Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 154


__ADS_3

Gerakan tangan Denis terhenti saat mendengar suara teriakan kekasihnya. Ia berbalik menatap kekasihnya yang sedang menatapnya dengan tatapan emosi.


Napas Leila naik turun melihat adiknya yang di hajar oleh Denis dengan kejam. Ia bergidik ngeri melihat tubuh sang adik yang sudah tidak bisa dikenali karena pukulan dan tendangan Denis.


"Apa maksudmu melakukan ini semua kepada adik aku Denis Arkana!" bentak Leila dengan suara tinggi.


"Denis" lirih Denis sambil tersenyum menyeringai.


Bugh................


Aarrgghhh...............


Leila berteriak histeris melihat Denis yang kembali menendang adiknya hingga terpental ke belakang mengenai tembok.


Dengan cepat Leila berlari menuju sang adik untuk melihat keadaannya. Air matanya mengalir dengan deras melihat tubuh sang adik yang penuh dengan luka dan darah.


"Ka p.....ergi" lirih Arkan dengan suara pelan.


"Tidak dek. Kakak tidak akan meninggalkan kamu" ucap Leila sambil menggelengkan kepalanya.


"A....ku mohon ka" pinta Arkan dengan suara lemah.


Leila menggelengkan kepalanya sambil menangis tak mau mengikuti ucapan sang adik. Arkan sendiri hanya berharap Denis tidak memukul sang kakak karena sudah mengganggunya.


Grep............


"Apa yang kamu lakukan sialan!" bentak Leila saat tangannya tiba-tiba di tarik dengan kasar.


Arkan kaget bukan main melihat kakaknya yang membentak sang bos. Dengan cepat ia berdiri di tengah keduanya meski harus menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"Maaf bos ini salah aku. Aku mohon jangan menghukum ka Leila bos" pinta Arkan dengan cepat.


"Apa maksud kamu Arkan?" tanya Leila dengan suara tinggi.


"Bos aku mohon maafkan ka Leila bos" ucap Arkan memohon tak menggubris pertanyaan sang kakak.


"ARKAN LUIS BAKER" bentak Leila dengan suara tinggi.


"CUKUP KA. INI SEMUA KESALAHAN AKU JADI SUDAH SEHARUSNYA AKU MENDAPAT HUKUMAN DARI BOS" hardik Arkan dengan suara tak kalah tinggi.


Bugh.............brugh.................


Denis menendang Arkan dengan kuat hingga terpental ke belakang mengenai tembok. Leila sampai menutup mulutnya melihat hal itu.


Bugh..........bugh........bugh.........bugh........


"Keterlaluan kamu Denis.......hiks hiks hiks......dia itu adik aku.......hiks hiks hiks" bentak Leila sambil menangis.


Denis membiarkan Leila memukul dadanya tak membalasnya. Leila sendiri terus menangis histeris karena ia tidak suka melihat keluarganya di pukul didepan matanya.


"Ka L.....eila. B....os tidak bersalah ka" lirih Arkan dengan suara lemah.


"Kamu lihat! Dia hampir mati tapi masih saja membela kamu!" bentak Leila dengan emosi.


Arkan menggelengkan kepalanya menatap sang kakak meminta untuk tidak ikut campur dengan masalahnya. Ia tidak mau sang kakak terkena dampak akibat perbuatannya.


Denis diam menatap kekasihnya dengan tatapan tajam tidak perduli jika tubuhnya terus di pukul Leila. Ia lalu mengambil hpnya di saku celana dan mengirim pesan ke Sandro untuk datang.


"Tok.........tok.........tok...........


"Masuk" ucap Denis dengan suara dingin saat mendengar ketukan.


Ceklek................


Saat pintu terbuka Sandro masuk ke dalam dan kaget melihat keadaan ruangan sang bos yang tadinya rapi sekarang sudah seperti kapal pecah.


Gila! Arkan kamu memang tukang cari masalah, batin Sandro sambil menatap Arkan dengan kasihan.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Sudah pusat lihatnya" ucap Denis dengan suara dingin.


"Maaf bos" balas Sandro dengan cepat.

__ADS_1


"Bawa Arkan ke apartemennya dan suruh Bimo merawatnya" titah Denis dengan suara tegas.


"Baik bos" jawab Sandro dengan suara dingin.


Sandro lalu memapah Arkan keluar dari sana meninggalkan Leila dan Denis disana. Melihat adiknya yang sudah pergi Leila bergegas ingin menyusulnya tapi tangannya ditahan oleh Denis.


"Lepas!" ketus Leila dengan suara dingin.


"Tidak sampai kita menyelesaikan masalah kita" balas Denis dengan suara tegas.


"Masalah kamu bilang! Apa kamu tidak pikir siapa disini yang memulainya? Kamu itu yang bermasalah dengan adik aku bukan aku!" bentak Leila dengan suara tinggi.


Prang................


Leila kaget bukan main saat tiba-tiba meja kaca di sampingnya pecah karena ditendang Denis.


Denis menatap Leila dengan tatapan berkilat tajam tidak menyukai cara bicara Leila yang berbicara dengan suara tinggi kepadanya.


"Kenapa? Apa kamu takut melihat aku seperti ini?" tanya Denis dengan suara dingin saat melihat tubuh Leila gemetaran.


"D......enis" lirih Leila dengan terbata-bata.


Rahang Denis mengeras mendengar panggilan Leila yang memanggil namanya tidak dengan sebutan mesra lagi.


Prang..........prang..........prang.............


Aaarrgghh..........


Teriak Leila bergema didalam sana saat Denis menendang dan menghancurkan barang didalam ruangan kerjanya.


Ia tidak perduli dengan berkas perusahaan yang bertebaran di dalam sana dengan pecahan kaca yang tersebar didalam ruangan.


Prang............prang............prang...........


Sepeti kesetanan Denis kembali menghancurkan. semua barang didalam sana. Bahkan TV berukuran 36 inci ia hancurkan dalam sekejap waktu.


"HENTIKAN! AKU MOHON BERHENTI" pekik Leila sambil menutup kedua telinganya.


Denis tidak perduli dengan teriakan kekasihnya dan kembali melampiaskan emosinya didalam sana.


Grep..............


Leila memeluk tubuh Denis dari belakang dengan erat tidak perduli jika Denis akan marah. Saat ini yang terpenting adalah menghentikannya untuk menghancurkan seisi ruangan.


"Hiks hiks hiks........aku mohon berhenti sayang......hiks hiks hiks" pinta Leila sambil menangis.


Denis diam sambil menutup mata mengontrol emosinya. Ia berbalik dan langsung memeluk Leila dengan erat membuat Leila semakin menangis didalam pelukannya.


Tak berkata apa-apa Denis mengendong Leila ala bridal style membuat Leila kaget tapi ia biarkan saja karena keduanya dalam mood tidak baik.


"Bersihkan ruanganku" titah Denis saat sampai di depan meja Rian.


"Baik presdir" balas Rian dengan sopan sambil membungkuk.


Rian bernapas lega setelah Denis dan Leila sudah masuk ke dalam lift. Ia memijit keningnya yang tiba-tiba sakit karena hari ini harus menghendel semua pekerjaan Denis yang belum selesai.


Apa lagi ia mengingat kejadian hari ini yang bertubi-tubi terjadi didalam ruang Denis.


"Aku yakin tidak ada barang yang masih utuh didalam ruangan bos" gumam Rian.


Ia segera menelpon cleaning service untuk datang membersihkan. ruang Denis. Saat cleaning service tiba ia segera masuk bersama mereka untuk memantau pekerjaan mereka.


Benar kan dugaan aku kalau tidak ada barang satu pun yang utuh lagi didalam sini, batin Rian.


~ Rumah Sakit Pertiwi ~


Rayen berlari dengan langkah panjang masuk ke dalam rumah sakit Pertiwi setelah mendapat kabar dari Sandro.


Tadi Sandro memilih membawa Arkan ke rumah sakit terdekat agar ia segera ditangani. Kebetulan Bimo juga berada di sana dan ia bisa memeriksa kondisi Arkan.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Sandro" panggil Rayen dengan suara tinggi saat keluar dari lift di lantai 5.

__ADS_1


Sandro menoleh ke arah suara saat mendengar namanya di panggil. Ia menatap Rayen dengan wajah datar dan dingin tidak takut sama sekali dengan tatapan tajam Rayen.


"Apa yang terjadi dengan adikku? Kenapa dia bisa sampai masuk rumah sakit?" tanya Rayen beruntun.


"Sebaiknya tuan muda Rayen masuk ke dalam ruangan Arkan" jawab Sandro dengan suara dingin.


"Rayen. Just call me Rayen" (panggil aku Rayen) ucap Rayen dengan suara tegas.


"Baiklah Rayen"


Keduanya lalu masuk ke dalam ruang rawat Arkan dimana ia menempati ruang VVIP di rumah sakit ini.


Saat didalam Rayen kaget melihat tubuh adiknya yang di perban dan terdapat lebam di seluruh wajahnya.


"Siapa yang melakukan ini kepada adikku?" tanya Rayen dengan tatapan membunuh.


"Bos yang melakukannya" jawab Sandro dengan santai.


Bugh............


Sandro berhasil menghindar dari pukulan Rayen saat Rayen ingin meninjunya. Ia tersenyum smirk menatap Rayen seakan berkata kalau gerakannya sangat mudah dibaca.


"Bangsat! Dimana Denis sekarang sialan!" maki Rayen dengan suara tinggi.


"Di perusahaan mungkin" jawab Sandro dengan acuh.


"Katakan apa maksud Denis menghajar adik aku seperti ini berengsek!" titah Rayen dengan emosi.


Sandro lalu menceritakan semuanya dari awal kenapa Arkan harus mendapat hukuman dari Denis. Rayen bungkam setelah mendengar penjelasan Sandro tentang apa yang membuat Denis menghajar adiknya.


"Jadi kiriman sialan itu ke rumah aku tadi pagi semua karena ulah Arkan" tebak Rayen.


"Benar. Dan bukan hanya di kediaman kalian saja tapi mereka juga sudah mulai membuntuti nona Leila. Pagi tadi bos dan nona Leila berhasil melumpuhkan anak buah sialan itu" papar Sandro menjelaskan.


"Fu*k you Lewis!" maki Rayen sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


Rayen mengangkat hpnya lalu menghubungi Denis tapi sampai panggilan ke tiga panggilannya tidak pernah di angkat.


"Dimana Denis sekarang. Aku ingin bertemu dengannya" ucap Rayen sambil menatap Sandro.


Sandro tidak langsung menjawab tapi ia mengirim pesan kepada Thomas menanyakan dimana bos mereka karena ia yakin bosnya sudah tidak ada lagi perusahaan.


"Bos saat ini sedang bersama nona Leila di penthouse Imperial Kingdom" ucap Sandro setelah Thomas membalas pesannya.


"Aku akan ke sana"


"Sebaiknya kamu jangan ke sana dulu karena tadi emosi bos tidak stabil saat aku membawa Arkan keluar" cegah Sandro saat melihat Rayen akan pergi.


"Lalu bagaimana dengan Leila. Dia pasti sedang dalam bahaya disana" ucap Rayen dengan cemas.


"Tenang saja nona Leila akan baik-baik saja" ucap Sandro dengan yakin.


"Bagaimana bisa kamu seyakin itu?" tanya Rayen dengan selidik.


"Karena bos tidak akan main tangan kepada orang yang dicintainya. Jika bos marah dengan orang yang ia cintai maka dia akan melampiaskan emosinya dengan menghancurkan barang atau berlatih di markas" jawab Sandro menjelaskan.


"Heeemmm"


~ Imperial Kingdom ~


"Maaf" ucap Leila sambil menunduk didepan Denis.


Ia merasa sangat malu karena sudah marah-marah tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Denis sudah menceritakan semuanya kepada Leila mengenai alasan kenapa Arkan ia hajar tadi.


"Sudah tidak marah lagi?" tanya Denis dengan suara dingin.


Leila menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Denis sambil meramas kedua tangannya menetralkan rasa gugup.


"Jangan pernah panggil namaku seperti tadi dalam keadaan apapun sayang" ucap Denis dengan suara lembut sambil memegang dagu Leila.


Hiks...........hiks............hiks...........


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...

__ADS_1


To be continue................


__ADS_2