Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 41


__ADS_3

“Ad….rian” gumam keduanya dengan gugup menatap orang yang mereka sebut berdiri didepan pintu dengan wajah mengelap.


Ya orang yang terkena lemparan sepatu milik Arsen adalah Adrian Castel. Ia baru saja datang dan langsung di sambut dengan sepatu milik Arsen yang mendarat tepat di keningnya.


“Siapa?” tanya Adrian dengan suara dingin dan tatapan membunuh.


“Dia yang lempar” serentak Arsen dan Sandro sambil menunjuk satu sama lain.


“Kamu yang melemparnya bocah empat mata! Jangan menuduhku sialan!” bentak Sandro dengan suara tinggi.


“Apa! Kamu yang memukul tanganku sehingga sepatu itu terlempar sialan jadi itu semua karena kamu bukan aku!” bentak Arsen dengan suara tak kalah tinggi.


“Kamu” tunjuk Sandro.


“Kamu” tunjuk Arsen.


Keduanya saling beradu mulut dan menunjuk satu sama lain, tak mau mengakui kesalahan mereka. Rian yang melihat wajah Adrian semakin menghitam tersenyum penuh arti memikirkan sebuah ide.


“Adrian mereka berdua yang melemparnya” ucap Rian dengan suara dingin.


“Diam kamu berengsek!” bentak Sandro.


“Tutup mulutmu itu kulkas berjalan” hardik Arsen dengan suara tinggi.


Mata Rian melotot tajam melihat Arsen yang memanggilnya kulkas berjalan, sedangkan Sandro ia tersenyum mengejek menatap Arsen yang tak sadar sudah mengatai Rian. Ia yakin sebentar lagi Rian akan memberinya pelajaran.


“Hehehehe! Aku cuma bercanda Rian” ucap Arsen sambil terkekeh.


“Bohong Rian. Dia memang dari dulu menamaimu seperti itu” potong Sandro dengan cepat.


“Tutup mulut sialanmu itu berengsek jika tidak akan ku robek!” bentak Arsen dengan mata tajam.


“Ada baiknya kalian berdua mengurus orang didepan sana” tunjuk Rian ke Adrian yang  sedang menatapnya keduanya dengan tatapan membunuh.


Mati aku, batin Sandro dengan gugup.


Mama aku tidak mau dipukul lagi, batin Arsen dengan wajah sendu.


Bugh…....….bugh……….bugh……………..bugh……………


Adrian menghajar keduanya dengan brutal, tak memberikan mereka kesempatan untuk membalas semua pukulannya.


Denis yang melihat tatapan sahabatnya berbeda dari biasanya menebak jika ada sesuatu yang membuat sahabatnya seperti ini.


Phew……………….


Adrian membuang napas dengan kasar setelah puas menghajar keduanya yang saat ini tergeletak di lantai, dengan wajah dan tubuh yang penuh dengan lebam dan luka.


“Puas?” tanya Denis sambil tersenyum menyeringai.


“Ckk!!” decak Adrian dengan kesal sambil menatap Denis dengan sinis.


Rian bergegas menuju ke depan melihat Sandro dan Arsen yang masih tiduran dilantai. Ia berjongkok didepan keduanya sambil menatap mereka dengan wajah datar dan dingin.


“Mau sampai kapan kalian berdua tiduran disitu? Apa lantainya nyaman?” tanya Rian sambil tersenyum mengejek.


“Sialan” ketus Sandro sambil menatap sinis Rian.


Arsen sendiri mengumpat dalam hati sambil menatap Rian dengan sinis, membuat Rian semakin tersenyum mengejek melihatnya. Keduanya lalu bangun dan duduk di sofa sambil menahan sakit di seluruh tubuh mereka.


“Bawakan 2 kantong es” titah Rian kepada anak buah mereka.


Tak berselang lama anak buahnya datang sambil membawa 2 kantong es, lalu di berikan kepada Arsen dan Sandro untuk mengompres wajah mereka yang lebam. Adrian sendiri menatap keduanya dengan sinis sambil menyesap tequila dalam sekali teguk.

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


“Katakan” ucap Denis dengan suara dingin.


“Mereka memaksaku untuk menikahi ja***g itu hanya untuk bisnis sialan mereka” ucap Adrian dengan suara emosi.


“Ckk!! Perjodohan di zaman sekarang” ejek Denis dengan sinis.


“Hah! Coba saja kalau mamamu menjodohkan kamu dengan perempuan yang tidak kamu sukai bangsat, nanti kamu rasain sendiri” ketus Adrian dengan kesal.


“Well! My mom never do that because she know what happened with her if her doing something i don’t like” (mama aku tidak akan pernah melakukan hal tersebut karena ia tahu apa yang akan terjadi kepadanya saat ia melakukan sesuatu yang tidak aku sukai) ucap Denis dengan suara dingin.


“Yeah! Karena kamu akan membunuh semua orang jika sampai hal terjadi” ketus Adrian.


“Kamu tahu jawabannya! Hehehehe” ucap Denis sambil terkekeh.


“Ckk!!” decak Adrian dengan sinis.


Semuanya diam tak ada yang berbicara membuat suasana disana terasa sunyi, meski di luar sana sangat ramai dengan suara musik DJ yang memekikkan telinga dengan jutaan manusia di bawah sana yang sedang mencari kepuasaan dunia.


Tok……….tok……….tok…………..


Rian memberi isyarat kepada Tom kepala pengawal Denis untuk membuka pintu melihat siapa yang datang.


Tak berselang lama Tom masuk dengan seorang perempuan berkulit sawo matang, dengan tinggi 161 cm dan memakai mini dress berlubang seperti perempuan ja***g yang mencari mangsa.


“Your b***h” (pelacur kamu) tanya Adrian menatap Denis.


“Ckk!! Rian mine” (milik Rian) dengus Denis dengan sinis.


Byur………………


Rian menyemburkan minumannya ke wajah Arsen membuat Arsen menutup mata menahan emosi yang selalu saja terkena sial hari ini. Ingin rasanya ia memukul Rian tapi saat ini bukan waktunya karena tubuhnya sangat lemah.


“Aw aw aw ! Kamu ikhlas tidak sih” ketus Arsen dengan kesal meringis sakit.


“Sorry dude” (maaf kawan)


“Heemmmm”


“Pilihanmu bagus juga Rian tapi menurutku dia sudah longgar” ejek Adrian sambil menatap Rian dengan senyum menyeringai.


“Aku lebih baik perjaka seumur hidup dari pada dengan dia Adrian” dengus Rian dengan wajah kesal.


Hehehehe……………..


Adrian terkekeh mendengar ucapan Rian yang menolak dengan tegas jika perempuan didepannya itu wanita bayarannya.


Sedangkan perempuan yang mereka bicarakan, sedari tadi menatap Denis dengan tatapan memuja baru kali ini melihat wajah asli Denis yang sudah lama ia dambakan.


“Dia memintamu untuk menidurinya dude” bisik Adrian.


“Boleh saja. Asalkan dia melayani peliharaanku duluan” ucap Denis sambil tersenyum penuh arti.


“Kamu punya peliharaan?” tanya Adrian dengan cepat.


“Heemmm” deham Denis dengan suara dingin.


“Kamu sudah datang Indah” ucap Sandro membuyarkan lamunan Indah.


“Ehhh! Apa yang terjadi dengan wajah kamu Sandro?” tanya Indah dengan kaget melihat wajah Sandro yang penuh dengan lebam.


“Aku tadi berkelahi dengan kucing jalanan” jawab Sandro dengan asal.

__ADS_1


Puufttt……………..


Rian menahan tawanya yang hampir kelepasan mendengar ucapan Sandro barusan, tapi seketika wajahnya kembali datar saat mata tajam Adrian menatapnya seakan ingin mengulitinya hidup-hidup.


“Kucing jalanan?” tanya Indah dengan bingung.


“Mana laporannya” ucap Sandro sengaja mengalihkan pembicaraan.


“Oh! Iya aku hampir lupa” ucap Indah sambil menyodorkan map putih berlogo rumah sakit ke Sandro.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Dengan tak sabar Sandro membuka map tersebut ingin mengetahui siapa sebenarnya ayah biologis Ari keponakannya. Matanya kaget melihat tulisan 99,1 % cocok dengan DNA atas nama Ando Saputra yang menandakan kalau Ando adalah ayah biologis Ari.


“Wow dude congratulation! Kamu berhasil mengetahui siapa ayahnya Ari” pekik Arsen dengan suara tinggi yang ikut mengintip dokumen tadi.


“Shut up your f**king mouth kid” (tutup mulut sialanmu bocah) maki Sandro dengan suara tinggi.


“Siapa ayahnya?” tanya Adrian.


“Ando Saputra” jawab Arsen dengan cepat.


“Ah! Aku rasa dia tidak akan mudah menerimanya karena kamu tahu ceritanya dude. Tapi baguslah dari pada kamu saudara ipar dengan Riski Akbar” ucap Adrian sambil terkekeh.


“Ckk!!” decak Sandro dengan sinis menatap Adrian.


“Indah terima kasih sudah membantuku” ucap Sandro dengan tulus.


“Sama-sama Sandro. Lagian kan kita teman jadi sudah seharusnya saling membantu” ucap Indah sambil tersenyum manis.


“Sekali lagi makasih ya atas bantuannya”


“Oke Sandro santai aja”


Sandro lalu mengajak Indah untuk bergabung bersama mereka tapi Indah menolak karena ia harus segera pulang.


Denis yang mendengar hal tersebut tersenyum sinis, karena tahu jika itu hanya akal-akalan Indah karena tidak ingin terlihat buruk didepannya.


“Oh ya Sandro, ucapanmu yang mengenai dokter pribadi waktu itu bagaimana?” tanya Indah sebelum keluar dari sana.


“Oh ya itu kamu akan mulai secepatnya. Kamu akan menjadi dokter pribadi…” ucap Sandro yang langsung dipotong Denis.


“Rian. Bukannya itu dokter pribadi yang kamu minta di Sandro waktu itu” potong Denis dengan cepat.


“Ah! Iya benar bos” ucap Rian yang melihat isyarat mata Denis.


“Nanti aku akan kabari kapan kamu mulai bekerja untukku nona Indah. Benarkan?” tanya Rian dengan suara dingin dan wajah datar.


“Iya benar tuan” ucap Indah sambil tersenyum manis tapi dalam hatinya sedang mengumpat kesal.


Sialan aku pikir si Denis yang mencari dokter pribadi, batin Indah berdecak kesal.


“Sandro siapkan penerbanganku untuk kembali ke Rusia besok malam” titah Denis dengan suara dingin.


“Baik bos” ucap Sandro dengan suara tegas mendengar ucapan Denis yang berakting.


Setelah mengatakan hal tersebut Sandro bergegas mengantar Indah ke depan club dan kembali masuk ke ruangan VIP untuk bertanya mengenai apa yang dimaksud oleh Denis tadi.


Sepertinya ada yang tak beres disini, batin Sandro menerka.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue……………

__ADS_1


__ADS_2