Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 37


__ADS_3

“Kalian sudah selesai bermain?” tanya Arsen dengan sinis.


“Kamu bisa mengecek langsung nanti di ruangan pribadimu itu bocah” jawab Sandro sambil tersenyum menyeringai.


“Ckk!! Aku harus memindahkan ruangan pribadiku secepatnya sebelum terkontaminasi virus mereka” gumam Arsen dengan kesal sambil menatap Sandro dengan sinis.


Sandro sendiri tersenyum tak kalah sinis membalas tatapan Arsen seakan mengejeknya. Denis hanya menatap keduanya dengan tatapan dingin dan datar karena keduanya tidak akan bisa akur jika bertemu.


“Jangan meninggalkan jejak” ucap Denis dengan suara dingin.


“Semuanya beres presdir” ucap Rian.


“Dimana dia?” tanya Denis.


“Dalam perjalanan pulang ke negaranya bos. Mungkin sampai disana ia tidak akan hidup normal seperti dulu lagi bos! Hehehehe” ucap Sandro sambil terkekeh.


“Apa yang kalian lakukan kepadanya?” tanya Arsen dengan mata memicing.


“Memberinya guncangan kecil buat mentalnya” jawab Sandro.


“Mental?”


“Kami memberikan dia kenangan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya tuan Arsen. Aku yakin kenangan itu akan menemani dia selalu dalam tidurnya” ucap Rian sambil tersenyum menyeringai.


“Kalian berdua memang aneh” dengus Arsen tak mau membayangkan apa yang mereka berdua lakukan.


“Seharusnya tadi kamu ikut bergabung bocah empat mata” ejek Sandro.


“Tidak terima kasih” balas Arsen dengan cepat.


Hehehehe…………….


Sandro dan Rian terkekeh melihat wajah cemberut Arsen yang selalu membuat mereka ingin menggodanya terus. Ketiganya seketika bergidik ngeri, merasakan aura didalam sana yang membuat mereka menelan saliva dengan susah.


Ketiganya berbalik menatap ke arah Denis yang juga menatap mereka dengan tatapan membunuh dan mengintimidasi, membuat ketiganya bergidik ngeri dan menunduk tak berani menatapnya.


“Sudah selesai bicaranya?” tanya Denis dengan suara dingin.


“Maafkan kami bos. Presdir” jawab ketiganya dengan serentak.


“Victory Company” ucap Denis dengan suara dingin membuat ketiganya langsung menatap Denis dengan kening berkerut.


“Aku mau perusahaan itu besok tinggal nama saja” ucapnya lagi dengan tatapan berkilat tajam.


“Victory Company” gumam Rian dengan suara pelan mengingat dimana ia membaca nama perusahaan tersebut.


Deg…………….


Jantungnya berdetak dengan cepat dengan mata melotot setelah mengingat dimana ia membaca nama perusahaan tersebut.


Ia ingat jika pagi tadi ia memberikan beberapa laporan ke Denis, salah satunya ada laporan mengenai kontrak kerja sama yang tertera nama Victory Company.


Denis tersenyum menyeringai menatap Rian yang sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi, berbeda dengan Sandro dan Arsen yang masih bingung dengan perintah Denis barusan.


“Besok aku mau berita kehancuran perusahaan tersebut” titah Denis dengan suara dingin.


“Baik presdir” jawab Rian dengan patuh.


Sandro dan Arsen menatapnya dengan bingung karena mereka berdua masih belum juga paham sebenarnya apa yang terjadi disini. Denis memberi isyarat kepada Rian untuk memberitahu keduanya mengenai maksud ucapannya tadi.


“Victory Company kemarin mengirim kontrak kerja sama ke sini dan presdir sudah membaca berkas mereka. Kalian paham kan sampai disini?” tanya Rian dengan suara dingin.


“Bos apa aku boleh melihat berkas mereka?” tanya Sandro dengan cepat.


“Heeemmmm” deham Denis sambil melempar berkas itu didepannya.


Sandro dengan cepat mengambil berkas tersebut dan membacanya. Setelah beberapa saat ia tersenyum penuh arti sudah mengetahui kenapa Denis menginginkan perusahaan tersebut bangkrut.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...

__ADS_1


“Apa mereka pikir kita bisa dibodohi?” tanya Sandro dengan sinis.


“Mereka pasti tidak tahu sudah bermain dengan siapa dude” balas Arsen yang juga ikut membaca berkas tadi.


“2 jam bos. Perusahaan itu akan tinggal nama saja” ucap Sandro dengan cepat.


“Prove it” (buktikan) titah Denis dengan suara dingin.


“Oke bos”


Ketiganya bergegas keluar dari ruangan Denis meninggalkan Denis sendiri didalam sana. Ia lalu bangun dan berjalan menuju jendela menatap matahari terbenam dari jendela, memikirkan langkah selanjutnya untuk membalas Kenzo.


“Kita akan bertemu di pesta ulang tahun perusahaan BakerTech. Sampai saat itu aku akan memberimu kebebasan untuk menikmati hidupmu Kenzo Arjuna” ucap Denis sambil tersenyum menyeringai seperti iblis berdarah dingin.


~ Markas Black Damon ~


Sesuai ucapannya tadi di perusahaan kalau malam ini Denis akan menato tubuhnya dengan lambang kelompok mereka dan disinilah ia berada.


“Aku akan mulai bos” ucap Nino anak buahnya yang bisa menato.


“Heemmmm”


Arsen dan Sandro menatap Denis yang sedang ditato dengan kaget karena ia tidak diberi bius saat di tato. Keduanya meringis merasakan jarum tato yang mengenai kulit Denis berbeda dengan Denis yang terlihat santai.


Ia seperti tidak merasakan sakit sedikit pun dan wajahnya hanya terlihat datar dan dingin tidak ada raut sakit atau apapun.


Aku tidak bisa jika tidak di bius, batin Arsen bergidik ngeri.


Apa bos tidak merasa sakit? Aku saja yang melihatnya merasa sakit di sekujur tubuhku, batin Sandro dengan ngeri.


Tak…………..tak……………..tak………………


Keduanya melihat ke arah suara langkah kaki yang bergema didalam sana menghampiri mereka dan ternyata itu adalah Rian yang baru saja datang setelah pulang ke apartemennya sebelum datang kesini.


“Datang juga kamu” ucap Sandro.


“Aku tadi mandi dulu di apartemen baru datang kesini tuan” ucap Rian.


“Baiklah”


“Bagaimana Victor Company?” tanya Denis dengan suara dingin.


“Beres bos” ucap Sandro sambil menunjukkan berita mengenai bangkrutnya Victory Company.


“Good. Ambil bonus kalian besok” (bagus)


“Terima kasih bos” ucap ketiganya dengan serentak.


10 Menit


30 Menit


40 Menit


1 Jam


2 Jam


Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan tanpa terasa sudah 2 jam berlalu Denis ditato dan akhirnya selesai juga. Nino memperban tubuh Denis seluruhnya karena ia membuat tato di seluruh punggungnya.


“10 jam baru perbannya dilepas bos dan boleh terkena air” ucap Nino.


“Heemmmm”


“Setelah perbannya dilepas jangan lupa mengoles krim ini ya bos” ucap Nino sambil menyodorkan sebotol krim kecil ke Denis.


“Sandro” ucap Denis melempar krim tersebut ke Sandro.


“Oke bos”

__ADS_1


Malam itu Denis memilih tidur di kamar pribadinya di markas karena sudah malas pulang ke mansion. Sedangkan Sandro dan lainnya malam itu juga langsung di tato oleh Nino, kebetulan besok adalah weekend jadi mereka tidak perlu repot harus ke perusahaan.


“Lengan aku seperti mau patah” keluh Nino menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang santai.


“Apa bos dan lainnya sudah?” tanya Max.


“Heemmm”


“Sepertinya kamu belum bisa tidur malam ini” ucap Max membuat mata Nino seketika terbuka.


Hah…………….


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Nino kaget bukan main melihat barisan teman-temannya yang sudah mengantri untuk di tato. Max tersenyum mengejek menatapnya dan langsung membuka baju untuk ditato selanjutnya.


“Semoga besok aku masih hidup” ucap Nino dengan lesu.


~ Kasino Deluxe ~


Riski Akbar tertawa dalam hati berhasil menjalankan rencana liciknya mengadu domba ketua geng Kalajengking dengan geng Harimau barusan. Ia berhasil mengajak geng Kalajengking untuk menyerang geng Harimau dengan bukti bohong yang ia ciptakan dari mulutnya.


“Bodoh! Dasar tua bangka bodoh mau aja dibodohi” ejek Riski sambil tersenyum mengejek menatap kepergian Ali Hermawan dari lantai dua.


“Bos apa kita juga akan ikut bergabung?” tanya Marco.


“No. Kita hanya perlu menonton pertarungan mereka dan saat mereka saling menyerang disitu kita mencuri harta mereka di markas mereka! Hahahaha” ucap Riski sambil tertawa menggelegar.


Marco hanya diam saja mendengar tawa bosnya yang sudah berhasil menjalankan rencana mereka yang pertama, tinggal menunggu kapan waktunya untuk beraksi.


Tanpa keduanya sadari ternyata sedari tadi Adrian menonton dan mendengar semua rencana mereka.


“Orang yang sangat licik” ucap Adrian dengan sinis.


“Tuan apa saya boleh memberitahu rencana mereka ke teman saya?” tanya Erwin tangan kanannya dan orang yang mengurus kasino.


“Ah! Temanmu itu ketua geng Harimau kan?” tanya balik Adrian.


“Benar tuan” jawab Erwin


“Beritahu saja karena aku tidak ingin mereka menjadi sasaran sirubah licik itu” sinis Adrian.


“Baik tuan. Terima kasih”


“Kamu tahu kan harus berkata apa kepada temanmu itu” ucap Adrian dengan tatapan tajam.


“Tahu tuan dan semua rahasia kasino aman bersama saya tuan”


“Heemmmm”


Erwin menatap Riski Akbar dengan tatapan tajam, tidak menyukai cara liciknya yang selalu menjatuhkan lawan-lawannya itu dan mengambil keuntungan buat pribadinya sendiri.


Suatu saat kamu akan jatuh karena mulut licikmu itu Riski Akbar, batin Erwin sambil menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.


~ Rumah Arkana ~


Amira tidur det gelisah entah apa yang sedang ia mimpikan saat ini hingga tubuhnya berkeringat dingin sampai membasahi ranjangnya.


“Tidak! Ti……dak” ucap Amira sambil menggelengkan kepalanya.


Keningnya mengerut dalam tidur bermimpi tentang anaknya Denis yang dibawa pergi oleh keluarga suaminya sendiri dan meninggalkan sendiri.


Duar……………..


“DENIS” teriak Amira seketika terbangun dari mimpinya saat petir menyambar dengan kencang di langit.


Deg…………deg……………….deg…………


Jantungnya berdetak dengan cepat seperti baru habis lari maraton, Amira dengan cepat mengambil hpnya dan menghubungi sang anak tapi nomornya tidak aktif. Berkali-kali ia menghubungi Denis tapi tidak ada jawaban sama sekali.

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue…………….


__ADS_2