
Ceklek…………………
Kenzo menoleh ke belakang melihat siapa yang masuk ke dalam dan ternyata itu adalah Jason yang tadi ia suruh untuk melihat keadaan kedua kakaknya.
“Bagaimana?” tanya Kenzo dengan suara dingin.
“Kedua kakak bos berada di ruangan samping ruang rawat ayah bos dan keadaan keduanya mengenaskan bos” jawab Jason.
“Mengenaskan?” tanya Kenzo dengan kening berkerut.
“Iya bos. Kedua tangan mereka busuk karena lukanya tidak pernah diobati sehingga kedua tangan mereka harus diamputasi bos. Bahkan seluruh tubuh mereka penuh dengan luka bekas cambuk, juga badan keduanya sangat kurus sepertinya tidak di beri makan bos” papar Jason menjelaskan kondisi kedua kakak Kenzo seperti yang dokter katakan.
“Hanya itu saja?” tanya Kenzo dengan raut wajah datar tak merasa kaget dengan informasi yang disampaikan Jason.
“Kata dokter mereka akan memeriksa keadaan keduanya lebih lanjut besok setelah mereka sadar, karena takut kejiwaan keduanya terganggu bos” jawab Jason.
“Lakukan juga pemeriksaan untuk ayahku jika dia sudah siuman” titah Kenzo dengan suara dingin.
“Baik bos”
Ya semoga saja dia bisa siuman, batin Kenzo dalam hati tersenyum penuh arti menatap ayahnya.
Jason yang sudah keluar dari kamar rawat Marcel Arjuna memutuskan untuk menjenguk Ando yang kebetulan juga di rawat disini.
Sampainya di ruangan Ando, ia datang tepat Ando sadar dari obat bius yang diberikan oleh dokter tadi setelah dia di bawa ke rumah sakit.
“Kamu sudah sadar dude?” tanya Jason membuat Ando melirik ke arahnya.
“Heemmm” deham Ando sambil mengangguk kepalanya.
Jason lalu membantu Ando minum tak lupa memanggil dokter untuk memeriksanya kembali setelah ia sadar. Tatapan mata Ando terlihat kosong menatap ke depan, seakan sedang memikirkan sesuatu yang amat berat membuat Jason yang melihatnya bertanda tanya.
“Aku cuma mau bilang kalau ayah dan kedua kakak bos sudah ditemukan polisi dan saat ini sedang di rawat di rumah sakit ini juga” ucap Jason.
“Dimana tuan?” tanya Ando dengan suara dingin.
“Di kamar ayahnya” jawab Jason dengan santai.
“Kamu pasti tahu apa yang terjadi dengan keluarga bos?” tanya Jason dengan selidik.
“Ya! Seperti yang kamu pikirkan” jawab Ando dengan singkat.
Hehehehe...…………….
Jason terkekeh tak menyangka bosnya akan melakukan hal seperti itu kepada keluarga kandungnya sendiri.
Dalam hatinya ia berpikir jika keluarga kandungnya ia perlakukan seperti itu, apa lagi dengan mereka yang tidak ada hubungan darah dan hanya orang asing saja.
“Sampai kapan kamu akan menjadi anj**g peliharaannya?” tanya Jason dengan tatapan tajam.
“Kamu tahu jawabannya” jawab Ando dengan singkat.
“Ckk!! Apa kita ini binatang peliharaannya!” decak Jason dengan tatapan penuh kebencian.
Ando diam saja tak membalas ucapan Jason, karena memang apa yang dibilang Jason mengenai mereka adalah benar.
Seperti binatang mereka di perlakukan oleh Kenzo selama ini dan jika mereka memberontak atau membantah mereka akan dibunuh beserta semua keluarga mereka.
“Aku pergi dulu dan semoga kamu cepat sembuh” ucap Jason sambil berdiri dari duduknya.
“Heeemmm”
“Aku tunggu ceritamu mengenai apa yang terjadi kepadamu saat ini” ucap Jason dengan suara dingin saat hendak membuka pintu.
“Ya” balas Ando dengan suara dingin.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
__ADS_1
Phew…………..
Ando membuang napasnya dengan kasar memikirkan kejadian tadi saat di hotel Hilton. Ia tidak pernah berpikir jika ia sudah menjadi seorang ayah, ia berjanji akan melakukan apa saja untuk melindungi anaknya dan wanita yang sudah melahirkan anaknya.
“Aku tidak ingin kehilangan keluarga lagi” ucap Ando dengan suara tegas.
~ Rumah Arkana ~
Sebelum pergi ke markas Denis menyempatkan waktu untuk menemui mamanya yang sudah pulang dari hotel pagi tadi karena tidak betah disana.
Saat ini Denis sedang duduk di kamarnya sambil memikirkan sesuatu, dimana untuk pertama kali ia tidur tidak meminum obat tidur seperti biasa dan ia tidak terbangun seperti malam-malam biasanya.
“Apa karena aku sangat kelelahan ya?” tanya Denis dengan bingung kepada dirinya sendiri.
Karena penasaran ia lalu mengambil hpnya dan menghubungi Bimo dokter pribadinya untuk bertanya mengenai kondisi tubuhnya.
“Halo bos” ucap Bimo dari seberang.
^^^“Semalam aku tidur dengan pulas tanpa meminum obat itu seperti biasa” ucap Denis to the point.^^^
“Hah! Apa anda yakin bos?” tanya Bimo dengan kaget.
^^^“Heemmm”^^^
"Apa bos merasa tubuh bos sakit atau kurang enak badan bos?” tanya Bimo.
^^^“No. Aku merasa sangat sehat dan tubuhku baik-baik saja” jawab Denis dengan cepat.^^^
“Aku harus memeriksa kondisi tubuh bos sekarang” balas Bimo dengan cepat karena merasa aneh.
^^^“2 jam lagi temui aku di markas”^^^
Denis mematikan panggilannya sepihak sebelum Bimo membalas ucapannya. Tak lama pintu kamarnya diketuk dari luar, dia ia segera menyuruh orang yang mengetuk pintu barusan untuk masuk.
“Ada apa?” tanya Denis dengan suara dingin.
Denis tidak berkata apa-apa dan segera turun ke bawah untuk sarapan bersama mamanya yang kebetulan juga belum sarapan saat ia datang.
“Kamu mau sarapan apa nak?” tanya Amira dengan suara lembut.
“Pancake aja ma” jawab Denis yang tidak terlalu suka makan berat di pagi hari.
Amira segera mengambil pancake buat anaknya tak lupa menyiram sirup maple diatas tidak terlalu banyak sesuai selera Denis. Keduanya lalu menyantap sarapan dalam hening karena Denis tidak suka berbicara saat sedang makan.
Selesai sarapan Denis mengajak mamanya ke ruang keluarga untuk memberitahunya tentang kepergiannya ke Amerika selama 2 bulan.
“Aku akan ke Amerika selama 2 bulan ma”
“Hah! 2 bulan nak?” tanya Amira dengan kaget.
“Heemmmm”
“Apa ini menyangkut dengan ucapan kamu semalam tentang perusahaanmu yang akan masuk daratan Eropa nak?” tanya Amira dengan suara lembut.
“Iya ma” jawab Denis dengan singkat.
“Pergilah nak. Doa mama selalu menyertai kamu tapi ingat jaga kesehatanmu disana dan jangan lupa kabari mama terus ya nak” ucap Amira sambil mengelus kepala Denis dengan lembut.
“Pasti ma”
Grep………………..
Denis memeluk mamanya dengan erat karena akan meninggalkan sang mama selama 2 bulan di Indonesia.
Tak beberapa lama Denis segera pamit dan tak lupa memberitahu sang mama mengenai Leila kekasihnya yang akan datang bertamu ke sini nanti siang.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
__ADS_1
~ Markas Black Damon ~
Setibanya di markas Denis sudah di tunggu oleh Max, Sandro, dan Arkan didepan pintu masuk markas.
“Kerja bagus Max” puji Denis menepuk pundak Max.
“Terima kasih bos” balas Max dengan sopan.
“Beri libur ke anak buahmu yang semalam bertugas dan jangan lupa suruh mereka cek rekening mereka karena Arsen sudah mengirim bonus buat mereka” titah Denis dengan suara dingin.
“Terima kasih banyak bos. Bos apa kami boleh merayakan pesta malam nanti disini?” tanya Max.
“Lakukan saja tapi ingat tugas kalian” jawab Denis dengan suara tegas.
“Baik bos. Terima kasih”
“Heemmmm”
Denis berlalu masuk ke dalam markas diikuti oleh keempatnya menuju ruang mereka masing-masing untuk melakukan pekerjaan mereka, tapi tidak dengan Arkan yang mengikuti Denis.
“Sudah siap?” tanya Denis dengan suara dingin.
“S…udah bos” jawab Arkan dengan gugup sambil menatap Denis.
Kedua tangannya mengepal di belakang merasa gugup dan takut melihat tatapan Denis yang seakan ingin menelannya hidup-hidup. Ingin rasanya dia menunduk tapi ia sangat takut mendapat tamparan dari Denis lagi.
Denis lalu mengajak Arkan menuju ruang latihan dan baru saja kedua sampai didalam ruangan latihan, ia langsung dihajar oleh Denis habis-habisan tak memberinya waktu untuk mengelak atau membalas pukulannya.
“Selalu waspada dimanapun kamu berada” ucap Denis dengan suara tegas melihat Arkan yang sudah tergeletak di lantai.
“BANGUN” hardik Denis dengan suara menggelegar.
Dengan tertatih-tatih Arkan bangun sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya merasakan pukulan Denis yang tidak main-main. Ia menatap Denis dengan napas naik turun merasa tidak mampu lagi.
“Ckk!! Hanya segitu saja kemampuan untuk bertahan hidup” ejek Denis dengan sinis.
“Bo……s apa aku bisa berhenti sejenak?” tanya Arkan dengan napas satu-satu.
“Boleh asalkan kamu bisa menghindar lemparan ini” jawab Denis sambil menunjukkan bola biliar yang dipegangnya.
Mata Arkan hampir keluar dari tempatnya melihat bola biliar yang di pegang oleh Denis, ia tahu bagaimana rasanya jika terkena lemparan bola biliar karena ia pernah mengalaminya saat waktu duduk di bangku SMA.
Brugh……………arrrgghh………………
Teriak Arkan kesakitan saat terkena lemparan bola biliar tepat di keningnya. Ia menggelengkan kepalanya merasa sangat pusing terkenal lemparan tersebut.
“Gunakan instingmu untuk menghindar dari lemparan aku” ucap Denis dengan suara tinggi.
Brugh………..brugh………..brugh…..…brugh…………
Aaaarrrgghh…...…………
Suara teriakan kesakitan Arkan bergema didalam sana sampai keluar dari ruang latihan, membuat semua anak buah Denis bergidik ngeri merasakan apa yang dialami oleh Arkan di ruang latihan.
Mereka sangat tahu bagaimana didikan Denis, karena waktu itu Arsen bos mereka pernah dididik langsung oleh Denis meski tidak sepenuhnya.
“Itu pasti sangat sakit” ucap Sandro dari ruang kontrol menonton cctv di ruang latihan.
“Kalau kamu penasaran kamu boleh pergi kesana dan mencobanya” balas Arsen dengan suara dingin.
“Lebih baik kamu tutup mulutmu bocah empat mata” hardik Sandro kesal sambil menatap Arsen.
Arsen dengan santai tak memperdulikan ucapan Sandro karena menurutnya itu tidak penting. Keduanya lalu menonton rekaman cctv di ruang latihan merasa ngeri dengan latihan yang di alami oleh Arkan saat ini.
Beruntung waktu itu Max yang melatihku bukan bos, batin Arsen.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
__ADS_1
To be continue…………………..