Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 191


__ADS_3

Hiks...........hiks........hiks..........


Tangis Leila pecah didalam pelukan suaminya, ia syok setelah mendengar rekaman tadi dan tak menyangka jika keluarga satu-satu sang mommy ternyata tega ingin menjualnya.


"Jangan menangis sayang. Hati aku sakit lihat kamu menangis" ucap Denis dengan suara lembut sambil memeluk sang istri.


"Hiks hiks hiks...........kenapa sayang?........hiks hiks.......kenapa aunty Rena tega sama aku sayang..........hiks hiks hiks" tanya Leila sambil menangi histeris.


"Apa salah aku sayang..........hiks hiks hiks..........selama ini aku tidak pernah berbuat salah sama aunty Rena......hiks hiks hiks..........tapi kenapa dia ingin menjual aku sayang? tanyanya lagi dengan sakit hati.


"Kamu tidak salah sayang tapi mereka yang salah" jawab Denis dengan suara tegas.


"Ingat ini sayang! Kamu adalah ISTRI DENIS ARKANA DAN HANYA MILIK AKU SEORANG! SAMPAI MATIPUN AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN MEREKA MENYENTUH KAMU KARENA AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN HAL ITU TERJADI!" tambahnya lagi dengan suara tegas.


Leila menangis semakin histeris didalam dekapan hangat suaminya, ia menangis bukan karena memikirkan ucapan tantenya tapi ia menangis merasa sangat bersyukur mendapat suami yang sangat mencintainya saat ini.


Terima kasih sayang. Terima kasih sudah menjadikan aku menjadi istrimu, batin Leila dengan penuh syukur.


Denis mengelus punggung sang istri menenangkannya. Tapi matanya berkilat tajam memikirkan apa yang akan ia balas ke orang yang sudah membuat istrinya menangis.


Beraninya kalian ingin mengusik milikku yang paling berharga. Tunggu saja tanggal mainnya, batin Denis sambil tersenyum menyeringai.


Denis lalu mengendong istrinya ke kamar saat melihat istrinya sudah terlelap karena kelelahan menangis.


Sampainya didalam kamar Denis menaruh sang istri di ranjang dengan pelan, setelah menyelimutinya ia lalu mengambil hpnya dan berjalan ke balkon lalu menelpon Rayen.


"Halo"


^^^"Kapan kamu berangkat ke Amerika?" tanya Denis to the point.^^^


"*Rencananya 4 hari lagi tapi aku berangkat besok karena ada meeting lusa*" jawab Rayen dari seberang.


^^^"Aku akan membunuh tante kalian" ucap Denis dengan suara dingin.^^^


"Apa yang terjadi?" tanya Rayen dengan cepat.


^^^"Aku akan mengirimkan sebuah rekaman ke kamu" jawab Denis dengan suara dingin.^^^


Ia lalu mematikan panggilannya sepihak tidak menunggu jawaban dari Rayen. Ia lalu mengirim rekaman tadi dalam bentuk voice note ke Rayen.


Kring.................


Denis tersenyum smirk membaca nama Rayen Baker dilayar hpnya.


"Apa Leila mengetahui hal ini?" tanya Rayen to the point.


^^^"Ya aku memberitahunya" jawab Denis.^^^


"Berengsek! Aku akan membunuh perempuan tua itu saat ini juga" pekik Rayen dengan emosi dari seberang.


^^^"Serahkan dia kepadaku karena dia berani ingin memisahkan aku dan istriku" ucap Denis dengan suara dingin.^^^


"Oke aku serahkan dia ke kamu. Terserah kamu mau apakan dia karena aku tidak perduli dengan mereka"


^^^"Heemmm"^^^


Denis lalu mematikan panggilannya sepihak karena tidak ada lagi yang ingin ia bicarakan. Ia lalu bergegas masuk ke dalam dan segera menyusul sang istri yang sudah terlelap.


Cup..............


Denis mencium kening dan bibir istrinya sambil memeluk tubuh Leila dengan erat.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


~ Kediaman Baker ~


Malam berganti pagi menandakan hari baru, Rayen yang semalam mengirim rekaman tersebut ke adiknya Arkan belum juga mendapat respon dari sang adik.


"Kenapa anak itu belum membaca pesanku sih" gumam Rayen sambil melihat pesan yang ia kirim ke Arkan belum dibaca juga.


"Selamat pagi tuan" ucap pak Jordi saat Rayen sampai di lantai satu.


"Heemmm" deham Rayen dengan suara dingin berlalu menuju ke meja makan.


Sampai di meja makan para pelayan segera menaruh sarapan untuknya tak lupa kopi hitam kesukaannya. Rayen lalu memakan sarapannya dengan hening di temani pak Jordi dan pelayan yang berdiri di samping meja makan.


20 menit kemudian


"KAKAK" teriak Arkan dengan suara melengking mengagetkan Rayen.


"Apa kamu ingin membunuh kakakmu Arkan!" bentak Rayen yang tersedak sarapannya.


"Ckk!! Siapa juga yang ingin membunuh kakak? Kakak ada-ada saja" decak Arkan dengan kesal.


Bugh..............


"Issh! Kenapa kakak memukulku" sarkas Akran dengan wajah cemberut sambil memegang kepalanya yang dipukul.


"Itu karena kamu kamu sudah membuat kakak kaget" balas Rayen dengan ketus.

__ADS_1


"Ckk!!"


Melihat makanan didepannya Arkan segera menyuruh pak Jordi menyiapkan piring untuknya, kebetulan ia belum juga sarapan. Rayen hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang adik yang tidak pernah berubah sama sekali.


Selesai sarapan Arkan yang ingat tujuan ia kesini segera menahan sang kakak yang akan pergi ke perusahaan.


"Jadi bos yang memberitahu kakek mengenai rencana aunty Rena?" tanya Arkan dengan cepat.


"Heemmm"


"Berengsek! Beraninya mereka ingin memisahkan bos dan ka Leila" hardik Arkan dengan emosi.


"Apa kakak tahu dimana mereka?" tanya Arkan dengan penasaran.


"Apa yang mau kamu lakukan? Jangan macam-macam ya Arkan" ancam Rayen dengan tatapan selidik.


"Ckk!! Aku bukan Arkan si introver yang dulu lagi ya ka" ketus Arkan.


"Tetap kamu jangan macam-macam Arkan. Kakak tidak ingin kamu kenapa-napa, lagian Denis yang akan mengurus aunty Rena"


"Bos yang akan turun tangan langsung ka?" tanya Arkan dengan kaget.


"Heemmm"


Arkan mengangguk kepalanya tanda sudah paham, sedangkan Rayen ia menatap adiknya dengan mata memicing merasa kalau pasti adiknya akan melakukan sesuatu kepada aunty mereka.


"Sebentar kakak akan berangkat ke Amerika jadi selama kakak pergi kamu harus tinggal disini" titah Rayen dengan suara tegas.


"Oke ka" balas Arkan dengan cepat.


"Ingat jangan coba-coba membuat masalah" ucap Rayen memperingati sang adik.


"Ckk!! Memangnya aku ini pembuat masalah apa" decak Arkan dengan bibir mengerucut.


Sebelum pergi Rayen memberi petuah yang sangat banyak ke Arkan, membuat Arkan memutar malas matanya mendengar semua petuah dan larangan dari sang kakak.


Melihat kakaknya sudah pergi dengan cepat Arkan melajukan mobilnya pergi ke markas ingin menemui Mark.


~ Markas Black Damon ~


Sampainya di markas Arkan bergegas keluar dari mobil sambil membanting pintu mobil dengan kuat.


Dengan langkah cepat ia masuk ke dalam markas membuat Jeky dan lainnya yang sedang memantau proses pengepakan senjata menatapnya dengan bingung.


"Ada apa dengan dia?" tanya Jeky ke salah satu temannya.


"Aku tidak tahu" jawab temannya.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Kamu memang keterlaluan Arkan. Lihat itu pintu aku sampai lepas dari engselnya" sarkas Mark dengan kesal.


"Cih! Pintu murahan juga. Nanti aku ganti" cibir Arkan.


"Janji ya kamu bakal ganti"


"Ya ya ya aku janji. Lebih baik sekarang kamu bantu aku melacak seseorang" titah Arkan dengan cepat.


"Siapa?" tanya Mark dengan penasaran.


"Tante aku nama Rena dan ini fotonya" ucap


Mark segera berkutat dengan keyboard menekan beberapa huruf yang tidak di mengerti oleh Arkan. Selang 10 menit akhirnya Mark tersenyum sudah mendapat keberadaan orang yang dicari Arkan.


"Bagaimana?" tanya Arkan saat melihat Mark tersenyum.


"Aku sudah mendapatnya" jawab Mark sambil tersenyum lebar.


"Wah kamu memang sangat hebat dude. Tidak sia-sia kamu jadi sahabat aku" puji Arkan dengan senang sambil menepuk pundak Mark.


"Siapa dulu Mark gituloh" ucap Mark dengan sombong.


"Ya ya ya aku akui kamu memang pintar tapi sayangnya aku lebih tampan dari kamu" balas Arkan tak kalah sombong.


"Cih! Sialan kamu" ketus Mark dengan kesal.


Hehehehe...............


Arkan terkekeh melihat wajah kesal sahabatnya yang menurutnya sangat lucu. Setelah mendapat informasi keberadaan sang tante, Arkan segera pergi dari sana tak lupa mengirim uang ke rekening Mark untuk biaya kerusakaan pintu.


~ Puncak, Bogor ~


Disinilah Arkan berada saat ini yaitu di Puncak, Bogor. Ia menatap vila didepannya yang terlihat sangat mewah dan jauh dari perumahan warga dengan pemandangan hijau di sekelilingnya.


Bibirnya tersenyum menyeringai melihat ada 2 mobil mewah di garasi vila. Sebelum masuk ia melihat sekelilingnya mencari apakah ada cctv atau tidak dan tidak ada.


Arkan dengan santai masuk ke dalam vila dan saat membuka pintu ternyata pintunya tidak di kunci. Ia lalu masuk ke dalam vila dengan langkah pelan dan mendengar suara ******* dari dalam sana.


"Wah aku tidak menyangka akan menonton live streaming" ucap Arkan dengan keras mengagetkan kedua orang yang sedang berhubungan badan di ruang tengah.

__ADS_1


"Rayen" ucap wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan kaget.


"Ckckck!! Sepertinya anda sudah tua jadi tidak bisa mengenali aku lagi! AKU ITU ARKAN BUKAN RAYEN" decak Arkan menekan kalimatnya di bagian akhirnya.


"Arkan Luis Baker ini beneran kamu sayang" pekik wanita tadi dengan kaget.


"Cih! Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu perempuan ja**ng!" bentak Arkan dengan kesal.


"Apa kamu bilang? Beraninya kamu memanggil tante kamu ini jal**g Arkan!" hardik Tante Rena dengan suara tinggi dan wajah merah padam.


"Memang kenyataannya situ ja**ng! Apa coba namanya perempuan yang menjajakan tubuhnya dengan gratis ke semua laki-laki! Ternyata tante seleranya daun muda ya" cibir Arkan dengan tatapan mengejek.


"Dasar anak kurang ajar! Awas kamu Arkan tante akan beri kamu pelajaran" hardik tante Rena dengan suara tinggi.


"Coba saja kalau bisa" ejek Arkan sambil tersenyum sinis.


Tante Rena maju ingin memukul Arkan tidak perduli jika saat ini tubuhnya masih polos tidak memakai apapun.


Saat tante Rena akan menampar Arkan tangannya lalu ditangkap oleh Arkan. Matanya melotot tajam menatap Arkan sambil menarik tangannya dari tangan Arkan tapi tidak bisa.


Plak.............plak.........plak........plak..........


Arkan menampar tante Rena berkali-kali di kedua pipinya membuat tante Rena syok tak menyangka akan ditampar oleh keponakannya.


Bugh.............bugh............bugh.............


Tak hanya dengan tamparan saja tapi Arkan juga menendang dan memukul tubuh tante Rena dengan kuat, tidak perduli jika yang ia pukul saat ini adalah seorang perempuan terlebih dia adalah kakak kandung mommynya.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Beraninya kamu ingin menjual ka Rena perempuan tua!" bentak Arkan dengan suara tinggi.


"Kamu ingin meminta harta daddy aku! Kamu pikir kamu siapa perempuan iblis!"


"Selama ini kami diam saja saat kamu meminta uang tapi jangan harap kami akan diam saja saat kamu ingin menyakiti salah satu dari kami"


"Perempuan hina! Hari ini aku tidak akan membiarkan kamu hidup sialan!" teriak Arkan dengan emosi.


Bugh.........bugh........bugh.........bugh...........


Aaarrrgghhh..............


Arkan terus memukul tante Rena seperti kesetanan membuat tante Rena berteriak kesakitan. Ia tidak berhenti saat mendengar teriakan tante Rena dan terus menghajarnya.


Darah dari tubuh tante Rena menyeruak didalam ruangan membuat seisi ruangan berbau anyir. Melihat tante Rena sudah terkapar tak berdaya di lantai, dengan santai Arkan mengambil rokok dan menghisapnya.


Matanya lalu tertuju ke arah pria muda yang sedang berdiri dengan gemetar di depan sana. Ia tersenyum menyeringai melihat pemuda tersebut yang syok melihat keadaan tante Rena yang mengenaskan.


Brother Rayen


"Tebak ini siapa ka😁😁😁"


Arkan terkekeh melihat pesan berisi foto tante Rena ke sang kakak. Ia yakin sebentar lagi kakaknya akan menelponnya dan seperti dugaannya sang kakak langsung menelponnya saat membaca pesan tersebut.


"ARKAN LUIS BAKER" teriak Rayen dengan suara menggelegar dari seberang.


Arkan menutup mata sambil menjauhkan hpnya saat mendengar teriakan sang kakak.


^^^"Aku belum tuli ka" sarkas Arkan dengan kesal.^^^


"Kamu itu memang keterlaluan!" bentak Rayen dengan suara tinggi.


^^^"Cih! Siapa suruh dia mengusik keluarga kita ka! Aku sebagai adik yang baik tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja ka" balas Arkan tak mau kalah.^^^


"Dimana kamu?" tanya Rayen.


^^^"Di salah satu vila yang berada di Puncak" jawab Arkan dengan santai.^^^


"Apa dia masih hidup?" tanya Rayen lagi.


^^^"Aku tidak tahu"^^^


"Phew! Tetap disana dan jangan pergi kemana-mana" titah Rayen dengan suara tegas.


^^^"Oke ka"^^^


~ Kingdom Castel ~


Denis saat ini berada di ruangan meeting di perusahaan Kingdom Castel milik Adrian. Sesuai janjinya kalau hari ini ia akan memberikan suara kepada sahabatnya untuk mendapat posisi direktur.


"Karena pemilihan suara terbanyak jatuh ke tuan muda Castel, maka dengan ini saya menyatakan kalau direktur utama Kingdom Castel adalah Adrian Castel" ucap Hito Castel komisaris tertinggi di perusahaan.


Prok..........prok.........prok............


Riuh tepuk tangan bergema didalam ruang meeting menyambut Adrian yang berjalan menuju ke depan untuk memperkenalkan diri sebagai direktur utama yang baru.


Tak lama Sandro masuk ke dalam ruangan meeting dan membisikan sesuatu kepada Denis membuat suasana didalam seketika berubah menjadi sangat dingin dan terasa mencekam.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...

__ADS_1


To be continue.................


__ADS_2