
Aaarrrghh.................
Teriak Zeus kesakitan tiba-tiba saja Denis datang dan menendangnya tepat di dada hingga terpental ke belakang, membentur sofa sampai terbalik dan patah.
"Denis kamu apa-apaan!" bentak Amira dengan suara tinggi.
"Apa maksudmu Denis?" tanya Steven dengan emosi.
Keduanya tangannya mengepal dengan tatapan membunuh menatap Denis dengan sinis. Ia maju ingin membalas perlakuan Denis kepada anaknya tapi ia langsung di tahan Sandro dan Arsen.
"Sebaiknya uncle diam saja sebelum bos membunuh anak uncle" ucap Sandro dengan suara tegas.
"Minggir sialan! Beraninya kamu menghalangiku!" bentak Steven dengan emosi.
"Biarkan saja dia datang. Aku akan membunuh keduanya saat ini juga" ucap Denis sambil tersenyum menyeringai menatap Steven.
Steven diam tidak bisa mengerakkan kakinya saat matanya menatap mata Denis. Ia seperti berada di lautan es yang paling dalam membuat sekujur tubuhnya kaku
"Sayang" panggil Leila dengan suara lembut.
"Tetap di tempatmu sayang" ucap Denis dengan suara dingin dan tegas saat Leila akan menghampirinya.
"Nak kamu tidak apa-apa kan?" tanya Amira menghampiri Zeus sambil membantunya berdiri.
"Sakit mommy" ucap Zeus kesakitan.
"Pak Tio hubungi Bimo sekarang dan kesini cepat" teriak Amira dengan cemas.
"Baik nyonya" ucap pak Tio segera mengambil hpnya.
"Telpon saja maka detik ini juga kamu tinggal nyawa" ucap Denis dengan suara dingin dan datar.
"Maafkan saya tuan" ucap pak Tio memilih mengikuti ucapan tuannya.
"Keterlaluan kamu Denis! Apa kamu tidak punya hati" hardik Amira dengan suara menggelegar.
"Mama belaian anak tiri mama ini dari pada anak kandung mama?" tanya Denis dengan tatapan membunuh.
"Mama tidak bela siapa-siapa tapi mama tidak suka kamu memukul Zeus seperti itu tanpa alasan" jawab Amira dengan tegas.
"Hehehehe! Apa mama pernah melihat aku memukul orang tanpa alasan?" tanya balik Denis sambil terkekeh.
Deg.................
Jantung Amira berdetak dengan cepat mendengar pertanyaan sang anak. Ia tahu jika selama ini Denis tidak akan melakukan sesuatu tanpa alasan, malah anaknya itu akan bertindak jika ada sesuatu yang menggangunya.
Jangan bilang ada sesuatu yang tidak aku tahu tentang Denis dan Zeus, batin Amira menebak.
"Sudah paham ma?" tanya Denis sambil tersenyum smirk.
"Apa maksud kamu Denis? Apa yang sudah Zeus lakukan kepadamu?" tanya Steven yang mulai paham apa yang terjadi di sini.
Denis tersenyum smirk menatap uncle Steven dan Zeus berganti. Mata coklat tajamnya lalu mengarah ke arah Zeus dengan tatapan berkilat tajam dengan aura membunuh.
Bugh.............bugh..........bugh.........bugh........
Denis memukul dan menendang Zeus dengan kuat tidak memberikannya waktu untuk membalas pukulannya sedikit pun. Steven yang melihat hal itu dengan cepat langsung memeluk tubuh putranya saat Denis akan menendangnya.
"Minggir" ucap Denis dengan suara dingin.
"Silahkan kalau kamu mau pukul uncle silahkan. Tapi uncle tidak akan pernah membiarkan kamu memukul anak uncle lagi" ucap Steven dengan suara tegas.
"HENTIKAN" hardik Amira dengan suara menggelegar
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Oek.............oek.............oek.............
Tangis baby Kai menggelegar didalam sana membuat Leila bergegas menghampiri sang anak. Denis menatap mamanya dengan tatapan tajam sambil menahan amarahnya.
__ADS_1
"Cup cup cup sudah ya sayang. Jangan nangis lagi anak mama" ucap Leila sambil menimbang-nimbang sang anak.
Baby Kai semakin menangis dengan kencang membuat Leila kesusahan mendiamkan putranya. Denis menutup mata mengontrol emosi dan auranya tak mau membuat sang anak takut.
Denis menghampiri istri dan anaknya dan saat sampai disana baby Kai yang melihat papanya, menangis sambil menjulurkan kedua tangannya minta di gendong.
"Berikan baby Kai kepada aku sayang" ucap Denis dengan suara lembut.
Tak membantah ia lalu memberikan baby Kai kepada suaminya dan ajaibnya bayi itu langsung diam tidak menangis lagi.
"Kenapa son?" tanya Denis dengan suara lembut.
"Da da da da" celoteh baby Kai dengan wajah mengemaskan seakan sedang mengadu.
"Iya son. Daddy akan memarahi mereka yang sudah buat keributan di mansion kita" ucap Denis dengan santai.
Eeehh..............
Semua tercengang melihat keduanya tak bisa berkata apa-apa. Mereka tak menyangka kalau Denis bisa mengerti apa yang dikatakan sang anak.
"Sekali lagi kamu ingin bermain denganku maka aku akan memberikan apa yang kamu inginkan" ucap Denis dengan suara dingin dan datar.
Denis memeluk pinggang sang istri dan membawanya pergi ke lantai dua tidak memperdulikan mama dan uncle Steven disana. Ia sebenarnya masih ingin bermain dengan Zeus tapi ia tahan.
Setelah kepergian Denis, Sandro lalu menyuruh pak Tio untuk membersihkan semua kekacauan didalam sana.
"Nak Sandro jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Amira dengan suara tegas.
"Arsen yang nanti jelaskan nyonya besar" jawab Sandro sambil tersenyum menyeringai menatap Arsen.
"Max akan menjelaskan nyonya besar" ucap Arsen dengan suara dingin menatap Max tajam.
Max diam saja tak berkata apa-apa, tak beberapa lama ia berbalik badan dan pergi dari sana membuat Arsen mengumpatnya dalam hati.
Sialan kamu Max, batin Arsen dengan kesal.
"Diam kamu bocah. Atau kamu yang jelaskan saja!" bentak Arsen dengan suara tinggi.
"Ah! Malas aku" balas Arkan sambil menjatuhkan. tubuhnya di sofa.
Phew...............
Arsen membuang napas dengan kasar melihat Arkan dan Sandro dengan kesal. Mau tak mau ia yang harus us menjelaskan semuanya kepada sang nyonya, tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Arsen" ucap Amira dengan suara tegas dan tatapan tajam.
"Sebaiknya uncle memanggil dokter pribadi daddy Pablo ke sini untuk mengobati anak uncle" ucap Arsen dengan suara dingin.
"Heemmm" deham Steven.
Steven menyuruh Lexi tangan kanan Zeus untuk membawa putranya kembali ke mansion Pablo Ulrico.
"Katakan" ucap Steven dengan suara dingin.
"Anak uncle mencari tahu tentang semua kekejaman ketua Black Devil" ucap Arsen dengan suara dingin.
"Jangan bilang" ucap Steven dengan kaget sudah bisa menebak ke arah mana maksud Arsen.
"Sesuai yang uncle pikirkan" balas Arsen sambil tersenyum menyeringai.
"Sebaiknya uncle bersyukur karena bos tidak membunuhnya tadi" ucap Sandro sambil tersenyum smirk.
"Apa maksud kalian? Kenapa Zeus mencari tahu tentang kehidupan mafia anakku?" tanya Amira dengan bingung.
"Nyonya besar bisa bertanya ke calon suami nyonya besar" jawab Sandro.
Sandro, Arsen, dan Arkan bergegas pergi dari sana. Sedangkan Steven ia memilih membawa calon istrinya pulang untuk menjelaskan semuanya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
__ADS_1
~ Rumah Arkana ~
Amira menatap Steven dengan tatapan tajam meminta penjelasan mengenai apa yang dikatakan Sandro tadi.
"Aku akan jelaskan semuanya sayang tapi aku mohon jangan membatalkan pernikahan kita sayang" ucap Steven dengan tatapan sendu.
"Semua tergantung jawaban kamu Steven" ucap Amira dengan tegas tak mau memberi janji.
Phew...............
Steven membuang napasnya dengan kasar mendengar jawaban Amira. Ia berharap semoga setelah mendengar ceritanya tentang sang anak, Amira tidak membatalkan pernikahan mereka.
"Zeus sejak kecil mempunyai kondisi yang berbeda dengan orang lain. Entah mau dibilang penyakit atau sindrom aku tidak tahu, karena ia sejak dulu sangat terobsesi mencari tahu sesuatu hingga memuaskan rasa penasarannya" papar Steven menjelaskan.
"Maksudmu?" tanya Amira yang belum paham.
"Zeus sangat terobsesi untuk mencari tahu suatu hal sampai membuat rasa penasarannya hilang. Entah itu manusia atau benda ia akan terus mencari tahu hal yang membuat dia penasaran sampai mendapatkannya" jawab Steven menjelaskan.
"Jangan bilang Zeus terobsesi dengan informasi anak aku Denis dalam dunia mafia" tebak Amira.
"Benar sayang" balas Steven sambil mengangguk kepalanya.
"Hah! Pantas saja Denis sampai murka" ucap Amira dengan syok.
"Ini semua karena ku yang menceritakan jati diri Denis setelah malam di rumah kamu sayang. Aku sudah memberitahunya untuk tidak berbuat macam-macam tapi aku tidak tahu kalau anak aku akan tetap nekat sayang" ucap Steven sambil berjongkok didepan Amira.
"Apa yang kamu lakukan Steven?" tanya Amira dengan kaget.
"Maafkan aku sayang tapi aku mohon jangan membatalkan pernikahan kita karena hal ini" jawab Steven dengan memohon.
"Aku harus bicarakan hal ini dengan anakku Denis Steven. Aku tidak mau jika dikemudian hari akan terulang hal seperti ini" ucap Amira dengan suara lembut.
"Tapi aku sangat mencintaimu Amira" ucap Steven dengan tulus.
"Aku tahu Steven" balas Amira dengan suara lembut.
Steven menikmati usapan lembut Amira di pipinya tapi tidak membuat hatinya tenang karena Amira tidak pernah membalas pernyataan cintanya.
"Apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak membatalkan rencana pernikahan kita sayang?" tanya Steven dengan tatapan teduh dan berkaca-kaca.
"Aku akan memberikan jawaban besok setelah berbicara dengan anakku Denis" jawab Amira dengan suara lembut.
"Baiklah"
Steven mengalah tidak memaksa Amira saat ini karena ia tahu itu percuma saja. Sebelum pergi Steven memeluk Amira dengan erat sambil menghirup aroma tubuhnya yang menenangkan.
~ Mansion Ulrico ~
Brak..............
Steven membanting pintu mobil dengan kasar saat sampai di mansion Pablo. Dengan langkah panjang ia masuk ke dalam mansion dengan aura yang sangat mengintimidasi.
"Kamu kenapa dude?" tanya Pablo yang hendak turun ke lantai satu.
"Dimana anak sialan itu?" tanya Steven dengan suara dingin.
"Maksudmu siapa dude?" tanya Pablo dengan bingung.
Steven tak menjawab pertanyaan Pablo dan malah pergi ke kamar yang ditempati anaknya di lantai dua.
Brak..................
Suara pintu yang dibuka dengan kuat mengagetkan Zeus dan Lexi yang berada didalam sana. Pablo yang mengikuti Steven dari tadi, tercengang melihat wajah Zeus yang lebam dan luka.
"Daddy" ucap Zeus dengan gugup.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue..................
__ADS_1