
Setelah menunggu selama 1 jam akhirnya orang yang ditunggu-tunggu olehnya datang, setelah melakukan meeting bersama petinggi perusahaan dan direktur cabang perusahaan mengenai proyek yang akan mereka kerjakan tahun ini.
“Kamu punya tamu yang sudah menunggumu dari sejam yang lalu” ucap Rian dengan suara dingin saat Sandro hendak lewat meja kerjanya.
“Tamu? Siapa?” tanya Sandro dengan bingung.
Rian lalu menunjuk tamu yang ia maksud dengan dagunya membuat Sandro segera melihat ke arah yang ia tunjuk.
“Max” ucap Sandro dengan bingung melihat kehadiran Max disini.
Tidak biasanya Max datang untuk menemuinya karena jika ia ingin menyampaikan informasi ia akan menelpon atau mengirim pesan kepadanya, tapi siapa sangka hari ini Max datang untuk menemuinya.
“Apa yang kamu lakukan disini Max? Kenapa kamu ingin menemuiku?” tanya Sandro saat Max sudah berdiri tepat didepannya.
Max diam tidak menjawab pertanyaan Sandro membuat Sandro semakin bingung, begitu juga dengan Rian yang ingin tahu apa maksud kedatangan Max kesini.
Bugh…………bugh…....bugh…………..bugh…………
Brak…………………
Rian kaget bukan main melihat Sandro yang tiba-tiba dihajar oleh Max berulang kali hingga memecahkan guci di samping meja kerjanya.
“F**k! Apa maksud ini semua bangsat” maki Sandro dengan suara menggelegar.
“Ini semua perintah dari bos besar” balas Max dengan santai sambil merapikan kembali pakaiannya setelah memberi pelajaran kepada Sandro.
“Bos?” tanya Sandro dan Rian dengan serentak.
Max lalu menunjukkan email berisi data anak buah mereka yang pernah ia kirim ke Sandro, membuatnya semakin bingung mencerna itu semua.
Otak Sandro mulai merangkai satu-persatu kejadian yang terjadi untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi sehingga ia dihajar Max.
Mata Sandro seakan ingin keluar dari tempatnya setelah beberapa saat memikirkan kemungkinan besar yang terjadi dan akhirnya ia paham. Melihat hal itu, Max hanya tersenyum smirk mengejeknya dan berlalu pergi dari sana tanpa sepatah kata pun.
“Sialan bagaimana aku bisa lupa sih” umpat Sandro dengan kesal.
“Apa yang terjadi?” tanya Rian dengan penasaran.
“Aku lupa memberikan laporan mengenai anak buah kita di markas setelah rekrutmen terakhir ke bos” jawab Sandro.
“Hah! Berarti itu semua karena keteledoran kamu jadi terima saja nasib sialmu hari ini” balas Rian dengan santai.
Sandro mendengus kesal melihat Rian yang tidak ada jiwa sosialnya sedikit untuk membantu dia atau apa.
Sandro bergegas bangun dan menuju ke ruangannya dan saat pintunya sudah ditutup, Rian segera menghubungi departemen kesehatan untuk datang mengobati Sandro.
~ Resident Cempaka ~
Arsen dan 15 anak buahnya menerobos masuk ke dalam perumahan elit cempaka tidak menggubris petugas keamanan yang menahan mobil mereka di pintu masuk.
“Bos petugas keamanan mengejar kita” lapor Jeki sambil melihat kaca spion.
“Suruh beberapa orang untuk mengurus mereka” titah Arsen dengan suara dingin.
“Oke bos”
Jeki segera menyuruh mobil anak buahnya yang paling belakang untuk berhenti, mengurus petugas keamanan disana agar tidak mengikuti mereka. Arsen sendiri saat ini sudah melumpuhkan setiap cctv di sana karena tidak ingin ada yang merekam aksinya.
Cekitt……………
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Bunyi decitan ban terdengar didepan pintu gerbang rumah nomor 17A mengagetkan satpam yang sedang berjaga didepan gerbang.
__ADS_1
“Siapa kalian dan ada perlu apa?” tanya satpam dengan suara tinggi.
Arsen menurunkan kaca mobil dan menatap satpam membuat sang satpam kaget bukan main, karena sangat mengenali Arsen yang adalah putra kandung dari tuannya.
Tak berkata apa-apa satpam segera membuka gerbang agar mobil Arsen dan anak buahnya bisa masuk ke dalam. Arsen tersenyum menyeringai melihat mobil ayahnya yang terparkir didepan rumah, menandakan ayahnya pasti sedang pulang untuk makan siang di rumah selingkuhannya.
“Baguslah jika sialan itu ada di rumah” ucap Arsen sambil tersenyum smirk.
Brak………………
Bunyi pintu yang didobrak dengan kuat mengagetkan Surya yang sedang makan siang bersama selingkuhan dan anaknya di ruang makan.
“Mas apa yang terjadi?” tanya Seina dengan cepat.
“Biar aku yang cek ke depan ma” jawab Dirga putranya sambil berlalu menuju ke depan.
Surya dan Seina saling memandang bertanya kira-kira siapa yang datang dan menunggu dengan tak sabar Dirga yang pergi untuk mengeceknya.
Brugh……………….prang……………………
“DIRGA” teriak keduanya dengan suara melengking didalam sana.
Keduanya lalu melihat ke arah depan dan ternyata Arsen sedang berdiri didepan sana sambil tersenyum menyeringai menatap keduanya. Seina menatap Arsen dengan tajam karena sudah berani menendang putranya.
“Kamu! Apa yang kamu lakukan ke anakku berengsek!” bentak Seina sambil menunjuk Arsen dengan tatapan tajam.
“Kamu tanya kenapa perempuan tua? Bukannya ini mengingatkan kamu dengan kejadian beberapa hari yang lalu perempuan tua sialan” hardik Arsen dengan suara menggelegar.
Deg………………
Jantung Seina berdetak dengan cepat mengingat apa yang sudah ia lakukan beberapa hari yang lalu, apa lagi melihat kedatangan Arsen dengan beberapa orang berbadan besar seperti yang ia lakukan waktu itu.
“Anak sialan! Beraninya kamu membuat kekacauan di rumahku bangsat!” bentak Surya dengan suara tinggi.
“Berengsek! Beraninya kamu mengataiku sialan!” hardik Surya dengan wajah merah padam menandakan ia sangat emosi.
Arsen tak berbicara apa-apa dan maju ke depan dengan langkah panjang, membuat Seina bergetar ketakutan apa lagi saat matanya melihat tatapan Arsen yang sangat mengerikan.
Grep…………….
“Berengsek kamu anak sialan. Lepaskan wanitaku” teriak Surya ingin memukul Arsen tapi dengan cepat Jeki menahannya.
“Pegang pak tua itu dan jangan sampai dia lepas” titah Arsen dengan suara dingin.
“Baik bos” ucap Jeki dan anak buahnya dengan serentak.
“L…..epaskan mama….ku sia…..lan” ucap Dirga dengan terbata-bata karena tubuhnya sangat sakit akibat tendangan Arsen barusan.
“Lebih baik kamu diam saja dan menonton pertunjukkan menarik sebentar lagi bocah ingusan” ucap Arsen dengan suara dingin.
Arsen menarik rambut Seina dengan kuat lalu menyeretnya menuju anak tangga, membuat Seina berteriak kesakitan dan memakinya tapi tak digubris olehnya.
Bugh……………….bugh………………..bugh………………
Arrgghh………………..
“MAMA” teriak Dirga bergema bersamaan dengan teriakan Seina yang kesakitan.
Bagaimana tidak Arsen membenturkan kepala Seina berulang kali ke anak tangga paling terakhir, seperti yang dilakukan Seina kepada mama dan kedua kakaknya.
Sret…………….
Bugh…...bugh…..bugh……..bugh…….bugh…………
__ADS_1
Arsen menikam paha kiri Seina dengan pisau seperti Seina menikam paha kiri Riana kakaknya, dan kembali menendang tubuh Seina berulang kali tak perduli jika yang sedang ia pukul ini adalah seorang perempuan.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
“Hentikan sialan” teriak Surya dengan suara menggelegar.
“Kalian hajar pak tau itu karena suaranya sangat berisik” balas Arsen dengan santai.
Surya melotot kaget mendengar ucapan Arsen dan detik itu juga ia dihajar oleh Jeki dan anak buahnya hingga tak bisa berdiri.
“Jari tangan ini yang sudah menampar mamaku” ucap Arsen dengan tatapan berkilat tajam memegang tangan Seina.
“Am…..pun” lirih Seina dengan suara lemah.
“Kamu sudah salah memilih lawan perempuan tua” balas Arsen sambil tersenyum menyeringai.
Krek……………….arrrggghh………………
Jeritan kesakitan Seina bergema didalam sana, saat Arsen dengan santai mematahkan semua jari tangannya dan menginjak-injaknya hingga hancur agar tidak bisa disembuhkan lagi.
“INI PERINGATAN TERAKHIR AKU! JANGAN PERNAH MENGUSIK KELUARGAKU LAGI JIKA KALIAN TIDAK INGIN HILANG DARI MUKA BUMI INI” ancam Arsen dengan suara menggelegar.
Dirga syok tak bisa berkata apa-apa melihat kejadian barusan dan hanya bisa menatap nanar mama dan papa tirinya yang terbaring lemah tak berdaya di lantai.
~ Markas Black Damon ~
Denis dan semua anak buahnya sedang menonton apa yang terjadi di Resident Cempaka, karena Mark menampilkan panggilan video dari anak buah Denis disana.
“Mereka berdua lebih cocok dimusnahkan dari muka bumi ini” ucap Tristan dengan emosi melihat ayah Arsen dengan selingkuhannya.
“Itu tidak akan seru jika mereka mati dengan mudah bro. lebih baik mereka menderita dulu sebelum berpulang ke dunia akhirat” balas Sean.
“Aku setuju sama Sean. Mereka itu tidak pantas hidup bahagia dan kematian terlalu mudah untuk mereka” tambah Riki dengan suara dingin.
Denis segera mengambil hpnya dan menelpon Sandro dan pada dering ketiga Sandro segera menjawab panggilannya.
“Halo bos” ucap Sandro dengan suara pelan.
^^^“Kamu dan Rian pergi temani Arsen karena aku yakin dia akan menyalahkan dirinya” ucap Denis to the point.^^^
“Hah! Maksud bos apa? Memangnya apa yang terjadi dengan bocah empat mata itu bos?” tanya Sandro dengan bingung dari seberang.
^^^“Tanyakan apa yang terjadi kepada Arsen di Mark”^^^
Denis segera mematikan panggilannya dengan sepihak, membuat Sandro diseberang sana hanya bisa mengelus dadanya karena tidak bisa memarahi Denis.
Sandro yang sudah mendapat rekaman tentang apa yang terjadi dengan Arsen hari ini segera memanggil Rian dan bergegas pergi mencari Arsen untuk menghiburnya.
1 Minggu kemudian
Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan hari ini tepat 1 minggu untuk Arkan, yang sedang menjalani tes dari Denis dan sisa 5 jam lagi ia akan menyelesaikan tesnya.
Saat ini Denis dan semua anggota Black Damon sedang melihat Arkan yang sangat memperihatinkan didalam kandang peliharaan Denis.
Mata Denis berkilat tajam melihat Leon salah satu peliharaannya yang sedari tadi berlaku aneh dan terus mengamuk. Denis terus memantau Arkan, karena ia yakin salah satu peliharaannya pasti akan menyerang Arkan dengan brutal.
Karena insting mereka sebagai predator ganas mulai keluar dan itu semua karena darah Arkan yang terus mengalir tak henti.
“LEON BERHENTI” teriak Denis dengan suara menggelegar mengagetkan semuanya yang tidak melihat kapan Denis masuk ke dalam sana.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue…………………
__ADS_1