
Bunyi benda pecah di taman samping membuat Seina dan Riana kaget bukan main. Keduanya yang masih menikmati sarapan langsung berdiri dari kursi dan berjalan ke taman samping.
Mereka di buat syok melihat Roy yang sedang menendang dan membanting pot bunga sampai hancur, bahkan kursi santai dan meja yang ada disana sudah terbalik.
"Mommy apa yang terjadi sama ****daddy****" bisik Seina.
"Mommy tidak tahu sayang" balas Riana berbisik.
Seina memeluk lengan sang mommy merasa takut dengan tatapan daddynya yang terlihat sangat menyeramkan. Berkali-kali keduanya menutup mata takut saat Roy kembali menghancurkan barang di sekitarnya.
Aaarrgghh..............
Teriak Roy dengan suara menggelegar hingga urat-urat lehernya terlihat. Matanya menatap ke arah depan dengan dada naik turun menandakan ia sangat emosi setelah menerima telpon dari William Richie.
Ternyata William mengabari tentang berita yang baru saja menguak di publik. Berita itu tentang kasus perdagangan anak-anak yang berkedok panti asuhan, dimana panti asuhan itu adalah salah satu yayasan milik William Richie.
...Panti Asuhan WR berkedok bisnis perdagangan anak-anak dimana kasus itu melibatkan beberapa petinggi negera Italia dan senator Italia...
"Bangsat!" maki Roy dengan suara menggelegar membaca judul berita yang sedang hot.
Prang................
Roy melempar hpnya ke lantai sampai hancur berkeping-keping membuat Riana dan Seina semakin ketakutan.
"Dad apa yang terjadi?" tanya Riana memberanikan diri.
"Kalian jangan pernah keluar hari ini dari mansion" titah Roy dengan tatapan berkilat tajam.
"Memangnya kenapa dad? Hari ini mom harus menghadiri kegiatan amal dengan istri perdana menteri" ucap Riana.
"AKU BILANG JANGAN KELUAR YA JANGAN KELUAR!" bentak Roy dengan suara menggelegar.
"I........ya dad" ucap Riana dengan terbata-bata karena ketakutan.
"Kamu Seina persiapkan dirimu untuk malam. Daddy tidak menerima penolakan, jika kamu menolak perjodohan ini maka siap-siap hidup di jalanan" tunjuk Roy dengan tatapan tajam.
"Bai.....k dadd...y" jawab Seina dengan ketakutan.
Roy kalau pergi dari sana karena harus mengurus berita tentang William Richie. Ia harus segera mengurus berita tersebut sebelum namanya dan beberapa petinggi dunia menguak di publik.
Sepeninggalnya Roy, Seina segera pergi ke kamarnya untuk menenangkan diri. Meskipun ia tidak menyukai perjodohan ini mau tak mau ia harus terima karena ia tidak ingin hidup miskin apa lagi sampai hidup di jalanan.
"Aku tidak perduli jika memang harus menikah dengan om tua bangka yang penting aku tidak hidup di jalanan" gumam Seina dengan tatapan sulit diartikan.
Sedangkan Simon yang hendak menuju ke perusahaan harus mengatur ulang jadwalnya hari ini, karena Arkan yang tiba-tiba memblokir jalannya saat baru keluar dari mansion.
"Memangnya kita mau kemana Arkan dan ada perlu apa kamu sama aku?" tanya Simon yang duduk di samping Arkan yang mengemudi mobil sendiri.
"Nanti juga ka Simon tahu. Jadi ka Simon diam saja jangan banyak tanya" jawab Arkan dengan santai.
"Hah! Memangnya mau kamu bawa aku kemana Arkan! Aku hari ini sangat sibuk tidak punya waktu untuk mengurus kamu!" hardik Simon dengan suara tinggi.
"DIAM DAN JANGAN BANYAK TANYA " bentak Arkan sambil menodongkan pistol ke wajah Simon.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Phew.............
Simon membuang napasnya dengan kasar tak menyangka akan ditodong senjata oleh Arkan. Mau tak mau ia harus mengikuti ucapan bocah di sampingnya.
Sial! Bisa-bisanya aku tidak berkutik didepan bocah sialan ini, batin Simon dengan kesal.
Sedangkan Arkan ia tidak perduli dengan Simon yang sedang mengumpatnya didalam hati. Ia malah asyik bernyanyi mengikuti lirik lagu yang sedang ia putar.
~ Markas Black Devil I ~
30 Menit kemudian mobil Arkan memasuki mansion yang sangat besar dan jauh dari perkotaan. Apa lagi mansion ini terletak di tengah-tengah hutan yang sangat lebat.
"Aku tidak menyangka ada mansion sebesar ini disini" ucap Simon yang masih terpana melihat sekeliling mansion.
"Ayok masuk ka" ajak Arkan membuyarkan lamunannya.
Baru saja Simon hendak masuk ke dalam mansion tiba-tiba hpnya berbunyi ada panggilan masuk dari Bram asistennya.
"Halo tuan"
^^^"Ada apa Bram?" tanya Simon to the point.^^^
"Maaf tuan tapi barusan dari pihak Archile Company mengabarkan jika meeting mereka majukan ke jam 1 karena direktur Archile harus berangkat ke Amerika jam 3 nanti" jawab Bram menjelaskan dari seberang.
^^^"Ya sudah kamu atur saja nanti sebelum jam 1 aku sudah kembali ke perusahaan"^^^
__ADS_1
"Baik tuan"
^^^"Bram kalau daddy mencariku bilang saja kamu tidak tahu"^^^
"Baik tuan"
Simon segera mematikan panggilannya dan bergegas masuk ke dalam mansion. Sampainya di ruang tengah matanya terbelak melihat Denis yang sedang berpangku kaki di sofa dengan wajah datar.
"Denis kapan kamu sampai?" tanya Simon.
"Semalam" jawab Denis singkat.
"Jadi kamu yang menyuruh Arkan untuk membawaku kesini ya" ucap Simon sambil melihat Arkan dan Denis bergantian.
"Heemmm" deham Denis.
"Apa apa kamu memanggilku kesini?" tanya Simon to the point.
Denis melirik Arkan dan memberinya isyarat untuk pergi, entah kemana ia tak tahu. Satu hal yang pasti ia yakin ada sesuatu yang buruk akan segera terjadi.
Simon duduk dengan tidak tenang menunggu apa yang ingin dikatakan Denis kepadanya. Tak berselang lama Arkan datang sambil membawa map hitam dan memberikannya kepadanya.
"Apa ini?" tanya Simon dengan bingung.
"Buka" titah Denis dengan aura mengintimidasi.
Simon segera membuka map tersebut karena ia sangat penasaran apa isi dalam map tersebut. Saat dibuka mata terbelak melihat isi map itu, dimana ada beberapa lembar tentang bukti penggelapan dan pencucian uang didalam negeri.
Bukan itu saja ada begitu banyak foto-foto yang terdapat wajah beberapa petinggi dunia dan pejabat penting di Italia. Apa lagi ada juga wajah daddynya didalam sana.
"Ini" ucap Simon dengan suara bergetar melihat foto daddynya yang sedang menodongkan pistol ke tumpukan mayat.
"Nine Cloud" ucap Denis dengan suara dingin.
Deg...............
Jantung Simon berdetak dengan cepat mendengar nama yang tiga tahun terkahir ia cari. Selama tiga tahun terakhir ia mencari tahu tentang nama itu karena ada banyak sekali dana dari perusahan yang mengalir ke rekening atas nama Nine Cloud.
"Dari mana kamu tahu nama itu?" tanya Simon dengan tatapan tajam menatap Denis.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Denis diam tidak menjawab ucapan Simon dan malah menatap Arkan sambil mengangguk kepalanya.
Simon tidak bertanya dan segera membaca informasi di berkas satunya yang lagi yang belum sempat ia baca. Matanya seakan ingin keluar dari tempatnya saat membaca kata demi kata yang tertulis disana.
"FU*K YOU ROY MARTINEZ" teriak Simon memaki daddynya sendiri.
Matanya memerah dengan rahang mengeras setelah selesai membaca informasi tentang Nine Cloud. Ia tidak menyangka ternyata selama puluhan tahun daddynya sudah menyembunyikan hai ini dari keluarga mereka.
Apa lagi setelah mengetahui kalau daddynya adalah ketua dari perkumpulan itu. Ia juga tidak menyangka tenyata daddynya selama ini melakukan bisnis ilegal hanya untuk mendapatkan uang dengan mudah.
"Apa tujuanmu mengatakan ini semua kepadaku?" tanya Simon dengan tatapan tajam.
"Karena aku akan menghancurkan perkumpulan itu. Terlebih aku dalam membunuh semua anggota itu kerena sudah membunuh papaku" jawab Denis dengan aura membunuh.
"Maksudmu?" tanya Simon dengan bingung.
"Tuan besar atau lebih tepatnya papanya bos adalah mantan ketua Nine Cloud. Nine Cloud sendiri adalah perkumpulan yang dibangun tuan besar untuk memberantas kejahatan tapi tenyata sahabat tuan besar sendiri atau lebih tepatnya daddy sialanmu itu malah mengkhianati tuan besar dan memfitnahnya" jawab Arkan menjelaskan.
"Apa" pekik Simon dengan kaget.
"Asal ka Simon tahu ya, daddy sialan ka Simon itu memfitnah tuan besar melakukan kecurangan dan dengan tega mengeluarkannya dari perkumpulan tersebut setelah tuan besar mengundurkan diri sebagai ketua mafia Red Blood" papar Arkan menjelaskan.
"Jadi mafia yang dulu sangat misterius dan hebat itu milik uncle Demian?" tanya Simon dengan kaget.
"Heeemmm" deham Arkan sambil mengangguk kepalanya.
Simon diam mencerna semuanya dan memikirkan semua yang telah dilakukan oleh daddynya selama ini.
"Silahkan jika kamu ingin membalas dendammu kepada daddy aku Denis. Aku tidak keberatan malahan aku mendukungmu" ucap Simon dengan suara tegas.
"Kakak yakin?" tanya Arkan dengan kaget.
"Ya aku yakin" jawab Simon dengan tegas tak ada keraguan sama sekali.
Denis tersenyum smirk menatap Simon yang sedang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Ia tahu kalau saat ini Simon ingin sekali membunuh daddynya setelah mengetahui semua kebusukan daddynya tapi ia tidak bisa.
"Satu saja permintaan aku! Tolong jangan apa-apakan mommy dan kedua adik aku, biar bagaimanapun mereka tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang daddy lakukan" pinta Simon dengan tulus.
"Aku tidak akan menyentuh keluargamu hanya daddy sialanmu itu saja" ucap Denis dengan suara tegas.
__ADS_1
"Terima kasih Denis dan maaf karena daddy aku uncle Demian, aunty Amira, dan kamu harus menderita selama ini" lirih Simon dengan perasaan bersalah.
Krek................
Simon dan Arkan menoleh ke Denis dan kaget melihat pegangan sofa yang patah akibat cengkraman Denis yang sangat kuat.
Sepertinya aku salah bicara, batin Simon sambil menelan salivanya dengan susah.
Kenapa rasanya jadi merinding ya, batin Arkan sambil memegang tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin.
"Pergi" usir Denis dengan suara dingin dan berat.
"Ah! Oke" ucap Simon dengan kaget.
Arkan lalu menyuruh anak buah mereka untuk mengantar Simon kembali. Tanpa aba-aba Denis langsung menendang kursi yang ia duduk barusan.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Bangsat!" maki Denis dengan emosi.
Prang..............orang...........prang...........
Denis menghancurkan barang didalam sana melampiaskan emosinya mengingat kenangan saat papanya menghembuskan napas terakhir.
Apa lagi mengingat penghinaan yang di terima oleh mamanya dari keluarga sang papa. Ia berteriak kesetanan melampiaskan emosinya yang memuncak.
"Bos ka Arsen memberitahu jika Martin Massimo diusir dari mansionnya setelah ia menonton video panas suaminya saat berada di Indonesia" lapor Arkan.
"Dimana dia?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Di mansion tua Massimo bos" jawab Arkan.
"Siapkan mobil kita ke sana" titah Denis sambil tersenyum menyeringai.
"Oke bos"
Arkan segera menyuruh anak buah mereka untuk menyiapkan mobil. Denis tertawa seperti iblis didalam sana sudah tidak sabar ingin melihat Martin Massimo.
~ Mansion Utama Massimo ~
Alexander dan Linda syok melihat Martin Massimo yang diantar David asistennya dengan tubuh penuh lebam dan mata sebelahnya bengkak.
"Apa yang terjadi?" tanya Alexander dengan tatapan tajam menatap David.
"Uhm! Itu tuan besar tuan Martin di usir nyonya Hana dari mansion" jawab David dengan gugup.
"Hah! Bagaimana bisa?" tanya Linda dneban kaget.
"Uhmm! Itu nyonya besar" jawab David tak tahu harus berbicara dari mana.
"Sudahlah mommy jangan tanya lagi. Nanti juga istriku akan kembali menyuruhku pulang" ucap Martin dengan cepat.
"Diam kamu Martin. Biarkan David menjawab pertanyaan mommy!" bentak Linda dengan suara tinggi.
"Ayolah mommy. Ini hanya masalah kecil saja dan jangan dibesarkan lagi" ucap Martin memelas.
"Masalah kecil!" pekik Linda dengan emosi.
"Mom jangan terlalu emosi ingat kamu baru saja sembuh" ucap Alexandro sambil mengelus punggung istrinya dengan lembut.
Phew..............
Linda membuang napasnya dengan kasar sambil menutup mata menetralkan emosinya. Martin yang melihat mommynya tidak bertanya lagi tersenyum lebar merasa sudah aman.
"DAVID JELASKAN SEMUANYA TIDAK BOLEH ADA YANG KEBOHONGAN" titah Alexandro dengan suara tegas.
Ehh.............
Martin melotot kaget mendengar ucapan daddynya, ia melihat David sambil menatapnya dengan tajam memperingatinya untuk tidak memberitahu apa yang sebenarnya terjadi.
Aduh bagaimana ini? Kalau aku tidak jawab nanti aku akan mendapat hukuman dan kalau jawab juga akan mendapat hukuman juga, batin David dengan bingung.
David menatap Alexandro dan Martin bergantian memikirkan apa yang harus ia lakukan saat ini.
Maafkan aku tuan tapi aku lebih takut dengan tuan besar, batin David.
"Tuan Martin kedapatan bermain wanita di belakang nyonya Hana tuan besar. Tadi ada yang mengirim video panas tuan Martin saat berhubungan badan dengan wanita bayarannya tuan" ucap David dengan suara lantang.
"MARTIN MASSIMO" teriak Linda dengan suara menggelegar didalam mansion.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
__ADS_1
To be continue..............