Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 44


__ADS_3

Sandro, Rian, Arsen, dan Adrian kaget mendengar pertanyaan Kenzo barusan karena setahu mereka itu adalah ucapan Denis semalam waktu berada di club.


Jangan bilang kalau bos sudah mengetahui jika ini akan terjadi, batin Rian menebak.


Jadi ini alasan bos tidak ingin Indah jadi dokter pribadinya. Berengsek kamu Indah beraninya kamu menjual nama bos ke si rubah ini, batin Sandro dengan kedua tangannya mengepal erat.


Kamu sudah tahu kalau orang itu tidak bisa dipercaya kan dude? Jadi ini alasan kamu semalam, batin Adrian.


Apa bos seorang cenayang, batin Arsen dengan penasaran.


Denis menatap Kenzo dengan wajah datar dan dingin tidak ada ekspresi apapun di wajahnya, membuat Kenzo yang sedang tersenyum mengumpat dalam hati merasa gugup ditatap seperti itu oleh Denis.


“Masakan mamamu enak juga Denis. Aku sekarang jadi salah satu pelanggan disana” ucap Kenzo sambil tersenyum smirk.


Denis tersenyum menyeringai menatap Kenzo dan maju hingga bersebelahan dengannya, ia lalu menunduk sedikit lalu membisikan sesuatu ke telinga Kenzo.


“Hanya dengan makanan bisa membuat seseorang mati” bisik Denis di telinga Kenzo membuat mata Kenzo seakan ingin keluar dari tempatnya.


Denis berlalu pergi dari sana saat melihat Kenzo yang diam seperti patung disana, Sandro dan lainnya juga ikut pergi dengan tatapan sinis menatap Kenzo.


Adrian memberi isyarat jika ia tidak ikut pergi karena dia harus mengurus keributan yang sudah ia perbuat disana apa lagi saat ini kakeknya sudah datang. Saat berjalan keluar dari hotel entah kenapa perasaan Denis tidak tenang memikirkan sang mama.


“Antar aku ke rumah mama” titah Denis dengan suara dingin.


“Baik bos” ucap Sandro segera menyuruh sopir menuju rumah tante Amira.


~ Rumah Arkana ~


Sampainya di rumah sang mama Denis bergegas masuk ke dalam rumah tidak menunggu pintu di buka oleh Sandro seperti biasa. Semakin masuk ke dalam rumah perasaannya semakin tak tenang.


“Tuan muda” ucap bi Eda yang baru saja keluar dari dapur.


“Dimana mama?” tanya Denis dengan cepat.


“Nyonya berada di kamar tuan muda” jawab bi Eda.


Ia segera pergi ke kamar sang mama dengan langkah lebar merasa ada sesuatu yang sedang terjadi dengan mamanya entah itu apa.


Ceklek………………..


“MAMA” teriak Denis dengan suara menggelegar.


Bi Eda dan Sandro yang berada di ruang tengah segera berlari menuju kamar utama saat mendengar teriakan Denis. Sampai didepan pintu keduanya kaget melihat Amira yang tergeletak pingsan di lantai.


“Siapkan mobil kita ke rumah sakit sekarang!” bentak Denis dengan suara tinggi.


“Baik bos” ucap Sandro segera berlari keluar untuk menyuruh sopir bersiap.


Denis mengendong mamanya keluar dengan wajah cemas untuk ke rumah sakit.


Selama di perjalanan Denis terus memegang tangan mamanya tidak ingin mamanya kenapa-napa, apa lagi sampai meninggalkannya.


Maafin Denis ma, batin Denis menyesal.


Maaf karena sudah membentak mama waktu itu dan tak pernah menjawab telpon mama. Maafin Denis ma! Denis menyesal ma, batin Denis merasa sangat bersalah.

__ADS_1


Aku mohon jangan tinggalin Denis ma, batin Denis penuh harap.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


~ Rumah Sakit Kota ~


Sampainya di rumah sakit Denis berteriak memanggil suster dan dokter agar segera memeriksa keadaan sang mama.


Amira lalu dibawa menuju ke ruang IGD untuk segera diperiksa, sedangkan Denis dan Sandro menunggu didepan pintu ruang IGD karena tak di ijinkan masuk.


Ya Tuhan tolong lindungi dan selamatkan mamaku, batin Denis berdoa dalam hati.


Ceklek………………


“Dok bagaimana keadaan mamaku?” tanya Denis dengan cepat saat pintu ruang IGD terbuka.


“Sebelumnya apa mama tuan banyak pikiran?” tanya dokter muda yang bernama Bimo.


“Saya tidak tahu dok. Saya tidak tinggal dengan mama saya dan sudah hampir seminggu saya tidak bertemu mama saya dok” jawab Denis dengan jujur.


“Begini tuan sepertinya mama anda pingsan karena terlalu banyak pikiran sehingga membuat tekanan darahnya menurun. Dan tolong perhatikan juga makan mama anda karena dari hasil lab asam lambung mama anda kumat karena tidak ada makanan apapun dalam tubuh mama anda tuan” papar dokter Bimo menjelaskan.


Duar……………….


Bagai disambar petir tubuh Denis menegang mendengar penjelasan dokter barusan dan ia tak habis pikir, ternyata selama ini mamanya tidak makan dan ia yakin pasti mamanya sangat kepikiran dengan kedatangan keluarga papanya.


Melihat bosnya yang hanya diam dan termenung, membuat Sandro segera bertanya lebih lanjut mengenai kondisi tante Amira dan apa yang harus dilakukan, serta bertanya berapa lama tante Amira harus di rawat di rumah sakit.


Sandro lalu mengurus administrasi tante Amira dan menempatkannya di kamar VIP. Denis duduk di kursi samping brankar mamanya sambil memegang tangan sang mama dengan erat dan menangis dalam diam.


Hatinya bagai ditusuk pedang tajam melihat kondisi mamanya yang untuk kedua kalinya harus terbaring lemah di atas brankar rumah sakit.


“Maafkan Denis ma………….hiks hiks hiks………………maafin Denis ma…………….ini semua karena Denis sampai mama harus seperti ini…………..hiks hiks hiks” ucap Denis sambil menangis histeris.


“Maafin Denis ma…………hiks hiks hiks………..Denis menyesal ma. Tolong jangan sakit lagi ma………..hiks hiks hiks” lirih Denis dengan tangis yang terdengar sangat pilu.


Hiks………………hiks……………..hiks…………………..


Denis menangis histeris didalam sana membuat Sandro yang berdiri didepan pintu juga ikut menangis, karena pintu kamar ruangan tante Amira tidak ia tutup rapat sehingga ia mendengar semua yang bosnya katakan.


“Hiks hiks hiks…………..bos anda harus kuat buat tante Amira………….hiks hiks hiks……………..ini semua bukan salah bos” gumam Sandro sambil menghapus air matanya.


Ia lalu mengirim pesan ke Arsen, Rian, dan Adrian mengenai tante Amira yang masuk rumah sakit. Tak lupa ia juga mengirim pesan ke mamanya agar datang menjenguk tante Amira dan membawakan makanan buat mereka bertiga.


Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan matahari sudah berganti dengan bulan di langit menandakan hari sudah malam.


Karena kelelahan menangis Denis pun tertidur di samping brankar mamanya sambil menggenggam erat tangan mamanya.


“Bos sudah bangun” ucap Sandro menghampiri Denis saat melihat ia sudah bangun.


“Heemmm! Berapa jam aku tertidur?” tanya Denis dengan suara serak.


“2 Jam bos” jawab Sandro sambil melihat jam dipergelangan tangannya.


Denis melirik ke atas meja yang terdapat banyak makanan disana dan keningnya berkerut karena tidak memesan makanan. Melihat tatapan mata sang bos Sandro segera menjelaskannya.

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


“Tadi ibu aku dan Arsen datang buat jenguk tante Amira bos tapi bos tidur jadi mereka meninggalkan makanan buat bos. Arsen dan Rian juga tadi mampir tapi sudah aku suruh pulang dan menyuruh Max mengirim beberapa anak buah kita untuk berjaga disini bos” papar Sandro menjelaskan.


“Heemmm”


Euugghhh………………….


Tiba-tiba Amira melenguh di atas brankar membuat kedua pasang mata tajam itu langsung menatap ke ranjang. Mata Amira perlahan-lahan terbuka sambil mengerjap beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya.


“Mama sudah sadar” ucap Denis dengan cemas.


“De….nis” lirih Amira dengan suara lemah.


“Mama jangan bicara dulu biar di periksa sama dokter ya” ucap Denis dengan suara lembut.


Tak berselang lama dokter Bimo datang memeriksa keadaan Amira, membuat Denis dengan cemas menunggu penjelasan dokter mengenai keadaan mamanya kembali setelah siuman.


“Keadaan nyonya Amira sudah lebih baik dari tadi tuan” ucap dokter Bimo sambil tersenyum hangat.


“Ah! Syukurlah” ucap Denis dengan lega.


“Mohon jaga pola makannya ya nyonya dan lain kali jangan pernah melewatkan jam makan nyonya. Saya anjurkan nyonya jangan terlalu banyak stres karena itu bisa membuat kondisi nyonya kembali drop” papar dokter Bimo.


“I…ya dok” jawab Amira dengan suara pelan.


“Jangan lupa minum vitamin dan obat yang sudah saya resepkan ya nyonya”


“Baik dok”


Dokter Bimo lalu pamit keluar meninggalkan ketiganya disana. Denis lalu menyuapi mamanya dengan bubur yang dibawakan oleh ibu Sandro tadi tak lupa dengan vitamin dan obat yang diberikan suster.


“Ma” panggil Denis dengan suara lembut setelah selesai menyuapinya.


“Maafin mama nak” ucap Amira dengan suara pelan.


“Yang harusnya minta maaf itu Denis ma bukan mama. Aku minta maaf sudah membentak mama dengan kasar beberapa hari yang lalu dan tidak membalas telpon mama” ucap Denis dengan mata berkaca-kaca.


Amira menghapus air mata putranya dengan lembut membuat Denis semakin menangis menatap mamanya yang tersenyum manis menatapnya. Ia memeluk mamanya dengan erat dan menumpahkan semua kesedihannya.


Berkali-kali Denis terus bergumam meminta maaf  didalam pelukan mereka, membuat Amira juga ikut menangis tak sanggup melihat putra kesayangannya menangis histeris seperti itu.


“Mama udah maafin kamu nak. Ini semua bukan salah kamu juga karena ini juga salah mama yang tidak jujur sama kamu nak” ucap Amira dengan suara lembut sambil mengelus kepala Denis dengan lembut.


“Denis mohon mama jangan terlalu banyak pikiran ya. Denis tahu pasti mama sangat kepikiran mereka kan ma” tebak Denis.


“Iya nak” jawab Amira dengan jujur.


“Mama dengar ucapanku. Sampai mati pun aku tidak akan meninggalkan mama sendiri apa lagi pergi dari hidup mama. Mama adalah satu-satunya alasan Denis hidup di dunia ini ma dan jika Denis terpisah dengan mama itu berarti Denis mengikuti papa bukan mengikuti mereka” ucap Denis dengan suara tegas.


“Jangan pernah mengatakan hal seperti itu nak” ucap Amira.


“Aku tidak akan meninggalkan mama. Mereka bukan siapa-siapa aku ma dan hanya mama keluarga aku satu-satunya dan itu yang harus mama ingat sampai kapanpun” ucap Denis dengan suara tegas.


“Iya nak” balas Amira sambil mengelus pipi anaknya dengan lembut.

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue………………


__ADS_2