Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 166


__ADS_3

Matahari sudah berganti dengan bulan menandakan sudah waktunya berhenti dari segala aktifitas hari ini. Tapi tidak dengan sebagian orang yang masih mencari kesenangan di malam hari.


Diantaranya ada beberapa orang berpangkat tinggi di negara Italia sedang berkumpul bersama di dalam ruangan yang sangat privat dengan keamanan tinggi.


Roy menatap satu persatu wajah yang sedang duduk mengelilingi meja bundar dengan tatapan tajam. Ia lalu menatap Martin yang diberi anggukan kepala tanda semuanya sudah hadir.


"Selamat malam semuanya" ucap Roy dengan suara tegas dan berwibawa.


"Selamat malam" balas 8 orang didalam sana dengan serentak.


"Tidak usah basa-basi lagi karena aku tahu kalian pasti sudah mengetahui tujuan dari pertemuan malam ini" ucap Roy dengan suara dingin.


"Ya kami semua tahu maksud pertemuan ini yang tidak lain menyangkut harta tersembunyi Demian Massimo" balas Sanches George seorang jenderal tertinggi militer angkatan laut dengan suara tegas.


"Apa anda sudah mendapat kuncinya Mr. Martinez?" tanya Yuri seorang pengedar narkoba terbesar di Italia sambil tersenyum penuh arti.


"Benar sekali Mr. Yuri" jawab Roy sambil tersenyum smirk.


"Prok........prok........prok.......tidak salah kami menjadikan anda sebagai ketua kelompok rahasia ini" ucap Yuri sambil bertepuk tangan.


"Benar yang dikatakan Mr. Yuri Mr. Martinez. Anda memang orang yang tepat mengantikan posisi si pengkhianat Demian" tambah William Richie seorang senat Republik di negera ini.


"Meskipun begitu kita seharusnya mewaspadai orang yang sedarah dengan pengkhianat itu" ucap Alan Draw seorang pengusaha hotel terbesar di Italia.


"Terima kasih atas sindirannya Mr. Draw tapi satu hal yang perlu anda tahu kalau musuh berbahaya itu adalah saudaramu sendiri" balas Martin dengan tatapan tajam.


"Itu hanya untuk keluarga anda saja Mr. Massimo karena buktinya keluarga kami semuanya disini baik-baik saja" ucap Alan sambil tersenyum mengejek.


"Fu*k you as***le" maki Martin dengan suara tinggi sambil berdiri menunjuk Alan.


"Berengsek! Beraninya kamu memaki aku bajingan!" bentak Alan sambil berdiri menodongkan senjata ke Martin.


Brak.............


Seketika Roy berdiri mengebrak meja didepannya dengan kuat membuat semua mata langsung tertuju kepadanya.


"Apa kalian pikir pertemuan ini untuk ajang perkelahian?" tanya Roy dengan suara tinggi.


Matanya menatap Martin dan Alan bergantian dengan tajam seakan ingin menerkam mereka hidup-hidup.


Keduanya langsung duduk tidak berkata apa-apa lagi karena tidak ingin mendapat pukulan dari ketua mereka yang terlihat tenang tapi sangat berbahaya.


"Jika kalian ingin berkelahi aku sarankan kalian pergi saja dari sini" ucap Dante Constanzo seorang mafia dengan suara dingin.


"Benar kata Dante. Apa kalian lupa tujuan kita berkumpul disini" tambah Henry Ignasio pemilik club terbesar di Italia.


"Aku hanya mau bilang kalau saat ini bukan waktunya kita berkelahi karena aku yakin ada berita besar yang akan diberitahu oleh ketua kita" ucap Luca Othello seorang mucikari dan bos perdagangan manusia terbesar di daratan Eropa.


Semua mata langsung tertuju ke Roy yang duduk di kursi ketua paling ujung. Roy tersenyum menyeringai menatap Luca yang bisa menebak apa tujuan dari pertemuan kali ini.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Benar sekali ucapan anda Mr. Othello" ucap Roy sambil tersenyum smirk.


"Seperti yang aku bilang di awal kalau aku sudah menemukan kunci untuk harta karun kita beserta dimana letak harta itu berada" tambahnya lagi dengan suara lantang.


"Serius? Anda tidak lagi bercandakan Mr. Martinez?" tanya Sanches dengan cepat.


"Semoga anda tidak mengecewakan kami lagi Mr. Martinez" ucap Luca dengan suara dingin.


"Kalau begitu dimana kunci dan letak harta karun itu berada?" tanya William dengan tenang.


"Ya dimana kunci itu berada Mr. Martinez?" tanya Yuri dengan tak sabar.

__ADS_1


Roy tak langsung menjawab pertanyaan mereka semua dan malah menatap mereka satu-persatu. Semuanya di buat tak tenang dan tak sabar menunggu jawaban dari Roy mengenai harta Karun Demian yang sangat besar.


Tiba-tiba layar proyektor didepan Roy menyala menampilkan gambar sosok yang sangat mereka kenali.


"Demian" ucap semuanya dengan serentak.


"Apa-apaan ini Mr. Martinez! Apa kamu ingin mempermainkan kami semua!" bentak Sanches dengan suara tinggi.


"Sialan! Jangan main-main denganku berengsek!" bentak Yuri dengan emosi.


"Apa maksud ini semua Mr. Martinez?" tanya Luca dengan tatapan tajam.


"Dia.............adalah kuncinya" jawab Roy sambil menunjuk foto didepan sana.


"Fu*k you Roy Martinez! Apa kamu sudah bosan hidup!" bentak Henry sambil menodongkan pistol ke Roy.


"DIAM SEMUANYA!" bentak Martin dengan suara menggelegar didalam sana.


Wajah mereka semua menegang karena emosi merasa dipermainkan oleh Roy. Apa dia pikir mereka tidak tahu orang difoto itu yang sudah lama meninggal dan bagaimana bisa dia menjadi kunci untuk harta karun tersebut.


"Mr. Martinez apa maksud ini semua?" tanya William yang sedari tadi duduk dengan tenang dan berwibawa.


"Orang di foto itu adalah Denis Arkana. Tak lain dan tak bukan adalah anak satu-satunya Demian Arkana Massimo" jawab Roy dengan suara lantang.


"Apa anak!" pekik Yuri dan Henry dengan serentak.


"Jadi maksudmu dia" tebak Luca yang sudah mulai mengerti maksud Roy.


"Seperti tebakan anda Mr. Othello. Denis Arkana adalah pemegang kunci dari semua harta milik Demian" papar Roy dengan suara tegas.


"Fu*k! Aku tidak menyangka ternyata keturunan Demian masih hidup" ucap Yuri.


"Jika dia hidup berarti dialah yang berhak atas harta si pengkhianat itu" tebak Sanches.


"Ya anda benar Mr. George" jawab Martin.


"Memang dia yang berhak tapi untuk saat ini dia tidak mengetahui hal itu. Jadi sebelum dia mengetahuinya alangkah lebih baik kita bergerak lebih dulu" usul Roy dengan suara tegas.


"Ya aku setuju dengan Mr. Martinez" ucap Henry dengan cepat.


"Lalu apa rencanamu sekarang Mr. Martinez?" tanya William.


"Kita membutuhkan darah dan jari jempol anak sialan itu. Aku sudah pernah bertemu dengannya tapi dia bukan lawan yang mudah karena sifatnya sangat mirip dengan Demian yang keras kepala, egois, dan kejam" jawab Roy dengan emosi mengingat apa yang dilakukan Denis kepadanya.


"Lalu dimana dia sekarang?" tanya Yuri.


"Indonesia" jawab Martin.


Layar proyektor seketika menampilkan biodata Denis membuat semua disana kaget. Apa lagi saat mengetahui jika ternyata Denis menjalin hubungan keluarga dengan keluarga Baker.


"Dia ternyata bukan lawan yang mudah" ucap Henry dengan kesal.


"Menarik" ucap Dante sambil tersenyum menyeringai.


"Aku rasa Mr. Constanzo mengetahui sesuatu" tebak Sanches.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Rayen Baker adalah seorang mafia yang sangat tangguh. Dia bukan lawan yang mudah tapi menurutku Denis Arkana adalah sosok yang lebih mengerikan dari pada Rayen" papar Dante menjelaskan.


"Apa maksudmu?" tanya Luca dengan cepat.


"Rayen Baker tidak akan mudah memberikan adik kesayangannya kepada seseorang meskipun dia memiliki harta yang sangat banyak. Bagi kami mafia harta bukanlah segalanya tapi kekuasaan" jawab Dante dengan suara dingin.

__ADS_1


"Apa dia juga seorang mafia?" tanya Henry.


"Well aku tidak tahu. Untuk saat ini hal itulah yang harus kita cari tahu" jawab Dante.


"Kalau begitu biarkan aku yang mencari tahu" jawab Sanches.


Semuanya mengangguk kepala menyetujui hal itu, mereka lalu berembuk memikirkan rencana untuk mendapat darah dan sidik jari Denis karena lawan mereka kali ini bukan lawan yang muda.


"Sebelum kita bubar ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan ke kalian" ucap Roy dengan suara tegas.


"Apa itu?" tanya mereka semua dengan serentak.


"Beberapa jam yang lalu anak buahku mengirim foto dia yang sedang menghadiri resepsi pernikahan Denis Arkana" jawab Roy sambil menunjukkan foto seorang pria paruh baya.


"Bangsat!" maki Henry, Yuri, dan William dengan emosi.


"Pablo Ulrico" ucap Dante dengan tatapan membunuh.


"Jangan biarkan dia sampai bertemu dengan Denis karena aku yakin dia akan memberitahu semua rencana kita kepada anaknya Demian" ucap Luca.


"Mr. George ini menjadi tugasmu untuk menangkap


Pablo dengan kekuasaan anda" titah Roy dengan suara tegas.


"Serahkan semuanya kepadaku" jawab Sanches dengan cepat.


"Baiklah"


Mereka lalu membubarkan diri dari sana karena tidak ada lagi yang harus mereka bicarakan.


~ Jakarta, Indonesia ~


Seorang pria paruh baya sedang memandang suasana malam Jakarta dari jendela kamar hotel tempat dia menginap


Dia adalah Pablo Ulrico orang yang ditakuti oleh kelompok Nine Cloud. Dia adalah teman seperjuangan Demian saat mereka merintis usaha di dunia bawah.


Dia adalah satu-satunya sahabat yang diakui oleh Demian dan saat ia diusir Pablo adalah orang yang membantu Demian keluar dari Italia dan menatap di Indonesia.


Selama ini ia sangat menyesal tak tahu kehidupan sahabatnya yang sangat memperihatinkan karena saat itu ia harus bersembunyi dari polisi.


Ia mengetahui kabar Demian saat ia meninggal dunia dan dari situ ia kehilangan informasi keberadaan istri dan anak sahabatnya.


"Bos" panggil Vito tangan kanannya dengan sopa.


"Apa mereka sudah bergerak?" tanya Pablo dengan suara dingin.


"Barusan mereka melakukan rencana darurat di tempat biasa tapi aku belum mengetahui rencana mereka bos" jawab Vito.


"Hehehehe..........aku yakin rencana mereka berhubungan dengan aku dan Denis" ucap Pablo sambil terkekeh.


"Lalu apa yang harus kami lakukan bos?" tanya Vito.


"Atur pertemuanku dengan Denis setelah ia pulang dari bulan madunya" jawab Pablo.


"Kenapa tidak sekarang saja sebelum dia berangkat bos?" tanya Vito dengan cepat.


"Kita tidak akan bertemu dengannya. sifat dia dan papanya tidak ada bedanya, mereka tidak akan meluangkan waktu mereka jika sedang bersama dengan orang yang mereka cintai" jawab Pablo dengan suara lembut mengingat kenangan dia dan sahabatnya.


"Baik bos" ucap Vito tak bertanya lagi.


Tes...........


Vito yang melihat bosnya meneteskan air mata hanya diam saja tak mau bertanya karena tahu apa yang membuat bosnya sampai meneteskan air mata.

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue............


__ADS_2