Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 54


__ADS_3

Sesuai ucapannya tadi di perusahaan kalau malam ini mereka akan menonton pertunjukan menarik dan disinilah mereka berempat berada.


“Aku tidak menyangka kalau pertunjukan menarik itu disini” dengus Adrian dengan kesal.


“Kalau kamu tidak tertarik kamu bisa pulang saja dude” balas Sandro sambil tersenyum menyeringai.


“Kamu saja yang pulang sana berengsek” ketus Adrian.


Denis diam saja tak perduli dengan perdebatan keduanya, karena saat ini ia sedang memantau keadaan di sekitar club Hawa milik Kenzo. Ya mereka saat ini sedang berada di atas rooftop apartemen yang berjarak 4 meter dari club malam milik Kenzo.


“Dimana Rian?” tanya Denis dengan suara dingin.


“Dia sudah balik lebih dulu karena malam ini ia akan makan malam dengan keluarga panti asuhan bos” jawab Arsen dengan suara tak kalah dingin.


“Heemmm! Kapan sidang perceraian kedua orang tuamu?” tanya Denis lagi.


Ehhh………….


Arsen kaget tak menyangka Denis akan mengetahui tentang perceraian kedua orang tuanya, karena ia baru saja mendaftar perceraian kedua orang tuanya dan masih menunggu surat dari pengadilan agama untuk menetapkan jadwal sidang perceraian kedua orang tuanya.


“Bos tahu?” tanya Arsen dengan kaget.


Denis hanya meliriknya sekilas dan tersenyum smirk, tak menjawab pertanyaan Arsen barusan membuat dia semakin bingung dari mana bosnya itu tahu.


“Orang tuamu bercerai?” tanya Adrian dan Sandro dengan serentak.


“Heemmm” deham Arsen dengan singkat.


“Kenapa mereka bercerai? Bukannya ibu kamu tidak ingin bercerai dari ayah sialan kamu itu ya?” tanya Sandro dengan cepat.


“Mungkin karena ibu sudah lelah dengan ayahku” jawab Arsen dengan ambigu.


“Baguslah kalau ibumu mau bercerai dari ayahmu. Setidaknya ibumu memilih jalan yang benar untuk hidupnya” ucap Adrian dengan getir.


Ketiganya melirik Adrian yang mengatakan hal barusan dengan getir. Karena mereka tahu mama Adrian tetap mempertahankan pernikahannya sampai maut menjemputnya, meski ia sudah disakiti berkali-kali oleh ayah Adrian.


Suasana yang tadi riuh seketika menjadi hening hanya ada suara angin saja yang bertiup di atas sana, membuat keempatnya berdiri dengan tatapan lurus ke depan dengan pemikiran masing-masing.


“Pertunjukannya sudah dimulai” ucap Denis sambil menunjuk mobil polisi yang beriringan dari empat arah memblokir jalan disekitar club Hawa.


“Jadi ini pertunjukan menariknya dude?” tanya Adrian dengan cepat.


“Bagaimana dude apa kamu suka?” tanya Sandro sambil tersenyum lebar.


“Kalau untuk kehancuran an***g sialan itu aku selalu senang dude” ucap Adrian sambil tersenyum penuh arti.


Mereka berempat menatap begitu banyak polisi dibawah sana yang sedang mengamankan club bagian luar dan sudah mulai masuk ke dalam club. Mata tajam Denis menangkap seseorang yang sangat ia kenali di kehidupan sebelumnya.


Cepat atau lambat kita akan bertemu kembali detektif Gilang dan semoga kali ini matamu tidak menutup sebelah dengan masalah yang akan muncul di kemudian hari, batin Denis dengan tatapan tajam menatap punggung detektif Gilang.


~ Hawa Club ~


Semua pengunjung club yang ingin melarikan diri berhasil di ringkus oleh pihak kepolisian dan dikumpul menjadi satu di lantai dansa. Jeki dan teman-temannya saling melirik untuk tidak membuat kecurigaan disana.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


“Apa sudah semuanya?” tanya detektif Gilang dengan suara tegas.


“Sudah komandan” jawab Ringgo anak buahnya.

__ADS_1


“Susuri semua kamar didalam club ini dan cari dimana tempat wanita-wanita itu disekap” titah detektif Gilang dengan cepat.


“Baik komandan” ucap semua anak buahnya dengan serentak.


Jeki melihat gelagat aneh dari seorang bartender yang mengeluarkan tombol kecil dari saku celananya. Dengan cepat ia langsung mendorong seorang pengunjung hingga menabrak bartender tersebut.


Brugh…………..


“Periksa kenapa mereka ribut” titah detektif Gilang dengan suara tegas.


Jeki memberi instruksi ke temannya untuk menendang tombol yang di jatuhkan bartender tadi ke depan sana. Bartender tersebut mengumpat kesal melihat tombol hitam yang sudah hilang dari tangannya sebelum ia menekannya.


“Cari ini?” tanya detektif Gilang.


Ia memegang tombol berukuran kecil yang tadi mengenai sepatunya dan matanya menangkap gelagat aneh bartender yang sedang mencari sesuatu.


Glek……………


Bartender tadi menelan salivanya dengan susah melihat tombol yang sedari tadi ia cari, ternyata sudah berada di tangan detektif Gilang.


Sedangkan detektif Gilang segera menyuruh polisi disana untuk mengamankan bartender itu merasa ada sesuatu yang ia sembunyikan disini.


“Komandan” panggil Ari sambil memberi isyarat jika mereka sudah menemukannya.


Detektif Gilang segera menghampiri Ari dan menyuruh polisi untuk menahan semuanya sampai operasi ini selesai. Dengan langkah cepat mereka lalu naik ke lantai tiga menuju pintu ruangan paling ujung.


Saat masuk ke dalam ruangan paling ujung kening detektif Gilang mengerut melihat tak ada apa-apa disana.


Ari lalu memberi isyarat gerakan tangan untuk tidak berbicara saat melihat komandannya akan bertanya, ia lalu memperlihatkan alat pendeteksi suhu kepada detektif Gilang saat menaruh di tembok.


Mata detektif Gilan melotot kaget melihat begitu banyak gambar suhu orang didalam sana.


Detektif Gilang mencari tombol atau apapun didalam ruangan tersebut untuk menemukan jalan menuju kesana dan saat ia memegang lampu hias tiba-tiba tembok bergeser ke samping dan memperlihatkan sebuah pintu.


Ceklek………………..


“POLISI” ucap Ringgo dengan suara menggelegar membuat semua orang disana berteriak.


Aaarrgghhh..............


Pihak polisi segera meringkus para tamu dan pihak club yang sedang melakukan transaksi pelelangan wanita didalam sana, Jason yang melihat semua itu bergegas bersembunyi didalam brangkas agar polisi tidak menemukannya.


“Bawa mereka semua ke kantor dan interogasi mereka” titah detektif Gilang.


“Siap komandan” jawab semua anak buahnya serentak.


“Komandan para wanita berada didalam sini” ucap Ari yang membuka salah satu pintu.


“F**k” (berengsek) maki detektif Gilang melihat ada sekitar 50 wanita didalam sana yang hanya memakai bikini saja.


“Suruh petugas wanita bawa mereka semua ke kantor” titah detektif Gilang.


“Baik komandan”


Malam itu detektif Gilang dan anak buahnya berhasil membongkar sindikat perdagangan wanita malam di club malam Kenzo dan hal tersebut seketika menjadi trending topik.


~ Mansion Kenzo Arjuna ~


Prang………………..

__ADS_1


Bunyi gelas pecah menggema di ruang tengah saat Kenzo melihat headline news di tv mengenai club malamnya.


Matanya berkilat tajam dengan rahang mengeras melihat berita tersebut yang entah bagaimana polisi bisa mencium bisnis haramnya disana.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Kenzo segera mengambil hpnya dan menelpon Ando untuk membereskan masalah di clubnya, serta mencari kambing hitam untuk meloloskannya dari pemilik club sebelum polisi tidak mencari tahu lebih dalam lagi.


“Halo tuan” ucap Ando dari seberang.


^^^“Segera urus masalah club sekarang!” bentak Kenzo dengan suara tinggi.^^^


“Baik tuan”


^^^“Dimana Jason sialan itu?” tanya Kenzo dengan emosi.^^^


“Jason sedang bersembunyi didalam brangkas di ruang pelelangan tuan karena polisi masih berkeliaran di sana” jawab Kenzo dengan suara tegas.


^^^“Cari cara untuk mengeluarkan Jason dan segera cari kambing hitam untukku dan buat dia yang menjadi pemilik club jangan sampai nama aku diketahui polisi” hardik Kenzo dengan suara tinggi.^^^


“Baik tuan” balas Ando dengan patuh.


Kenzo lalu mematikan panggilannya sepihak dan kembali melampiaskan emosinya saat memikirkan pelelangan malam ini yang gagal total dan berapa banyak kerugiannya malam ini.


Matanya berkilat tajam seakan ingin membunuh siapa saja yang ada didepannya saat ini untuk melampiaskan emosinya.


Pak Tedi kepala pelayan disana bersama beberapa pelayan bersembunyi di samping mansion tak ingin menunjukkan wajah mereka didepan Kenzo, karena tahu apa yang terjadi jika mereka berada didepan Kenzo saat ia sedang mengamuk seperti sekarang.


Tuan bukan manusia tapi monster kejam, batin pak Tedi bergidik ngeri mendengar teriakan Kenzo didalam sana.


Sedangkan Denis dan lainnya bergegas pergi dari sana setelah melihat para wartawan mulai berdatangan. Mereka berempat lalu menuju kediaman mereka masing-masing membelah jalan malam Jakarta yang terasa sunyi karena sudah jam 03:00 dini hari.


Cekitt……………..


Denis mengerem mobilnya dengan cepat melihat ada sekelompok orang didepannya yang sedang memblokir jalan menuju mansion miliknya.


Mata Denis menangkap ada beberapa orang yang sangat ia kenali didepan sana apa lagi melihat tato ular cobra di leher mereka.


Ia lalu tersenyum menyeringai tahu jika didepan sana adalah mantan anak buahnya, entah apa yang sedang mereka lakukan didepan sana sehingga menutup jalan.


Dengan santai Denis duduk didalam mobil melihat apa yang akan mereka lakukan dan tak lama dua orang berjalan menujunya dengan membawa sabit dan parang.


“Hey keluar kamu” ucap salah satu mantan anak buahnya sambil memukul kap depan mobilnya.


Denis diam saja ingin melihat apa yang akan mereka lakukan jika ia tidak keluar.


Merasa orang didalam mobil tidak kunjung keluar seorang lagi datang mengetuk jendela mobil Denis, entah kenapa ia mempunyai firasat untuk tidak memukul kaca mobil itu dan lebih memilih mengetuk kaca mobil.


Tok…………tok……………tok…………..


“Keluar kamu berengsek! Jangan sampai aku menghancurkan mobil mewahmu ini!” bentak salah satu dari keduanya yang mengetuk kaca mobil.


Perlahan-lahan kaca mobil Denis turun membuat orang tersebut berdiri mematung melihat siapa yang berada didalam mobil. Tubuhnya gemetar membuat rekannya merasa bingung dan ikut melihat siapa yang berada didalam mobil.


Seperti temannya ia juga kaget dengan tubuh gemetaran melihat sosok yang sangat ia kenali dan takuti selama ini. Meski bos mereka terus menyuruh mereka untuk menghabisi Denis, tapi mereka semua tidak ada yang berani untuk mengusik Denis.


“Bos De………..nis” ucap keduanya dengan gemetaran.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...

__ADS_1


To be continue……………


__ADS_2