
Denis menatap mereka semua dengan tatapan datar dingin membuat aura didalam sana seketika berubah menjadi sangat mencekam.
Matanya berkilat tajam menatap sang mama yang juga sedang menatapnya dengan sedih dan tak berdaya seakan ingin menangis detik ini juga.
“Denis” panggil Amira dengan suara bergetar.
Grep…………..
Denis memeluk mamanya dengan erat seakan memberitahunya untuk tidak khawatir karena ia sudah berada disini. Amira melihat anaknya dengan tatapan lembut membuat Denis tersenyum hangat membalas tatapannya.
Ia lalu mengajak Amira untuk duduk kembali dan ia duduk di sofa tunggal sambil berpangku kaki menatap tamu didepannya dengan tatapan tajam.
Wajahnya sangat mirip dengan ka Demian, batin seorang pria paruh baya yang bernama Martin.
Apa dia anak ka Damien, batin seorang ibu paruh baya yang bernama Laura.
“Siapa kalian?” tanya Denis dengan suara dingin.
“Demian” panggil seorang kakek yang bernama Alexandro Massimo.
“Siapa itu Demian? Sepertinya kalian salah masuk rumah” ucap Denis dengan suara datar.
“Tidak! Kami tidak salah rumah. Wajah kamu sangat persis dengan mendiang adik aku Demian” ucap Martin.
“Ah! Mendiang adik anda ya?” tanya Denis dengan suara dingin.
Amira sendiri memegang tangan Denis dengan gemetar sambil menatap keempat orang didepannya dengan tatapan penuh kebencian.
“Sepertinya anda salah tuan. Wajah aku ini bukan wajah pasaran karena wajah ini adalah duplikat dari wajah papa aku” ucap Denis dengan suara tegas.
“No aku tidak mungkin salah! Wajah kamu memang seperti adik aku waktu muda” ucap Martin sambil menunjukkan bingkai foto berisi foto seorang pria muda yang gagah dalam balutan jas mahal disana.
Kreek……………….
Gigi Denis mengeletuk melihat wajah yang sangat ia kenali didalam sana dengan tatapan tajam bercampur emosi yang membara didalam hatinya. Ingatannya seketika berputar mengingat kejadian ini yang pernah terjadi di kehidupan sebelumnya.
Flashback On#
Sepulangnya Denis dari kantor ia mendapati ada 4 tamu berwajah bule didalam rumah yang sedang memarahi mamanya.
“De…….nis” lirih Amira dengan sesegukan.
“Ada apa ini?” tanya Denis dengan suara dingin menatap keempat orang didepannya dengan tajam.
“Demian anakku” panggil Alexandro dengan tatapan penuh kerinduan.
“Siapa Demian. Nama aku Denis bukan Demian kakek tua” hardik Denis dengan suara tinggi.
“Jaga bicara anda anak muda. Jangan pernah berkata dengan suara tinggi dengan tuan besar Massimo!” bentak seorang pria paruh baya yang bernama Justin tangan kanan Alexandro.
“Ckk!! Kalian pikir kalian siapa sehingga membuat keributan di rumahku” decak Denis dengan sinis.
“Kami adalah saudara dari papa kamu. Dan dia adalah kakek kamu” ucap Martin sambil menunjuk Alexandro.
“Kakek?” tanya Denis dengan suara dingin.
Hahahaha…………….
Seketika tawanya pecah mendengar ucapan orang didepannya yang mengakui sebagai saudara papanya. Padahal selama ini ia hanya tahu papanya itu anak tunggal dan tidak punya keluarga lagi.
“Apa anda yakin tuan? Setahuku papa aku anak tunggal dan tidak punya saudara apa lagi seorang papa!” tegas Denis menekan setiap ucapannya.
__ADS_1
“Papa kamu adalah tuan muda pertama Massimo di Italia dan mereka adalah adik-adik papamu dan tuan besar adalah papa dari tuan muda pertama” ucap Justin menjelaskan.
Flashback Off#
“Ckk!!”
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Denis berdecak kesal setelah mengingat kejadian di kehidupan sebelumnya dan ia sudah tahu siapa keempat orang didepannya saat ini.
“Mama kenal mereka?” tanya Denis dengan suara dingin dan tatapan tajam.
“Ya mama sangat mengenali mereka nak. Mereka adalah keluarga papamu yang sudah mencoret nama papa dari keluarga Massimo yang terhormat” jawab Amira dengan suara tinggi.
“Itu karena kakak aku memilih menikahi perempuan miskin dan sial seperti kamu. Coba saja kakak aku menikah dengan wanita pilihan papa mungkin saat ini kakak aku masih hidup!” bentak Laura sambil menunjuk Amira dengan emosi.
Rahang Denis mengeras mendengar ucapan Laura barusan yang menghina mamanya. Wajahnya seketika menghitam dengan aura membunuh yang sangat terasa didalam sana, membuat Amira bergetar ketakutan karena tahu aura ini.
Plak…………..
“JAGA UCAPANMU KE MAMA AKU PEREMPUAN TUA SEBELUM AKU ROBEK!” bentak Denis dengan suara tinggi setelah menampar Laura.
Semuanya kaget bukan main melihat Denis yang berani menampar Laura yang selama ini terkenal dengan sifatnya yang angkuh dan sombong.
“Kamu nampar saya?” tanya Laura dengan mata melotot tak percaya.
“Ya karena kamu sudah menghina mama aku. Aku akan membunuh siapa pun yang berani menghina mama dan papaku” jawab Denis memperingati Laura hingga ia tak bisa berkata apa-apa.
Dia sama seperti kamu Demian. Semua yang ada dalam dirinya seperti kamu tegas dan angkuh nak, batin Alexandro dengan sedih.
“Papa aku anak tunggal dan bukan bagian dari keluarga kalian. Jadi sebaiknya kalian pergi sebelum aku membunuh kalian semua disini” ancam Denis dengan tatapan berkilat tajam.
“Aku tidak punya kakek dan selamanya akan seperti itu” ucap Denis dengan suara tegas.
Deg………………
Jantung Alexandro berdetak dengan cepat mendengar ucapan Denis cucunya yang selama ini sudah ia terlantarkan karena sifat egois dan keras kepalanya dulu.
“Amira tolong bujuk anak kamu untuk tidak mengusir kami. Biar bagaimanapun kami adalah keluarga ka Demian” pinta Martin.
“Tuan Martin Massimo yang terhormat. Apa anda lupa ucapan anda waktu itu?” tanya Amira dengan emosi.
“MULAI DETIK INI KAMU BUKAN KAKAK AKU LAGI DAN AKU TIDAK SUDI PUNYA KAKAK IPAR MISKIN SEPERTI DIA. DIA HANYA INGIN HARTA KAMU KA DAN KARENA KAMU MEMILIH GADIS MISKIN DAN RENDAHAN ITU, KAMU BUKAN KAKAK AKU LAGI DAN BAGIAN DARI KELUARGA MASSIMO” tambah Amira dengan suara menggelegar mengucap kembali kata-kata Martin waktu itu.
“Kalian dengan tak berperasaan mengusir aku dan suamiku dari Italia tanpa sepeserpun dan saat kami sampai di Indonesia kalian dengan tega menghancurkan semua bisnis suamiku dan rumah kami. Apa kalian tidak puas?” tanya Amira lagi dengan emosi.
“APA” pekik Denis dengan suara tinggi yang baru tahu hal ini hari ini.
Bugh…………….bugh…………...bugh………………
Denis menghajar Martin orang yang mengaku sebagai adik papanya dengan brutal membuat Laura dan Alexandro berteriak histeris memintanya untuk berhenti.
“Cukup tuan muda. Saya mohon berhenti” pinta Justin melerai keduanya.
“Berengsek!! Pergi kalian dari rumah aku dan jangan pernah tunjukkan wajah kalian di hadapan aku dan mamaku lagi!” bentak Denis dengan suara menggelegar.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Martin yang sudah tak berdaya lagi segera dipapah Justin dan mengajak tuannya untuk pergi dari sana, karena ia yakin Denis tidak bisa diajak bicara baik-baik saat ini.
“Denis” panggil Amira dengan takut.
__ADS_1
“Mulai sekarang jangan pernah menemui mereka semua ma” titah Denis dengan suara tegas.
“Iya nak” ucap Amira tak membantah.
Denis yang masih emosi memilih pergi dari sana karena tak ingin mamanya melihat ia melampiaskan emosinya disana. Amira sendiri menatap kepergian anaknya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Maafin mama nak karena tidak memberitahu maksud kedatangan mereka. Sampai kapan pun mama tidak akan membiarkan mereka membawa kamu Denis, batin Amira penuh tekad.
~ Zeus Club ~
Bunyi dentuman musik DJ bergema didalam sana menyambut kedatangan Denis disana, dengan langkah tegap ia berjalan menuju lantai dua tempat yang biasa pakai saat datang ke sana.
Brak………….
“Bos” ucap Sandro dengan kaget saat pintu dibuka dengan kuat dan masuklah Denis dengan tatapan membunuh.
Glek…………….
Denis meminum tequila dari botolnya langsung membuat Sandro kaget bukan main tak menyangka akan melihat Denis seperti itu. Ia tahu jika Denis seperti itu tandanya ia sedang dalam suasana hati yang buruk.
Aku harus menghubungi bocah mata empat, batin Sandro segera mengirim pesan ke Arsen untuk datang ke sana.
Prang………….
“Bangsat” maki Denis dengan suara tinggi sambil membuang botol bekas tequila yang sudah kosong.
Sandro yang sangat penasaran apa yang terjadi dengan Denis mengurungkan niatnya untuk bertanya, saat melihat tatapan mata Denis yang berkilat tajam dengan aura membunuh yang sangat terasa didalam sana.
Denis seperti orang kehausan meminum tequila seperti itu tak perduli jika ia akan mabuk. Sandro tahu jika bosnya itu adalah peminum hebat tapi tak menyangka akan melihat Denis kacau seperti ini.
“Aku ingin bermain seperti dulu. Apa kamu mau ikut?” tanya Denis sambil tersenyum menyeringai menatap Sandro.
Glek………………
Sandro menelan salivanya dengan susah mendengar ucapan Denis barusan dan ia tahu apa maksud Denis dan permainan seperti apa yang akan mereka mainkan.
“Sepertinya aku ikut bos karena suasana hati aku saat ini sangat kacau” ucap Sandro sambil menghabiskan segelas tequila di depannya.
“Let’s play ash***e! Hehehe” (ayo bermain berengsek) ucap Denis sambil terkekeh.
Keduanya bergegas pergi dari sana dengan wajah merah padam, menandakan mereka sangat mabuk tapi tidak dengan tubuh mereka yang masih kuat berdiri seperti orang tidak minum saja.
Brum……………….brumm……………….
Denis dan Sandro melajukan mobil mereka dengan kecepatan tinggi, membuat Arsen yang baru saja sampai berdecak kesal dan segera mengikuti kemana mereka akan pergi.
“Kemana sih mereka berdua” decak Arsen dengan kesal harus mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar tak tertinggal.
Ceekiitt…………..
Arsen mengerem mobilnya tepat di belakang mobil keduanya yang sudah sampai beberapa menit yang lalu. Matanya memandang sekitar melihat dimana ia berada dan seketika ia kaget bukan main melihat bangunan didepan mereka yang sangat ia kenali.
“F**k! Kenapa mereka bisa datang ke sini sih” maki Arsen dengan kesal bergegas memakai topeng wajah yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi.
Arsen tak menyangka jika Denis dan Sandro akan datang ke gudang penyimpanan milik geng Elang Putih yaitu Riski Akbar. Firasatnya mengatakan jika keduanya akan melakukan hal gila disana.
Sudah aku duga, batin Arsen melihat apa yang sedang keduanya lakukan.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue…………..
__ADS_1