Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 103


__ADS_3

Bunyi deru mobil tiba-tiba melaju dengan kecepatan tinggi melewati mobil Leila, sehingga mereka bisa melihat siapa yang datang dan ternyata itu adalah Sandro dan Rian yang datang bersama 2 mobil pengawal mereka.


Sandro tiba-tiba memutar balik mobilnya sehingga berhadapan langsung dengan mobil Leila yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi menuju mereka.


Ia mengangkat tangannya memberi isyarat kepada Maya untuk menyingkir dari hadapannya yang dipahami oleh Maya, sedangkan Rian ia mengeluarkan tangan sebelahnya dari jendela mobil sambil menodongkan pistol ke arah mereka.


“Apa yang mau mereka lakukan non Maya?” tanya pak Toni dengan panik.


“Sesuatu yang seru pak Toni! Hehehe” jawab Maya sambil terkekeh.


“Apas kamu sudah gila Maya! Cepat suruh mereka menyingkir dari sana Maya!” bentak Leila dengan suara tinggi tak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh ketiganya.


“Tenang saja nona kita akan baik-baik saja” ucap Maya dengan santai.


“Hentikan mobilnya Maya!” teriak Leila dengan suara tinggi.


Maya seakan tuli dan tetap melajukan mobil mereka dengan kecepatan tinggi, membuat wajah pak Toni dan Leila sampai pucat didalam sana karena mereka akan menabrak mobil Sandro dan Rian.


Arrrgghhhh…………………


Suara teriakan Leila dan pak Toni melengking didalam sana hingga terdengar keluar, membuat Sandro dan Rian menggelengkan kepala mereka tak habis pikir dengan kelakuan keduanya dan mereka yakin ini semua pasti karena Maya.


Cekittt…………….


Dor…………….dor……………..dor…………..dor…………


Duar………………


Bunyi decitan ban terdengar jelas disana bersamaan dengan bunyi tembakan yang dilakukan oleh Rian barusan ke arah mobil van di belakang mobil pengawal Leila, dan tak berapa lama mobil yang ditembak Rian tadi seketika meledak menyisakan 2 mobil van lagi.


“Tembakan yang bagus dude” puji Sandro sambil tersenyum lebar.


“Jangan senang dulu masih ada 2 lagi” ucap Rian sambil menunjuk ke depan dengan dagunya.


“Ckk!! Mereka ingin mengantar nyawa mereka hari ini” decak Sandro dengan tatapan kesal.


“Giliran kamu dude dan usahakan selesaikan dengan cepat karena aku ingin segera pulang dan beristirahat” ucap Rian dengan suara dingin.


“Cih! Sialan kamu” sarkas Sandro dengan sinis.


Rian tidak perduli dan duduk dengan tenang melihat 2 mobil van didepan mereka yang diam tidak melakukan apapun membuat ia merasa ada yang ganjal.


Sandro sendiri sudah keluar dari dalam mobil bersama anak buahnya untuk membereskan musuh didepan mereka. Ia melirik Jeki untuk menembak kaca mobil tersebut tapi saat Jeki akan menembak mobil itu tiba-tiba ada bendera putih keluar dari dalam mobil.


“Tahan tembakan kalian semua dan tetap siaga” ucap Sandro dengan suara lantang.


Pintu mobil bagian sopir terbuka dan keluarlah seorang perempuan sambil memegang bendera putih tanda menyerah, membuat Sandro dan lainnya menatapnya dengan bingung.


“Perempuan” ucap Sandro dengan kaget sambil berbalik menatap Rian di belakang dengan bingung.


“Jangan tembak aku. Aku hanya ingin lewat jalan ini karena macet tadi” teriak perempuan tadi dengan suara bergetar ketakutan.


“Bos Sandro apa yang harus kami lakukan?” tanya Jeki tetap mengarahkan pistolnya ke perempuan didepannya.


“Periksa dia” titah Sandro dengan suara tegas tak mau percaya begitu saja.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Salah satu anak buah Sandro segera  berjalan menghampiri perempuan tersebut dan Rian yang berada didalam mobil menatap perempuan itu dengan tatapan tajam dan selidik, tiba-tiba ia kaget melihat tato ular cobra ditangan perempuan itu.


“BAWA NONA LEILA SEGERA PERGI DARI SINI” teriak Rian dengan suara melengking membuat semua disana kaget.


Dor………………


“TEMBAK PEREMPUAN SIALAN ITU” teriak Sandro saat perempuan itu tiba-tiba menembak anak buahnya yang berjalan ke arahnya.


Dor…………….dor………….dor…………dor…………..


Bunyi tembakan bersahutan dari pihak Sandro dan musuh mereka yang tiba-tiba keluar dari dalam van dan langsung menembaki mereka dengan brutal.


“Berlindung” teriak Sandro dengan suara lantang.


Maya sudah pergi dari sana bersama satu mobil pengawal Leila saat Rian berteriak menyuruhnya pergi dari sana.


Rian yang merasa ada sesuatu yang akan terjadi kepada Leila segera melajukan mobil Sandro, sambil memberi isyarat kepada Sandro kalau ia akan menyusul Leila yang dibalas anggukan oleh Sandro.

__ADS_1


“Bunuh mereka semua dan jangan biarkan mereka lolos” teriak Sandro dengan suara lantang.


“Siap bos Sandro” ucap anak buahnya dengan serentak.


Dor……….dor………….dor……….dor………….dor……..


Sandro terus menembak ke segala arah merasa kesal, karena musuhnya ini tidak pernah habis padahal mereka hanya 2 van saja tapi saat ini entah datang dari mana jumlah mereka semakin banyak.


Duar…………….duar…………………


Jeki melempar granat ke arah musuhnya karena jumlah mereka yang sangat banyak sedangkan mereka hanya berjumlah 30 orang saja.


“Sial” umpat Sandro dengan kesal karena pelurunya sudah habis dan ia tidak membawa cadangan tadi.


“MUNDUR” teriak Sandro dengan suara lantang.


Duar…………….aaarrgghh…………..


Suara ledakan dan teriakan bergema disana hingga terdengar ditelinga Leila membuat dia semakin gemetar ketakutan didalam mobil.


Cekiittt……………….


Maya mengerem mobil dengan cepat hingga bannya berdecit di sana, membuat pak Toni dan Leila terpental ke depan karena tidak memakai seatbelt.


“Bangsat” maki Maya dengan emosi melihat mobil pengawal Leila yang tadi berada didepan sudah terbakar habis.


“Ma…..ya” ucap Leila dengan tubuh bergetar ketakutan.


“Nona kalau saya bilang lari anda harus lari dan jangan pernah menoleh ke belakang” ucap Maya dengan suara tegas.


“T……idak Maya. Ki…..ta harus sel……alu bersama……………hiks hiks hiks hiks” tangis Leila pecah merasa takut.


“Tidak nona. Keselamatan nona adalah tugas saya dan jika nona terluka atau kenapa-napa saya tidak akan memaafkan diri saya sendiri!” ucap Maya dengan suara tegas.


“Maya………..hiks hiks hiks hiks” ucap Leila sambil menangis dengan histeris.


“Pak Toni saya percayakan nona Leila kepada pak Toni dan tolong jaga nona” titah Maya dengan suara tegas.


“Iya non Maya” ucap pak Toni dengan patuh.


Tiba-tiba pintu mobil Leila dibuka dari luar mengagetkan mereka dan ternyata itu adalah Rian yang berhasil menyusul mereka.


“Bos Rian” ucap Maya dengan kaget melihat kedatangan Rian.


“Nona pergi dari sini sekarang dan pegang ini untuk berjaga-jaga” ucap Rian dengan suara tegas sambil menyodorkan pistol kepada Leila.


“Ini” ucap Leila dengan kaget menerima pistol dari Rian.


Tangannya bergetar memegang pistol tersebut, karena baru pertama kali memegangnya langsung yang selama ini hanya ia lihat karena kakaknya dan Loe memilikinya.


“PERGI SEKARANG NONA LEILA” teriak Rian dengan suara menggelegar.


Pak Toni dan Leila bergegas pergi dari sana saat musuh-musuh mereka datang dari arah depan membawa parang, besi, dan tongkat bisbol.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


“Setidaknya mereka tidak membawa pistol” ucap Rian dengan lega karena ia tidak membawa pistol lebih.


“Bos Rian jumlah mereka lebih banyak dari kita” ucap Maya yang melihat mereka kalah jumlah dengan musuh mereka didepan sana.


“Kalau kamu takut lebih baik kamu pulang saja sana” ejek Rian dengan sinis.


“Maafkan saya bos Rian” ucap Maya.


“Heeemmm”


“INGAT SLOGAN KITA. DIBUNUH ATAU MEMBUNUH!” ucap Rian dengan suara lantang.


“Bunuh mereka semua dan jangan biarkan mereka membunuh kita! Serang” tambahnya lagi dengan suara lantang membangkitkan semangat teman-temannya.


“HABISI MEREKA SEMUA” teriak anggota Black Damon dengan suara menggelegar disana.


“Serang mereka” teriak musuh mereka dengan suara lantang.


Dor……..……dor…………..dor………..……dor………..…

__ADS_1


Prang…………….


Bugh……….bugh………..bugh…………..bugh……….


Bunyi tembakan dan pukulan bergema disana, membuat para warga disekitar sana berlarian menyelamatkan diri dari perkelahian besar yang sedang terjadi disana.


“Tangkap wanita itu” teriak salah satu musuh mereka menunjuk ke arah Leila dan pak Toni yang sedang berlari menjauh dari sana.


“Lindungi nona Leila” teriak Rian dengan suara lantang.


Bugh………..bugh………bugh………..bugh……….


Rian memukul 5 orang sekaligus membuat mereka tumbang, sedangkan teman-temannya yang lain juga memukul musuh mereka dengan sekuat tenaga meski mereka sudah berlumuran darah.


Leila dan pak Toni menghentikan langkah mereka melihat Sandro dan anak buahnya yang menuju mereka, sedangkan Rian dan lainnya juga sedang berjalan mundur menuju mereka karena jumlah mereka sangat banyak.


“Pak kita harus kemana?” tanya Leila dengan panik.


“Saya juga tidak tahu non. Semua jalan sudah dikepung mereka semua” jawab pak Toni dengan bingung.


Arrgghh………….


Teriak Leila bergema saat rambutnya di tarik dari belakang membuat Maya bergegas lari menuju kearahnya untuk menyelamatkannya.


“Mau kemana ja***g?” tanya salah seorang musuhnya sambil tersenyum smirk.


“Lepaskan nona muda! Lepaskan!” ucap pak Tio sambil memukul orang didepannya.


Bugh………….brak…………..


“Pak Toni” teriak Leila dengan histeris saat pak Toni tiba-tiba ditendang orang dibelakangnya hingga membentur mobil dibelakangnya.


“Nona m….uda” lirih pak Toni yang merasa sangat kesakitan dan tidak bisa berdiri lagi.


Hiks………………hiks……………..hiks…………….


“Lepaskan aku sialan!” teriak Leila sambil menangis histeris.


Ia memberontak sambil memukul tangan orang yang sedang menjambak rambutnya, tapi percuma saja karena orang dibelakangnya memiliki postur badan seperti raksasa dan tidak merasakan sakit sama sekali.


Bugh…………..


“Ada pengganggu ternyata” ucap orang itu sambil tersenyum menyeringai menatap Maya yang menendangnya dari belakang tapi ia tidak berpindah sedikit pun dari tempatnya.


Brugh………………


Leila terjatuh di tanah karena dihempaskan oleh orang tersebut dan berbalik ke belakang meladeni Maya.


Bugh…………..bugh……………….bugh…………….


Maya dihajar dengan brutal oleh orang itu hingga tak bisa bangun lagi karena tenaga Maya yang tidak seimbang dengannya. Leila berteriak histeris sambil melempar orang itu dengan batu tapi percuma.


Ia mengarahkan pistol ke orang itu dan ingin menembaknya tapi tidak berhasil membuat Leila semakin bingung.


“RIAN! KENAPA KAMU KASI AKU PISTOL YANG SUDAH RUSAK” teriak Leila dengan suara melengking.


Hah…………..


Rian kaget mendengar ucapan Leila dan ia lupa memberitahu Leila untuk menurunkan fire pin sebelum menembak. Karena hal itu ia tidak konsentrasi dan mendapat bogem mentah tepat di rahangnya.


“Fu*k” maki Rian dengan emosi.


“Fokus dude jangan memikirkan rumah saja” ucap Sandro sambil mengejek.


“Kenapa kamu disini?” tanya Rian dengan bingung sambil bertarung melawan musuh mereka.


“Peluru aku habis dan aku harus mundur jika masih ingin hidup” jawab Sandro dengan cepat.


“Sial kita terkepung!” umpat Rian dengan kesal.


“MAYA” teriak Leila dengan suara melengking.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue…………………..

__ADS_1


__ADS_2