
Arsen tercengang mendengar ucapan Austin yang mengatakan Arkan adalah Rayen Baker. Otaknya dengan cepat menghubungkan satu persatu ucapan Austin dan setelah beberapa saat akhirnya ia mengetahui maksud Austin.
Ia menatap Denis sambil terkekeh yang dibalas kekehan juga oleh Denis dan sepertinya Denis juga sudah mengerti ke arah mana pembicaraan mereka. Austin yang melihat keduanya terkekeh menatap mereka dengan bingung.
“Kenapa kalian tertawa?” tanya Austin dengan penasaran.
“Ternyata kamu itu sangat bodoh” jawab Denis sambil tersenyum mengejek.
Mata Austin seakan ingin keluar dari tempatnya mendengar ucapan Denis yang mengejeknya, mata biru tajam Austin menatap Denis dengan tatapan membunuh memperingatinya untuk tidak mengatakan dia bodoh.
Denis sendiri tersenyum smirk melihat tatapan Austin yang memperingatinya dan ia tidak takut sama sekali dengan tatapan tersebut.
Tok………..tok………………tok………………..
Arsen segera beranjak ke pintu untuk membuka pintu saat mendengar suara ketukan. Saat pintu terbuka ternyata yang datang adalah Anisa yang membawa minuman untuk Arsen dan Denis sesuai perintahnya tadi.
Tak berkata apa-apa Arsen segera menyuruh Anisa membawanya ke dalam dan menyuruh dia keluar setelah selesai. Wajah Austin yang tadinya datar dan dingin seketika berubah menjadi hangat dan selalu tersenyum saat melihat Anisa masuk.
Cih! Dasar iblis bermuka dua, batin Denis dengan sinis.
30 Menit kemudian
“Hey apa kamu hanya akan diam saja Denis?” tanya Austin dengan kesal karena sudah 30 menit Denis tidak berbicara begitu juga dengan Arsen.
“Bagaimana makanannya?” tanya balik Denis dengan suara dingin.
“Fu*k! Ini bukan saatnya kamu bertanya tentang makanan Denis Arkana” pekik Austin dengan suara melengking.
“Sangat enak presdir Denis” jawab Kenneth dengan cepat.
“Shut up your fu***ng mouth as**ole” (tutup mulutmu sialan) maki Austin dengan tatapan membunuh ke Kenneth.
“Maafkan aku bos” ucap Kenneth dengan sopan.
Hehehehe………………
Denis terkekeh melihat Austin yang sudah sangat kesal, karena sedari tadi ia tidak memberitahu apa alasannya ia tertawa dan tak menggubris pertanyaan Austin.
“Untuk apa kamu mencarinya?” tanya Denis dengan suara dingin.
“Melindungi dia dari seseorang yang selama ini sangat ingin membunuhnya” jawab Austin dengan suara tegas dan wajah serius.
“Membunuhnya? Siapa yang berani ingin menyakitinya?” tanya Denis dengan aura membunuh didalam sana.
Glek………………
Austin dan Kenneth menelan saliva mereka dengan susah merasakan aura Denis yang sangat mengerikan didalam sana. Keduanya tak menyangka jika aura seorang pemimpin mafia Black Damon ternyata sangat menakutkan seperti rumor yang beredar di dunia bawah selama ini.
Tok……………..tok…………tok……………….
Pembicaraan mereka tiba-tiba di interupsi oleh ketukan pintu, Arsen segera membuka pintu ingin melihat siapa yang datang dan ternyata itu adalah Arkan dan Max yang tadi ia suruh kesini sesuai perintah Denis.
“Ka Arsen kita berhasil melakukan kerja sama dengan mereka” pekik Arkan dengan senang.
Arkan menyerobot masuk ke dalam sebelum Arsen menyuruhnya masuk dan ia seketika merasa merinding merasakan aura didalam sana yang mengerikan. Austin dan Kenneth kaget melihat orang yang sedari tadi mereka bicarakan berdiri didepan mereka.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
“Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat” ucap Arkan sambil tersenyum memamerkan giginya.
“RAYEN” pekik Austin dengan suara menggelegar didalam sana.
“Hah! Aku” tunjuk Arkan ke dirinya sendiri saat mendengar Austin memanggilnya Rayen.
“Kamu ternyata selamat dude” ucap Austin dengan senang sambil menghampiri Arkan dan ingin memeluknya.
__ADS_1
“STOP JANGAN MENDEKAT! AKU BUKAN GAY” pekik Arkan dengan suara tinggi sambil mengangkat tangannya ke depan saat Austin ingin memeluknya.
“What?” (apa) tanya Austin dengan kaget tak menyangka reaksi Arkan akan seperti itu.
“Bos please help me” (bos tolong aku) lirih Arkan segera berlari menuju ke arah Denis dan berdiri tepat disampingnya.
Austin di buat kaget dengan sifat Arkan yang mereka pikir adalah Rayen sahabatnya dan yang ia tahu sifat sahabatnya itu dingin dan tidak tidak tersentuh, apa lagi cara bicaranya yang sangat berbeda jauh dengan Arkan.
“Rayen ini kamu kan?” tanya Austin dengan selidik.
“Nama aku Arkan bukan Rayen! Kakak aku yang bernama Rayen” jawab dengan Arkan dengan suara tegas.
Eeehh…………..
Austin tercengang mendengar ucapan Arkan yang mengatakan jika dia bukan Rayen. Seketika matanya melotot mengingat cerita Rayen jika ia mempunyai dua orang adik laki-laki dan perempuan.
“Kamu sih introvert itu kan?” tanya Austin dengan cepat.
“Ya tapi itu dulu. Sekarang aku Arkan anak pemberani” jawab Arkan dengan sombong.
“Cih! Pemberani apanya? Kamu saja barusan lari ketakutan saat akan dipeluk Austin” ejek Arsen sambil tersenyum mengejek.
“Ka Arsen” hardik Arkan dengan mata melotot kesal.
“Ckk!! Bocah penakut” decak Arsen dengan sinis.
Eheemmm…………….
Arkan menghentikan niatnya untuk membalas ucapan Arsen saat mendengar dehaman Denis, karena itu adalah peringatan buat mereka untuk diam. Matanya menatap Arsen dengan sinis ingin sekali memukul kepalanya tapi ia tidak berani.
“Jadi aku sudah salah mengira jika dia adalah Rayen” ucap Austin sambil menunjuk Arkan.
“Heeemmm! Dia Arkan Luis Baker adik kandung Rayen Baker dan juga anak buahku” ucap Denis dengan suara tegas.
“Lalu dimana Rayen?” tanya Austin dengan cepat.
“Aku…..”
Brak………………
Ucapan Austin terpotong saat tiba-tiba pintu dibuka dengan kuat dari luar mengagetkan mereka semua didalam sana. Arsen ingin memarahi orang yang sudah berani menyerobot masuk ke dalam, tapi ia urungkan saat melihat Leila yang datang.
“ARKAN LUIS BAKER” hardik Leila dengan suara tinggi didalam sana.
“Ka Leila” ucap Arkan dengan gugup melihat wajah kakaknya yang terlihat emosi.
Brugh…………….aww……………..
Arkan menjerit kesakitan saat sepatu high hells milik Leila mendarat tepat di keningnya dengan mulus. Baru saja ia ingin marah kerena dilempar sepatu, tapi ia urungkan saat Leila sudah berdiri tepat didepannya.
Bugh……….bugh……...bugh…………..bugh………..
“Aw aw aw…………..hentikan ka………….aw aw aw…………..stop it ka” teriak Arkan sambil menjerit sakit karena dipukul Leila dengan tas.
“Beraninya kamu buat masalah di luar sana! Kamu tahu kakakmu ini sedang mengurus hal penting dan tidak kamu ingin terluka tapi kamu malah membuat masalah di luar sana!” hardik Leila dengan emosi.
Bugh……………bugh…………bugh…………..
Leila terus memukul Arkan tak melepasnya meski ia sudah berteriak kesakitan. Denis yang sudah pusing melihat keduanya segera menarik Leila dengan sekali hentakan hingga terduduk di pangkuannya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
“Lepaskan aku sayang! Biar aku beri pelajaran kepada bocah nakal itu!” ucap Leila dengan suara tinggi.
“Kakak jangan asal memukul aku. Aku itu semalam buat keributan dengan kuntilanak itu karena dia yang memulainya ka” ucap Arkan dengan cepat.
__ADS_1
“Kamu memang harus diberi pelajaran Arkan Luis Barker” hardik Leila.
“DIAM” ucap Denis dengan suara tinggi membuat keduanya seketika diam.
“Kalian” tunjuk Austin dengan kaget.
~ Pemakaman Harapan ~
Saat ini Amira sedang bersama seluruh keluarga Martinez berada di pemakaman Harapan untuk mengantar mereka ke makam suaminya.
“Ini makam suamiku” ucap Amira dengan suara serak menahan tangisnya yang akan pecah.
“Demian…………….hiks hiks hiks” ucap Roy sambil menangis histeris membaca nama sahabatnya di batu nisan.
“Maaf aku akan menunggu kalian di luar” ucap Amira segera pergi tak menunggu balasan mereka.
“Kasihan tante Amira. Ia pasti sangat sedih harus datang kesini” ucap Seila dengan sendu melihat kepergian Amira.
Mereka lalu menabur bunga di makam Demian dan menunggu Roy melepas semua rasa rindu kepada sahabatnya selama ini. Sedangkan Amira ia duduk di bangku depan pintu masuk pemakaman sambil menangis mengingat suaminya.
“Mas……….hiks hiks hiks”
“Aku sangat merindukanmu mas…………..hiks hiks” ucap Amira dengan suara lirih.
Ia menangis pilu dalam diam tak ingin orang lain mendengarnya, setiap kali ia datang kesini ia akan selalu mengingat penderitaan suaminya sebelum meninggal di atas pangkuannya.
Elo anak buah Denis yang menjadi pengawal Amira segera menelpon Denis untuk memberitahunya tentang sang nyonya yang sedang menangis, karena Denis menyuruhnya untuk melapor jika mamanya menangis.
“Ada apa?” tanya Denis dengan suara dingin dari seberang.
^^^“Saya ingin melapor tentang nyonya yang sedang menangis bos” jawab Elo dengan cepat.^^^
“Dimana mama sekarang?” tanya Denis dengan suara tinggi dari seberang.
^^^“Kami berada di pemakaman Harapan bos” jawab Elo.^^^
Hening!
Elo diam menunggu balasan dari Denis dari seberang dan tak berani bertanya lebih dulu kepada Denis jika ia belum berbicara atau memberi perintah.
“Biarkan mama tenang disana dan terus jaga mamaku” titah Denis dengan cepat.
Elo segera menyimpan hpnya setelah panggilan mereka dimatikan sepihak oleh Denis sebelum ia menjawab. Ia berdiri agak jauh dari Amira dan tetap mengawasinya seperti yang diperintahkan oleh Denis barusan.
~ D&A Resto ~
Denis menaruh hpnya kembali didalam jas setelah menerima telpon dari kepala pengawal sang mama.
Leila yang sempat mendengar pembicaraan mereka, mengelus tangan Denis dengan lembut memberitahunya untuk jangan terlalu larut dalam kesedihan.
“Sayang mama kan tidak ada jadi bagaimana kalau aku yang membuat makanan kesukaanmu? Siapa tahu cocok dengan lidahmu?” tanya Leila dengan cepat.
“Iya sayang. Arkan bantu kakakmu” titah Denis dengan suara tegas.
“Oke bos” ucap Arkan dengan patuh tak protes.
Setelah melihat keduanya sudah keluar Denis segera menatap Austin dengan tajam dan mengintimidasi. Austin yang tahu ada hal penting yang ingin ditanyakan oleh Denis membalas tatapan Denis tak kalah tajam.
“Jadi kamu kekasih Leila?” tanya Austin.
“Ya” jawab Denis dengan suara tegas.
“Syukurlah” balas Austin dengan lega.
Austin lalu menceritakan semua tentang apa yang terjadi kepada Rayen sahabatnya dan juga hubungan pertemanan mereka. Tidak hanya itu ia juga menceritakan tentang siapa orang yang tadi ia maksud, sekaligus musuh terbesar keluarga Baker selama ini dan hanya Rayen saja yang tahu
__ADS_1
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue………………..