
Roy menatap Sandro dan lainnya yang berjarak 5 meter dari tempat ia berdiri. Matanya melihatnya sekeliling mencari keberadaan Denis tapi tidak menemukannya.
"DIMANA BOS SIALAN KALIAN?" tanya Roy dengan suara menggelegar.
"KA SANDRO APA KAKAK MENDENGAR SUARA ANJING KEJEPIT PINTU" balas Arsen dengan suara tak kalah tinggi.
"Berengsek! Berani sekali kamu mengatai tuan kami anjing bangsat!" bentak Lexi tangan kanan Roy dengan emosi.
"Hey badut jelek! Situ tuli ya? Yang bilang tuan kamu anjing siapa?" balas Arsen dengan tatapan mengejek.
"Kamu" tunjuk Lexi hendak menghampiri Arsen tapi ditahan Roy.
Roy menatapnya dengan tajam memberi peringatan untuk tidak bertindak bodoh di sarang musuh mereka. Meski jumlah mereka banyak saat ini tapi mereka harus tetap waspada dan berhati-hati.
"Tetap di tempatmu sialan!" bentak Roy dengan tatapan membunuh.
"Baik tuan" jawab Lexi dengan suara dingin.
Ingin rasanya ia menghajar Arsen yang sedang tersenyum mengejek ke arahnya, tapi ia tahan karena perintah Roy adalah mutlak untuknya.
"Dimana anak sialan itu!" bentak William dengan berapi-api.
"Buat apa kamu mencari bos kamu pak tua! Apa kamu ingin berlutut memohon di kaki bos kami?" tanya Arsen sambil tersenyum mengejek.
"Bangsat! Beritahu bos pengecut kalian jangan hanya bersembunyi saja. Kalau perlu keluar hadapi kami sekarang!" bentak William dengan suara lantang.
Prok...........prok...........prok.........
Sandro bertepuk tangan melihat keberanian William Richie yang menantang bos mereka. Bibirnya tersenyum menyeringai menatap William dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Jaga mulutmu sialan!" bentak William merasa risih ditatap seperti itu oleh Sandro.
"Kalau aku tidak mau bagaimana?" tanya Sandro dengan santai.
"Bangsat!" bentak William dengan emosi.
Ia lalu berlari maju ke depan ingin memberi pelajaran kepada Sandro dengan tangannya sendiri. Anak buah Denis yang ingin menghadapi William mengurungkan niat mereka saat melihat isyarat tangan dari Sandro untuk tidak ikut campur.
"Hehehehe! Jangan salahkan aku kamu mati disini pak tua" gumam Sandro sambil terkekeh.
"MATI SAJA KAMU SIALAN" teriak William dengan suara tinggi sambil mengayunkan tangannya ke wajah Sandro.
Bugh....................brugh................
William terjatuh di tanah saat kaki Sandro mendarat tepat di rahangnya. Tak memberinya kesempatan dengan cepat Sandro menghajar William dengan brutal tidak perduli anak buah Roy yang menodongkan senjata ke arahnya.
"Lepaskan Mr. Richie jika tidak ingin kepalamu lubang" ucap Henry menodongkan pistol tepat di kepala belakang Sandro.
"Ah! Sepertinya ada yang ingin bermain denganku juga" ucap Sandro menoleh ke belakang sambil tersenyum misterius.
"Lepaskan Mr. Richie sebelum aku menembakmu sialan!" bentak Henry dengan suara menggelegar.
Tak................
Mata Henry melotot melihat gerakan Sandro yang sangat cepat mengambil pistol dari tangannya. Ia berjalan mundur dan menelan salivanya dengan susah takut Sandro melepas tembakannya.
Sial! Bagaimana bisa aku yang jadi sanderanya sekarang, batin Henry dengan kesal.
Matanya melirik ke anak buahnya memberi isyarat untuk menembak Sandro sebelum dia yang terkena tembakan Sandro.
"Pak tua lebih baik kamu urungkan saja niatmu itu" ucap Sandro yang tahu apa yang sedang dipikirkan William.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Hehehehe...........
Sandro terkekeh melihat keterkejutan di wajah William, ia terlihat seperti pencuri yang tertangkap basah.
"Suruh bos kalian keluar kalau tidak kamu akan menghancurkan tempat ini sampai rata dengan tanah" ucap Sanches dengan suara tegas.
__ADS_1
Hahahaha................
Tawa Arsen, Sandro, Arkan, dan anak buah Denis menggelegar di sana. Mereka tidak menyangka akan mendapat ancaman dari Sanches George.
"Hey jenderal koruptor kamu pikir kami takut dengan ancamanmu itu" ucap Arsen sambil tertawa terbahak-bahak.
"Berengsek! Aku akan merobek mulut sialanmu itu!" bentak Sanches dengan emosi.
"Silahkan. Kita lihat apa kamu bisa menyentuh tubuhku atau tidak" balas Arsen sambil tersenyum mengejek.
"SERANG MEREKA SEMUA. JANGAN BIARKAN MEREKA HIDUP" dengan lantang Roy memerintah pasukannya.
Yeeaa....................
Seru seluruh pasukan milik Nine Cloud dengan suara menggelegar. Roy, Sanches, dan Henry tersenyum menyeringai melihat musuh mereka yang hanya berjumlah 100 orang saja.
"Kalian akan mati hari ini" ucap Henry dengan tatapan membunuh.
"Bawakan kepala ketiga orang itu ke hadapanku" ucap Sanches dengan suara lantang.
Sandro menatap musuhnya dengan tatapan dingin sambil tersenyum licik. Ia lalu mengangguk kepala memberi isyarat kepada anak buah mereka yang sedang bersembunyi.
Brugh.............brugh..........brugh............
Wush.........wush..........wush..........wush..........
"Apa yang terjadi?" tanya Henry dengan kaget.
Bagaiman tidak kaget tiba-tiba anak buah mereka satu persatu jatuh di tanah dengan kepala berlubang terkena tembakan, begitu juga dengan yang lainnya yang terkena panas tepat di jantung dan kepala mereka.
"Sial! Kita masuk jebakan mereka" ucap Roy dengan emosi.
"Bentuk pertahanan" titahnya lagi dengan suara menggema.
Dor...................
Brugh............brugh...........brugh...........
Roy, Henry, dan Sanches bergegas bersembunyi di balik mobil di kelilingi anak buah mereka. Ketiganya menatap ke sekeliling melihat mencari tahu dimana posisi musuh.
"Dari mana asal tembakan?" tanya Henry dengan panik.
"Kita harus pergi dari sini sebelum mereka membunuh kita" ucap Sanches dengan cepat.
"Tidak bisa! Hari ini juga aku harus memberi pelajaran kepada si Denis sialan itu" protes Henry dengan tatapan tajam.
"Berengsek! Kita bisa mencari waktu lain untuk membalasnya sialan! Apa kamu ingin kita mati percuma disini?" tanya Sanches dengan emosi.
"Kalau kamu takut pergi saja sana sialan" sarkas Henry dengan emosi.
"Kamu mengataiku penakut!" bentak Sanches dengan suara tinggi.
"Kalau iya kenapa?" tanya Henry dengan sinis.
"DIAM KALIAN BERDUA" hardik Roy dengan suara tinggi.
Keduanya diam saling menatap dengan tatapan permusuhan. Melihat keduanya yang susah diam Roy menutup mata mengontrol emosinya dan memikirkan rencana untuk pergi dari sini.
"Ka sepertinya jumlah mereka sisa sedikit saja" ucap Arkan dengan tak sabar.
"Kalau begitu ayok kita bermain dengan mereka" ucap Arsen sambil tersenyum menyeringai.
"Ayok ka" balas Arkan dengan antusias.
Bugh............Hugh............bugh...........
Aaaarrghhh...............
Jeritan kesakitan bergema di seluruh penjuru saat Sandro dan lainnya turun tangan menghabisi anak buah Roy Martinez.
__ADS_1
Dengan santai mereka mengelak dan menghindari dari tembakan musuh. Mereka seperti singa kelaparan menyerang pasukan Nine Cloud.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Arkan tersenyum menyeringai sambil mengangkat jari tengahnya ke depan Lexi. Melihat hal itu dengan emosi Lexi berlari menuju Arkan dan langsung bertarung dengannya.
Bugh...........bugh..........Hugh...........
Arkan tidak mengelak dari pukulan Lexi dan juga membalas pukulannya. Ia tersenyum menyeringai melihat Lexi yang meringis sakit saat mendapat pukulan darinya.
Sedangkan ia sendiri tidak meringis sakit sama sekali meski wajah dan tubuhnya mulai membiru akibat pukulan dan tendagan dari Lexi.
Melihat anak buahnya sibuk mengahadapi anak buah Denis, dengan cepat Roy, Sanches, dan Henry mundur perlahan-lahan ingin melarikan diri sana.
Mereka tahu kalau saat ini nyawa mereka sedang terancam, apa lagi anak buah mereka banyak yang sudah mati dan tinggal sedikit saja.
"Ah! Rupanya kalian ingin pergi ya" ucap suara dingin dan berat didepan mereka.
Ketiganya mematung mendengar suara itu yang terdengar sangat mengintimidasi. Kepala mereka perlahan-lahan terangkat ingin melihat sosok yang sedang berdiri didepan mereka.
Deg...............
Jantung ketiganya berdetak dengan cepat melihat sosok tinggi dengan wajah menghitam sedang tersenyum menyeringai menatap mereka.
Tubuh ketiganya bergetar hebat merasakan aura yang sangat menakutkan. Seperti berada di dasar lautan yang sangat dalam membuat ketiganya kesusahan untuk bernapas.
Dor..........dor..........dor.............dor...........
6 tembakan tepat di tempurung kedua kaki ketiganya membuat mereka seketika terjatuh di tanah. Terdengar suara ringisan dan jeritan kesakitan dari mulut ketiganya yang menahan rasa sakit di kaki mereka.
"Anj**g kamu Denis Arkana" maki Roy dengan suara tinggi.
"An***g ya? Apa kamu pernah lihat an***g berdiri tegak seperti ini?" tanya Denis sambil tersenyum smirk.
"Berengsek! Aku akan membalas ini semua sialan!" bentak Roy dengan tatapan penuh kebencian.
"Oh ya. Memangnya kamu bisa berdiri dengan bebas sekarang?" tanya Denis sambil tersenyum mengejek menatap kedua kaki Roy yang terkena tembakan.
"Bangsat! Aku akan membunuh kamu seperti papamu itu anak sialan!" teriak Roy dengan suara tinggi.
Bugh.............
Denis menendang Roy tepat di rahangnya, matanya berkilat tajam dengan tatapan membunuh seakan ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Bawa mereka ke ruang bawah tanah" titah Denis dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap Thomas yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
Thomas memberi isyarat kepada anak buahnya untuk membawa ketiganya ke ruang bawah tanah. Denis menatap sekeliling melihat ada begitu mayat yang berserakan di dalam halaman markas sampai di luar markas.
Bibirnya tersenyum tipis melihat anak buahnya yang berhasil membunuh semua pasukan Nine Cloud saat ini.
Denis berlalu pergi dari sana meninggalkan Sandro, Arsen, dan Arkan untuk mengurus semua kekacauan disana.
"Dimana ketiga pak tua sialan itu ka?" tanya Arsen dengan tubuh berlumuran darah karena baru selesai bersenang-senang dengan Lexi.
"Aku tidak tahu" jawab Arsen.
"Mereka dibawa Thomas ke ruang bawah tanah" ucap seroang anak buah Black Devil sambil menatap Arkan.
Mendengar hal itu ketiganya saling melirik dan bergegas pergi ke ruang bawah tanah. Sebelum itu Sandro memerintah anak buahnya untuk mengurus semua mayat-mayat ini.
Crash.............crash...........crash..............
Aaarrgghhh...............
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue...............
__ADS_1