Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 270


__ADS_3

Bianca menangis dengan kencang membuat Leila dan Claudia panik. Keduanya bingung kenapa Bianca menangis, padahal mereka tidak apa-apakan dia.


"Aduh Leila gimana nih! Kakak bingung harus melakukan apa" ucap Claudia dengan panik.


"Sama ka. Aku juga bingung" balas Leila ikutan panik.


"Lebih baik kita tenangkan Bianca saja dulu ka" tambahnya lagi.


Claudia mengangguk kepala menyetujui ucapan Leila barusan. Keduanya lalu memeluk Bianca dan menenangkannya agar tidak menangis lagi.


Kai yang baru habis bermain di taman samping menatap ketiganya dengan kening berkerut. Ia bingung melihat mama dan kedua tantenya saling berpelukan.


"Asar aneh" ucap Kai mencibir.


Mbok Erna yang mendengar ucapan tuan mudanya sampai melotot kaget. Ia tidak menyangka tuan mudanya akan berbicara seperti itu.


Kai dengan santai berlalu menuju lift diikuti mbok Erna. Ia tidak perduli dengan apa yang dilakukan oleh mamanya, menurutnya itu sangat membosankan dan tidak penting.


Sedangkan Leila yang melihat Bianca sudah tenang bergegas membawanya menuju sofa. Ia akan bertanya kepada Bianca kenapa dia sampai menangis.


"Kamu kenapa dek? Apa Arkan menyakitimu?" tanya Leila dengan suara lembut.


"Katakan saja kepada kami Bianca! Jika Arkan menyakitimu atau membuatmu sakit hati jangan sungkan untuk cerita sama kami" tambah Claudia.


Bianca menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan kedua kakak iparnya. Ini memang menyangkut suaminya, tapi bukan karena suaminya yang menyakitinya tapi dia.


"Hiks hiks hiks.........mas Arkan tidak menyakiti aku ka.........hiks hiks hiks" ucap Bianca sambil menangis.


"Lalu kalau bukan karena Arkan kenapa dek? Kamu jangan menangis lagi ya. Ayok cerita sama kakak jika kamu punya masalah" bujuk Leila sambil memegang kedua tangan Bianca dengan erat.


"Kakak.......hiks hiks hiks" lirih Bianca semakin histeris menatap Leila.


"Cerita sama kakak dek jangan takut. Kakak akan dengar semua ceritamu" ucap Leila sambil tersenyum manis.


Phew..............


Bianca menarik napasnya dalam menormalkan dadanya yang sesak karena menangis sedari tadi. Leila dan Claudia menatapnya memberi angguk kepala untuk menceritakan semua yang ada dalam hatinya.


"Aku sudah menyakiti suamiku ka" ucap Bianca dengan sekali tarikan napas panjang.


Hah.................


Leila dan Claudia kaget mendengar ucapan Bainca barusan. Keduanya sampai menganga dan tidak berkedip dengan ucapan Bainca barusan yang mengatakan kalau sudah menyakiti Arkan.


"Tunggu dulu dek! Maksud kamu menyakiti Arkan begitu? Bukan Arkan yang menyakitimu kan?" tanya Leila dengan cepat.


"Mas Arkan tidak menyakiti aku ka tapi aku yang menyakitinya" jawab Bianca dengan lirih.


"Hah! Kepala aku langsung pusing tak tahu harus berkata apa" ucap Claudia sambil memijit kepalanya yang tiba-tiba sakit.


"Coba ceritakan dengan detail dek. Apa maksudmu sudah menyakiti Arkan" tegas Leila dengan pikiran mulai negatif.


"Iya Bianca kamu cerita semuanya dengan detail apa maksud ucapanmu barusan" ucap Claudia mendukung ucapan Leila.


Semoga pemikiran aku salah, batin Leila.


Ia berpikir jika Bianca pasti main di belakang adiknya sehingga menyakiti Arkan. Tapi ia juga berharap apa yang ia pikirkan itu semua tidak benar.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...

__ADS_1


Bianca lalu menceritakan semua yang terjadi 2 hari yang lalu sampai sekarang. Leila dan Claudia yang mendengar cerita Bianca menarik napas dengan lega, karena pemikiran mereka tadi itu semua salah.


"Jadi selama ini kalian belum pernah melakukan hubungan suami istri?" tanya Claudia.


"Iya ka" jawab Bianca dengan jujur.


Phew.............


Leila membuang napasnya dengan kasar sambil mengusap wajahnya. Ia tidak menyangka ternyata selama ini pernikahan adiknya tidak berjalan dengan baik.


"Apa selama ini Arkan pernah main tangan sama kamu dek?" tanya Leila dengan suara tegas.


"Tidak pernah ka" jawab Bianca.


"Lalu apa Arkan tidak memberi nafkah lahir kepada kamu?" tanya Leila lagi.


"Mas Arkan selalu memberi hak aku sebagai istri dalam hal materi ka. Mas Arkan juga tidak pernah memarahi aku atau membentak aku dan baru pertama kali mas Arkan membentak aku 2 hari yang lalu ka" jawab Bainca sambil menunduk.


"Rasanya sangat sakit ka tapi aku tahu kalau itu adalah salah aku, karena tidak menjawab telpon mas Arkan dan tidak ada waktu untuk mengurusnya selama ini ka. Aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri sehingga melupakan kewajiban aku sebagai seorang istri ka" tambahnya lagi.


"Aku menyesal ka....... hiks hiks hiks.......aku sadar sudah menyakiti suamiku dengan tidak memberikan haknya dan mengurusnya ka........hiks hiks hiks" ucap Bianca sambil menangis histeris.


Leila diam sambil menatap Claudia seakan berbicara lewat isyarat matanya. Claudia mengangguk kepala menyerahkan semua urusan Bianca kepada Leila.


"Dek apa kamu tahu tentang petuah suami istri?" tanya Leila dengan suara lembut.


"Tahu ka. Sebelum ibu meninggal ibu selalu menasihati aku tentang petuah suami istri katanya biar saat aku menikah aku bisa mengurus rumah tangga aku sendiri ka" jawab Bianca dengan jujur.


"Lalu apa kamu sudah melakukan semua itu selama kalian menikah?" tanya Leila lagi.


Duar...............


Apa yang sudah aku lakukan? Aku ternyata selama ini bukan istri yang baik, batin Bianca merasa sangat bersalah.


"Sudah tahu dimana salah kamu?" tanya Leila.


"Aku menyesal ka.........hiks hiks hiks..........aku sudah sangat bersalah sama suamiku ka.........hiks hiks hiks" ucap Bianca sambil menangis histeris.


"Belum ada kata terlambat untuk menyelamatkan rumah tangga kalian dek" ucap Calidia dengan suara tegas.


"Benar yang dibilang ka Claudia. Jika kamu ingin pernikahan kalian tetap utuh maka bukalah hatimu untuk Arkan dan jalani pernikahan ini dengan ikhlas" ucap Leila setuju dengan ucapan kakak iparnya.


"Kami akan selalu mendukung kalian berdua untuk mendapatkan kebahagian kalian. Memang kalian menikah bukan karena saling mencintai, tapi tidak ada salahnya kalian menerima pernikahan ini dan membuka hati untuk pasangan kalian" nasihat Claudia dengan bijak.


Bianca memikirkan ucapan kedua kakak iparnya dan bertanya kepada hatinya sendiri apa yang ia rasakan selama ini. Tiba-tiba jantungnya berdetak dengan cepat saat membayangkan wajah suaminya.


"Hiks hiks hiks.........ka........hiks hiks........aku mencintai suamiku.........hiks hiks hiks" ucap Bianca sambil menangis histeris.


Ia baru menyadari perasaannya sendiri kepada suaminya. Leila dengan cepat memeluk Bianca saat mendengar ungkapan hati adik iparnya.


"Jika kamu mencintai Arkan maka kejarlah dia dan rebut hatinya. Buat dia juga mencintaimu" usul Leila dengan suara lembut.


"Iya ka pasti" jawab Bainca dengan suara tegas.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Hari itu Leila dan Claudia memberikan petuah kepada Bianca bagaimana menjadi istri yang baik. Tak lupa menyenangkan suami dalam hal ranjang agar tidak jajan diluar.


Bianca yang awalnya malu mendengar penjelasan kedua kakak iparnya mengenai masalah ranjang, memilih acuh dan ia bertekad akan membuat suaminya bahagia dan tidak menyesal sudah menikahinya.

__ADS_1


1 Minggu kemudian


Sudah 1 minggu berlalu sejak kedatangan Bianca dan Claudia di mansion. Hari ini Leila berencana akan menemani suaminya di kantor karena kasihan dengan suaminya.


"Mbok nanti kalau malam Kai terbangun dan nyari kami langsung hubungi saja kami ya" ucap Leila sebelum pergi.


"Baik nyonya" ucap mbok Erna.


"Pak Liam jaga Kai dan jangan sampai dia kenapa-napa" titah Leila dengan tegas menatap pak Liam.


"Baik nyonya" jawab pak Liam dengan sopan.


Leila segera pergi dengan membawa rantang makan malam buat suaminya yang masih berada di perusahaan. Tadi ia sudah menghubungi Sandro menanyakan suaminya dan suaminya malam ini akan lembur lagi.


~ DA Corp ~


Denis menatap tamu didepannya dengan tatapan tajam dan dingin. Sudah seminggu Marcel terus mendatanginya meminta untuk bertemu dengannya dan hari ini baru ia diijinkan.


"Katakan apa tujuanmu kesini" ucap Sandro dengan suara tegas.


"Aku ingin berbicara empat mata dengan Denis saja" ucap Marcel dengan suara dingin.


"Bicara sekarang atau silahkan keluar dari ruanganku" ucap Denis dengan suara dingin dari kursi kebesarannya.


"Oke" balas Marcel tak mau membuat Denis mengusirnya.


"Aku ingin minta maaf kepada kamu atas nama daddy dan mommy aku" ucap Marcel dengan suara tegas dan lantang.


Denis diam sambil menatap Marcel dengan tatapan tajam mencari kebohongan di matanya tapi tidak ada. Bahkan ia dari pikirannya ia tahu jika kedatangan Marcel kali ini benar-benar tulus.


"Apa kamu tidak ingin membalas kematian mommy dan adik tirimu?" tanya Denis sambil tersenyum menyeringai.


"Aku tidak mempunyai adik lain selain Melisa Massimo adik kandung aku satu-satunya" ucap Marcel dengan suara tegas.


"Hehehehe! Aku pikir kamu akan mengakui adik tirimu itu" ucap Sandro sambil terkekeh.


"Dia bukan adik aku berengsek!" bentak Marcel dengan suara tinggi.


Sandro tersenyum menyeringai menatap Marcel yang sangat emosi saat ini. Sedangkan Denis hanya bersedekap tangan di dada menatap keduanya tak berminat.


"Jika sudah selesai kalian boleh keluar" ucap Denis dengan suara dingin.


"Aku belum selesai" pekik Marcel dengan cepat.


"Kalau begitu jangan membuang waktuku berengsek!" bentak Denis dengan aura mengintimidasi.


"Aku tidak akan membalas kematian mommy aku karena dia pantas mendapatkannya. Aku hanya ingin menjalin hubungan keluarga dengan kamu dan tidak mau ada dendam lagi di antara kita. Aku sadar selama ini kedua orang tua aku sudah menyakiti kamu, aunty Amira, dan uncle Demian jadi aku pribadi meminta maaf untuk keduanya" papar Marcel dengan tegas dan sungguh-sungguh.


"Aku memang memaafkan kamu tapi maaf aku tidak bisa menjadi bagian dari keluarga kalian. Bagiku papa aku adalah anak tunggal dan tidak mempunyai keluarga lagi sampai kapanpun" ucap Denis dengan suara tegas.


"Apa kamu tidak mengakui kami sebagai keluarga kamu?" tanya Marcel dengan tatapan kecewa.


"Kamu tahu jawabannya dan nama Massimo bukan lagi bagian dari hidup aku" jawab Denis dengan suara dingin.


Nyes...................


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue...............

__ADS_1


__ADS_2