
Keduanya sama-sama menghela napas dengan dalam memikirkan anak mereka masing-masing.
Hahahaha.............
Tawa keduanya pecah saat saling menatap saat menghela napas bersamaan. Rayen menutup matanya sambil tertawa tak menyangka dia dan sang adik akan melakukan hal yang sama.
"Jangan bilang kakak memikirkan Milan" tebak Arkan sambil tertawa.
"Kamu juga pasti sedang memikirkan Aron kan?" tanya balik Rayen.
"Hehehehe! Ka Rayen benar" jawab Arkan sambil terkekeh.
"Hah! Aku berpikir apa yang akan Bianca lakukan saat mengetahui kenakalan Aron hari ini ka" tambahnya lagi sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Mungkin kamu akan tidur di luar" balas Rayen sambil tersenyum menyeringai.
"Ckk!! Jangan sampai hal itu terjadi ka" decak Arkan dengan kesal memikirkan hal tersebut.
"Ya siapa tahu saja. Di lihat dari sifat istrimu itu sudah pasti terjadi kan" balas Rayen dengan wajah serius.
"Seperti kakak ipar tidak saja" cibir Arkan.
"Well! Istriku tidak akan melakukan hal itu karena dia tidak bisa tidur kalau aku tidak memeluknya" ucap Rayen sambil menaik turun alisnya.
"Tapi kan kalau ada Milan kakak bakal tidak di dipedulikan sama kakak ipar" ejek Arkan sambil tersenyum smirk.
"Cih! Kamu memang sialan" decih Rayen dengan kesal.
Hehehehe..............
Arkan terkekeh melihat wajah cemberut kakaknya karena apa yang diucapkannya barusan memang benar. Wajah Milan yang duplikat kakaknya sering membuat Claudia tidur bersama anak mereka dan membuat Rayen sering kesal.
Meskipun begitu Claudia akan tetap kembali ke Rayen keesokan harinya karena tidak bisa berlama-lama jika marahan sama Rayen.
"Setelah kamu ketemu klien kamu langsung ke rumah mama Amira ya dek" titah Rayen dengan suara tegas tak mau dibantah.
"Oke ka" balas Arkan tak membantah.
Arkan lalu melihat jam di tangannya dan tersisa 20 menit dari janjinya untuk bertemu dengan klien. Ia segera pamit pergi, karena tidak ingin terlambat dalam pertemuan penting dengan klien.
"Aku harus segera pulang sebelum istriku lebih dulu pulang" gumam Rayen segera berkutat dengan pekerjaannya sebelum meeting.
~ Mansion Denis Arkana ~
Mata Leila perlahan-lahan terbuka setelah hampir seharian ia terbaring lemah di ranjang. Setelah makan siang tadi ia kembali tidur karena merasakan tubuhnya masih tidak bertenaga lagi.
"Ternyata sudah jam 15:00 sore" ucap Leila melihat jam di dinding.
Ia bergegas bangun untuk membersihkan diri karena sebentar lagi suaminya sudah pulang. Sedangkan anaknya akan dijemput oleh suaminya setelah pulang dari perusahaan.
Semoga Kai tidak membuat kerusuhan di rumah mama, batin Leila penuh harap.
Bukan tanpa alasan, karena ia sangat tahu dengan sifat sang anak yang arogan dan keras kepala. Apa lagi ia diasuh oleh Zeus, orang yang paling tidak disukai suami dan anak mereka.
Entah kenapa keduanya tidak menyukai Zeus, pernah ia bertanya alasannya dan jawaban mereka sangat mengejutkan. Keduanya sama-sama menjawab tidak menyukai Zeus karena dia jelek.
See! Jawaban yang tidak masuk akal menurutnya tapi mau dikata apa karena suami dan anaknya itu memang sangat sulit di tebak.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Setelah selesai membersihkan diri Leila bergegas keluar dari kamar ingin membuatkan makan malam.
"Pak Liam" panggil Leila saat sampai di lantai satu.
"Iya nyonya" jawab pak Liam sambil menghampiri Leila.
"Tolong suruh koki siapkan bahan untuk membuat lasagna, ayam parmigiana, dan juga pasta" ucap Leila menyebut nama makanan Italia yang disukai suami dan anaknya.
"Baik nyonya"
"Oh tolong siapkan udang karena aku ingin membuat pasta dengan udang ya pak Liam"
"Baik nyonya akan saya beritahu ke koki"
"Tolong bawakan teh chemoline ke taman kaca ya pak Liam" pinta Leila dengan suara lembut.
"Iya nyonya"
Leila bergegas pergi ke taman kaca miliknya untuk menikmati sore hari dengan melihat tanaman mawar hijau kesukaan suami dan anaknya. Ia sendiri yang membuat taman itu untuk menjadi tempat santai buat keluarga kecilnya.
Sampainya di taman kaca, Leila tersenyum lebar melihat bunga mawar hijau yang bermekaran sangat indah di sana. Ia duduk di sana sambil menikmati teh dan tiramisu yang dibawakan oleh pelayan barusan.
"Ah! Nyamannya" gumam Leila sambil memejamkan mata menyukai suasana sore yang hangat.
__ADS_1
~ Rumah Arkana ~
Zeus terduduk lemas di sofa sudah tidak bisa berkata-kata lagi dengan kelakuan 3 keponakannya. Sedari tadi pagi sampai sore ini ketiganya tidak bosan-bosan bermain dan menghancurkan seisi rumah.
"Persetan jika mommy dan daddy pulang akan marah" ucap Zeus dengan kesal tidak perduli lagi.
Prang............prang............prang...........
Kai melempar semua permainannya di tanah membuat seisi rumah sangat ribut. Sudah jam 4 sore tapi belum ada tanda-tanda orang tua ketiga bocah nakal itu datang.
Bukan hanya itu pesan yang ia kirim juga tidak di respon mereka. Membuat Zeus semakin kesal karena tidak mendapat balasan.
"Apa barusan ada badai disini bos?" tanya Lexi yang baru saja datang sambil menenteng beberapa kotak pizza dan cola pesanan Zeus.
"Badai buatan lebih tepatnya" jawab Zeus dengan suara lemah.
"UNCLE JELEK" teriak Kai dengan suara menggelegar dari arah tanan samping.
"Lexi kamu lihat sana bocah setan itu sebelum aku struk karena emosi" ucap Zeus dengan kesal.
Tak mengatakan apa-apa Lexi bergegas menuju ke arah taman samping. Sampai disana matanya melotot kekacauan di taman samping, apa lagi saat melihat pohon apel hias kesukaan nyonya besar dan ikan peliharaan bos besar.
"Pantas saja bos menyerah tak mau menjaga mereka" gumam Lexi.
Bruk.....................
"Hahahaha! look there is a monstel" (lihat disana ada monster) pekik Milan sambil tertawa kencang.
"Yeay! Selan onstel" seru Aron dengan antusias.
Keduanya melempar lumpur ke wajah dan tubuh Lexi yang mematung tak menyangka akan menjadi sasaran kedua bocah nakal didepannya.
"Stop" ucap Kai dengan suara tegas dan dingin.
"Why blothel? He's a monster so he should be punished" (kenapa kakak? Dia itu monster jadi harus di hukum) ucap Milan dengan bibir mengerucut.
"I'm hungry and bored" (aku lapar dan bosan) ucap Kai dengan suara dingin.
"Oh" jawab Milan dan Aron serentak.
Aron yang tak mengerti apa yang keduanya bicarakan hanya ikut-ikutan Milan menjawab. Kaki kecil ketiganya berlalu masuk ke dalam rumah tidak memperdulikan Lexi.
"Uncle jeyek" ejek Milan saat melewati Lexi.
"Bocah sialan" desis Lexi mengumpat keduanya dalam hati.
Mbok Erna yang melihat apa yang dilakuan kedua bocah itu hanya bisa mengelus dadanya. Beruntung ia tidak di kerjain bocah-bocah itu tadi.
Sedangkan Lexi ia masuk dengan bibir komat-kamit mengutuk Milan dan Aron. Zeus dibuat kaget melihat wajah dan tubuh Lexi yang penuh dengan lumpur.
"Kamu kenapa?" tanya Zeus.
Lexi tak menjawab pertanyaan sang bos dan berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sebelum itu ia menyuruh bi Eda mengambil baju gantinya di dalam mobil.
"Woww! Pizza" pekik Milan dengan suara melengking.
"Hey bocah cuci tangan dulu baru makan" ucap Zeus dengan suara tegas.
"Bantu uncle" ucap Milan sambil menyodorkan tangannya ke Zeus di ikuti Aron.
Mau tak mau Zeus mengendong keduanya ke kamar mandi yang tak jauh dari sana untuk membersihkan tangan mereka. Sedangkan Kai ia sudah berlalu pergi ke dapur untuk mencuci tangan sebelum di suruh Zeus.
Meski umur Kai baru 5 tahun tapi perawakannya seperti anak umur 7 tahun karena ia memiliki gen bule dari papanya.
"Enak ya" sindir Zeus sambil mendudukkan Milan dan Aron di sofa.
"Heemmm" deham Kai sambil mengangguk kepalanya.
"cle au pizza" ucap Aron menunjuk pizza di atas meja.
"Bi Eda bawa piring sama garpu" teriak Zeus.
Tak beberapa lama bi Eda datang membawa piring dan garpu. Zeus tak lupa memberikan 1 kotak pizza ke bi Eda untuk dia dan penjaga di luar.
"Terima kasih ya den Zeus" ucap bi Eda dengan senang.
"Heemm" deham Zeus.
Zeus menggelengkan kepalanya melihat Kai yang memakan pizza dengan gaya seorang tuan muda kecil. Ia akui pesona Kai sudah seperti papanya yang akan membuat siapa saja terus menatapnya.
"Lexi ayok gabung sama kita" ajak Zeus saat Lexi sudah selesai membersihkan tubuhnya.
"Iya bos" ucap Lexi dengan semangat.
__ADS_1
Mereka memakan pizza dengan hening tidak ada yang berbicara. Sangat berbeda jauh dengan tadi dimana sangat berisik.
Ternyata mereka bisa diam juga ya, batin Lexi tak menyangka ketiga bocah itu akan diam.
"Oh my God Aron" pekik Arkan dengan suara menggelegar baru saja datang.
"Papa" ucap Aron dengan mulut belepotan.
Arkan mengurut keningnya melihat penampilan sang anak yang sangat kotor. Apa lagi ia tidak memakai celana dan dalaman hanya memakai baju saja.
"Apa begini cara kamu menjaga anak aku bocah" hardik Arkan dengan suara tinggi.
"Ckk!! Salahkan saja anak ka Arkan yang sangat nakal itu! Apa ka Arkan tidak lihat kekacauan di dalam sini!" bentak Zeus dengan emosi.
Arkan mengedarkan kepalanya melihat isi rumah mama Amira yang sangat berantakan, dengan pecahan kaca dan permainan yang sangat berantakan.
"Ini belum seberapa ka. Coba ka Arkan ke taman samping" ucap Lexi.
Tak menjawab ucapan Lexi, Akran segera pergi ke taman samping dan ia kembali di buat syok. Apa lagi saat melihat ikan koi peliharaan daddy Steven yang sudah mengapung menandakan sudah mati.
Bahkan apel hias mama Amira tinggal daun dan batang saja. Buahnya berserakan di tanah dan banyak sekali didalam kolam ikan.
"Aron apa kamu mau membuat papa bangkrut" keluh Arkan mengontrol emosinya.
Arkan bergegas masuk ke dalam rumah dan tak berbicara lagi. Ia langsung lelah melihat putranya yang sangat nakal, Aron yang melihat papanya bergegas naik ke atas tubuh Arkan dan memeluknya sehingga ia pun ikutan menjadi kotor.
"MILAN ENZO BAKER" ucap Rayen dengan suara lantang mengagetkan putranya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Uncle yang belikan daddy" ucap Milan membuang piring berisi pizza miliknya ke atas meja sambil menunjuk Zeus.
"Bocah setan kamu nuduh uncle" pekik Zeus dengan mata melotot.
"Beneran daddy. Uncle yang kasih Milan pizza" ucap Milan dengan memelas menunduk takut.
"Zeus" panggil Rayen dengan tatapan tajam.
"Milan yang mau ka Rayen jangan salahkan aku. Kalau tidak percaya lihat sana cctv" ketus Zeus dengan tatapan tajam.
Phew.................
Rayen membuang napasnya dengan kasar karena yakin ucapan Zeus benar. Ia sangat hafal betul dengan sifat putranya yang sangat menyukai makanan cepat saji.
Selera Milan sama seperti istrinya yang sangat suka jajan di pinggir jalan. Apa lagi gaya hidupnya yang selalu memakan makanan cepat saji sebelum mereka menikah.
"Sini" panggil Rayen dengan suara tegas.
"No anti daddy pukul" ucap Milan sambil menggelengkan kepalanya.
"Son" ucap Rayen dengan suara tegas.
Mau tak mau Milan segera menghampiri daddynya dengan takut. Zeus dan Lexi yang melihat hal itu merasa kaget tak menyangka bocah itu akan berubah menjadi penakut jika berhadapan dengan daddynya.
"Berapa banyak kamu memakan pizza?" tanya Rayen dengan suara dingin.
"Two daddy" (dua papa) jawab Milan sambil memilin jari tangannya merasa takut.
"Tatap mata daddy kalau lagi bicara"
Milan mengangkat kepalanya melihat daddynya, melihat mata sang anak yang sudah berkaca-kaca akhirnya Rayen tak bisa memarahi lagi putranya.
"Ayok peluk daddy" ucap Rayen dengan suara lembut.
Huaawa..............
Tangis Milan pecah didalam sana saat memeluk daddynya. Rayen lalu mengendong putranya sambil mengelus punggungnya agar putranya berhenti menangis.
"Mau tobat bagaimana kalau selalu saja tidak jadi memarahi Milan" cibir Arkan.
"Memang ka Arkan beda apa sama ka Rayen" ejek Zeus dengan sinis.
"Diam kamu bocah" hardik Arkan dengan mata melotot.
"Tuan muda tidak makan lagi?" tanya Lexi menatap Kai.
"Tidak enak" jawab Kai singkat dengan wajah datar.
Lexi tak bertanya lagi mendengar jawaban Kai yang sangat singkat dan dingin. Seakan memberitahunya untuk tidak bertanya lagi atau mengajaknya berbicara.
Arkan lalu mengendong putranya ke kamar tamu untuk memandikannya. Ia tidak mau istrinya pulang dan mendapati putra mereka seperti ini, bisa-bisa dia bakal tidur di luar nanti malam.
Tak berselang lama 2 mobil mewah memasuki halaman rumah Arkana. Tak berselang lama Steven turun dari mobil diikuti istrinya.
__ADS_1
Sedangkan di mobil yang lain Claudia dan Bianca keluar dengan wajah lelah. Mereka berempat lalu bergegas masuk ke dalam rumah tanpa tahu jika mereka akan syok melihat seisi rumah.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...