
Mark membuka pintu bawah tanah sehingga menimbulkan suara decitan yang memekikkan telinga karena susah berkarat.
"Uuhh..........bau banget didalam sana" ucap Arkan ambil menutup hidungnya.
"Berapa kedalamannya?" tanya Denis dengan aura dingin.
"30 meter bos" jawab Mark.
"Bawa tabung oksigen cadangan karena udara dibawa sana pasti terbatas" titah Arsen dengan suara dingin.
Anak buah mereka tak berkata apa-apa dan segera mengambil tabung oksigen dalam jumlah banyak. Arsen lalu memberikan oksigen ke mereka semua sebelum masuk ke dalam.
"Kalian jaga di luar sini dan jangan biarkan satu orang pun masuk atau mendekati area ini" ucap Arsen dengan suara dingin kepada anak buahnya.
"Baik bos Arsen" balas mereka dengan serentak.
"Mark kamu yang pimpin jalan" tunjuk Arkan.
"Heemmm" deham Mark sambil memutar malas matanya melihat Arkan.
Ia tahu kalau ia yang harus memimpin jalan karena dia sudah masuk ke dalam sana. Mark berjalan lebih dahulu dengan anak buahnya 3 orang diikuti, Arkan, Arsen, Denis, Thomas, dan anak buah Denis yang lainnya.
Ada begitu banyak anak tangga yang mengarah ke bawah dan juga bau pengap, membuat mereka harus berhati-hati saat turun.
Apa lagi suasana dalam ruang bawah tanah yang sangat gelap terasa semakin kecam. Mata coklat Denis menatap sekeliling melihat ruang bawah tanah yang dibangun papanya untuk menyimpan semua harta karunnya.
"Kamu yakin kan tidak ada jebakan Mark?" tanya Arkan dengan cemas.
"Mungkin" jawab Mark sambil mengangkat bahunya.
"Yaak! Apa kamu mau mati bangsat!" pekik Arkan dengan suara menggelegar membuat semuanya kaget.
Bugh................
"Aw! Apaan sih ka Arsen" hardik Arkan sambil mengusap kepalanya yang terasa sakit.
"Sekali lagi kamu berbicara aku akan melemparmu dari sini ke bawah" ancam Arsen dengan tatapan tajam.
"Cih! Bisanya cuma ngancam" decih Arkan sambil menggerutu.
Arsen tak membalas ucapan Arkan karena tidak akan pernah habis jika berdebat dengannya. Mereka kembali melanjutkan perjalanan dipimpin Mark, sedangkan Arsen ia tahu sedari tadi Arkan terus meliriknya dan memakinya meski dalam hati.
"Kalau berani jangan mengumpat dalam hati" sarkas Arsen dengan sinis.
Mulut Arkan komat-kamit seperti membaca mantra mendengar perkataan Arsen. Entah dari mana Arsen tahu kalau dia sedang memaki dan mengumpatnya dalam hati.
Suasana kembali hening hanya ada bunyi langkah kaki dan juga tetesan air dari celah tembok. Kebetulan lokasi mereka tepat berada di samping danau beku di arah timur.
Tak.............tak............tak............
Bunyi langkah kaki terdengar menggema didalam sana saat mereka semakin dalam menurun ke bawah. Entah sudah berapa lama mereka sudah berjalan masih belum ada tanda-tanda kalau mereka akan sampai.
"Mark berapa lama lagi kita sampai ke bawah sana?" tanya Arkan sambil menggerutu.
"Aku tidak tahu" jawab Mark santai.
"Hah! Kamu memang keterlaluan Mark! Jika kita keluar nanti aku akan memberimu pelajaran" pekik Arkan dengan kesal.
"Terserah" acuh Mark dengan santai.
"Pakai masker kalian" titah Denis dengan suara dingin.
Tak banyak tanya mereka langsung melakukan apa yang dikatakan Denis karena oksigen didalam sana semakin menipis.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Denis dan Arsen melihat sekeliling dan mendapati tembok yang mulai retak, menandakan bangunan ini tidak akan bertahan lama lagi.
"Bos kita sudah sampai" ucap Mark sambil menunjuk pintu baja didepannya yang sangat besar.
"Tinggi banget" kaget Arkan ternganga melihat pintu berukuran besar didepannya.
Tinggi pintu itu sekitar 10 meter dan tidak ada gagang pintu atau apapun yang bisa membuka pintu tersebut.
Sepertinya orang yang buat pintu ini tidak mau orang tak dikenal untuk masuk ke dalam, batin Arsen memindai pintu didepannya.
Denis sendiri memindai sekeliling mencari sesuatu untuk bisa membuka pintu tersebut. Matanya lalu tertuju ke arah samping kiri melihat ada ukiran matahari yang sering ia lihat waktu kecil di rumah.
# Flashback On
__ADS_1
"Papa ini apa?" tanya Denis kecil yang menghampiri Demian di ruang santai di lantai dua.
Demian tersenyum melihat putranya lalu mengangkatnya dan mendudukkannya di pangkuan. Ia mengelus kepala Denis dengan sangat lembut sambil memberikan gambar matahari yang barusan ia gambar.
"Ini matahari khusus untuk Denis" jawab Demian dengan suara lembut.
"Hah! Aku punya matahari sendiri pa?" tanya Denis dengan bingung.
"Iya son" jawab Demian sambil tersenyum manis.
"Tapi kan kita sudah pantas matahari di langit papa. Memangnya untuk apa lagi matahari ini pa".ucap Denis dengan bingung.
"Matahari di langit itu memang milik semua makhluk hidup di bumi son tapi kalau matahari yang satu ini khusus papa buatkan untuk jagoan papa" balas Demian dengan suara lembut.
"Jadi ini khusus untuk aku ya pa" ucap Denis dengan mata berbinar-binar.
"Iya son. Nanti kalau sudah besar Denis harus ingat kalau ada matahari khusus yang papa buat untuk Denis di suatu tempat ya"
"Oke pa"
#Flashback Off
"Jadi ini maksud papa tentang matahari buat Denis" gumam Denis dengan mata berkaca-kaca.
Denis lalu menyentuh matahari kecil itu membuat tanah disekitar bergetar. Semuanya panik takut kalau getaran ini karena gempa dan yang bisa membuat mereka terjebak didalam sini.
"Ka Arsen apa yang terjadi?" tanya Arkan dengan cemas.
Kreek......................
Tiba-tiba pintu baja didepan sana bergeser membuat semuanya langsung menatap ke arah pintu. Mata mereka terbelak melihat ada pintu baja lainnya didepan sana berjarak 3 meter dengan gambar matahari besar didepan pintunya.
"Wow sangat indah" decak Arkan dengan kagum.
"Apa itu emas asli?" tanya Mark.
"Ckk!! Di pikiranmu hanya ada emas dan uang saja" decak Arsen dengan kesal.
"Hehehehe! Ya bos Arsen kan tahun di dunia ini tidak ada uang tidak bisa hidup bos" balas Mark sambil terkekeh.
"Aku setuju sama Mark. Lagian bohong kalau manusia tidak butuh uang saat ini" ucap Arkan mendukung Mark.
"Kamu memang yang terbaik bocah" ucap Mark sambil memeluk leher Arkan.
"Hehehe! Maklum aku belum mandi dari 2 hari yang lalu" ucap Mark sambil terkekeh.
"Ihhhh! Menjijikan" gaya Arkan seakan ingin muntah.
Arsen lalu maju ke depan ingin melihat pintu didepannya untuk mencari tahu bagaimana cara membukanya. Denis sendiri mengerutkan keningnya melihat ada sesuatu yang tak beres didepan pintu.
Dor....................suing..............
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Langkah kaki Arsen terhenti saat Denis tiba-tiba menembak lewat sampingnya dan tiba-tiba ada garis merah yang sangat banyak keluar didepannya.
Tubuhnya menegang sampai berkeringat dingin karena infra red yang tepat berada didepannya hanya berjarak 1 cm saja.
Phew...............
Arsen membuang napasnya dengan kasar saat Denis menariknya ke belakang. Jiwanya seperti melayang merasa baru selamat dari kematian.
"Ka Arsen baik-baik saja kan?" tanya Arkan dengan panik.
"Ya" jawab Arsen singkat.
Matanya menatap Denis yang sedang menatapnya dengan datar dan dingin seakan berkata kamu beruntung kali ini. Ia mengangguk kepalanya menjawab arti tatapan mata Denis.
Denis melihat sekeliling mencari tahu bagaimana menonaktifkan infra red didepannaya. Selang 10 menit ia melihat patung naga dengan mulut terbuka di samping kanan.
Ia ingat kalau ingin membuka brankas milik papanya membutuhkan darah, kornea mata, dan sidik jari.
Mungkin ini maksudnya membutuhkan darah aku, batin Denis.
Denis lalu memasukan jari telunjuknya ke dalam mulut patung naga dan tiba-tiba ada jarum yang menusuknya sehingga darahnya menetes ke bawah.
Cling...................
Infra red tiba-tiba hilang setelah Denis mengeluarkan jarinya. Ia lalu berjalan maju menuju pintu dan melihat dengan saksama pintu tersebut.
__ADS_1
"Bos di bagian kiri" ucap Arsen.
Denis melirik ke bagian kiri pintu ada ada layar berbentuk persegi empat dengan gambar telapak tangan.
Ia segera menaruh telapak tangannya dan melakukan scan retina kedua matanya. Tak membutuhkan waktu lama tiba-tiba tulisan sukses muncul dilayar.
Klek....................
Pintu didepan mereka terbuka lebar membuat mereka sangat penasaran ingin melihat apa isi dalam brankas harta Karun milik Demian Arkana.
Saat masuk ke dalam semuanya dibikin syok dan kaget melihat isi dari brankas Demian Arkana Massimo yang selama ini diincar oleh Nine Cloud.
"Bos ini" ucap Arsen tak bisa berkata-kata.
"Ini semua untuk apa bos?" tanya Arkan dengan bingung.
Hahahaha..................
Tawa Denis seketika menggelegar didalam sana setelah melihat isi brankas papanya. Ia tidak menyangka hanya untuk harta Karun milik papanya ia harus menghadapi musuh papanya mati-matian.
"Jadi ini harta karun papaku yang diincar oleh kelompok sialan itu?" tanya Denis sambil tertawa kencang.
Bagaimana tidak isi dalam brankas papanya ternyata ada begitu banyak model senjata dan pedang koleksi papanya. Tidak ada uang atau emas batangan seperti rumor yang beredar.
"Aku kira akan ada gunung emas didalam sini" ucap Arkan dengan kecewa.
"Gila! Hahaha" ucap Arsen sambil tertawa memikirkan semua kejadian yang selama ini mereka hadapi.
Ia tak habis pikir jika musuh mereka mengetahui isi dalam brankas milik Demian Arkana Massimo. Ia yakin mereka akan struk bahkan bisa jantungan.
Denis mengelilingi isi dalam brankas milik papanya dan melihat apa saja yang ada. Matanya lalu tertuju ke kotak perhiasan berukuran sedang yang terlihat sangat indah.
Tangannya lalu membuka kotak tersebut dan mendapati ada dua surat didalam sana beserta satu peta pulau.
Matanya melirik ke arah surat dimana disana tertulis namanya dan sang mama.
"Apa papa yang menulis ini?" tanya Denis dengan bingung.
Karena penasaran ia segera membuka isi surat yang terdapat namanya di bagian depan.
Isi Surat
Hay jagoan papa
Mungkin saat kamu baca surat ini papa sudah tidak berada lagi di dunia ini nak. Papa juga tahu pasti kamu bertanya-tanya kenapa nama kamu ada didepan surat ini kan! Hehehehe
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Nama kamu sudah papa siapkan saat papa bertemu dengan mama kamu nak. Denis Arkana itulah nama yang papa siapkan untukmu dan entah kenapa papa sangat bahagia saat memikirkan nama itu.
Papa sebenarnya berharap kamu tidak akan pernah menemukan surat ini tapi takdir siapa yang tahu son. Jika suatu saat kamu membaca surat ini berati papa sudah tidak berada lagi di dunia ini anakku.
Papa harap kamu menjaga mama kamu dan menyayanginya seperti papa. Kalian berdua adalah kebahagiaan papa selama ini son, papa mau bilang kalau papa sangat bahagia memiliki anak yang tangguh.
Oh ya mungkin juga saat kamu melihat isi brankas papa kamu pasti kaget karena tidak ada uang atau emas. Sebenarnya papa membuat brankas ini hanya untuk menaruh koleksi papa selama hidup papa dan papa minta kamu mau menjaga ini semua nak.
Tolong kamu bawa pergi semua koleksi papa dan hancurkan tempat ini karena papa tidak mau ada yang menjadikan tempat ini sebagai tempat rahasia nak.
Satu lagi nak, ada map yang papa tinggalkan bersama surat ini. Itu adalah pulau pribadi yang papa beli untuk kamu dan mama kamu dan namanya DAD Island singkatan dari nama kita bertiga.
Papa sangat mencintaimu dan menyayangimu son dan papa harap kamu bisa melanjutkan hidupmu dengan baik meski papa tidak bersama-sama dengan kalian.
^^^Love you son^^^
Hiks................hiks.........hiks.............
Tangis Denis pecah didalam sana setelah selesai membaca surat dari papanya. Semua yang melihat sang bos menangis diam saja tak berani menganggu Denis.
1 Jam kemudian
Setelah satu jam menangis akhirnya Denis sudah lebih baik. Ia lalu menyuruh semua anak buahnya untuk mengeluarkan semua koleksi papanya dan bawa ke Indonesia.
Tak lupa menyuruh Arsen untuk menyiapkan bahan peledak untuk menghancurkan tempat ini sesuai permintaan papanya.
Duar..............
Ledakan besar terjadi disana hingga ruang bawah tanah milik papanya tertimbun longsor salju. Denis melihat hal itu dari kejauhan dan menghela napasnya dengan lega karena sudah memenuhi permintaan sang papa.
Aku juga menyayangi papa dan terima kasih sudah menjadi papa aku, batin Denis sambil tersenyum hangat melihat ke luar.
__ADS_1
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue.................