Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 142


__ADS_3

Simon menatap adiknya Seila dengan sedih karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu sang adik dari perjodohan ini.


Aku harus cari cara untuk mengagalkan perjodohan Seila, batin Simon penuh tekad.


Seila bergegas pergi dari ruang makan tidak perduli dengan panggilan mommynya yang menyuruhnya untuk kembali duduk dan menghabiskan makan malam.


"Biarkan saja mom. Kalau dia lapar pasti dia akan makan mommy" ucap Seina dengan acuh.


"Siapa yang akan berpikir untuk makan disaat seperti itu? Apa lagi dia baru saja diberitahu tentang perjodohan yang tidak masuk akal" ucap Simon dengan suara dingin sambil menatap daddynya dengan tajam.


"Ini semua untuk kebaikan adikmu juga" balas Roy dengan suara tegas.


"Hehehehe! Untuk adik aku atau untuk dendam pribadi daddy" ucap Simon sambil terkekeh.


Roy menatap putranya dengan tatapan tajam tak suka mendengar ucapannya. Simon sendiri mengepal kedua tangannya melihat tatapan daddynya yang seakan mengatakan untuk tidak membuat rencananya berantakan.


"Kakak seperti tidak suka dengan perjodohan Seila" tebak Seina dengan tatapan menyelidik.


"Siapa yang akan suka jika adiknya di jodohkan dengan seorang penjahat kelamin apa lagi dia itu seumuran dengan daddy kita" balas Simon dengan sinis.


"Loh itu bukannya bagus ka. Kan bisa sekalian Seila di ajar untuk menjadi istri yang baik dari orang yang lebih tua darinya" ucap Seina dengan santai.


"DIAM KAMU SEINA! COBA SAJA KAMU YANG DIPOSISI SEILA, KAKAK YAKIN KAMU TIDAK AKAN MAU" bentak Simon dengan suara tinggi.


"Kakak bentak aku?" tanya Seina dengan suara tinggi.


"Ya karena kamu memang pantas di bentak" jawab Simon dengan suara dingin.


"Fu*k you" maki Seina dengan emosi.


"Seina" bentak Clara dan Roy serentak sambil menatap tajam Seina karena susah berani memaki sang kakak.


Plak................


Seina syok tidak menyangka akan di tampar oleh kakaknya. Napas Simon naik turun merasa sangat marah mendengar adiknya yang berani memakinya.


"Sekali lagi kamu memaki kakak maka kakak akan menjahit mulutmu itu" ucap Simon memperingati adiknya


Simon segera pergi dari sana tidak perduli dengan orang tuanya yang menatapnya dengan tajam karena sudah menampar adiknya sendiri.


Ia memilih pergi ke kamar Seila karena ia yakin pasti saat ini adiknya itu sedang menangis. Benar saja dugaannya, baru saja ia sampai didepan kamar Seila ia sudah bisa mendengar suara tangisan.


Ceklek...............


Simon segera membuka pintu kamar Seila dan masuk ke dalam, ia segera memeluk Seila yang sedang duduk di ranjang sambil menangis dengan histeris.


Hiks..........hiks..........hiks............


Tangisan Seila terdengar sangat pilu membuat hatinya sangat sakit. Dengan lembut ia mengelus kepala Seila untuk menangkannya.


"Ka........hiks hiks hiks..........aku tidak mau menikah dengan uncle Hito ka........hiks hiks hiks" lirih Seila sambil menangis histeris.


"Tenang ya dek Kakak akan bantuin kamu untuk lari dari perjodohan itu" bujuk Simon.


"Beneran ka?" tanya Seila dengan sesegukan.


"Benar dek. Kamu percaya kan sama kakak" jawab Roy.


"Iya aku percaya sama kakak. Makasih ya ka"


"Sama-sama dek"


Simon memeluk Seila dengan erat sambil memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk membantu Seila keluar dari perjodohan ini.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Tidak ada cara lain lagi, aku hanya bisa meminta tolong kepada dia, batin Simon dengan yakin.


~ Jakarta, Indonesia ~

__ADS_1


Sandro memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sangat sakit. membuat Max yang melihat wajahnya pucat segera bertanya.


"Kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Max dengan cepat.


"Tidak ada apa-apa. Aku baik-baik saja" jawab Sandro.


"Apa kamu yakin?" tanya Max dengan selidik.


"Ya" jawab Sandro dengan suara tegas.


Keduanya lalu mulai memantau pengirim pesanan senjata klien mereka ke Australia dan juga sekalian mengirim senjata mereka kepada Sean di Amerika.


~ Kediaman Baker ~


"Beraninya kamu menunjukan mukamu disini sialan" hardik Rayen dengan suara tinggi sambil menunjuk Arsen.


"Kakak kenal ka Arsen?" tanya Arkan dengan bingung.


"Kamu kenal penculik ini?" tanya balik Rayen dengan tatapan tajam menatap Arkan.


"Penculik? Maksud kakak apa sih? Ka Arsen bukan penculik ka" ucap Arkan dengan cepat.


"Asal kamu tahu saja dek, kalau dialah orang yang menyuruh anak buahnya untuk menculik kakak di pulau pribadi kakak dan bawa kesini" ucap Rayen dengan suara tinggi dan emosi.


"Eh! Ka Arsen beneran yang di bilang ka Rayen barusan?" tanya Arkan dengan penasaran.


"Ya" jawab Arsen dengan singkat.


"Kamu dengar sendirikan kan dek. Dia itu seorang penculik dek" ucap Rayen dengan cepat.


Arkan menatap Arsen dengan kening berkerut memikirkan ucapan dia dan kakaknya. Otaknya berpikir jika tidak mungkin ka Arsen menculik kakaknya tanpa alasan.


Aku yakin ini semua adalah perintah bos, batin Arkan sambil menatap Denis.


Denis tersenyum menyeringai melihat Arkan yang sudah menebak apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan Leila ia masih memikirkan apa yang sebenarnya mereka bicarakan.


"Sayang apa ini maksudmu yang menyuruh aku untuk tidak memikirkan rapat hari ini?" tanya Leila.


"Terima kasih sayang"


"Sama-sama sayang"


Rayen seperti orang bengong tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan saat ini.


Melihat kakaknya yang kebingungan Leila segera memberitahu semua yang sudah dilakukan oleh Denis untuk mereka.


"Jadi kamu yang menyuruh sialan ini menculik aku?" tanya Rayen dengan emosi.


"Ya" jawab Denis dengan singkat.


Rayen mengusap wajahnya dengan kasar ingin sekali menghajar Denis yang sedari tadi membuat dia emosi tapi ia tahan karena ada kedua adiknya disini.


Leila lalu mengajak mereka semua untuk makan malam bersama. Setelah makan malam Denis, Amira, dan Arsen segera pergi dari sana.


Denis Arkana. Aku seperti pernah mendengar nama itu, batin Rayen dengan pikiran kemana-mana.


Duar.................


Tubuhnya seperti di sambar petir saat mengingat dimana ia pernah mendengar nama Denis. Ia syok tak menyangka jika orang yang selama ini ia cari ternyata adalah Denis.


"Jadi itu kamu Denis. Orang yang menyelamatkan aku waktu aku kecelakaan" ucap Rayen dengan senang.


Tak terasa waktu pun berlalu dengan sangat cepat dan bulan telah berganti dengan matahari menandakan hari baru telah tiba.


~ Mansion Denis Arkana ~


Pak Liam menaruh secangkir kopi hitam didepan Denis seperti biasanya. Denis lalu menaruh iPad di samping dan mulai menikmati sarapan yang disiapkan koki.


Saat sedang sarapan tiba-tiba Sandro, Arkan, dan Arsen masuk bersamaan ke dalam menghampirinya.

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Bos" panggil ketiganya dengan serentak.


"Silahkan duduk dan ikut sarapan tuan-tuan sekalian" ucap pak Liam dengan sopan.


"Pak Liam aku minta susu coklat ya" ucap Arkan dengan cepat.


"Baik tuan muda Arkan"


Pak Liam segera menyuruh pelayan untuk menyiapkan sarapan buat ketiganya. Mereka lalu sarapan dengan hening karena tidak ingin membuat Denis marah.


Selesai sarapan Denis segera pergi ke ruang kerjanya karena hari ini ia tidak akan ke perusahaan. Sandro, Arkan, dan Arsen lalu mengikutinya dari belakang.


"Ada apa?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Ada yang membajak kapal muatan kita di tengah laut bos" lapor Sandro.


"Siapa orang itu?" tanya Denis dengan tatapan tajam.


"Lexi Ferguson bos. Mafia asal Spanyol yang pernah kita habisi adiknya bos" jawab Arsen sambil menaruh iPad didepan Denis.


Hehehehe...............


Denis terkekeh membaca informasi orang yang sudah membajak kapalnya di tengah laut. Ia sudah tidak sabar ingin melenyapkan mereka semua.


"Dimana dia saat ini?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Dia dan anak buahnya berada di Thailand saat ini bos" jawab Arsen yang sudah mendapat lokasi musuh mereka.


"Siapkan anak buahku untuk berburu malam ini" titah Denis dengan suara dingin.


"Baik bos" ucap ketiganya dengan serentak.


"Arkan malam ini kamu ikut denganku" tunjuk Denis.


"Oke bos" jawab Arkan.


Denis lalu menyuruh ketiganya pergi, saat ia akan melihat grafik saham perusahaannya tiba-tiba hpnya berbunyi ada nama Rian disana.


"Halo selamat pagi bos" ucap Rian dari sebrang.


^^^"Ada apa?" tanya Denis to the point.^^^


"Maaf bos barusan ada telpon dari kantor wakil direktur Martinez Company yang ingin berbicara langsung dengan bos" jawab Rian memberitahu.


^^^"Wakil direktur?" tanya Denis.^^^


"Iya bos. Dia adalah Simon Martinez putra Roy Martinez yang menjabat sebagai wakil direktur saat ini bos" jawab Rian menjelaskan.


^^^"Berikan nomorku kepadanya" titah Denis dengan suara dingin.^^^


"Baik bos"


Denis segera mematikan panggilannya sepihak dan memikirkan apa maksud anak musuhnya menghubunginya.


Ia yakin pasti ada sesuatu yang ingin diminta oleh Simon Martinez dan jika dugaannya benar makan ia tidak akan melepaskan keluarga itu.


Ting..............


Denis melihat hpnya dan pikir jika Simon Martinez yang mengirimnya pesan tapi tenyata itu pesan dari Arsen.


Arsen Sanjaya


"Bos aku sudah mengirim informasi mengenai nenek anda ke email bos"


Denis tak membalas pesan Arsen dan segera membuka email melihat informasi yang mengenai sang nenek.


"Ini" ucap Denis dengan kaget.

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue...............


__ADS_2