Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 66


__ADS_3

Setelah kepergian Denis dan lainnya tiba-tiba Kenzo mendapat pesan video dari nomor tak dikenal.


Ando yang memegang hp milik Kenzo kaget bukan main saat membuka pesan tersebut, seperti perintah Kenzo untuk membaca pesan apapun yang masuk ke hpnya.


“Tuan” bisik Ando dengan suara pelan.


“Ada apa? Kamu tidak lihat aku sedang sibuk saat ini berengsek” hardik Kenzo dengan suara pelan.


“Tuan harus lihat ini” ucap Ando dengan suara tegas.


Kenzo yang melihat wajah Ando sangat serius, segera mengikutinya ke samping ruangan dan menerima hpnya dari Ando melihat pesan yang barusan masuk.


Mata Kenzo seakan ingin keluar dari tempatnya menonton video berdurasi 2 menit yang di kirim orang tak dikenal.


“Bangsat! Siapa yang berani mengusik aku kali ini sialan!” maki Kenzo dengan emosi.


“Siapkan mobilku kita pergi sekarang” titah Kenzo dengan suara tinggi.


“Tapi tuan acaranya belum selesai” balas Ando memberitahu.


“I don’t care with this party. Karena bisnis aku lebih penting dari pada acara sialan ini” (aku tidak perduli dengan pesta ini) hardik Kenzo dengan tatapan tajam.


“Baik tuan”


Ando segera mengirim pesan ke anak buahnya untuk menyiapkan mobil dan segera pergi dari sana, membuat Leila dan Leo saling menatap bertanya kemana Kenzo akan pergi padahal ia sebagai tokoh utama acara ini.


Sedangkan Denis dan lainnya sedang menuju ke tempat Arsen dan Sandro yang sedang menyelamatkan putri direktur Steven.


~ Markas B Ular Cobra ~


Kenzo kaget bukan main melihat markasnya yang sudah rata dengan tanah, apa lagi didalam markas itu ada 100 Kg sabu-sabu yang akan ia jual minggu depan kepada rekannya asal Thailand.


“Bangsat” maki Kenzo dengan suara menggelegar.


“Bos” ucap Jason yang sudah datang lebih dulu disana.


Bugh……………bugh……………bugh……………….


Kenzo memukul Jason dengan brutal melampiaskan emosinya saat ini, sedangkan Jason ia hanya diam saja menerima pukulan Kenzo dan tak membalasnya.


Meski ia sangat mudah membalas pukulan Kenzo tapi ia tahu apa yang akan dia dapatkan nanti setelah itu.


“Bajingan kalian semua! Beraninya kalian tidak becus menjaga markas hingga markas aku dibakar sampai rata dengan tanah!” bentak Kenzo dengan sura tinggi.


“Maafkan kami bos” ucap Jason sambil menunduk menahan sakit di sekujur tubuhnya.


“Berapa anak buah kita yang mati?” tanya Kenzo dengan emosi.


“Anak buah kita tidak ada yang mati bos. Mereka semua masih hidup bos” jawab Jason.


“Hah! Lalu dimana semua sialan itu sehingga tidak becus menjaga markasku!” bentak Kenzo dengan suara tinggi.


“Bos silahkan ikut aku” ucap Jason sambil berjalan lebih dulu menuntun Kenzo dan Ando menuju arah belakang markas mereka.


“Ini” tunjuk Kenzo dengan kaget.


Ia dan Ando kaget bukan main melihat semua anak buah mereka yang bertugas menjaga markas mereka, ternyata dihajar oleh musuh mereka dan mengumpulkan mereka semua di satu tempat tepat di belakang markas mereka.


“Mereka semua tidak mati bos tapi kaki dan tangan mereka semuanya patah” papar Jason menjelaskan.

__ADS_1


“Apa patah” pekik Kenzo dengan heran.


“Iya bos”


Phew………………….


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Kenzo membuang napas sambil mengusap wajahnya dengan kasar, memikirkan musuhnya yang berani sekali membakar markasnya dan juga membuat 20 orang anak buahnya patah tulang.


“Siapa yang berani mengusikku?” tanya Kenzo dengan tatapan membunuh.


“Sepertinya dia orang yang selama ini menggagalkan semua bisnis kita tuan” jawab Ando.


“Bisa jadi bos. Lagian semua kelompok preman dan geng di kota ini tidak ada yang berani mengusik geng kita” tambah Jason.


“Apa ini tidak ada hubungan dengan si sialan Riski Akbar itu?” tanya Kenzo dengan tatapan menyelidik.


“Tidak bos. Aku sudah menyuruh anak buah kita menyelidikinya dan sudah 2 minggu dia berada di Bangkok melakukan transaksi bisnisnya disana bos” jawab Jason.


“Kamu yakin?” tanya Kenzo dengan tatapan tajam.


“Yakin bos” jawab Jason dengan suara tegas.


Kenzo diam memikirkan siapa yang berani mengusiknya malam ini dan ia berjanji akan membuat perhitungan dengan orang itu.


“Bos lalu bagaimana dengan mereka?” tanya Jason menunjuk ke 20 anak buah mereka yang saat ini sedang menahan sakit di sekujur tubuh mereka.


“Lenyapkan mereka semua. Lagian mereka juga sudah tidak berguna lagi buat aku” jawab Kenzo dengan santai.


“Tapi bos” protes Jason yang tak setuju dengan ucapan Kenzo.


Jason diam saja tak bisa membalas ucapan Kenzo dan menatap teman-temannya yang juga sedang menatapnya dengan tatapan memohon untuk tidak dibunuh. Ia melihat ke arah Ando bertanya apa yang harus ia lakukan tapi Ando diam saja.


Ando lalu mengambil hpnya dan tak lama ia memberi isyarat kepada Jason untuk melihat hpnya membaca pesan yang barusan ia kirim.


Ando


“Tunggu tuan pergi lalu kamu bawa mereka semua ke rumah sakit nanti biar aku yang tanggung biaya rumah sakit mereka. Lagian mereka itu juga bagian dari geng kita meski nanti mereka tidak akan bergabung lagi dengan kita”


Jason tersenyum bahagia membaca pesan yang dikirim oleh Ando dan ia mengangguk kepalanya menyetujui usulan Ando barusan.


Tak lama Kenzo pun pergi diikuti Ando dan sebelum pergi ia mengangguk kepalanya untuk membawa anggota mereka segera ke rumah sakit.


“Berengsek! Jangan kira kamu itu kaya dan bisa mengancam kami karena terlahir dari keluarga miskin” ucap Jason dengan tatapan penuh kebencian menatap kepergian Kenzo.


Sedangkan teman-tamannya yang mendengar ucapan Kenzo tadi mengutuknya dalam hati, tak menyangka mereka akan punya bos yang tak punya hati sedikitpun kepada mereka.


Jason lalu menyuruh anak buahnya untuk membantunya membawa teman-teman mereka ke rumah sakit terdekat agar segera diobati.


~ Gedung Tua Pinggiran Kota ~


Limousine Denis tiba disana membuat anak buahnya bergegas menyambut kedatangannya tapi yang turun hanya Rian dan direktur Steven.


“Bagaimana?” tanya Denis dengan suara dingin.


“Kami datang tepat waktu bos dan putri direktur Steven belum diapa-apakan mereka” jawab Sandro.


“Heemm! Berapa orang yang disini?” tanya Denis lagi.

__ADS_1


“Ada 10 orang bos dan mereka semua sudah kami habisi” jawab Sandro dengan cepat.


“Kirim mayat mereka semua ke berengsek itu dan jangan lupa tulis surat peringatan untuknya agar tidak menganggu keluarga direktur Steven lagi” titah Denis dengan suara dingin.


“Baik bos”


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Denis segera menyuruh sopir untuk pergi dari sana, karena ia harus pergi ke markasnya untuk mengurus pencuri dompet milik mamanya yang sudah berhasil di tangkap oleh anak buahnya, setelah Arsen berhasil mencari tahu siapa yang mencuri dompet mamanya.


~ Markas Black Damon ~


Sampainya di markas Denis lalu di sambut oleh Max dan anak buahnya yang berada disana. Ia segera bergegas ke ruang interogasi untuk melihat wajah pencopet dompet milik mamanya waktu di pasar tradisional.


“Bangunkan dia” titah Denis dengan suara dingin.


Byur……………..


Anak buah Denis lalu menyiram air seember ke pencopet itu hingga ia terbangun dari pingsannya dengan napas satu-satu. Matanya lalu menatap sekeliling tak mengenali seorang pun disana, apa lagi saat melihat ada begitu banyak alat-alat tajam disana.


“Siapa kalian? Kenapa kalian menculikku?” tanya Resa dengan suara tinggi.


“Jadi kamu orang yang sudah berani mencuri dompet mamaku ya” ucap Denis sambil menggulung lengan kemejanya dan mengambil cambuk diatas meja berisi alat-alat tajam.


“Siapa kamu dan apa maksudmu? Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan?” tanya Resa dengan bingung.


“2 hari yang lalu di pasar tradisional nusantara tepat jam 13:30 kamu mencuri dompet seorang ibu-ibu yang sedang berbelanja disana” jawab Denis sambil menatap Resa dengan tatapan tajam.


Crash………………


Bunyi cambuk dilantai mengagetkan Resa dari lamunannya memikirkan ucapan Denis barusan, tak lama matanya melotot kaget melihat wajah seorang ibu paruh baya di proyektor yang sangat ia kenali.


“Bagaimana sudah ingat?” tanya Denis dengan suara dingin.


“Maafkan aku. Aku mengaku bersalah tuan. Tolong maafkan aku” pinta Resa dengan memohon.


Crash……………..crash……………crash…………………


Aaarrgghhh……………


Jerit kesakitan Resa bergema saat cambuk mengenai kulit belakangnya membuat punggungnya penuh dengan luka. Denis terus mencambuk Resa memberi pelajaran karena sudah berani mencuri dompet milik mamanya.


“Tolo……..ng maa………fkan aku tuan” lirih Resa dengan terbata-bata.


“Tidak ada ampunan untuk orang sepertimu” ucap Denis dengan suara dingin.


“Maaf….kan aku tuan. Aku hanya disuruh oleh orang itu” ucap Resa membuat Denis menatapnya dengan tajam.


Grep…………….


“Katakan siapa yang menyuruhmu sialan?” tanya Denis dengan emosi sambil menjambak rambut Resa.


“Keysa tuan” jawab Resa dengan jujur.


Kreek…………………….


Gigi Denis gemeletuk mendengar nama yang tak asing di telinganya dan seketika matanya berkilat tajam mengetahui siapa itu keysa.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...

__ADS_1


To be continue……………….


__ADS_2