
Hari itu Denis terpaksa harus lembur karena jika tidak pekerjaannya akan sangat menumpuk. Beruntung istrinya sangat pengertian dan memilih menemani suaminya di perusahaan.
Melihat istrinya sudah terlelap karena kelelahan melayani hasratnya, Denis segera memakai celana dan keluar ke ruangannya untuk kembali berkutat dengan pekerjaannya.
1 Minggu kemudian
Sepeti biasa Denis menjalani hari-harinya dengan padat tapi tidak pernah pulang larut lagi setelah menyelesaikan semua pekerjaannya saat bulan madu.
Seperti hari ini Denis sedang bersama istrinya dalam perjalanan menuju hotel Rose milik sang istri, menghadiri pesta ulang tahun rekan kerjanya.
"Apa ka Rayen diundang juga ke sana sayang?" tanya Leila dengan suara lembut.
"Aku tidak tahu sayang. Memangnya kenapa?" tanya balik Denis.
"Aku ingin bicarakan perihal keluarga mommy yang terus menghubungi aku sayang" jawab Leila dengan wajah cemberut.
"Sejak kapan mereka menghubungi kamu sayang dan kenapa aku tidak tahu?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Sejak 3 hari yang lalu. Aku ingin memberitahumu tapi selalu saja gagal karena kamu sudah membuat aku kelelahan setiap pulang kerja" jawab Leila dengan bibir mengerucut.
Hehehehe............
Denis terkekeh mendengar jawaban sang istri karena memang apa yang dibilangnya memang benar. Ia seakan tidak puas jika tidak menyentuh sang istri setiap hari.
"Maafkan aku sayang tapi memang kamu sangat menggoda jika kita berdekatan sayang" ucap Denis dengan suara lembut.
"Cih!" decih Leila dengan kesal.
"Apa kamu bisa merasakannya sayang?" tanya Denis berbisik sambil menaruh tangan Leila di pusakanya.
"Sayang" pekik Leila dengan mata melotot tajam memperingatinya.
Denis terkekeh melihat raut wajah kesal sang istri dan memeluknya dengan posesif. Leila menutup mata menahan rasa kesalnya karena tidak tahu harus berkata apa dengan sifat suaminya yang sangat nakal.
"Ada urusan apa mereka menelepon kamu sayang? Bukannya mommy kamu anak tunggal sayang?" tanya Denis dengan selidik.
"Mommy masih memiliki satu adik perempuan sayang dan selama ini mereka tinggal di Amsterdam . Mereka sudah lama tidak ada kabar lagi tapi 3 hari yang lalu mereka menelpon aku dan meminta ingin bertemu dengan kami semua sayang" jawab Leila menjelaskan.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sayang?" tanya Denis dengan cepat.
"Aku tidak tahu sayang. Yang pasti aku tidak ingin bertemu dengan mereka karena adik mommy sifatnya sangat angkuh dan egois sayang. Apa lagi anaknya aku tidak menyukai mereka semua" jawab Leial dengan wajah ditekuk.
"Beritahu Rayen sebentar biar kita bicara nanti di mansion sayang" titah Denis dengan suara lembut.
"Baiklah sayang"
"Jangan angkat lagi telpon dari mereka dan serahkan ke aku dan kakakmu biar kami yang mengurus mereka"
"Oke sayang itu boleh juga"
"Heemmm"
Leial tersenyum manis menatap suaminya dan memeluknya dengan erat, meresa sangat senang karena memiliki suami yang cekatan dan pengertian seperti Denis.
~ Rose Hotel ~
Sampainya di hotel Rose keduanya sudah disambut manajer hotel. Sebelum masuk ke ballroom Denis masih membahas beberapa pekerjaan dengan manajer hotel dan menanyakan keadaan hotel selama ini.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Leila diam disampingnya sang suami menemaninya berbicara dengan manajer hotel. Setelah itu barulah keduanya masuk ke dalam ballroom hotel ditemani Sandro dan Arsen di belakang.
"Ayok kita temui tuan acaranya sayang" ajak Denis dengan suara lembut.
"Iya sayang"
Saat keduanya masuk ke dalam ballroom hotel semua mata menatap mereka dengan tatapan kagum. Bagaimana tidak keduanya sangat serasi seperti seorang raja dan ratu, apa lagi penampilan mereka yang terlihat sangat berkelas.
Pasangan yang serasi
Apa aku bisa punya pasangan hidup seperti mereka
Presdir Denis memang sangat seras dengan nona muda Baker
Mereka terlihat sangat serasi. Pantas saja mereka menjadi pasangan fenomenal abad ini
__ADS_1
Bisik-bisik para tamu hadirin yang berdecak kagum melihat keduanya membuat Leila meras sangat risih. Tahu istrinya merasa risih Denis lalu mempercepat langkah mereka agar bertemu dengan tuan acara.
"Tahan ya sayang. Aku tahu kamu risih" bisik Denis.
"Iya sayang"
"Selamat ulang tahun tuan Herlambang" ucap Denis dengan suara dingin dan tegas.
"Terima kasih presdir Denis dan terima kasih juga sudah meluangkan waktu anda datang ke pesta saya" ucap Bara Herlambang dengan sopan.
"Ya suatu kehormatan saya diundang"
"Wah ini juga suatu kehormatan untuk saya presdir Denis. Silahkan presdir dan nyonya Arkana menikmati jamuan ya ada" ucap Bara mempersilahkan keduanya.
"Baik tuan Herlambang"
Denis dan Leila lalu undur diri dan membaur bersama tamu lain yang kebanyakan adalah rekan kerja Denis. Sandro dan Arsen yang berdiri di belakang keduanya selalu siaga menjaga mereka dari apapun.
"Denis kalian disini juga" ucap Amira dengan kaget.
"Mama" ucap keduanya berbalik melihat siapa yang berbicara.
"Mama diundang juga ya?" tanya Leila dengan suara lembut.
"Iya sayang. Kebetulan mama dari pemilik acara ini adalah teman arisan mama" jawab Amira.
"Oh gitu ya ma"
"Ayo Mama kenalkan sama teman arisan mama nak" ajak Amira.
"Pergilah sayang tapi ingat jangan berpisah dari mama" ucap Denis saat Leila menatapnya meminta ijin.
"Iya sayang" balas Leila sambil tersenyum manis.
Leila segera mengandeng mama mertuanya pergi dari sana. Denis lalu menatap Arsen memberinya isyarat untuk mengawal istriku.
Tak berselang lama Rayen datang bersama Leo dan bergabung bersama Denis dan lainnya. Tak lupa Denis memberitahu Rayen untuk menemuinya di mansion setelah dari sini.
~ Bandar Udara Soekarno Hatta ~
"Selamat datang bos" ucap Lexi komandan pasukan Dante.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Dante dengan suara dingin.
"Sudah bos" jawab Lexi dengan suara dingin.
"Bagus. Ayo kita ke markas baru kita" titah Dante sambil tersenyum menyeringai.
"Baik bos"
Dante segera masuk ke dalam mobil jemputannya bersama Bian tangan kanannya. Sedangkan Lexi ia masuk ke dalam mobil yang lain bersama anak buahnya mengawal sang bos menuju markas mereka yang berada di sini.
1 Jam kemudian
Selang 1 jam ada 2 jet pribadi yang baru saja landing di bandar udara Soekarna Hatta. Kedua pemilik jet pribadi itu keluar dengan penampilan berkelas menandakan mereka adalah orang berpengaruh.
Sebelum masuk ke dalam mobil keduanya saling melirik dan mengangguk kepala sebagai isyarat untuk pergi.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Didalam mobil Luca segera mengambil hpnya dan menelpon Alan yang tepat berada di belakang mobilnya.
"Halo" ucap Alan dari seberang.
^^^"Aku akan segera menuju ke tempatku dan jangan lupa pertemuan kita 4 hari lagi"^^^
"Ya aku tahu. Jangan lupa kabari Mr. Constanzo mengenai pertemuan itu"
^^^"Heemm! Aku akan memberitahunya nanti"^^^
"Baiklah"
Luca lalu mematikan panggilan karena sudah tidak ada lagi yang ingin ia bicarakan. Sampai pertigaan kedua mobil itu lalu berpisah menuju arah yang berbeda.
~ Markas Black Damon ~
__ADS_1
Mark menatap laptop didepannya dengan kening berkerut saat satelitnya menangkap gambar kedatangan orang-orang penting dari Italia di hari yang sama.
Jari tangannya lalu berkutat dengan keyboard menekan huruf-huruf yang membentuk sebuah kode program.
"****" maki Mark saat mendapat informasi tentang orang-orang itu.
Ia lalu mengambil hpnya dan segera menelpon Arsen, karena ini adalah tugas mereka untuk melacak informasi orang yang bersangkutan dengan penahanan Denis waktu di Italia.
"Ada apa?" tanya Arsen dengan suara dingin dari sebrang.
^^^"Beberapa orang yang bersangkutan dengan Kolonel Sanchez barusan tiba di Indonesia bos Arsen" jawab Mark to the point.^^^
"Kirim informasinya ke email aku sekarang"
^^^"Baik bos Arsen"^^^
"Lacak mereka dan suruh Max kirim mata-mata untuk membuntuti mereka" titah Arsen dengan suara dingin.
^^^"Baik bos Arsen akan aku beritahu bos Max"^^^
Mark segera menaruh kembali hpnya setelah panggilannya dimatikan oleh Arsen dan bergegas keluar dari ruangannya mencari Max di luar sana.
"Bos Max" panggil Mark.
"Ada apa?" tanya Max yang tak menatap Mark karena ada memantau produksi senjata.
"Ada perintah dari bos Arsen untuk mengirim mata-mata untuk membuntuti orang-orang ini" jawab Mark sambil menyodorkan iPad ke Max.
Max langsung menatapnya dengan tatapan dingin dan tajam dan segera menerima iPad yang disodorkan Mark.
"Siapa mereka?" tanya Max dengan penasaran.
"Orang yang berhubungan dengan penahanan bos sewaktu di Italia" jawab Mark.
"Aku akan segera mengirim mata-mata kita"
"Oke"
~ Rose Hotel ~
Arsen membaca email yang barusan dikirim Mark dengan serius. Meski pun begitu ia tetap memantau sang nyonya yang sedang berbincang dengan teman nyonya besar.
Brugh............
"Maafkan saya tuan" ucap seorang pelayan yang tidak sengaja menabrak Arsen.
"Menyingkir dari hadapanku" sentak Arsen dengan suara dingin.
"Baik tuan. Sekali lagi maafkan saya"
Arsen tak memperdulikan pelayan tersebut tapi saat pelayan itu pergi ia mengerutkan keningnya saat pelayan tadi menyelipkan sesuatu di tangannya.
...Langit Malam. Rooftop Sekarang...
Deg............
Jantungnya berdetak dengan cepat membaca pesan tersebut, karena itu sama dengan email yang setiap hari ia dapat.
Matanya berkeliling mencari pelayan tadi yang menabraknya tapi tidak ada. Sandro yang melihat Arsen seperti mencari sesuatu merasa bingung dan tak lama Arsen berbalik menatapnya dan memberi isyarat lewat matanya.
"Bos sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan Arsen. Aku akan pergi untuk menjaga nyonya" bisik Sandro.
"Heemmm" deham Denis sambil mengangguk kepalanya.
Arsen segera berlalu pergi keluar setelah Sandro datang, dengan langkah cepat Arsen bergegas menuju rooftop ingin tahu siapa yang selama ini terus mengirimnya pesan.
Sedangkan disudut ruangan ada seseorang yang menatap Denis dengan tatapan tajam. Denis yang sangat peka segera menoleh ke arahnya sehingga keduanya saling bertatapan.
Akhirnya kamu muncul juga, batin Denis sambil tersenyum menyeringai.
Seperti waktu itu orang itu tiba-tiba menghilang di tengah keramaian. Melihat hal itu Denis yakin orang itu sebentar lagi akan menemuinya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue.............
__ADS_1