
Sudah berjam-jam Denis duduk disana dengan perasaan tak tenang. Ia menutup mata mengontrol rasa sakit dan sedih didalam hatinya mengingat kenangan selama papanya masih hidup.
Deg...................
Tubuh Denis menegang merasa sentuhan seseorang yang seperti sedang memeluknya. Ia mengangkat kepala dan melihat bayangan samar papanya yang sedang tersenyum manis menatapnya.
"Pa....pa.........hiks hiks hiks hiks" ucap Denis sambil menangis histeris.
Air mata Denis mengalir dengan deras melihat wajah yang sangat ia rindukan selama ini. Perasaannya yang tadi tidak tenang seketika menjadi tenang dalam sekejap, membuat dia kembali merasa lebih baik.
"Terima kasih pa" ucap Denis sambil tersenyum manis dengan tulus.
Perlahan-lahan bayangan papanya yang terlihat samar bangkit berdiri dan berjalan menuju ke depan sambil tersenyum lebar lalu menghilang.
Denis menarik napasnya dalam dan membuangnya perlahan merasa hatinya yang sudah lega dan tidak seperti seperti tadi lagi.
Denis bangkit berdiri dan berjalan ke belakang menghampiri Thomas yang sedari tadi berada di belakangnya. Ia melewati Thomas begitu saja dengan wajah berseri tidak sepeti tadi.
Sepertinya suasana hati bos sudah kembali baik, batin Thomas.
Mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu menuju ke markas Black Devil yang berada disana. Ia harus menyelesaikan beberapa hal selama di sini baru ia bisa kembali ke Indonesia.
~ Markas Black Devil I ~
Sampainya di markas Thomas segera membuka pintu mobil untuk Denis. Ia turun dan segera masuk ke dalam markas dengan langkah panjang.
"Bos" panggil Sandro dengan panik.
"Ada apa?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Bos kemana saja? Kami dari tadi khawatir bos tidak ada kabar" ucap Sandro.
"Kamu kan bisa tanya ke Thomas" balas Denis dengan santai.
Denis berlalu masuk ke dalam kamar karena ingin menghubungi istrinya yang sudah 1 hari belum memberinya kabar.
"Sial kenapa aku lupa sih kalau Thomas selalu pergi dengan bos" ucap Sandro sambil menepuk keningnya.
"Itu karena ka Sandro bodoh" cibir Arkan.
"Diam kamu bocah sialan!" bentak Sandro dengan emosi.
"Ckk!" decak Arkan dengan kesal.
Arkan memilih pergi dari sana karena tidak mau semakin emosi dengan Sandro. Sedangkan Arsen seperti biasa ia hanya menonton perdebatan keduanya tak mau ikut campur.
Ting................
Bocah Labil
"Ka Arsen yang ganteng kapan pulang"
Phew...............
Arsen membuang napasnya dengan kasar membaca pesan yang dikirim oleh Geby. Ia hanya membacanya saja tak berniat membalas pesan dari Geby yang tak pernah berhenti mengirimnya pesan.
Ting.............
Lagi-lagi psan masuk dari Geby terus saja berdatangan membuat Arsen malas untuk membukanya.
Ia memilih membiarkan saja hpnya berbunyi dan melanjutkan pekerjaannya melihat sistem keamanan perusahaan dan markas.
Tak lupa mengirim berkas email dari Rian ke Sandro barulah dikirim ke Denis. Selang beberapa jam Denis keluar dari kamar dan menyuruh mereka masuk ke ruang kerja.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Bagaimana perusahaan dan markas?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Perusahaan dalam keadaan baik dan juga penjualan di markas kita meningkat drastis dalam bulan ini bos" jawab Sandro menjelaskan.
"Beritahu Max dan Sean untuk tetap awasi semua transaksi di markas pusat dan cabang" titah Denis dengan suara tegas.
"Baik bos"
"Bos tadi pagi Simon Martinez ada menghubungiku ingin bertemu dengan bos" ucap Arsen memberitahu.
"Buat apa dia ingin bertemu bos?" tanya Sandro dengan kening berkerut.
"Sepertinya dia ingin meminta mayat daddynya" jawab Arsen menebak.
"Hubungi dia" ucap Denis.
Arsen lalu mengambil hpnya dan menelpon Simon Martinez dan pada panggilan ketiga langsung dijawab.
"Halo" ucap Simon dari seberang.
^^^"Ada apa kamu ingin bertemu denganku?" tanya Denis dengan suara dingin.^^^
"Denis. Akhirnya kamu bisa dihubungi juga" balas Simon dengan antusias.
^^^"Katakan" ucap Denis to the point.^^^
"Maafkan aku Denis tapi apa aku boleh meminta jasad daddyku?" tanya Simon dengan penuh harap dari seberang.
__ADS_1
^^^"Oke aku akan kirim"^^^
"*Terima kasih Denis. Terima kasih*"
^^^"Heemm"^^^
"Uhm! Denis aku minta maaf kepada kamu atas perbuatan daddy aku. Aku tidak pernah menyangka kalau daddy aku selama ini sudah membuat kamu dan tante Amira menderita. Aku pribadi sangat malu dengan kelakuan daddy tapi biar bagaimanapun dia tetap daddy aku. Maaf atas semua perbuatan daddy aku selama ini" ucap Simon dengan tulus.
^^^"Ya aku maafkan lagian dia sudah membayar perbuatannya" jawab Denis dengan suara dingin.^^^
"Terima kasih Denis"
Denis lalu mematikan panggilannya sepihak karena tidak ada yang ingin ia bahas lagi.
"Kirim jasad pak tua itu dan juga antek-anteknya ke keluarga mereka" titah Denis dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap Sandro dengan Arsen serentak.
"Lalu bagaimana dengan kekayaan keluarga mereka bos?" tanya Sandro.
"Biakan polisi yang mengurus itu. Lagian itu semua bukan milik mereka" jawab Denis dengan suara dingin.
"Iya bos"
"Arsen kamu pantau lokasi harta karun papa ku dan siapkan jet besok kita berangkat ke sana" titah Denis dengan suara tegas.
"Baik bos"
Arsen dan Sandro segera keluar dari ruang kerja Denis meninggalkan Denis sendiri. Ia lalu mengambil hpnya dan menghubungi kembali sang istri karena sedari tadi panggilannya tidak dijawab.
"Halo" ucap Leila dengan suara Serka dari sebrang.
^^^"Morning istriku" ucap Denis dengan suara lembut menatap wajah sang istri yang terlihat sangat mengemaskan karena baru bangun tidur.^^^
"Sayang" pekik Leila dengan kaget mendengar suara yang sangat ia rindukan dari kemarin.
^^^"Aku merindukanmu sayang"^^^
Hiks.............hiks..........hiks.........hiks............
^^^"Sayang kamu kenapa?" tanya Denis dengan panik saat melihat istrinya menangis.^^^
"Ak.....u kangen sama kamu sayang.........hiks hiks hiks" ucap Leila sambil menangis dari sebrang.
Denis tersenyum manis melihat tingkah yang istri yang sudah membuat dia panik disini. Ia pikir istrinya sakit atau apa tapi ternyata ia merindukannya.
^^^"Sabar ya sayang. Secepatnya aku pulang kok" ucap Denis dengan suara lembut.^^^
"Kenapa tidak hari ini kamu pulang saja sayang" ucap Leila dengan sesegukan.
"Tapi aku ingin tidur sambil memelukmu sayang" ucap Leila dengan mata berkaca-kaca.
^^^"Sabar ya sayang. Aku janji sepulang dari sini aku akan membawamu liburan" janji Denis sambil tersenyum manis.^^^
"Beneran sayang?" tanya Leila dengan mata berbinar-binar.
^^^"Iya sayang"^^^
"Yeay! Kalau begitu kamu cepat pulang ya sayang" pekik Leila dengan senang.
^^^"Iya sayang"^^^
Denis lalu menanyakan keadaanya dan kandungannya. Hampir dua jam keduanya bertelepon melepas rindu lewat video call.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Meski hanya bertukar kabar lewat video call tapi Denis merasa sangat lega karena sudah mendengar kabar tentang istri dan anaknya yang berada di Indonesia.
Baru saja Denis ingin menaruh hpnya di atas meja ada panggilan masuk dari neneknya.
^^^"Halo nek" ucap Denis dengan suara lembut.^^^
"Kamu dimana nak?" tanya Linda dari seberang.
^^^"Ada apa nek?" tanya balik Denis tak ingin memberitahu keberadaannya.^^^
"Nenek ingin bertemu dengan kamu cucuku.........hiks hiks hiks" jawab Linda sambil menangis dari seberang.
Denis diam tak langsung menjawab ucapan sang nenek membiarkan Linda menangis. Ia tahu kalau neneknya pasti terpukul dengan kejadian beberapa hari yang lalu di mansion.
^^^"1 jam lagi aku kesana nek"^^^
"Iya cucuku. Nenek tunggu ya"
^^^"Iya nek"^^^
Denis lalu mematikan panggilannya dan memeriksa email masuk tak lupa menyuruh Arsen menyiapkan mobil 1 jam lagi.
~ Mansion Utama Massimo ~
Denis dikawal 5 mobil pengawal akhirnya sampai di mansion utama Massimo. Ia keluar ditemani Arsen, Arkan, Sandro, Thomas, dan beberapa pengawalnya masuk ke dalam mansion.
"Selamat datang tuan muda pertama" ucap kepala pelayan dengan sopan di depan mansion.
__ADS_1
"Dimana nenek?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Nyonya besar berada di taman belakang tuan muda pertama" jawab kepala pelayan dengan sopan.
"Mari saya antar tuan muda pertama" ucapnya lagi sambil berjalan lebih dahulu.
Denis memberi isyarat kepada Arsen, Arkan, dan Sandro untuk menunggunya disini karena dia akan di temani Thomas saja.
Ketiganya mengangguk kepala mengerti isyarat Denis dan segera menunggu di ruang tamu. Sampainya di ruang keluarga Denis melihat keluarga omnya yang juga berada disana.
Mereka saling menatap dengan tatapan permusuhan, apa lagi mengingat apa yang sudah dilakukan Denis kepada Martin sehingga sampai detik ini ia masih terbaring di atas ranjang.
"Buat apa kamu kesini sialan!" bentak Marcel dengan suara tinggi.
"Jaga ucapan anda kepada tuan muda pertama tuan muda Marcel" balas kepala pelayan dengan suara tegas.
"Tuan muda pertama kamu bilang! Beraninya kamu memanggil anak miskin ini tuan muda pertama sialan!" bentak Marcel dengan suara tinggi.
"Jaga ucapan anda tuan muda Marcel. Tuan muda Denis adalah cucu pertama di keluarga Massimo dan sudah seharusnya ia dipanggil tuan muda pertama" ucap kepala pelayan memperingati Marcel dengan suara tegas.
"Kamu pelayan rendahan. Beraninya kamu berbicara dengan majikanmu seperti ini sialan" hardik Hana dengan suara tinggi.
"Tuan muda pertama sebaiknya kita segera pergi menemui nyonya besar tidak usah memperdulikan mereka" ajak kepala pelayan sambil menatap Marcel dan Hana dengan sinis.
"Heeemmm" deham Denis sambil tersenyum smirk.
Denis dan kepala pelayan seger pergi dari sana, saat hendak keluar ia berbalik melihat Marcel dan tersenyum mengejeknya.
Marcel yang melihat hal itu ingin sekali memaki dan mengajar Denis tapi ia tidak berani. Mengingat kejadian waktu itu dan bagaimana daddynya dihajar Denis sampai harus terbaring di tempat tidur sampai sekarang.
Sialan kamu anak miskin. Lihat saja aku akan membuat perhitungan denganmu, batin Marcel dengan emosi.
Sampainya di taman belakang Denis menatap sang nenek yang sedang menatap ke depan dengan tatapan kosong.
Ia bahkan melihat sang nenek yang sedang menangis dalam diam dan tak menyadari kehadiran mereka.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Tinggalkan kami" titah Denis dengan suara tegas.
"Baik bos. Tuan muda pertama" ucap Thomas dan kepala pelayan dengan serentak.
Thomas berdiri tak jauh dari sana tetap mengawasi Denis sedangkan kepala pelayan segera masuk ke dalam mansion menyuruh pelayan untuk membawa minum buat Denis.
Tak lupa ia juga mengabari kedatangan Denis kepada tuan besar yang berada di dalam kamar.
"Nek" panggil Denis dengan suara lembut.
Linda kaget mendengar namanya dipanggil, saat berbalik air matanya semakin menetes melihat Denis yang terlihat sangat mirip dengan Demian putra sulungnya.
"Demian putraku...........hiks hiks hiks" ucap Linda sambil menangis dengan pilu.
"Ini Denis nek bukan papa" ucap Denis membenarkan ucapan Linda.
"Ah! Maafkan nenek cucuku" ucap Linda ambil mengelap air matanya.
Grep...............
Denis membawa Linda ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat. Ia membiarkan sang nenek menangis melepas rindu kepada papanya lewat dirinya, karena wajah dan tubuh mereka sama persis.
"Tenang ya nek. Jangan menangis lagi nek" ucap Denis sambil mengelus punggung Linda dengan lembut.
Setelah beberapa saat akhirnya Linda mulai tenang dan tidak menangis lagi. Melihat hal itu Denis segera duduk kembali di kursi sambil menggenggam tangan sang nenek dengan lembut.
"Ikhlaskan kepergian papa ya nek" ucap Denis seakan tahu apa yang menjadi beban pikiran. neneknya saat ini.
"Nenek sedang mencobanya Denis" balas Linda sambil tersenyum paksa.
"Apa nenek mau melihat makam papa?" tanya Denis mengagetkan Linda.
"Apa boleh cucuku?" tanya Linda dengan penuh harap.
"Bisa nek. Aku akan menyiapkan jet membawa nenek pergi ke Indonesia"
"Baiklah cucuku nenek serahkan semuanya sama kamu"
"Iya nek"
"Apa kakekmu bisa ikut Denis?" tanya Linda mengingat sang suami yang sudah beberapa hari mengurung diri didalam kamar.
"Terserah nenek saja" balas Denis dengan suara dingin.
"Baiklah cucuku"
Linda akan mengajak suaminya pergi ke Indonesia untuk melihat makam putra sulung mereka. Meski ia tahu Denis belum bisa memaafkan suaminya tapi ia akan tetap membawa suaminya untuk ke sana.
Denis lalu menemani sang nenek di sana bercerita tentang masa kecilnya yang membuat Linda tersenyum dan tertawa.
Alexandro yang melihat istrinya tertawa dan tersenyum lewat jendela merasa sangat senang. Ia sangat bersyukur karena istrinya bisa melupakan kesedihannya sejenak.
Maafkan aku Linda. Aku memang suami dan papa yang buruk untuk kalian, batin Alexandro dengan penuh penyesalan.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
__ADS_1
To be continue.............