Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 131


__ADS_3

Selang 15 menit kemudian Bimo datang dengan tergesa-gesa setelah mendapat telpon dari bi Eda mengenai kondisi Leila.


"Bimo cepat periksa Leila! Aku tidak mau sampai Leila kenapa-napa" perintah Adrian dengan cemas dan panik.


"Ok Adrian" balas Bimo.


Bimo segera mengeluarkan peralatan kerjanya dan mulai memeriksa tubuh Leila yang semakin pucat dan panas.


"Ya Tuhan suhu tubuh nona Leila 40°" pekik Bimo dengan syok.


"Apa" ucap Adrian dan Seila dengan kaget.


"Bimo cepat lakukan sesuatu" hardik Adrian dengan wajah panik.


"Buka semua jendela biar udara sejuk masuk ke dalam kamar. Matikan AC juga" titah Bimo dengan suara tegas.


Adrian dan Seila segera melakukan apa yang disuruh Bimo. Sedangkan Bimo ia memasang infus di tangan Leila, tak lupa menyuntiknya dengan obat penurun panas.


"Bi tolong siapin air minum yang banyak untuk nona Leila karena ia harus minum air yang banyak agar tidak dehidrasi" perintah Bimo sambil menatap bi Eda.


"Baik den Bimo" ucap bi Eda segera berlalu keluar menuju dapur.


"Bagaimana?" tanya Adrian semakin cemas sambil menatap Leila.


"Aku sudah menyuntik obat penurun panas dan setiap satu jam aku akan memeriksa terus suhu tubuh nona Leila" jawab Bimo menjelaskan.


"Tapi kita butuh seseorang untuk mengelap badan nona Leila jika dia mulai berkeringat" tambahnya lagi.


"Biar Denis saja yang melakukannya karena dia tidak akan membiarkan orang lain menyentuh tubuh kekasihnya" balas Adrian.


"Kalau begitu kamu yang hubungi bos"


"Heeemmm"


Adrian terus menghubungi Denis tapi tidak di angkat dan tak berapa lama nomornya sudah tidak aktif lagi.


~ DA Corp ~


Arsen keluar dari mobil sportnya sambil mengenakan kaca mata hitam. Ia melemparkan kuncinya ke petugas keamanan dan memberi isyarat untuk memarkirkan mobilnya.


Siapa itu?


Wah tampan sekali dia


Apa dia seorang dewa? Kenapa wajahnya tampan sekali


Lihat postur tubuhnya sangat menggoda sekali


Mas godain kita dong


"Ckk!!" decak Arsen dengan kesal saat mendengar ucapan-ucapan karyawati DA Corp yang terang-terangan menggodanya.


Ia lalu bergegas menuju lift menuju ruangan Arsen di lantai 84. Sampainya disana Arkan masuk ke dalam ruangan Arsen tanpa mengetuk pintu membuat sang empunya menatapnya dengan tatapan tajam.


"Apa kamu tidak punya sopan santun Arkan?" tanya Arsen dengan tatapan tajam.


"Sorry ka. Aku lupa tadi" jawab Arkan sambil cengesan.


Arsen menatapnya dengan tajam mendengar ucapannya yang tidak masuk akal. Arsen yang melihat penampilan Arkan hari ini menggelengkan kepalanya tak bisa berkata-kata.


"Apa kamu pikir itu club jadi datang pakaian seperti itu?" tanya Arsen dengan suara dingin.


"Ini namanya style ka. Kalau kakak tidak suka diam saja karena ini gaya fashion aku" jawab Arkan dengan tatapan sinis.


"Kamu!" tunjuk Arsen dengan mata melotot.


"Kenapa ka Arsen nyuruh aku ke sini?" tanya Arkan mengalihkan pembicaraan tidak mau membahas gaya pakaiannya.


"Apa kamu mengenal Lewis Hamilton?" tanya Arsen dengan suara dingin.


"Who is that?" (siapa itu) tanya balik Arkan.

__ADS_1


Brugh...........


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Arsen melempar satu berkas didepannya sambil memberi isyarat kepada Arkan untuk mengambilnya. Tak membantah Arkan bangun dan mengambil berkas tersebut lalu membaca.


"Fu*k! Aku akan membunuh sialan itu!" maki Arkan dengan suara tinggi setelah selesai membaca berkas tersebut.


"Tenangkan dirimu bocah! Jika kamu tidak kontrol emosimu maka kamu yang akan terbunuh!" hardik Arsen memperingatinya.


"Dimana dia ka? Katakan dimana dia?" teriak Arkan dengan emosi.


"Aku tidak tahu karena aku baru mendapat berkas itu dari bos yang menyuruh aku untuk melacak keberadaannya" balas Arsen dengan tenang tidak ingin terpancing emosi dengan kelakuan Arkan.


"Bangsat!" maki Arkan dengan emosi.


Arsen diam membiarkan Arkan memaki mengeluarkan semua emosinya setelah mengetahui siapa orang yang sudah membuat kakaknya Leila celaka.


Phew..............


Arkan membuang napasnya dengan kasar merasa cape karena terus memakai dan mengumpat.


"Much better?" (lebih baik) tanya Arsen.


"Ya" jawab Arkan dengan singkat.


"Orang itu juga bekerja sama dengan direktur Abraham untuk mencelakai kakakmu Rayen" ucap Arsen dengan serius.


"Apa! Jadi dia juga mencelakai ka Rayen?" tanya Arkan dengan kaget.


"Ya!" jawab Arsen.


"Ka Arsen beritahu aku jika sudah menemukan keberadaan sialan itu! Aku sendiri yang akan membalaskan dendam kedua kakakku!" ucap Arkan dengan tatapan penuh dendam.


Arsen diam saja tidak bisa berjanji karena jika ia menemukan keberadaan Lewis Hamilton, otomatis orang pertama yang tahu adalah bos mereka.


Kring..............


Bunyi hp Arkan bergema didalam sana membuat Arkan tersentak dari pemikirannya. Keningnya mengerut melihat nama Ka Adrian dilayar hpnya.


"Apa kamu masih berada di perusahaan Denis bocah?" tanya Adrian dengan cepat.


^^^"Iya ka. Ini aku lagi bareng ka Arsen" jawab Arkan dengan polos.^^^


"Cepat kamu pergi temui Denis beritahu jika kakakmu saat ini panas tinggi"


^^^"Apa" teriak Arkan dengan kaget.^^^


"Aku tidak tuli bocah!" bentak Adrian dari seberang.


Arkan segera mematikan panggilannya dan memberitahu Arsen apa yang baru saja Adrian katakan. Keduanya lalu bergegas menuju ruangan Denis untuk memberitahunya.


"Beritahu bos kedatangan kami" perintah Arsen Kepada Rian.


"Bos sedang keluar" ucap Rian dengan suara dingin.


"Kemana? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Arsen dengan cepat.


"Aku tidak tahu karena bos hanya berpesan untuk menghendel semua pekerjaan dan jangan mengganggunya" jawab Rian dengan cepat.


"Ka Lalu kita harus mencari bos kemana?" tanya Arkan dengan wajah semakin cemas.


"Kamu pulang lebih dulu nanti aku yang akan mencari bos dan memberitahu bos" jawab Arsen.


"Oke ka"


"Ah! Kalau kondisi nona Leila semakin parah segera bawa ke rumah sakit"


"Heemmm"


Arkan bergegas pergi dari sana membuat Rian menatapnya dengan bingung karena tidak tahu apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


"Nona Leila tiba-tiba panas tinggi jadi kami ingin memberitahu bos" ucap Arsen yang seakan tahu maksud tatapan Rian.


"Oh.........kenapa kamu tidak hubungi Thomas saja tanya dimana bos" usul Rian.


"Ini aku baru mau hubungi dia" balas Arsen yang sudah kepikiran ke sana.


Arsen bergegas pergi dari sana kembali ke ruangannya tak lupa menghubungi Thomas menanyakan dimana mereka saat ini.


Kenapa bos pergi ke Rutan Kelas 1 Jakarta Pusat, batin Arsen dengan penuh tanda tanya setelah mendapat informasi Denis dari Thomas kepala pengawalnya.


~ Rutan Kelas 1 Jakarta Pusat ~


Sedangkan orang yang mereka cari-cari dari tadi saat ini sedang duduk santai berpangku kaki didalam ruangan khusus untuk tamu-tamu penting yang datang ke sana.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Tatapan mata coklat dari balik kaca mata hitamnya menatap langsung ke arah depan dimana kepala Rutan sedang berdiri didepannya mendengar apa yang ia katakan.


"Bawa dia ke hadapanku sekarang" perintah Denis dengan suara dingin dan tegas.


"Baik presdir Denis" jawab kepala rutan dengan suara tegas.


Ia segera menyuruh anak buahnya untuk membawa Abraham Kein kesini sesuai perintah Denis tadi. Ia tahu jika orang yang duduk didepannya ini bukan orang sembarangan karena kekuasaannya yang tidak main-main.


Brugh...............


Abraham Kein di dorong oleh seorang petugas rutan dengan kasar hingga jatuh di lantai tepat didepan Denis.


Matanya lalu menatap sepasang sepatu mahal yang mengkilat didepannya. Karena penasaran ia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang duduk di depannya seperti seorang raja.


Deg...............


Jantung Abraham Kein berdetak dengan cepat melihat sosok yang sangat menakutkan didepannya, apa lagi mata coklatnya itu menatapnya seakan ingin mengulutinya hidup-hidup.


Kenapa presdir Denis berada disini, batin Abraham dengan bingung.


"Bagaimana rumah barumu pak tua?" tanya Denis sambil tersenyum menyeringai.


"Jadi itu kamu. Kamu orang dibalik semua kehancuranku ini" ucap Abraham dengan emosi.


"Ya karena kamu sudah berani mengusik milikku yang paling berharga" balas Denis dengan tatapan membunuh.


"Cih!! Maksudmu gadis sialan itu? Kenapa kamu sangat tertarik dengan gadis buta tidak berguna itu presdir Denis?" tanya Abraham sambil tersenyum mencemooh.


Dor..................aaarrgghh...........


Suara jeritan kesakitan bergema dengan bunyi tembakan didalam sana. Semuanya kaget tak menyangka jika Denis akan menembak Abraham di bahunya.


"Thomas" panggil Denis sambil memberi isyarat menunjuk cctv di sudut ruangan.


"Baik bos" ucap Thomas yang tahu maksud isyarat Denis.


Ia segera mengirim pesan kepada Mark untuk membereskan cctv disini. Sedangkan Denis ia bangun dari duduknya lalu menghampiri Abraham yang sedang kesakitan di lantai.


Aura membunuh Denis sangat terasa sekali membuat Abraham gemetar ketakutan. Bahkan ia sampai kencing di celana karena ketakutan.


Denis tersenyum smirk melihat hal itu dan ia lalu berjongkok sambil memegang rahang Abraham dengan kuat seakan ingin menghancurkan.


Isshh...........


Abraham meringis kesakitan merasakan rahangnya yang seakan ingin patah. Tiba-tiba matanya melotot melihat Denis yang memainkan pisau lipat di pipinya.


"Jawab pertanyaan aku sebelum aku menguluti kulit wajahmu dengan pisau kesayanganku" ucap Denis memberi ancaman kepada Abraham.


"Lewis Hamilton.............dimana dia?" tanya Denis dengan suara dingin dan tatapan tajam mengarah langsung ke mata Abraham.


"Aku tid.......ak t......ahu" jawab Abraham dengan terbata-bata karena gemetar ketakutan.


Sret...........


Aaarrgghh.............

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue............


__ADS_2