
Arsen terkekeh melihat wajah Sandro yang sedang mengumpatnya dalam hati. Ia sudah tidak sabar ingin melihat hukuman yang akan di terima oleh Sandro karena kemarin ia tidak melakukan misinya sesuai perintah Denis.
Aku sudah tidak sabar ingin melihat hukumanmu, batin Arsen.
Arsen lalu masuk ke dalam mobil diikuti Sandro meski masih kesal. Mobil mereka lalu melaju meninggalkan bandara menuju markas Black Devil yang berada disini.
~ Markas Black Devil I ~
Sampainya di mansion yang sangat besar yang menjadi markas mereka keduanya bergegas menarik koper dan masuk ke dalam.
Sepanjang jalan anggota Black Devil menunduk memberi hormat kepada kedua orang kepercayaan bos mereka.
"Dimana bos?" tanya Sandro saat bertemu dengan Thomas di ruang keluarga.
"Bos sedang berenang di kolam renang bos Sandro" jawab Thomas dengan suara dingin.
Sandro lalu menyuruh Thomas untuk membawa koper mereka ke dalam kamar. Keduanya lalu menuju ke kolam renang untuk bertemu dengan Denis.
Byur.................
Denis melompat ke dalam kolam renang dan berenang dari ujung ke ujung untuk meluapkan rindunya kepada istri dan anaknya di Indonesia.
Ia juga harus menahan gairahnya setiap kali bertelepon dengan Leila, belum lagi wallpaper hpnya adalah wajah tidur Leila yang sangat mengemaskan memperlihatkan bahu telanjangnya yang tidak tertutup selimut.
Arkan yang tak menyadari kehadiran keduanya sedang berjemur hanya memakai boxer dan kaca mata hitam.
Byur...............
Hahahahaha................
Tawa Sandro pecah saat menendang kursi santai Arkan hingga masuk ke dalam kolam renang. Arkan melotot melihat Sandro dengan tatapan berkilat tajam.
"Ka Sandro" pekik Arkan dengan suara menggelegar.
Dengan emosi Arkan keluar dari kolam renang lalu mengejar Sandro yang sudah berlalu sambil tertawa. Keduanya seperti Tom dan Jerry yang selalu saja tidak pernah akur.
"Bos" ucap Arsen saat Denis keluar dari kolam renang.
Arsen memberikan jubah mandi ke Denis yang langsung di terima Denis. Ia duduk di kursi santai sambil meminum segelas air dingin.
"Bagaimana?" tanya Denis dengan suara dingin.
"4 Jam lagi berita terbaru tentang kasus William Richie akan menyebar ke dunia Maya bos" jawab Arsen sambil melihat jam tangan mewahnya.
"Bajak cctv di ruang penyelidikan saat ini dan jangan lupa sebarkan bersama informasi itu" titah Denis dengan suara dingin.
"Baik bos"
"Suruh Sandro untuk melawan semua anak buahku disini sebagai hukumannya" ucap Denis dengan suara dingin.
"Uhmm! Bos bagaimana kalau dia melawan anak buah kita yang sedang berlatih" usul Arsen merasa iba dengan hukuman Sandro.
"Terserah" jawab Denis acuh.
Denis berlalu pergi ke dalam mansion untuk membersihkan diri karena harus memeriksa email laporan masuk di perusahaan dan markas.
Sandro yang mendengar ucapan Arsen tentang hukuman dari Denis mau tak mau harus melawan 50 anak buah mereka yang sedang berlatih di ruang latihan.
Hari itu Sandro harus di pukul habis-habisan karena harus melawan 50 anak buah mereka tanpa henti. Tubuhnya penuh lebam dan dan luka sampai membuat Arkan meringis saat melihat Bimo yang merawatnya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Sakit ya ka?" tanya Arsen dengan wajah susah di tebak.
"Diam kamu bocah! Kalau kamu mau tahu rasanya sini biar aku hajar kamu!" bentak Sandro.
Aaarrgghh............
"Apa kamu sudah gila Bimo?" tanya Sandro dengan suara melengking saat Bimo menekan lukanya dengan kuat.
__ADS_1
"Kalau mau berkelahi tunggu sampai luka-lukamu ini sembuh" jawab Bimo dengan kesal.
"Lihat kondisimu dulu baru hajar bocah labil itu" ucapnya lagi sambil tersenyum sinis.
"Ckk!! Ayo cepat selesaikan pekerjaanmu sialan!" hardik Sandro dengan suara tinggi.
Bimo menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Sandro, sedangkan Arsen ia sedari tadi tidak perduli karena ia sedang membajak cctv di ruang penyelidikan William Richie.
Kamu tidak akan lolos kali ini William Richie, batin Arsen sambil tersenyum menyeringai.
Arsen bergegas menuju ruang kerja Denis untuk memberitahu Denis tentang tugasnya yang sudah selesai.
Apa lagi tinggal beberapa menit berita tentang William Richie akan menguak di dunia maya, tak lupa juga tentang cctv di ruang penyelidikan yang berhasil ia bajak.
Tok...........tok.........tok..........
"Masuk" ucap Denis saat pintu ruang kerjanya di ketuk.
Mendengar perintah masuk Arsen segera masuk dan langsung disambut tatapan datar dan dingin Denis.
"Bos tinggal beberapa saat lagi kita akan melihat pertunjukkan yang seru" ucap Arsen sambil tersenyum menyeringai.
"Heemmm" deham Denis dengan suara dingin.
Arsen lalu menyalakan televisi untuk menonton berita yang sebentar lagi akan mengemparkan seluruh Italia bahkan sampai ke seluruh dunia.
Hahahaha..............
Tawa Denis seketika pecah saat seluruh siaran televisi tiba-tiba berhenti dengan bukti kejahatan William Richie dan beberapa petinggi dunia.
"Aku rasa kali ini mereka semua tidak akan bangkit lagi bos" ucap Arsen sambil tersenyum smirk.
"Buat mereka kehilangan semua kekayaan mereka hari ini juga. Kalau perlu buat mereka di tendang ke jalanan" titah Denis dengan aura membunuh.
"Aku rasa kali ini kita tidak perlu campur tangan bos karena tanpa kita campur tangan mereka akan kehilangan semuanya"
Denis tersenyum seperti iblis sudah tidak sabar ingin membalaskan rasa sakit papanya kepada perkumpulan tersebut. Ia juga tahu malam ini ia tidak akan tidur karena akan didatangi tamu tak diundang.
"Suruh anak buahku untuk bersiap. Malam nanti kita akan kedatangan tamu tak di undang" titah Denis dengan tatapan membunuh.
"Apa mereka akan menyerang kita disini bos?" tanya Arsen.
"Menurutmu?" tanya balik Denis dengan tatapan datar dan dingin.
"Aku akan menyiapkan anak buah kita semuanya bos" jawab Arsen yang sudah tahu maksud Denis.
"Biarkan mereka semua masuk ke dalam sini lalu kepung mereka" ucap Denis dengan tatapan membunuh.
"Apa kita akan menggunakan bahan peledak bos?" tanya Arsen.
"No. Suruh sniper untuk bersembunyi dan tembak mereka dari seluruh penjuru" jawab Denis sambil tersenyum smirk.
"Ok bos"
Arsen segera keluar dari ruangan Denis dan memberitahu semuanya untuk bersiap. Apa lagi dia, Sandro, dan Arkan yang akan memimpin pasukan untuk menyambut kedatangan tamu tak diundang nanti malam.
Malam ini kita akan menentukan siapa pemenang dari semua Maslah selama ini, batin Denis dengan tatapan penuh kebencian.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Denis bangun dan berjalan menuju jendala yang memperlihatkan pemandangan taman luas dibelakangnya.
Pikirannya hanya tertuju ke papanya dan ingin segera menyelesaikan dendam papanya. Ia tidak ingin di masa depan keluarganya harus terbayang dengan musuh papanya dari masa lalu.
"Papa malam ini Denis akan membalas semua rasa sakit dan penghinaan yang papa alami selama hidup papa" ucap Denis sambil menatap lurus ke depan.
~ Mansion Martinez ~
Prang.............prang............prang...........
__ADS_1
Simon bersedekap tangan di lantai dua melihat *daddynya* yang sedang mengamuk di bawah sana dan menghancurkan seisi mansion.
"Sialan! Aku akan membunuhmu Denis Arkana" teriak Roy dengan suara menggelegar.
"Dad aku mohon tenangkan dirimu" ucap Riana dengan takut.
"Tutup mulutmu jika tidak ingin aku menghajarmu!" bentak Roy sambil menunjuk istrinya dengan stik golf.
Riana diam tidak mengeluarkan satu kata pun karena tahu suaminya tidak main-main dengan ucapannya. Roy kembali menghancurkan seisi mansion melampiaskan emosinya.
Aaarrgghhh..............
Teriak Roy dengan suara menggelegar membuat semua pelayan berdiri ketakutan di luar. Mereka tidak berani masuk ke dalam mansion tidak ingin mendapat pukulan dari Roy.
Hpnya yang sedari tadi terus berdering tidak menghentikan Roy dari amukannya. Begitu banyak panggilan dari perkumpulan mereka dan juga rekan kerjanya tapi ia tidak menjawab panggilan tersebut.
"Mommy apa kita sudan bangkrut?" tanya Seila berbisik.
"Mommy tidak tahu sayang. Berdoa saja agar itu semua tidak terjadi dan juga kita tidak berurusan dengan polisi" jawab Riana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apa polisi mom" pekik Seila dengan suara tinggi.
Roy seketika berbalik menatap putrinya dengan tatapan tajam seakan meminta jawaban dengan ucapannya barusan.
"Apa maksudmu Siapa? Ada urusan apa kamu sama polisi?" tanya Roy dengan suara bergema didalam sana.
"Aku hanya sa......lah ucap da.....ddy" jawab Seila dengan terbata-bata.
"Tuan" panggil kepala pelayan dengan panik menghampiri Roy.
"Bangsat! Beraninya kamu menggangguku sialan!" bentak Roy dengan suara menggelegar.
"Maaf tuan tapi didepan ada polisi" ucap kepala p layak dengan cepat.
"Apa" pekik Roy, Seila, dan Rian dengan serentak kaget.
"Untuk apa polisi datang kesini?" tanya Riana dengan penasaran.
"Mommy jangan-jangan daddy bakal ditangkap polisi karena terlibat kasus perdagangan manusia yang lagi viral itu mom" jawab Seila dengan panik.
"Jaga ucapanmu Seila! Daddy kamu difitnah dan tidak terlibat kasus itu!" bentak Riana dengan suara tinggi sambil menatap Seila dengan tajam.
"Tapi kan bisa saja mom" protes Seila tak mau mengalah.
"Seila kamu...." ucap Rian yang langsung dipotong Roy.
"DIAM" hardik Roy dengan suara tinggi menatap keduanya dengan tatapan tajam.
Keduanya menunduk tidak mau mendapat amukan Roy. Tak lama berselang polisi yang dibilang kepalanya pelayan masuk bersama petugas penyidik yang membawa kardus.
"Saudara Roy Martinez" ucap polisi dengan suara tegas.
"Ya ada apa pak polisi" balas Roy tak kalah tegas.
"Tuan Roy dan seluruh keluarga anda diharapkan segera meninggalkan mansion ini karena mansion ini sudah disita bank terkait pencucian dana yang anda lakukan bersama William Richie dan anda tidak diperkenankan membawa satu pun benda didalam sini" ucap seorang penyelidik sambil menunjukkan. surat sita dari pengadilan.
"Apa maksud kalian? Ini mansionku dan kalian tidak berhak menyita milikku!" bentak Roy dengan emosi.
"Mohon kerja samanya tuan Roy Martinez" ucap penyelidik dengan suara tegas.
"Tidak! Kalian tidak boleh mengambil hartaku! Pergi kalian ain dari mansionku" teriak Riana dengan emosi.
Penyelidik tadi memberi isyarat kepada anak buahnya untuk segera membawa keluar Roy dan keluarganya.
Inilah akibat dari keserakahan daddy selama ini, batin Roy yang sedari tadi menonton semuanya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue..................
__ADS_1