Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 254


__ADS_3

Phew.................


Leila membuang napas dengan kasar melihat kakak ipar dan sahabatnya sedang menangis mengeluarkan semua keluh kesah mereka.


"Non ini minum tehnya dulu biar non Leila tidak pusing lagi" ucap bi Eda menaruh teh hangat didepan Leila.


"Makasih ya bi" balas Leila sambil tersenyum manis.


"Sama-sama non"


"Mbok Erna baby Kai udah mandi?" tanya Leila saat mbok Erna masuk dari taman samping.


"Sudah nyonya" jawab mbok Erna.


"Berikan baby Kai kepadaku biar aku menyusuinya mbok" ucap Leila dengan suara lembut.


"Iya nyonya"


Leila menerima baby Kai dan membawanya ke dalam kamar sang suami. Ia sangat rindu dengan putranya karena seharian ini hanya sibuk dengan para wanita di bawah sana.


"Anak mama haus ya" ucap Leila sambil tersenyum manis menatap putranya yang sangat rakus minum asi.


"Isshh! Pelan-pelan nak tidak ada yang ambil jatah kamu. Lagian papamu tidak ada nak! Hehehehe" tambahnya sambil terkekeh sambil meringis sakit di put.ingnya.


Leila tertawa melihat wajah putranya yang cemberut merasa tidak senang saat ia menjelekkan nama sang suami. Entah kenapa anaknya itu tidak suka jika membicarakan suaminya.


~ Markas Black Devil ~


Haciuu.................


"Bos sakit?" tanya Bimo dengan cepat saat Denis tiba-tiba bersin.


"No" jawab Denis singkat sambil menerima tisu dari Sandro.


Entah siapa yang membicarakannya sehingga ia tiba-tiba bersin. Denis mengumpat dan memaki dalam hati kepada orang yang sedang membicarakan dirinya.


Tanpa ia sadari ternyata istrinya yang sedang membicarakannya bersama sang anak.


"Hay dude" ucap Adrian dengan suara lantang dari pintu masuk.


"Siapa yang mengijinkan orang asing masuk ke markas aku?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Ckk!! Kamu memang sahabat bangsat Denis" decak Adrian dengan kesal.


"Yang di bilang bos benar dude. Hanya anggota kami saja yang boleh masuk ke sini" ucap Sandro sambil tersenyum menyeringai.


"Diam kamu sialan! Aku ini sahabat gunung es itu jadi otomatis bagian dari kalian juga" ketus Adrian dengan sinis menatap Sandro.


Bugh................


"BERENGSEK KAMU MAX! APA KAMU SUDAH BOSAN HIDUP! HAH" bentak Adrian saat Max tiba-tiba meninjunya di pipi.


"Orang yang mengatai bos kami maka orang itu harus mati" balas Max dengan suara dingin.


"Kamu memang keterlaluan Denis" sarkas Adrian dengan kesal.


"Hehehehe! Makanya jangan bicara sembarang dude. Kamu tahu kan ini kandang singa masih aja cari hal" ejek Sandro sambil terkekeh.


"Berengsek!" umpat Adrian dengan kesal.


Denis hanya diam saja tak mau menanggapi Adrian karena menurutnya tidak penting. Sedangkan Adrian ia hanya bisa menghela napas dalam melihat sifat sahabatnya yang sangat acuh.


"Dude aku ingin bergabung bersama kelompok mafia kalian" ucap Adrian memberitahu tujuannya datang kesini.


"Tumben. Bukannya kamu tidak suka terlibat dengan dunia mafia dude?" tanya Sandro dengan penasaran.


"Aku ingin punya kekuatan dunia bawah untuk menjaga perusahaan dan aset aku. Sekaligus ingin menjaga aku dan kakek dari musuh kamu" jawab Adrian.


"Oh"


"Max" ucap Denis sambil memberi isyarat menunjuk Adrian.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Max mengangguk kepalanya menjawab isyarat Denis yang ia mengerti. Ia lalu memberi perintah kepada anak buah mereka untuk menyiapkan ruang tato.


"Tuan muda Castel silahkan ikut aku ke ruang tato untuk membuat tato lambang mafia kami di tubuh tuan muda" ajak Max dengan suara dingin.


"Heemm" deham Adrian sambil berlalu pergi mengikuti Max.


"Bos mereka sudah sampai" lapor Sandro membaca pesan dari Tino didepan markas.


"Bawa mereka ke kandang Leon" titah Denis sambil tersenyum menyeringai.


"Oke bos"


Sandro segera berlalu pergi untuk melihat anak buah mereka yang menculik Arsen, Rian, dan Ando tadi saat ketiganya akan pulang dari apartemen Adrian.


Sampainya di depan kandang Leon, Sandro tersenyum smirk melihat ketiganya yang masih dalam keadaan pingsan.


Tak berselang lama Denis datang bersama Bimo. Ia lalu menyuruh Sandro untuk membangunkan ketiganya.

__ADS_1


Byur.................


Seketika mata ketiganya terbuka saat anak buah Denis menyiram mereka dengan air dingin. Arsen, Rian, dan Ando sampai syok melihat siapa yang sudah menculik mereka.


"Bos. Presdir Denis" ucap ketiganya dengan serentak kaget.


"Apa kalian kaget?" tanya Sandro sambil tersenyum menyeringai.


"Dude apa yang terjadi?" tanya Arsen dengan bingung.


"Bos kenapa menculik kami?" tanya Rian dengan penasaran.


"Kakak ipar kenapa aku di bawa kesini? Kenapa aku juga diculik?" tanya Ando.


"Apa kalian sudah puas berpesta semalam?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Maaf bos" ucap Arsen dan Rian dengan serentak.


"Kalian itu bodoh atau apa? Apa kalian tidak pikir keadaan istri kalian jika tidak pulang sialan!" bentak Denis dengan suara tinggi.


"Maafkan kami bos. Kami salah bos" ucap Arsen dan Rian dengan serentak.


Bugh............bugh...................


Denis menendang Arsen dan Rian dengan kuat hingga terpental jauh ke belakang. Keduanya sampai tidak bisa bangun karena tendangan Denis yang sangat menyakitkan.


"Kakak ipar" panggil Ando gugup saat melihat tatapan Sandro yang seakan ingin menelannya hidup-hidup.


"Kamu tahu kesalahan kamu?" tanya Sandro dengan bingung.


"Tidak" jawab Ando sambil menggelengkan kepalanya.


"Karena kamu istriku harus bergadang semalam mengurus Ara dan Ari. Kalian itu bukan anak ABG lagi bangsat!" bentak Sandro dengan suara tinggi.


Bugh..............


Sandro memeluk Ando di pipi kirinya hingga terjatuh di lantai. Dadanya naik turun melihat Sandro dengan tatapan tajam, menandakan saat ini ia sangat emosi.


Karena kamu aku harus menahan gairah aku dari semalam sialan, batin Sandro sambil memijit keningnya yang sakit.


Kepalanya pusing dari semalam karena tidak mendapat pelepasan. Apa lagi semalam gairahnya sudah di ubun-ubun, terpaksa ia harus tahan saat ibunya mengetuk kamar memberitahu keadaan sang adik dan keponakan.


"Masukkan mereka ke kandang Leon" ucap Denis dengan suara tegas.


"Apa!" pekik ketiganya dengan syok.


Denis tidak main-main memberikan hukuman kepada anak buahnya yang bersalah. Apa lagi saat ia tahu kalau istrinya sampai pusing harus menghadapi rengekan istri mereka semua di rumah sang mama.


"Baik bos" ucap anak buahnya yang bertugas menjaga peliharaannya.


Sandro dan Bimo menatap ketiganya dengan kasihan karena tidak bisa menolong mereka. Hanya Denis saja yang bisa menolong mereka, tapi itu tidak mungkin.


"Aku doakan kalian bertiga selamat sampa 5 jam mendatang" ucap Sandro sambil tersenyum smirk.


"Tenang saja dude, aku akan stand by dengan peralatan aku setelah kalian keluar nanti" ucap Bimo sambil tersenyum lebar.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Ketiganya memutar malas mata mereka melihat Sandro dan Bimo. Mereka tahu saat ini keduanya sedang mengejek mereka, seakan berkata siapa suruh mau membuat Denis marah.


Hari itu ketiganya harus berolahraga kaki didalam sana, demi menghindar dari buaya predator milik Denis yang sangat ganas.


~ Rumah Arkana ~


Berbeda dengan suasana di markas Denis, suasana di rumah Amira dan Steven sedari tadi hanya terdengar dengan isak tangis saja.


"Apa disini sedang arisan ibu-ibu hamil?" tanya Zeus yang baru saja pulang.


"Ckk!! Kamu diam saja bocah" decak Geby dengan ketus.


"Hehehehe! Siapa suruh kakak-kakak mau mengerjai suami kalian. Ujung-ujung kalian semua yang terkena imbasnya" ucap Zeus sambil terkekeh.


"Leila kalau aku jual adik ipar kamu bisa tidak?" tanya Ara dengan kesal.


"Jangan di jual Ara. Lebih baik kamu mutilasi saja dia" ucap Claudia dengan sinis menatap Zeus.


"Aku setuju sama Claudia" tambah Anisa.


"Terserah kalian mau apakan Zeus silahkan" ucap Leila sambil tersenyum smirk.


"Wah kakak ipar parah banget. Masa mau jual adik iparnya sendiri" ucap Zeus sambil menggelengkan kepalanya.


"Yah lumayan bisa datang uang tambahan! Hehehehe" ucap Leila sambil terkekeh.


"Ckk!!" decak Zeus dengan bibir mengerucut.


Hahahaha................


Seketika tawa mereka semua pecah didalam ruang keluarga melihat apa wajah Zeus yang sangat jelek.


Amira dan Steven yang baru saja keluar dari kamar mengerutkan kening melihat para wanita yang sedang tertawa.

__ADS_1


"Kalian tertawa apa sih?" tanya Amira dengan penasaran.


"Tidak ma. Kamu hanya menggoda Zeus saja" ucap Leila.


"Zeus kamu ternyata sudah tidak dingin lagi kepada kamu perempuan" cibir Steven.


"Cih! Lebih baik daddy diam saja deh" decih Zeus dengan kesal.


Hahahahaha...............


Steven tertawa kencang melihat putranya yang baru kali ini tidak dingin kepada perempuan. Mungkin karena ia sudah mendapat kakak yang selama ini sangat ia impikan.


Amira yang melihat jam sudah 18:40, lalu mengajak mereka untuk makan malam bersama. Kebetulan bi Eda sudah menyiapkan makan malam untuk mereka semua.


Suasana makam malam kali ini berbeda dari biasanya karena diselingi canda tawa. Leila yang sudah terbiasa makan dengan suasana hening hanya diam saja.


Kenapa aku tiba-tiba merindukan suamiku ya, batin Leila yang seharian ini belum bertemu dengan Denis.


Terakhir kali ia bertemu suaminya semalam karena tadi pagi ia bangun telat dan Denis sudah berangkat ke kantor.


"Yuhuuuuu! Mama Amira" pekik suara kencang dari pintu depan.


"DIAM KAMU ARKAN. INI BUKAN HUTAN!" bentak Rayen dengan suara tinggi.


Brugh..............


Kursi yang di tempati Claudia terjatuh di lantai saat ia tiba-tiba bangun dan berlari menuju asal suara. Suara yang sangat ia kenali dan rindukan sedari semalam.


"Suamiku.........hiks hiks hiks" pekik Claudia sambil menangis histeris.


Grep..............


Rayen memeluk sang istri yang sedang menangis dalam pelukannya dengan erat. Ia tahu pasti Claudia sangat tertekan karena dari selama ia mendiaminya dan keluar tanpa kasih kabar.


"Maafkan aku mas........hiks hiks hiks........maafkan aku mas" ucap Claudia sambil menangis histeris.


"Sudah jangan menangis lagi sayang. Aku sudah memaafkanmu" ucap Rayen sambil mencium kepala sang istri berulang kali.


"Beneran mas?" tanya Claudia sambil sesegukan.


"Iya sayang" jawab Rayen sambil mengecup bibir istrinya.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Rayen lalu membawa istrinya kembali ke ruang makan karena tahu istrinya pasti belum menghabiskan makanannya.


Arkan sendiri sudah ikut bergabung dengan yang lain dan menikmati malam malam. Kebetulan ia belum makan malam juga.


"Kamu seperti orang tidak makan 1 tahun saja" ejek Zeus melihat cara makan Arkan yang sangat buru-buru.


"Diam kamu sialan!" bentak Arkan dengan suara tinggi.


"Arkan Luis Baker" ucap Leila dengan tegas dingin dan tatapan tajam.


"Dia yang menganggu aku dahulu ka" ketus Arkan tak mau disalahkan.


"Son" ucap Steven dengan tatapan tajam.


"Sorry dad" ucap Zeus memilih mengalah tak mau membuat daddynya marah.


Mereka semua kembali melanjutkan makan malam mereka. Tak berselang lama mbok Erna membawa baby Kai yang menangis histeris tak mau diam.


Leial segera mengendong anaknya ke ruang tengah agar tidak menganggu keluarganya yang sedang makan malam.


"Tuan ada tamu yang mencari tuan dan nyonya didepan" ucap bi Eda memberitahu.


"Siapa bi?" tanya Amira.


"Saya teh tidak tahu mereka siapa nya. Wajah mereka semua bule kayak tuan dan den Denis nyonya" jawab bi Eda mengingat wajah tamu yang datang.


"Laki-laki atau perempuan bi?" tanya Amira semakin penasaran.


"Laki-laki 2 orang dan perempuan ada 4 orang nyonya" jawab bi Eda.


"Siapa ya? Mas apa kamu mengundang teman mas?" tanya Amira.


"Tidak sayang. Lagian kemarin semua tamu undangan aku sudah datang semuanya" jawab Steven.


"Mungkin keluarga Massimo yang datang ma" ucap Rayen.


"Tidak mungkin nak. Kalau daddy Alexandro datang pasti mereka akan mengabari mama" bantah Amira.


"Biar aku lihat siapa yang datang" ucap Zeus dengan suara dingin.


"Aku ikut bocah" ucap Arkan.


Keduanya segera bergegas pergi menuju ke depan ingin melihat siapa yang datang. Tapi sampainya mereka di depan mereka di buat syok melihat apa yang terjadi.


"KA LEILA" teriak keduanya dengan suara melengking.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...

__ADS_1


To be continue..................


__ADS_2