
Sandro yang mendengar bentakan Denis langsung menatap Arsen bertanya apa yang terjadi dengan bosnya.
Keduanya bergegas meninggalkan tenda acara bersama dengan Arkan dan Rian. Sedangkan Leila ia membantu tante Mega untuk mengontrol jalannya acara ini.
"Apa yang terjadi ka?" tanya Seila kepada Simon.
"Kakak tidak tahu dek. Kamu disini ya sama Leila biar kakak yang lihat ke dalam" jawab Simon sambil berlalu pergi.
Simon masuk ke dalam rumah ingin melihat apa yang terjadi. Sampainya didalam ia langsung disambut dengan aura mengintimidasi yang sangat kuat.
Aura Denis sangat mengerikan, batin Simon dengan gemetar.
"Kapan terakhir kali kamu melihat nyonya Max?" tanya Arsen dengan suara tegas.
"2 Jam yang lalu bos Arsen. Saat itu nyonya masuk bersama dengan ibu anda bos Arsen" jawab Max dengan suara tegas.
"Ibu aku?" tanya Arsen dengan kening berkerut.
"Iya bos Arsen" jawab Max.
Arsen melihat sekeliling mencari keberadaan sang ibu tapi tidak ada. Dengan cepat ia segera menyusuri semua ruangan mencari keberadaan sang ibu tapi tidak ada.
Bahkan kedua kakaknya juga tidak mengetahui dimana ibu mereka berada. Denis sendiri saat ini tatapan matanya menatap ke arah depan dengan tajam seakan tatapannya bisa menembus tubuh seseorang.
Semuanya panik mencari ke sekeliling rumah baik didalam maupun diluar tapi tak menemukan keberadaan Amira dan Bella.
Beruntung para tamu hari ini sudah pada pulang tersisa keluarga inti Sandro saja disana. Leila lalu menuntun Seila masuk ke dalam rumah dan kaget melihat Susana didalam sana yang terasa sangat mencekam.
"Ka apa yang terjadi?" tanya Seila kepada suaminya.
"Tante Amira dan Tante Bella menghilang baby" jawab Sandro sambil merangkul pinggang istrinya dengan posesif.
Leila yang hendak menghampiri Denis langsung ditahan Arkan dan Rayen, keduanya menggelengkan kepala sebagai isyarat untuk tidak menganggu Denis dulu.
Ia menatap Denis dengan tatapan cemas entah kenapa ia merasa saat ini Denis sedang rapuh tapi semua itu tertutup dengan wajah datar dan dinginnya.
Denis yang merasa ada seseorang sedang menatapnya sedari tadi segera mengalihkan pandangannya dan langsung bertatapan dengan Leila.
Ia tersenyum sangat tipis dan mengangguk kepala memberitahu kalau ia boleh menghampirinya.
"Leila jangan" ucap Rayen dengan panik saat melihat Leila berlari menuju Denis.
"Ka Leila" pekik Arkan dengan mata melotot kaget.
Grep.............
Denis memeluk pinggang Leila dengan posesif sambil menatap kedua kakak adik itu dengan tajam, seakan memberitahu mereka untuk tidak menghalangi kekasihnya.
"Bos Arsen ibu bos ada disini" ucap Jeki dengan suara kencang.
Arsen berlari menuju ke arah Jeki diikuti Denis dan lainnya. Ternyata mereka menuju ke gudang penyimpanan di pagar belakang rumah Sandro yang berada di belakang taman bunga ibunya.
"Ibu" teriak Arsen dengan suara tinggi.
Ia kaget saat melihat ibunya yang terikat tangan dan kakinya. Dengan cepat Arsen membuka ikatan ibunya dibantu Jeki dan anak buahnya lainnya.
Sedangkan Denis ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari mamanya tapi nihil. Ia tidak menemukan keberadaan sang mama.
__ADS_1
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Rahangnya mengeras saat tak menemukan sang mama. Leila yang berdiri di sampingnya sampai merinding melihat tatapan kekasihnya yang sangat menakutkan.
"CARI MAMAKU SAMPAI DAPAT BANGSAT!" bentak Denis dengan suara menggelegar.
Deg...............
Jantung semuanya berdetak dengan cepat mendengar bentakan Denis. Mereka sampai lupa jika sang nyonya belum ditemukan.
"Denis" panggil Bella dengan suara pelan karena gugup.
Denis tak mengatakan apa-apa dan langsung menatap tante Bella dengan tatapan tajam dan mengintimidasi.
Glek................
Bella menelan salivanya dengan susah merasakan aura Denis yang sangat mengintimidasi. Arsen yang tahu sang ibu sedang takut karena aura sang bos segera bertanya kepada ibunya.
"Apa ibu tahu dimana nyonya?" tanya Arsen dengan suara lembut.
"Mereka tadi membius tante Amira dan membawanya pergi nak" jawab Bella dengan cepat.
"Mereka siapa Bu?" tanya Arsen dengan cepat.
"Ibu tidak tahu nak" jawab Bella sambil menggelengkan kepalanya.
Denis lalu pergi dengan amarah membara didalam hati memikirkan siapa yang sudah berani menculik mamanya.
"Sayang" panggil Leila dengan khawatir sambil mengejar Denis.
"Arkan jaga kekasihku" titah Denis dengan suara dingin dan tegas.
Leila diam tidak memanggil Denis lagi saat mendengar ucapan kekasihnya barusan. Sedangkan Denis ia keluar dari gudang belakang dan sampai di taman ia memanggil semua anak buahnya yang berada di sana.
Bugh.............bugh.........bugh..........bugh.........
Seperti kesetanan Denis menghajar semua anak buahnya yang berada di kediaman Sandro saat itu juga. Tak tanggung-tanggung ia sampai mematahkan kaki dan tangan mereka semua.
Aaarrgghh.............
Suara jeritan kesakitan semua anak buah Denis bergema di taman belakang rumah Sandro.
Beruntung rumah Sandro memiliki taman belakang yang luas dan juga jauh dari warga sekitar jadi tidak ada yang mendengar suara teriakan mereka.
"An***g kalian semua!" maki Denis dengan suara tinggi.
"Beraninya kalian tidak tahu kalau ada musuh yang menyamar disini bangsat!" tambahnya lagi dengan suara menggelegar.
Bugh..........bugh...........Hugh............
Denis Kemabli menghajar semua anak buahnya melampiaskan rasa emosi didalam hatinya saat ini.
"Cari mamaku sampai dapat jika tidak nyawa kalian hilang dari tubuh kalian" bentak Denis dengan suara tinggi.
"Baik bos" ucap semua anak buahnya dengan serentak.
Semua anak buah Denis bergegas pergi dari sana sebelum bos mereka kembali menghajar mereka disini.
__ADS_1
Saat semuanya pergi tiba-tiba Max berlari menuju ke arah Denis dengan wajah panik.
"Bos" ucap Max dengan wajah panik.
"Katakan" ucap Denis dengan suara dingin.
"Anda harus melihat ini bos" ucap Max sambil memberikan iPad kepada Denis.
Denis segera mengambil iPad dari Max dan melihat apa yang ingin diperlihatkan oleh Max.
Rahangnya mengeras melihat video cctv yang sempat merekam saat mamanya dibawa masuk ke dalam mobil Jeep di belakang pagar rumah Sandro.
"Fu*k!" maki Denis dengan suara dingin.
"Siapa orangnya?" tanyanya dengan aura membunuh.
"Lewis Hamilton bos" jawab Max.
"Berengsek!" bentak Denis saat mendengar siapa orang yang sudah menculik mamanya.
"Siapkan anak buahku" titah Denis dengan aura membunuh.
"Baik bos" jawab Max dengan suara dingin.
"Aku ikut denganmu" ucap Rayen yang sedari tadi mendengar ucapan keduanya.
"Terserah" balas Denis dengan suara dingin.
Denis berlalu pergi dari sana diikuti anak buahnya yang lain. Sandro yang akan ikut segera ditahan Arsen untuk tidak ikut karena hari ini adalah malam pertamanya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Awalnya ia menolak dengan keras ingin ikut tapi Arsen tetap kekuh tidak mengijinkannya.
Mau tak mau ia pun mengalah dan mengikuti keinginan Arsen agar tidak ikut mereka. Padahal ia sudah sangat ingin ikut dalam misi kalau ini karena Denis sendiri yang akan turun tangan langsung.
"Kamu sudah salah memilih lawan Lewis Hamilton" gumam Sandro dengan suara pelan sambil menatap kepergian Denis dan lainnya.
Leila dan Arkan yang tidak ikut memilih pulang dengan dikawal oleh anak buah Rayen dan Denis.
"Apa mereka akan membunuh nanti?" tanya Leila saat sudah berada didalam mobil.
"Itu sudah pasti ka. Apa lagi mereka sudah mengusik orang yang disayangi oleh bos di dunia ini ka" ucap Arkan dengan cepat.
Leila diam tak bertanya lagi apa yang akan dilakukan kekasihnya. Ia memilih menatap ke luar jendela dengan pikiran berkecamuk mengkhawatirkan kekasih dan mamanya.
Aku mohon kembalilah dengan selamat sayang, batin Leila penuh harap.
~ Markas Lewis Hamilton ~
Lewis menatap Amira yang masih dalam keadaan pingsan saat anak buahnya membawa dia tadi.
"Bangunkan dia" titah Lewis dengan suara dingin.
"Baik bos" jawab anak buahnya.
Byur.................
__ADS_1
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue................