
Aura didalam kamar Zeus terasa sangat mencekam membuat Zeus dan Lexi ketakutan. Berbeda dengan Pablo yang sudah terbiasa dengan aura sahabatnya itu.
"Dude tenangkan dirimu" ucap Pablo menepuk bahu sahabatnya karena tahu sahabatnya sudah mode emosi.
"ZEUS SMITH" ucap Steven dengan suara dingin dan tegas.
"Da........ddy" ucap Zeus dengan gugup.
Bugh...........bugh..........bugh............
Steven memukul Zeus dengan brutal tidak perduli kalau anaknya sedang terluka akibat dihajar Denis tadi.
"Hentikan dude! Kamu bisa membunuh anakmu sendiri sialan!" bentak Pablo dengan suara tinggi memeluk Steven.
"Lepaskan aku sialan! Biar aku beri pelajaran kepada anak kurang ajar ini!" bentak Steven sambil memberontak.
"Remember he is your son dude" (ingat dia itu anak kamu teman) ucap Pablo mengingatkan.
"I know as***le" (aku tahu bajingan) maki Steven dengan emosi.
Steven memberontak ingin lepas dari pelukan Pablo yang sedang memeluknya dari belakang. Beruntung kekuatan Pablo tak kalah jauh dari Steven sehingga ia bisa menahan sahabatnya itu.
"Tenang Steven! Apa kamu lupa kalau orang yang kamu pukul adalah darah dagingku sendiri!" bentak Pablo dengan suara tinggi merasa marah dengan kelakuan Steven.
"Karena dia darah dagingku maka aku harus memberinya pelajaran agar dia tahu kesalahannya" balas Steven dengan suara tak kalah tinggi.
"Tidak selamanya semua bisa di selesaikan dengan kekerasan sialan!" geram Pablo merasa kesal dengan pemikiran Steven.
Ia melepas pelukannya saat melihat Steven sudah mulai tenang. Mata biru Steven menatap Pablo dengan tajam seakan ingin menelannya hidup-hidup.
Pablo dengan acuh membalas tatapan Steven tak kalah tajam. Keduanya sama-sama menguarkan aura mengintimidasi di dalam sana, membuat Zeus dan Lexi bergidik ngeri merasakan aura mafia kejam dari keduanya.
"Kamu harus ingat Steven. Zeus adalah anak tunggal kamu dan satu-satunya keturunan kamu! Jika kamu ingin mendidik anakmu maka jangan pernah melibatkan kekerasan dude" ucap Pablo dengan suara tegas.
Phew.................
Steven membuang napasnya dengan kasar mengontrol emosinya. Ia sadar apa yang dibilang oleh Pablo benar.
"Selesaikan masalah diantara kamu dan Zeus dengan kepala dingin dude" ucap Pablo menepuk bahu Steven.
"Gunakan waktu kamu untuk membicarakan hal ini antara ayah dan anak" tambahnya lagi.
Pablo memberi isyarat dengan gerakan kepala kepada Lexi untuk keluar. Kini tinggallah Steven dan Zeus didalam sana yang terdiam dan tidak saling melihat satu sama lain.
30 Menit kemudian
Sudah 30 menit berlalu keduanya masih saja sama-sama diam tidak ada yang berbicara. Sepertinya keduanya tidak ada niat untuk mengajak satu sama lain untuk sekedar mengobrol.
"Maaf" ucap Steven dengan tulus.
Zeus menoleh menatap daddynya yang baru kali ini mengucapakan maaf lebih dulu. Ia memang sangat nakal sejak kecil dan membuat daddynya marah, hingga mendapat pukulan.
Tapi daddynya tidak pernah mengatakan maaf lebih dulu setelah memukulnya.
Tes...................
Air mata Zeus jatuh m liat daddynya yang membuang egonya hanya untuk minta maaf lebih dulu kepadanya.
Grep................
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Zeus memeluk daddynya dan menangis dengan suara kencang didalam pelukan Steven. Melihat hal itu Steven membalas pelukan anaknya dan ikut menangis dalam diam.
"Maafkan aku daddy..........hiks hiks hiks.........aku bersalah daddy.........hiks hiks hiks...........maafkan aku" ucap Zeus sambil menangis histeris.
"Daddy sudah memaafkan kamu son. Daddy minta maaf susah memukulmu" balas Steven.
"No! daddy tidak salah! Ini memang kesalahan aku daddy!" ucap Zeus dengan tegas.
"Heeemmm"
Steven memeluk putranya dengan erat melepaskan semua rasa di hati dan pikirannya saat ini. Setelah saling memaafkan kini keduanya duduk berhadapan ingin membicarakan masalah tadi.
"Maafkan aku sudah membuat hubungan daddy dan mommy Amira bermatakan" sesal Zeus denah tulus.
"Dalam sebuah hubungan memang tidak selamanya akan berjalan dengan mulus son. Daddy yakin ini semua adalah cobaan untuk hubungan daddy dan mommy Amira" Balas Steven dengan suara tegas.
"Tapi karena aku mommy Amira membatalkan pernikahan kalian dad" lirih Zeus dengan tatapan bersalah.
"Jangan di pikirkan son. Kalau memang hubungan kami harus berakhir berarti kami tidak berjodoh nak" ucap Steven sambil tersenyum lebar berbeda dengan hatinya.
"Tapi daddy" ucap Zeus yang langsung di potong Steven.
"Jangan pikirkan hal itu karena ini adalah urusan daddy dan mommy Amira son" potong Steven dengan suara tegas.
"Iya daddy" ucap Zeus tak membantah.
__ADS_1
"Daddy hanya minta tolong jangan lakukan kebiasaan kamu lagi kepada Denis nak. Dia bukan lawan yang sebanding denganmu, dia berbeda dengan uncle Demian meski mereka sama-sama mafia kejam nak" ucap Steven menasehati putranya.
"Maafkan aku daddy" ucap Zeus sambil menunduk.
"Jangan minta maaf lagi nak karena daddy sudah memaafkanmu. Daddy hanya minta kontrol kebiasaan kamu karena daddy tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi nak" pinta Steven.
"Baik daddy" ucap Zeus dengan tegas.
"Daddy akan hubungi dokter untuk memeriksa kamu sekaligus mengobati lukamu nak. Kamu istirahat saja jangan bekerja lagi" ucap Steven dengan suara lembut.
"Iya daddy" jawab Zeus tak membantah.
Zeus menetap daddynya yang sudah keluar dari kamarnya dengan tatapan sedih. Ia tahu kalau daddynya saat ini sedang hancur karena hubungannya dengan mommy Amira yang akan kandas.
Zeus minta maaf daddy. Zeus janji akan melakukan. apa saja untuk bisa membuat hubungan daddy dan mommy Amira tidak hancur, batin Zeus penuh tekad.
Bulan sudah berganti dengan matahari dan tidak terasa hari sudah berganti dengan hari baru.
~ Mansion Denis Arkana ~
Phew...............
Amira membuang napasnya dengan kasar melihat mansion megah milik sang anak dari dalam mobil. Pagi ini ia datang ke mansion sang anak untuk membicarakan tentang kejadian kemarin.
"Selamat pagi nyonya besar" ucap pelayan yang berada di depan mansion.
"Selamat pagi. Apa anakku belum berangkat?" tanya Amira dengan suara lembut.
"Belum nyonya besar" jawab pelayan tadi.
"Oh baiklah. Terima kasih ya" balas Amira dengan sopan.
"Sama-sama nyonya"
Amira lalu masuk ke dalam mansion ingin segera bertemu dengan putranya.
"Selamat datang nyonya besar" sambut pak Tio di ruang keluarga.
"Dimana Denis dan Leila pak Tio?" tanya Amira.
"Tuan dan nyonya sedang sarapan nyonya besar" jawab pak Tio dengan sopan.
Keduanya lalu menuju ke ruang makan dimana disana Leila dan Denis sedang sarapan dengan hening dan hanya ada celoteh baby Kai disana.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Selamat pagi kesayangan mama semuanya" ucap Amira dengan suara lembut.
"Habiskan sarapanmu sayang" ucap Denis dengan suara tegas saat melihat istrinya ingin bangun menghampiri sang mama.
Amira mengangguk kepalanya untuk mengikuti ucapan sang anak. Ia lalu bergabung bersama mereka di meja makan dan tidak ikut sarapan karena sudah sarapan dari rumah.
Selesai sarapan Amira menahan Denis untuk jangan pergi dulu, karena ada hal penting yang ingin ia bicarakan dengan keduanya.
"Tunda meetingnya 2 jam lagi" ucap Denis dengan suara dignin menatap Sandro.
"Baik bos" ucap Sandro segera keluar dan berkutat dengan hpnya menghubungi Rian.
"Katakan apa yang ingin mama bicarakan" ucap Denis dengan suara tegas.
"Mama mau minta maaf soal kejadian kemarin sudah membentak kamu nak" ucap Amira dengan tulus.
"Aku sudah memaafkan mama jadi mama tak perlu merasa bersalah lagi" balas Denis dengan suara lembut.
"Terima kasih nak"
"Heemmm" deham Denis sambil mengangguk kepalanya.
"Mama juga datang kesini ingin membahas tentang pernikahan mama dan uncle Steven" ucap Amira.
"Apa mama bisa membatalkan pernikahan kalian?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Sayang" ucap Leila dengan mata melotot menatap suaminya dengan tajam.
Denis menggeleng kepalanya menatap sang istri untuk diam dan biarkan dia dan mamanya yang berbicara saja.
Aku akan marah kalau kamu tidak merestui hubungan mama dan daddy Steven sayang, batin Leila dengan tatapan tajam.
"Apa aku akan tidur di luar nyonya Arkana jika apa yang kamu pikirkan benar" bisik Denis sambil tersenyum tipis.
Mata Leila melotot tajam menatap suaminya dan mencubit perutnya. Tapi sialnya ia tidak bisa melakukannya, karena perut sang suami yang seperti papan cuci tidak bisa di cubit.
"Cih" decih Leila dengan kesal sambil memanyunkan bibirnya.
Cup...............
"Sayang" pekik Leila dengan mata melotot melihat kelakuan suaminya yang tidak tahu tempat.
__ADS_1
Leila menghentak kaki dan berlalu pergi dari sana merasa kesal dengan kelakuan suaminya. Sedangkan Denis hanya terkekeh melihat sang istri yang sangat mengemaskan.
"Katakan ma apa jawaban mama" titah Denis sudah kembali mode dingin menatap sang mama.
"Kebahagian anak mama adalah yang paling utama untuk mama. Jika anak mama tidak setuju maka mama akan membatalkannya nak" ucap Amira dengan suara lantang dan tegas.
"Mama yakin?" tanya Denis dengan tatapan tajam.
"Sangat yakin nak. Jika mama memaksa mengikuti keinginan mama maka sama saja akan menghancurkan kebahagian keluarga mama selama ini" jawab Amira dengan yakin tak ada keraguan sama sekali.
Hening!
Tidak ada yang berbicara dan hanya diam saja. Amira dengan pemikirannya sedangkan Denis sibuk membaca pikiran sang mama, ia lalu tersenyum smirk entah apa yang ada dalam otaknya.
"Jam 12 tepat mama dan uncle Steven temui aku di perusahaan" ucap Denis dengan suara tegas.
"Hah! Buat apa nak?" tanya Amira dengan kaget.
Denis menatap sang mama dengan datar dan dingin, lalu berlalu pergi menuju ke taman samping menemui istri dan anaknya sebelum berangkat ke perusahaan.
Setelah Denis pergi ke perusahaan, Amira segera pamit menuju restoran tak lupa mengabari Steven untuk pergi ke perusahan Denis tepat jam 12 siang.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
~ BakerTech ~
Rayen menatap sang adik dengan tatapan tajam seakan ingin menelannya hidup-hidup.
"Arkan Luis Baker" ucap Rayen dengan suara dingin.
"Aku tidak mau ka!" pekik Arkan dengan suara tinggi.
"Lakukan sekarang juga atau kakak akan menghancurkan semua mobil kesayanganmu itu" ancam Rayen tak main-main.
"Kakak menyebalkan" ketus Arkan dengan bibir mengerucut.
"Ini semua untuk keponakan kamu Arkan" keluh Rayen memijit kepalanya yang tiba-tiba sakit.
"Tidak ka Rayen, ka Leila kalian sama saja" ucap Arkan dengan sinis.
"Ayolah dek kali ini saja. Kakak akan berikan apapun yang kamu" bujuk Rayen.
"Apapun?" tanya Arkan dengan mata memicing.
"Ya apapun" jawab Rayen dengan suara tegas.
Hehehehe..............
Arkan terkekeh sambil menatap kakaknya dengan senyum menyeringai. Rayen sendiri mengumpat dirinya yang mau saja menjawab ucapan sang adik.
Aku yakin permintaan bocah itu akan menguras dompetku, batin Rayen dengan sangat yakin.
"Aku mau satu vila mewah di Hawai atas namaku" ucap Arkan sambil tersenyum lebar.
Hah! Beneran tebakanku, batin Rayen dengan kesal.
"Baiklah" ucap Rayen pasrah.
"Malam nanti aku tunggu sertifikatnya atas namaku ya ka" ucap Arkan dengan senang.
"Heemmm! Tapi ingat penuhi keinginan istriku sekarang" ucap Rayen dengan suara tegas.
"Beres itu ka" balas Arkan.
Arkan tidak perduli jika seharian ia harus memakai baju superman menemani kakak iparnya seharian. Yang penting ia mendapat satu buah vila mewah di Hawai.
Kamu pasti bisa Arkan, batin Arkan menyemangati dirinya sendiri.
~ DA Corp ~
Tepat jam 12 siang Amira dan Steven sudah berada di DA Corp dan saat ini keduanya sedang duduk berhadapan dengan Denis di dalam ruangannya.
Apa ini akhir dari hubungan aku dan Amira, batin Steven sambil melihat Amira dengan tatapan sendu.
Amira membuang muka ke samping tak mau melihat Steven karena itu akan membuatnya menangis. Apa lagi ia sempat melihat tatapan mata Steven yang terlihat sendu.
Sedari tadi datang ia tidak berbicara dengan Steven apa lagi menjawab semua pertanyaannya. Ia takut jika hubungan mereka harus berakhir saat ini, karena dia sudah terlanjur mencintai Steven.
Steven aku mohon jangan buat aku harus menangis di sini, batin Amira sekuat tenaga menahan air matanya yang akan jatuh.
Hehehehe! Menarik, batin Denis sambil terkekeh melihat keduanya.
"Dimana kalian akan tinggal setelah menikah?" tanya Denis dengan suara dingin dan datar.
Eehh...................
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
__ADS_1
To be continue..................