Iya, Karena kain penghalang selanjutnya aku sendiri yang akan menyingkirkan nya," ujar Alex.
Claudia tertawa dengan wajah merah. Setelah itu dia menuruti keinginan suaminya dan pasrah saat Alex menguasai tubuhnya.
"Ingat, jangan terlalu keras nanti membahayakan anak kita," ujar Claudia memperingati suaminya yang telah dikuasi hasrat membara.
"Tenang saja, sayang. Aku tidak akan menyakiti kalian berdua," bisik Alex dengan nada sensual.
Claudia mengangguk percaya pada suaminya. Selama masa kehamilannya, Alex selalu memperlakukan Claudia dengan lembut dan penuh cinta. Gerakannya tidak terlalu memburu atau menggebu seperti sebelum hamil.
Claudia harus mengakui bahwa suaminya sangat baik dalam hal pengendali diri. Alex tahu kapan harus berhenti saat Claudia sudah kelelahan tanpa pernah menggerutu.
Claudia juga tidak pernah ragu membuka lebar kedua kakinya demi memuaskan segala hasrat suaminya. Bahkan dalam keadaan hamil sekali pun, Claudia tak pernah abaikan dari kewajiban utamanya sebagai istri Alexander.
"So big, daddy," gumam Claudia saat Alex menusukkan burungnya dengan gerakan perlahan ke dalam va gi na istrinya.
"You"re so tight," balas Alex dengan tatapan memuja begitu dalam.
__ADS_1
Alex senang sekali saat Claudia memanggilnya dengan sebutan daddy begitu. Tampak menggemaskan dan membuat hasratnya semakin naik tinggi.
"Ahhh..." desah Claudia saat Alex menggerakkan pinggulnya dan menusuk va gi na Claudia dengan gerakan yang memberikan kenikmatan.
"Cantiknya istriku," puji Alex di sela-sela percintaan mereka. Menatap Claudia yang sedang pasrah menikmati sentuhannya adalah sebuah kesenangan tersendiri bagi Alex.
"Ohhh..." Claudia memejamkan matanya dan menikmati sentuhan Alex yang menjamah tubuhnya dengan liar namun terkendali.
Setiap sentuhan Alex mampu membawanya pada kenikmatan yang tak bisa diucapkan melalui kata-kata. Bagi Alex, tubuh Claudia seperti sesuatu yang memang diciptakan khusus untuknya. Dia tidak akan bisa berpaling dari sosok istrinya yang begitu sempurna.
"Mmmmhhh..." Claudia mengeluh manja saat gerakan Alex mulai semakin cepat dan membawanya ke puncak tertinggi kenikmatan dalam bercinta.
"Ahhhh..." ******* Claudia membuat Alex semakin bernafsu.
Alex me re mas gun du ngan da da Claudia dan me mi lin pu ting nya dengan gemas. Membuat Claudia semakin kelojotan dan menjerit untuk menyuarakan kenikmatan yang diterimanya.
"Mass..." pekik Claudia dengan suara mendayu manja.
Alex merasakan kedutan di va gi na istrinya semakin me re mas burungnya dan menghadirkan kenikmatan ibarat nya surga. Alex menengadah dan mendesahkan nafas berat.
"Uhhh... Mass..." Claudia kembali menjerit tak tertahankan. Alex tahu istrinya sebentar lagi akan segera orgasme. Alih-alih berhenti, Alex justru semakin mempercepat gerakannya.
"Tunggu, sayang," ujar Alex dengan nafas memburu dan gerakan semakin cepat.
Setelah mereka sama-sama mendapatkan orgasme, Alex menyudahi permainannya tanpa meminta ronde kedua. Tidak lupa, dia membersihkan va gi na istrinya sebelum merebahkan diri sambil memeluk Claudia.
"Besok aku boleh jalan-jalan ke mall, nggak?" tanya Claudia.
"Kalau kamu tidak kecapekan, silahkan saja. Tapi ajak Alice biar kamu ada temannya," jawab Alex.
"Terima kasih, mas," balas Claudia dengan senyum merekah. Diciumnya pipi Alex dan memeluk suaminya dengan erat.
Alex hanya mengulas senyum tipis melihat tingkah istrinya yang tampak mengemaskan. Diciumnya puncak kepala Claudia dengan penuh rasa sayang, lalu mereka memejamkan mimpi setelah puas bercinta.
•
•
•
Keesokan harinya, Claudia langsung mengajak Alice untuk pergi ke pusat belanjaan.
__ADS_1
Setelah menempuh beberapa jam akhirnya mereka sampai juga di mall terbesar yang ada di negara ini.
"Kak Al, ayo kita jalan-jalan sekalian belanja," ujar Claudia pada Alice kakak angkat nya.
"Iya, jalannya pelan-pelan saja aku tidak mau sampai terjadi sesuatu pada kehamilan kamu nanti," ujar Alice dengan perasaan khawatir takut terjadi sesuatu pada adiknya.
"Sudah lama aku nggak belanja sendiri," ujar Claudia dengan wajah yang sangat antusias.
"Iya, aku juga. Setelah aku hamil mas Maxim selalu melarang aku untuk pergi ke luar dia sangat takut jika terjadi sesuatu pada kami," ujar Alice.
"Wah, itu artinya kak Maxim sangat cinta pada kak Alice itu buktinya dia sangat menjaga kalian berdua agar tidak terjadi sesuatu pada kalian," ujar Claudia.
"Iya, kamu benar juga, mas Maxim benar-benar sangat menjaga kami dengan sangat baik bahkan dia tidak membiarkan aku melakukan sesuatu karena dia takut jika kami sampai terluka," ujar Alice yang merasa bersyukur memiliki suami yang sangat baik dan penuh perhatian seperti suaminya.
"Bukannya itu bagus jika suami peduli pada istri dan anaknya. Jadi kita bisa tenang dan tidak curiga kalau suami kita memiliki selingkuhan di belakang kita," ujar Claudia yang di benarkan oleh Alice.
"Ayo kita masuk ke dalam," ujar Alice seraya menuntun adiknya untuk memasuki moll terbesar di negara ini.
"Kamu mau beli apa Clau? Aku lihat sedari tadi kamu tidak ada satupun barang yang kamu beli?" Alice merasa kesal pada adiknya yang sedari tadi keluar masuk ke dalam toko tetapi tidak membeli satu barang pun.
"Aku juga tidak tahu mau beli apa kak," jawab Claudia dengan polos.
Mendengar perkataan Claudia membuat Alice ingin sekali menendang bokong adiknya. Jadi sedari tadi mereka keluar masuk toko satu ke toko lain karena tidak tahu mau membeli apa. Oh Tuhan, menyesal Alice mau menemani adiknya pergi ke moll jika dia tahu akan terjadi seperti ini lebih baik dia tiduran di rumah dari pada di buat capek seperti ini oleh adiknya.
"Kalau kamu tidak tahu mau membeli apapun kenapa kamu mengajak aku pergi ke moll hah?" tanya Alice dengan penuh emosi.
"Itu karena aku bosan di mansion makanya aku mengajak kak Alice ke moll biar kita bisa jalan-jalan," jawab Claudia dengan wajah tanpa dosa.
"Jika kamu tidak ada yang ingin kamu beli lebih baik kita pulang saja, aku capek sedari tadi menemani kamu keliling moll ini," ujar Alice yang lebih baik pulang dari pada di buat capek oleh adiknya lagi.
"Oke, aku juga sudah puas jalan-jalan nya," balas Claudia seraya pergi dari sana.
Sedangkan Alice hanya geleng-geleng kepala saat melihat tingkah laku adiknya. Walaupun dia di buat kesal oleh adiknya tetap saja dia tidak bisa marah karena dia sangat sayang pada adiknya. Mungkin saja itu bawaan bayi yang ingin jalan-jalan agar tidak bosan terkurung di dalam mansion terus. Setelah itu mereka langsung pergi dari sana menuju mansion Alexander Lemos.
•
•
•
Bersambung...
__ADS_1
🌿🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌿