Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 228


__ADS_3

Denis berlalu pergi dari ruang interogasi dengan tubuh berlumuran darah. Matanya memandang ke arah depan dengan tajam seakan ingin membunuh siapa pun yang berani menghalangi jalannya.


Semua akan buah Denis menunduk tak berani menatap bos mereka yang saat ini dalam keadaan emosi.


Ia naik ke lantai dua menuju ruangan khusus untuk membersihkan diri. Di dalam ruangan tersebut terdapat kasur dan meja kerja serta TV berukuran besar di sana.


Phew..............


Denis membuang napasnya dengan kasar sambil menyugar rambutnya ke belakang. Pikirannya tidak tenang memikirkan istri dan calon anaknya di Indonesia, ditambah masalah perusahaan yang belum selesai.


"Berengsek" umpat Denis sambil menendang meja kaca didepannya hingga pecah berserakan.


Ia segera masuk ke dalam kamar mandi dan berdiri di bawah shower tanpa melepas pakaiannya. Denis membiarkan air dingin membasahi tubuhnya untuk menetralkan emosinya.


Selesai mandi Denis bergegas pergi ke apartemen untuk mengecek laporan perusahaan cabang.


~ Kingdom Apartment ~


Sejak semalam Denis tak keluar dari ruang kerjanya bersama Arsen dan Arkan. Ketiganya sibuk membaca setiap laporan di Galaxy Company dan juga membahas tentang klien yang memutus hubungan kerja sama sepihak.


"Bawakan kopi untukku" ucap Denis sambil membaca nekat didepannya.


1 Detik


3 Detik


1 Menit


5 Menit


Tak ada jawaban dari Arsen dan Arkan saat ia meminta kopi. Ia mengangkat kepala dan mendapati keduanya sedang tertidur dengan pulas di sofa.


Denis tahu keduanya pasti sangat capek karena dari kemarin dulu mereka belum tidur sama sekali. Ia lalu menghampiri mereka dan membangunkan Arsen dan Arkan dengan menendang kaki mereka.


"Bos" ucap Arsen dengan suara serak karena baru bangun.


"Bawa Arkan pergi tidur" ucap Denis dengan suara dingin.


"Iya bos"


Denis berlalu keluar dari ruang kerjanya menuju kamar untuk tidur. Ia tahu jika ia tetap disana pasti Arsen dan Arkan tidak akan tidur karena harus menemaninya.


Melihat bosnya sudah pergi Arsen menatap ke luar melihat matahari yang sudah tinggi. Ia membuang napas dengan kasar tak menyangka kalau Denis tidak tidur sejak mereka datang ke sini.


"Hey bocah ayok bangun" ucap Arsen sambil membangunkan Arkan.


Eeemmm.................


Arkan bergumam tak membuka matanya dan tetap tidur membuat Arsen menutup mata menahan rasa kesal. Mau tak mau Arsen harus mengendong Arkan membawanya ke kamar tamu di lantai satu.


Beruntung ada 2 kamar di apartemen Denis jadi mereka bisa tidur di kasur. Tidak seperti apartemen Denis yang ada di Indonesia hanya memiliki satu kamar saja.


Waktu berlalu dengan sangat cepat dan tepat jam 1 siang Denis baru bangun. Ia segera membersihkan tubuhnya, setelah selesai ia segera keluar dari kamar untuk makan siang.


"Bos" ucap Arsen saat Denis turun dari lantai dua.


"Makan siang" ucap Denis dengan suara dingin.


"Sudah aku siapkan bos" balas Arsen.


Denis segera menuju ke meja makan dan makan siang dalam hening bersama Arsen dan Arkan. Setelah makan siang mereka lalu kembali ke dalam ruang kerja Denis.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Suruh direktur Steven dan direktur Miley ke sini" titah Denis dengan suara dingin.

__ADS_1


"Baik bos" jawab Arsen segera menghubungi keduanya.


"Arkan kamu pimpin beberapa anak buah kita memata-matai perusahaan yang sudah memutuskan kerja sama dengan perusahaanku" ucap Denis dengan suara dingin dan wajah datar.


"Memangnya untuk apa bos?" tanya Arkan dengan penasaran.


"Aku ingin membuat perusahan mereka bangkrut sekaligus" jawab Denis sambil tersenyum menyeringai.


"Oke bos"


Arkan segera pergi dari sana dengan semangat karena memang ia sangat malas jika harus berurusan dengan urusan perusahaan. Ia lebih tertarik untuk kerja di lapangan.


"Bos Austin Smith mengeluarkan berita tentang kerja sama dengan perusahaan kita sehingga saham kita naik sebanyak 5 persen" lapor Arsen.


"Hubungi Austin" ucap Denis singkat.


Arsen segera menghubungi Austin Smith dan pada panggilan kedua ia segera menjawabnya.


"Halo siapa ini" ucap Austin dari seberang dengan suara dingin.


^^^"Arsen Sanjaya. Bos aku ingin berbicara denganmu" ucap Arsen dengan suara tak kalah dingin.^^^


"Denis?" tanya Austin dari seberang.


^^^"Adakan konferensi pers besok dan umumkan kalau proyek kita akan diresmikan minggu depan" ucap Denis dengan suara dingin.^^^


"Hah! Apa kamu sudah gila sialan?" tanya Austin dengan suara melengking dari seberang.


^^^"Aku tidak mau tahu besok tepat jam 10 kamu harus sudah harus melakukan konferensi" jawab Denis dengan santai^^^


"Kenapa tidak sekalian 1 jam lagi berengsek" umpat Austin dengan kesal.


^^^"Ah! Kalau begitu 1 jam lagi kamu adakan konferensi pers"^^^


"Apa! Hey berengsek...."


~ Roma, Italia ~


Saat ini Sandro, Seila, dan baby Denzo sedang berada di mansion Simon. Tadi Sikon menelpon mereka untuk makan malam di mansionnya karena ia ingin membuat hubungan diantara Sandro dan mommynya terjalin erat.


"Simon buat apa kamu undang sialan itu kesini" sarkas Riana dengan tatapan sinis menunjuk Simon.


"Turunkan tangan mommy dari suamiku!" bentak Seila dengan suara tinggi.


Ia tidak terima kalau mommynya menyebut sang suami dengan kata-kata kasar. Apa lagi tatapan mata sang mommy yang sedari tadi seakan ingin menelan suaminya hidup-hidup.


"Kamu bela dia dari pada mommy kamu sendiri Seila" ucap Riana dengan mata melotot tajam.


"Ya karena dia suamiku. Apa mommy lupa kalau kalian sudah mengusir aku dan tidak menganggap aku sebagai anak kalian lagi" balas Seila dengan tatapan tajam.


"Aku beritahu ya! Aku datang kesini karena undangan ka Simon kalau tidak aku juga tidak akan datang" tambahnya lagi dengan suara tegas.


"Berengsek kamu Seila. Beraninya kamu berbicara seperti itu dengan mommy sialan! Apa kamu lupa siapa yang sudah melahirkanmu perempuan tidak tahu diri!" bentak Seina dengan suara tinggi.


Plak..............


Bunyi tamparan bergema didalam sana mengagetkan semuanya saat Sandro menampar Seila dengan kuat.


Saking kuatnya, Seila sampai jatuh ke lantai karena tak bisa menahan bobot tubuhnya.


"Apa yang kamu lakukan sialan? Beraninya kamu menampar putriku" bentak Riana dengan suara tinggi.


"Siapapun yang mengatai istriku maka aku akan memberinya pelajaran. Tidak perduli dia laki-laki atau perempuan!" hardik Sandro dengan suara tegas.


"Biadab! Aku akan memberimu pelajaran sialan" teriak Riana dengan emosi.

__ADS_1


"Hentikan mommy!" bentak Simon dengan suara lantang saat mommynya hendak menghampiri Sandro.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Riana diam di tempat sambil mengepal kedua tangannya dengan erat dan menatap Sandro dengan tatapan penuh kebencian.


"Sekali lagi mommy buat keributan maka aku akan mengusir mommy dan Seina dari sini" ancam Simon dengan tegas.


"Kakak" pekik Seina dengan mata melotot merasa kesal.


"Aku mengundang Seila dan Simon kesini agar hubungan keluarga kita semakin harmonis. Jadi aku mohon kalian jangan membuat semuanya kacau" pinta Simon dengan wajah penuh harap.


"Sampai kapanpun mommy tidak akan menerima dia sebagai mantu mommy. Dia itu pembunuh daddy kamu Simon" ucap Riana dengan suara lantang.


"Apa otak mommy terbentur? Mommy tahu kalau orang yang membunuh daddy adalah Denis bukan Sandro" ucap Simon dengan suara melengking.


"Mommy tidak perduli. Siapa pun yang berhubungan dengan Denis mommy membenci mereka semua" teriak Riana dengan suara menggema didalam mansion.


"Kalau begitu mommy harus membenci aku karena aku berteman dengan Denis" ucap Simon dengan tegas.


"Kamu" tunjuk Riana dengan mata melotot.


"Silahkan mommy membenci aku. Tapi ingat semua kata-kata aku tadi" balas Simon dengan suara dingin dan tatapan tajam.


Riana bungkam tak bisa berkarya apa-apa, ia lalu pergi dari sana dan masuk ke dalam kamar diikuti Seina.


Phew..............


Simon membuang napasnya dengan kasar melihat mommy dan adiknya Seina yang masuk ke dalam kamar. Ia mengurut keningnya yang tiba-tiba sakit karena semua rencananya malam ini gagal total.


"Jangan terlalu keras dengan mommy dan Seina ka" ucap Seila sambil mengelus punggung sang kakak dengan lembut.


"Lihat saja dek" Balas Simon tak mau beranjak.


Simon lalu mengajak mereka untuk makan malam tidak usah memikirkan mommy dan sang adik. Sedangkan didalam kamar Riana melampiaskan emosinya dengan menghancurkan seisi kamar.


~ Kingdom Apartment ~


Seperti ucapan Denis tadi ternyata 1 jam kemudian Austin sudah membuat pernyataan pers tentang peresmian mall terbaru mereka yang akan dibuka 1 minggu lagi.


Sebenarnya jadwal peresmian itu 2 minggu lagi tapi karena perintah Denis yang tidak masuk akal maka jadwal peresmian di majukan.


"Bos Austin Smith ada didepan" lapor Arsen yang minat kedatangan Austin lewat cctv.


"Suruh dia masuk" ucap Denis dengan suara dingin.


"Oke bos"


Atsen lalu keluar menuju pintu depan untuk membukakan pintu buat Austin. Saat pintu terbuka tak banyak tanya Austin langsung menyelonong masuk.


"Dimana bos berengsekmu itu?" tanya Austin dengan emosi.


"Ikut aku" jawab Arsen dengan suara dingin.


Keduanya lalu naik ke lantai dua menuju ruang kerja Denis. Baru saja masuk mereka langsung disambut dengan tatapan dingin dan membunuh Denis.


"Sialan kamu Denis! Apa maksudmu memajukan tanggal peresmian mall kita?" tanya Austin dengan suara tinggi.


"Pengen saja" jawab Denis dengan santai.


"Berengsek kamu Denis! Sialan kamu bajingan! Dimana otakmu itu bangsat!" bentak Austin dengan suara menggelegar.


Dor................


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...

__ADS_1


To be continue.................


__ADS_2