
"Good morning Mr, can i help you Mr" (selamat pagi tuan, ada yang bisa saya bantu tuan) ucap resepsionis yang bernama Nada dengan suara lembut saat Austin dan Kenneth tiba didepan mejanya.
"Morning too beautiful. I want to meet with Denis" (selamat pagi juga cantik. Aku ingin bertemu dengan Denis) jawab Austin sambil tersenyum manis.
"Excuse me, may I know who am I talking to?" (maaf kalau boleh tahu saya bicara dengan tuan siapa?) tanya Nada dengan sopan.
"Austin Smith" jawab Austin dengan singkat
"Please wait a moment Mr.Smith" (mohon tunggu sebentar Mr.Smith)
"Heemmm"
Nada segera mengambil telpon dan menelpon ke bagian sekertaris presdir untuk memberitahu kedatangan Austin.
"Mr.Smith anda silahkan naik dengan lift khusus menuju ke lantai 85 menuju ruangan presdir Denis" ucap Nada dengan sopan.
"Terima kasih cantik" balas Austin sambil mengedipkan sebelah matanya.
Austin dan Kenneth segera menuju ke lift khusus untuk menemui Denis.
Ting.............
Lift berhenti di lantai 85 dan saat lift terbuka keduanya langsung di sambut Rian sekertaris Denis dengan wajah datar dan dingin.
"Selamat datang Mr.Smith. Silahkan ikut saya" ucap Rian dengan suara dingin tapi masih sopan.
Rian lalu berjalan lebih dulu diikuti Austin dan Kenneth dari belakang menuju ruangan Denis. Setelah mendapat balasan untuk masuk dari dalam ia segera membuka pintu untuk keduanya.
"Hay Denis" ucap Austin sambil tersenyum lebar saat masuk ke dalam ruangan Denis.
Denis memberi isyarat lewat matanya kepada Rian untuk meninggalkan mereka. Ia lalu menatap Austin dengan wajah datar dan dingin membuat Austin yang sudah terbiasa dengan sifatnya hanya acuh saja.
"Katakan" ucap Denis to the point dengan suara dingin.
Austin tersenyum menyeringai melihat Denis yang tidak basa-basi sama sekali dan ia yakin pasti Denis tahu jika kedatangannya ada hal penting yang ingin ia sampaikan.
"Siang nanti aku akan balik ke Amerika" ucap Austin dengan suara dingin tak ada raut ceria lagi di wajahnya.
Denis mengangkat alis sebelah dengan tatapan cemooh seakan berkata memangnya aku perduli jika kamu mau pulang nanti siang.
"Ckk!!" decak Austin dengan kesal tahu arti tatapan mata Denis.
"Kenneth" ucap Austin lagi.
Kenneth lalu menghampiri Denis dan menaruh map coklat didepannya. Denis mengambil map itu dan membukanya ternyata ada beberapa kertas mengenai informasi seseorang.
"Lewis Hamilton" ucap Denis dengan suara baritone.
"Dia adalah anak dari saudara tiri daddy aku dan sekaligus orang yang sudah mencelakai Leila hingga ia buta dan juga Rayen" ucap Austin dengan suara dingin.
Brak...............
Austin dan Kenneth kaget saat Denis tiba-tiba mengebrak meja kerjanya dengan kuat. Mata coklat tajamnya berkilat tajam dengan aura membunuh yang sangat terasa didalam sana.
Auranya lebih menakutkan dari bos, batin Kenneth.
Kenapa aku selalu gugup jika melihat tatapan Denis ya? Sial! Aku tidak biasa seperti ini, batin Austin dengan kesal.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Dimana dia sekarang?" tanya Denis dengan suara berat dan dingin.
"I don't know. Terakhir kali aku dengar dia bekerja sama dengan Abraham Kein untuk mencelakai Rayen dan aku kehilangan jejeknya dari situ hingga sekarang" jawab Austin dengan jujur.
"F**k" maki Denis dengan suara tinggi.
"Kamu bisa bertanya ke Abraham Kein Denis karena aku yakin dia tahu dimana manusia sialan itu berada. Apa lagi kamu punya kuasa untuk bisa masuk ke tempat ia berada saat ini" usul Austin sambil tersenyum menyeringai.
"Heemmm" deham Denis sambil tersenyum smirk.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Aku percayakan kedua adik sahabatku kepadamu" pamit Austin sambil memperbaiki jas mahalnya.
"Heemmm"
__ADS_1
Austin menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Denis yang tidak ada sopan sedikit pun kepada tamunya.
Setelah melihat Austin sudah pergi Denis segera menyuruh Rian untuk memanggil Arsen ke ruangannya sekarang.
Tok.............tok.............tok..........
"Masuk" ucap Denis dengan suara berat saat mendengar bunyi ketukan pintu.
Ceklek..............
Arsen masuk ke dalam setelah Denis menyuruhnya masuk. Saat masuk pandangannya tertuju kepada Denis yang sedang berdiri di jendela sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.
"Bos memanggilku?" tanya Arsen dengan suara dingin.
"Cari tahu dimana orang itu berada sekarang" ucap Denis dengan suara dingin sambil melirik ke arah meja kerjanya.
Arsen yang paham lirikan mata bosnya segera mengambil beberapa kertas yang ada di atas map coklat itu.
Keningnya mengerut membaca nama orang yang tidak dikenalinya. Tapi tak berapa lama matanya terbelak membaca informasi mengenai siapa orang ini.
"Dia" ucap Arsen dengan syok.
"Lacak Dimana dia dan suruh Sean mengirim mata-mata terbaik kita untuk mencari keberadaannya disana" titah Denis dengan tatapan membunuh.
"Baik bos"
Arsen segera keluar dari ruangan Denis untuk segera melakukan perintah Denis meski saat ini pekerjaannya sangat menumpuk.
Tiba di ruangannya ia lalu mengirimkan pesan kepada Arkan untuk datang kesini.
Bocah Berisik
^^^"Temui aku di DA Corp sekarang"^^^
"Ok ka😘"
"Ckk!!" decak Arsen dengan kesal membaca pesan balasan Arkan.
Riski Akbar mengetuk jarinya di atas meja menonton berita tentang Kenzo yang tertangkap karena kasus narkoba dan juga kasus ayahnya.
Tapi bukan itu yang menjadi pemikirannya saat ini karena yang ia pikirkan itu adalah markas geng Ular Cobra yang sudah tidak ada lagi karena ulah mafia Black Devil.
"Black Devil! Siapa sebenarnya orang itu?" gumam Riski Akbar dengan bingung.
"Bos" panggil Marco dengan napas ngos-ngosan karena berlari.
"Ada apa?" tanya Riski Akbar dengan kesal karena Marco masuk tidak mengetuk pintu.
"Gawat bos!" ucap Marco dengan panik.
"Gawat kenapa sialan? Bicara yang jelas anj*ng" bentak Riski Akbar dengan suara tinggi.
"Itu...........pihak polis baru saja mengebrak lokasi bisnis perdagangan wanita milik kita bos" lapor Marco.
"APA" seru Riski Akbar dengan suara tinggi.
"Dari mana mereka tahu bisnisku yang itu? Bukannya selama ini tidak ada satu orang pun yang tahu berengsek?" tanyanya lagi dengan emosi.
"Saya tidak tahu dari mana polisi tahu bos. Tapi saat ini semua gadis-gadis yang akan kita kirim nanti malam dan anak buah kita sudah diamankan polisi bos" jawab Marco dengan cepat.
"Fu*k" maki Riski Akbar dengan suara tinggi.
Prang............prang.........prang..........
Riski Akbar menghancurkan seisi ruangannya saking emosi karena bisnisnya yang paling menjanjikan selama ini sudah di ketahui polisi.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Siapkan mobilku sekarang" titah Riski Akbar dengan suara tinggi.
"Baik bos"
Keduanya lalu bergegas pergi dari markas bersama pengawalnya pergi ke lokasi bisnis perdagangan wanita miliknya.
__ADS_1
Saat di lampu merah tiba-tiba matanya menangkap keberadaan sosok perempuan yang pernah ia perkosa waktu di Casino Deluxe.
"Bawa perempuan itu untukku" titah Riski Akbar sambil menunjuk Ara yang mengendarai motor tepat di sampingnya.
"Baik bos" ucap Marco setelah melihat siapa yang dimaksud bosnya.
Marco segera mengirim pesan kepada anak buahnya untuk menculik Ara dan membawanya ke markas.
~ Rumah Arkana ~
Seila sedari tadi menunduk malu karena terus di tatap Arkan dan Adrian setelah kekasihnya pergi.
"Kamu bisa bahasa Indonesia?" tanya Adrian.
"Sedikit" jawab Seila sambil menunduk.
"Apa muka aku ada dilantai?" tanya Adrian dengan suara dingin.
"Eh! Apa?" tanya balik Seila langsung mengangkat wajahnya menatap Adrian sekilas lalu menunduk lagi.
"Tatap lawan bicaramu jika sedang berbicara" tegas Adrian.
"Maa......f" ucap Seila dengan terbata-bata karena gugup.
Meski gugup ia tetap mengangkat wajahnya dan menatap Adrian. Arkan yang baru selesai membalas pesan Arsen melihat Seila dengan tatapan menyelidiki.
"Sejak kapan kamu pacaran sama ka Sandro?" tanya Arkan dengan intens.
"2 Hari yang lalu" jawab Seila dengan bibir mengerucut mengingat ia yang dipaksa menjadi kekasih Sandro.
"Hah! Jadi kalian baru saja pacaran" pekik Arkan dengan kaget.
"Hey bocah bisa tidak jangan berteriak di telingaku! Aku belum tuli sialan!" bentak Adrian dengan kesal.
"Ckk!!" decak Arkan dengan sinis.
"Bukannya kamu harus menemui Arsen?" tanya Adrian.
"Ah! Iya benar hampir saja aku lupa" ucap Arkan sambil menepuk keningnya.
Adrian menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Arkan yang tidak pernah berubah. Arkan sendiri segera naik ke lantai dua mengambil kunci mobil dan dompet untuk menemui Arsen.
Setelah kepergian Arkan, Adrian lalu bertanya kepada Seila seperti seorang polisi yang menginterogasinya mengenai dia dan Sandro.
Setidaknya dia tidak seperti kembarannya yang bermuka dua, batin Adrian sambil mengangguk kepalanya melihat Seila dari atas ke bawah.
Kenapa dia menatap aku seperti itu, batin Seila yang merasa risih.
Sedangkan bi Eda yang baru saja mengecek keadaan Leila, keluar dari kamar sang nyonya dengan terburu-buru dan wajah panik.
"Ada apa bi?" tanya Adrian dengan curiga.
"Itu den...........badan non Leila panas sekali den" jawab bi Eda dengan panik.
"Apa! Hubungi Bimo ke sini sekarang bi!" perintah Adrian dengan kaget.
"Baik den"
Bi Eda segera mengambil hpnya dan menghubungi dokter Bimo sedangkan Adrian menyuruh Seila untuk mengikutinya masuk ke dalam kamar Tante Amira untuk melihat keadaan Leila.
"Astaga Leila panas sekali tubuhmu" ucap Adrian dengan kaget saat menyentuh kening Leila.
"Kamu cepat ambil air dan kain untuk mengompres Leila" titah Adrian menunjuk Seila.
"Iya ka" ucap Seila dengan cepat berlalu keluar melakukan perintah Adrian.
Adrian menelpon Denis untuk memberitahunya tentang kondisi Leila tapi tidak angkat. Ia berdecak kesal karena sudah panggilan ke empat Denis belum juga mengangkat panggilannya.
"Angkat berengsek!" maki Adrian dengan emosi.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue................
__ADS_1