Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 231


__ADS_3

Denis turun dengan langkah tergesa-gesa dan langsung naik ke dalam mobil. Ia sampai tidak perduli dengan sapaan anak buahnya yang sedari tadi menunggu kedatangannya.


"Ada apa dengan bos?" tanya Arkan dengan bingung.


"Sudah tidak sabar ingin menemui nyonya" jawab Arsen dengan suara dingin.


"Hah! Yang benar ka Arsen?" tanya Arkan memicing.


Arsen mengangkat kedua bahunya menjawab pertanyaan Arkan. Ia lalu menyuruh anak buah mereka untuk segera menyusul sang bos karena dia akan pulang ke rumahnya.


Arkan yang malas pulang ke rumah memilih tidur di apartemen. Besok saja baru ia pulang ke rumah sekaligus bertemu dengan kakaknya Rayen.


~ Mansion Denis Arkana ~


Mobil Denis tiba di depan mansion tepat pukul 02:30 dini hari. Saat keluar dari dalam mobil anak buahnya yang bertugas menjaga mansion kaget melihat bos mereka yang sudah pulang.


Mereka tidak diberitahu tentang kepulangan bos mereka hari ini. Bahkan para pelayan juga tidak ada yang tahu sehingga tak menyambut kedatangannya.


"Kamu segera pergi beristirahat" ucap Denis dengan suara dingin.


"Baik bos. Selamat beristirahat" ucap Thomas sambil membungkuk setelah Denis masuk ke dalam mansion.


Langkah panjang Denis menggema di dalam mansion sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sang istri. Entah kenapa jantungnya berdetak dengan cepat memikirkan istri dan calon anak mereka.


Ting................


Bunyi lift berhenti di lantai dua mengagetkan Lisa dan pak Tio yang tertidur di depan kamar utama. Mata mereka seakan ingin keluar dari tempatnya melihat kedatangan Denis.


Mati aku bos sudah pulang, batin Lisa dengan takut.


Aku yakin sebentar lagi ada keributan besar, batin pak Tio dengan gemetar.


Denis mengerutkan keningnya membaca pikiran keduanya. Perasaannya mulai tidak tenang merasa ada sesuatu yang sedang terjadi tanpa ia tahu.


"Bos. Tuan" sapa Lisa dan pak Tio serentak dengan gugup.


Keduanya menunduk tak berani melihat tatapan dingin dan mengintimidasi Denis saat ini. Tak memperdulikannya sapaan mereka, Denis segera masuk ke dalam kamar ingin bertemu dengan istrinya.


"Sayang" panggil Denis dengan suara lembut membuka jas, sepatu, dan kemejanya.


Ia melempar ke pakaiannya sembarang dan naik ke atas ranjang ingin memberi kejutan kepada sang istri. Tak berapa lama tangannya memegang sesuatu yang panjang saat memeluk tubuh istrinya.


Dengan cepat Denis menyalakan lampu untuk melihat apa yang tadi ia sentuh.


Duar....................


Bagai disambar petir tubuh Denis mematung melihat sang istri yang terbaring lemah dengan selang infus di tangan.


Wajahnya sangat pucat sampai tidak ada rona di kedua pipinya seperti biasa. Jantungnya berdetak dengan cepat memikirkan apa yang terjadi dengan istrinya saat ia tidak.


"Pak Tio matikan lampunya" ucap Leila yang sadar saat lampu kamarnya menyala.


Leila menutup mata merasa silau dengan cahaya lampu sehingga membuatnya tidak bisa tidur. Lama kelamaan keningnya mengerut tak mendapat jawaban pak Tio, ia lalu membuka mata dan seketika kaget melihat sosok yang sangat ia rindukan selama ini.


"Sayang" panggil Denis dengan suara lembut.


Tes...............


Air mata Leila tiba-tiba jatuh melihat suaminya yang berdiri didepan saja. Denis yang melihat istrinya menangis dengan panik berjalan menghampiri sang istri di ranjang.


"BERHENTI DISITU" teriak Leila dengan suara melengking.


Denis seketika berhenti saat mendengar teriakan sang istri. Keningnya mengerut tak mengerti kenapa istrinya menyuruh dia untuk berhenti.

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Sayang kamu sakit apa dan kenapa kamu menyuruhku berhenti?" tanya Denis dengan bingung.


"Kamu tanya kenapa? Aku benci sama kamu........hiks hiks hiks" pekik Leila sambil menangis histeris.


"Sayang" ucap Denis dengan khawatir.


Ia tidak memperdulikan ucapan istrinya yang menyuruh dia untuk tidak mendekat. Denis langsung memeluk istrinya meski mendapat penolakan.


"Lepaskan aku berengsek! Lepas!" bentak Leila dengan suara tinggi.


"Sayang jangan gini dong. Aku minta maaf kalau ada salah tapi jangan seperti ini sayang. Tahan emosimu" ucap Denis dengan suara lembut.


"Lepaskan aku sialan! Aku benci sama kamu! Pergi aku tidak mau melihatmu" hardik Leila sambil mendorong Denis dengan kuat.


"LEILA ROSE ARKANA" ucap Denis dengan suara menggema didalam kamar.


Plak................


Wajah Denis menoleh ke samping saat istrinya menampar dia. Napas Leila naik turun dengan air mata yang masih saja mengalir dari kedua matanya.


Emosi Leila saat ini sudah tidak terkontrol merasa sangat marah dengan suaminya. Hormon kehamilannya membuat sifat Leila berubah drastis, ia tidak takut sama sekali dengan suaminya dan mudah cepat tersinggung.


"Kenapa kamu pulang?" tanya Leila dengan suara dingin dan tatapan tajam.


"Apa maksudmu sayang?" tanya Denis dengan suara tak kalah dingin.


"Masih ingat juga untuk pulang kamu! Bukannya kamu sangat mencintai pekerjaanmu itu dibandingkan aku" teriak Leila dengan suara tinggi.


"Jangan mengada kamu Leila. Kamu tahu jawabannya siapa yang paling aku cintai dalam hidupku ini dan itu adalah kamu" balas Denis dengan suara tegas.


"Hahaha! Aku kamu bilang? Kalau kamu mencintaiku kamu pasti akan memberi aku kabar dan bukannya tidak ada kabar sampai 3 hari sialan" hardik Leila dengan suara menggelegar.


Deg...............


Ia sangat sibuk mengurus permasalahan di sana sampai lupa memberi kabar kepada istrinya. Bahkan ia sampai lupa mencharger hpnya karena ingin segera menyelesaikan masalah di sana.


"Maafkan aku sayang. Aku tahu aku salah tidak memberi kamu kabar. Aku sangat sibuk mengurus masalah di sana dan bergegas pulang dengan cepat karena sangat merindukanmu sayang" papar Denis menjelaskan.


"Hiks hiks hiks..........keluar kamu...........hiks hiks hiks.........pergi kamu dari hadapanku" usir Leila sambil menangis histeris.


Grep............


Denis memeluk istrinya dengan erat tidak perduli dengan pukulan Leila di belakangnya. Hatinya sangat sakit melihat sang istri yang menangis dan itu semua karena dia.


"Maaf sayang. Maafkan aku tak memberimu kabar sayang. Maaf" ucap Denis dengan tulus.


Hiks............hiks...........hiks...........


Leila menangis histeris sambil memukul dada suaminya melampiaskan rasa kesal dan emosi dalam dirinya. Denis membiarkan sang istri memukulnya karena memang ia yang salah.


Tak berselang lama Denis mendengar napas teratur sang istri yang sudah tertidur. Ia mencium kening sang istri dengan lembut sambil menghapus air mata di kedua pipinya.


"Maaf sayang" bisik Denis dengan suara pelan.


Denis lalu menidurkan Leila dengan pelan tak lupa menutupnya dengan selimut. Ia mengelus pipi sang istri dengan lembut, lalu melabuhkan ciuman hangat di kening, bibir, dan perutnya.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Kamu baik-baik ya nak didalam perut mama. Maafkan papa sudah membuat mama dan kamu sedih nak" ucap Denis sambil mengelus perut istrinya dengan lembut.


Tuk............

__ADS_1


Senyum dibibir Denis terangkat saat merasakan tendangan di perut sang istri. Ia mencium perut buncit istrinya sambil mengelus dengan pelan.


Melihat istrinya sudah nyenyak, Denis segera keluar untuk bertanya tentang apa yang terjadi dengan istrinya saat ini.


"Tuan" ucap pak Tio dan Lisa sambil menunduk saat Denis keluar.


"Ikut aku" ucap Denis dengan suara dingin.


Keduanya menelan saliva dengan susah merasakan aura Denis yang sangat mengintimidasi. Apa lagi mereka merasa seperti sedang di tatap oleh monster berdarah dingin.


Bugh................bugh..............


Brugh.............


Keduanya terjatuh di lantai saat sampai di ruang santai tak jauh dari kamar utama. Pak Tio meringis sambil memegang perutnya yang sangat sakit akibat pukulan Denis barusan.


Tak pandang bulu Denis melampiaskan emosinya sedari tadi kepada keduanya. Mata coklat Denis menatap mereka dengan tajam seakan ingin menelan mereka hidup-hidup.


"Sejak kapan?" tanya Denis dengan suara dingin.


"2 Hari yang lalu tuan" jawab Lisa dengan takut.


Bugh............... prang..............


Denis menendang Lisa hingga terpental mengenai lemari kaca di belakangnya sampai hancur.


"2 Hari yang lalu dan kalian tidak memberitahuku berengsek!" bentak Denis dengan suara menggelegar.


"Maafkan kami bos. Tapi kami sudah menghubungi bos dan bos Arsen tapi nomor kalian tidak aktif bos" ucap pak Tio menjelaskan dengan cepat.


"Fu*k" maki Denis dengan suara lantang.


"Kenapa kalian tidak menghubungi Thomas atau pengawalku yang lain sialan!" bentak Denis dengan suara menggelegar.


Pak Tio dan Lisa menunduk tak bisa menjawab pertanyaan Denis karena melupakan Thomas dan pengawal Denis yang lain. Karena terlalu panik dengan keadaan sang nyonya yang drop mereka tidak mengingat Thomas.


"Maaf bo........s" ucap Lisa dengan terbata-bata sambil menahan sakit yang amat luar biasa di tubuhnya.


"Katakan apa yang terjadi dengan istriku?" tanya Denis dengan suara menggelegar.


"Nyonya selalu muntah saat mencium bau makanan oleh karena itu nyonya tidak pernah makan. Hanya 2 sampai 5 sendok saja nyonya makan tapi setelah itu nyonya akan memuntahkan semua yang nyonya makan tuan" jawab pak Tio menjelaskan.


"Kami memanggil dokter Suci dan dokter Bimo untuk merawat nyonya, jadi dokter Suci memberikan obat anti mual dan juga memasang infus karena nyonya kekurangan cairan dalam tubuh sehingga menjadi lemah tuan" tambahnya lagi.


"Bangsat!" hardik Denis dengan suara tinggi.


Prang..............prang............prang.........


Denis melampiaskan kemarahan dan kekesalannya dengan menghancurkan semua benda yang berada disana. Beruntung kamar mereka kedap suara jadi Leila tidak mendengar keributan yang sedang terjadi di luar sana.


"Dimana mamaku dan Rayen?" tanya Denis mengingat dua orang yang ia suruh untuk menjaga istrinya selama ia pergi.


"Tuan Rayen sudah 3 hari berada di Jepang karena kantor cabangnya terbakar tuan. Sedangkan nyonya besar berada di rumah utama menemani kakek dan nenek tuan" jawab pak Tio.


"Sialan!" bentak Denis dengan emosi.


"Suruh mamaku besok pagi datang" titah Denis dengan tatapan berkilat tajam.


"Baik tu.......an" jawab pak Tio dengan gemetar.


Prang................


Denis menendang guci disampingnya hingga hancur berantakan sebelum pergi. Sedangkan pak Tio dan Lisa mereka hanya diam saja sambil menahan rasa sakit di tubuh mereka.

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue...............


__ADS_2