
Amira tak berkata apa-apa dan mengikuti Arsen yang membawanya pergi dari pintu belakang restoran.
Entah apa yang sedang terjadi ia tak tahu, ia hanya diam dengan rasa penasaran yang amat besar di kepalanya.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Arsen dengan suara dingin.
"Sudah bos" jawab Andre kepala pengawal Amira.
"Bagaimana dengan bom itu?" tanya Arsen berbisik tak ingin sang nyonya mendengarnya.
"Sudah berhasil di jinakkan bos dan saat ini mereka membawa bom itu ke hutan di pinggiran kota untuk di teliti sebelum dihancurkan bos" jawab Andre ikut berbisik.
"Nyonya sebaiknya nyonya beritahu pegawai nyonya untuk segera menutup restoran" titah Arsen dengan suara tegas menatap tante Amira.
"Baik nak Arsen" balas Amira tak bertanya atau protes.
Amira segera mengambil hpnya dan menelpon pak Roni selaku orang kepercayaannya kedua di restoran, agar tidak usah menerima pelanggan lagi dan segera menutup restoran.
Sedangkan untuk makanan yang masih ada dibagikan saja kepada semua pegawai restoran untuk dibawa pulang agar tidak mubasir.
Arsen lalu membawa sang nyonya pergi dari restoran menuju ke rumah Arkana. Ia akan mengawal sang nyonya hari ini sampai Denis memberi perintah yang baru.
~ Mansion Pablo Ulrico ~
Ternyata bukan cuma Denis dan keluarganya yang diserang tapi Pablo Ulrico juga mendapat sarangan mendadak di mansionnya.
Beruntung Vito mengetahui pergerakan musuh mereka jadi bisa melenyapkan musuh-musuhnya yang berniat menyerang mansion Pablo.
"Bos semuanya sudah beres" lapor Vito.
"Apa mereka pembunuh bayaran?" tanya Pablo dengan suara dingin.
"Tidak bos. Mereka adalah pasukan elite milik Roy Martinez" jawab Vito yang tadi sempat melihat tato segitiga terbalik di mayat musuh mereka.
"Hehehehe! Jadi dia suruh menurunkan pasukannya" ucap Pablo sambil terkekeh.
"Kekuatan mereka tidak bisa dianggap remeh bos. Apa lagi tadi anak buah kita sempat kewalahan meladeni mereka satu lawan satu" papar Vito menjelaskan laporan dari anak buahnya tadi.
"Ya aku tahu. Beritahu semua anak buahku untuk tidak menyerang mereka satu lawan satu karena itu bisa membahayakan nyawa mereka. Atur strategi untuk menempatkan anak buah kita berkelompok jangan sendiri-sendiri" titah Pablo dengan suara tegas.
"Baik bos" jawab Vito dengan patuh.
"Ah! Iya bos ternyata bukan cuma kita saja yang di serang barusan tapi presdir Denis juga barusan di serang bos" ucap Vito yang mengingat laporan anak buahnya tadi.
"Apa! Jadi bagaimana keadaan Denis sekarang? Apa dia baik-baik saja?" tanya Pablo dengan panik.
"Saya belum mendapat laporan dari anak buah kita bos. Tadi dia hanya memberitahu saja saat bertemu dengan kepala pengawal presdir Denis yang terjebak macet karena ada truk kayu yang terbalik sehingga membuat kemacetan parah bos" jawab Vito menjelaskan.
"Berengsek!" umpat Pablo dengan kesal.
Wajahnya terlihat panik dan cemas memikirkan apakah Denis baik-baik saja. Apa lagi pasukan elite milik Roy Martinez bukan lawan sepele.
"Cari tahu keadaan Denis dan mamanya secepatnya" titah Pablo dengan suara tegas.
"Baik bos" jawab Vito sambil berlalu pergi.
Phew................
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Pablo menghela napasnya dalam sambil mengusap wajahnya dengan kasar memikirkan keadaan Denis dan mamanya saat ini.
Ceklek..................
"Daddy" panggil Gio dengan suara dingin.
Pablo berbalik menatap putranya yang masuk ke dalam ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Mata birunya menatap tajam sang putra tapi dibalas tak kalah tajam oleh putranya itu.
"Son biasakan untuk mengetuk pintu sebelum masuk" tegur Pablo dengan suara tegas.
"Lupa daddy" jawab Gio dengan santai dan datar.
"Phew! Ada apa kamu kesini?" tanya Pablo sambil membuang napasnya dengan kasar.
"Siapa kali ini yang menyerang mansion tadi dad?" tanya balik Gio.
"Kamu tahu siapa dia son" jawab Pablo.
"Ckk!! Apa pak tua itu tidak pernah bosan apa" decak Gio dengan kesal mengingat nama yang sangat dibencinya selama ini.
"Dia akan berhenti jika sudah berhasil membunuh daddy" ucap Pablo dengan suara tegas.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi daddy. Tidak untuk kedua kali aku kehilangan keluarga yang aku sayangi" ucap Gio dengan penuh kebencian.
"Daddy pastikan dia tidak akan pernah bisa menyentuh kita lagi. Daddy minta mulai besok jaga adikmu dengan ketat dan jangan biarkan dia pergi sendirian" titah Pablo dengan suara tegas.
"Baik daddy aku akan menjaga Gaby" balas Giro dengan suara tak kalah tegas juga.
__ADS_1
"Good. Ini baru putra daddy" puji Pablo sambil menepuk pundak putranya.
"Oh ya, besok ajak adikmu ke restoran tante Amira karena dia ingin bertemu dengan kalian" ucap Pablo memberitahu putranya sebelum ia keluar.
"Oke dad"
Gio segera keluar dari ruang kerja daddynya meninggalkan Pablo sendirian disana. Pablo lalu menelpon Denis dan Amira untuk bertanya keadaan mereka tapi tidak diangkat.
~ Markas Black Damon ~
Leila meringis melihat suaminya yang tidak merasakan sakit saat Bimo mengeluarkan peluru dari lengannya, apa lagi tidak memakai bius terlebih dahulu.
Suamiku manusia atau apa sih? Kenapa dia tidak merasakan sakit saat Bimo mengeluarkan pelurunya, batin Leila merasa ngilu.
Denis tersenyum penuh arti mengetahui apa yang dipikirkan istrinya. Ia merangkul bahunya sambil mengecup bibirnya membuat mata Leila melotot tajam.
"Sayang malu-maluin aja" ketus Leila dengan malu karena saat ini bukan hanya ada mereka berdua saja.
"Tidak usah memperdulikan mereka sayang" balas Denis dengan santai.
Iiihhhhh...............
Sungut Leila dengan bibir manyun membuat Denis kembali mengecup bibirnya yang terlihat sangat menggoda. Mata Leila seakan ingin keluar dari tempatnya memperingati suaminya untuk tidak melakukan hal seperti itu lagi.
"Sudah selesai bos dan usahakan jangan terkena air selama 3 hari ya bos" ucap Bimo setelah menjahit luka tembak Denis.
"Jangan lupa berikan antibiotik untuk suamiku minum Bimo" pinta Leila dengan suara lembut.
"Baik nyonya sebentar akan aku bawakan"
"Heemmmm"
"Sayang tolong siapkan makan malam untuk kita ya" ucap Denis dengan suara lembut.
"Ah! Aku hampir lupa kalau kita belum makan malam sayang" ucap Leila sambil menepuk keningnya.
Leila segera berlalu pergi diikuti Lisa pengawal pribadinya dari belakang menuju dapur yang ada di markas. Melihat kepergian istrinya, seketika aura didalam sama terasa sangat mencekam.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Katakan" titah Denis dengan suara dingin dan tajam.
"Mereka anak buah Alan Draw dan Martin Massimo bos. Ternyata selama ini Alan Draw masih berada di Indonesia dan menunggu yang waktu tepat untuk membalas dendam kepada bos" papar Sandro menjelaskan setelah mendapat informasi dari Mark.
"Apa kamu sudah mengirim kepalanya dan surat peringatan pak tua sialan itu?" tanya Denis lagi dengan tatapan membunuh.
"Sudah aku kirim bos. Mungkin beberapa jam lagi akan sampai di mansion ya" jawab Sandro.
"Kami sudah membereskan semuanya bos. Mereka ada 12 orang dan mereka semua anak buah Martina Massimo bos" jawab Thomas.
"Kirim mayat mereka semua ke sialan itu" titah Denis dengan suara tegas.
"Baik bos" balas Thomas segera berlalu pergi.
"Max kamu pergi ke Italia malam ini juga dan hancurkan semua bisnis gelap Martin Massimo" ucap Denis dengan suara dingin sambil menatapnya dengan tajam.
"Apa aku harus memberikan bukti kejahatannya ke pihak polisi bos?" tanya max.
"Tidak perlu. Kamu lakukan seperti biasa dan jangan lupa hancurkan semua bisnisnya hingga tak tersisa" jawab Denis sambil tersenyum menyeringai.
"Baik bos"
"Ah! Satu lagi kamu pantau proyek kerja sama aku dengan Archile Company. Berikan laporan perkembangan proyek itu dan siapa saja yang terlibat dalam proyek tersebut" titah Denis dengan suara dingin.
"Baik bos"
"Bos Arsen memberitahu jika bom itu sudah dihancurkan di pinggir kota" lapor Sandro membaca pesan dari Arsen.
"Apa mamaku baik-baik saja?" tanya Denis dengan cepat.
"Nyonya besar baik-baik saja bos. Nyonya saat ini sudah berada di rumah bos" jawab Sandro.
"Beritahu Arsen untuk kesini dan bantu Mark mencari bukti kejatahan Nine Cloud selama ini" titah Denis dengan suara dingin.
"Baik bos"
"Suruh Arkan bawa semua laporan markas ke ruanganku"
"Baik bos"
Sandro segera berlalu pergi dari sana mencari Arkan yang sedang berlatih di ruang latihan. Sedangkan Denis ia segera masuk ke dalam ruangan pribadinya untuk mengecek laporan perusahaan dan markas.
~ Mansion Denis Arkana ~
Keesokan harinya sebelum Denis pergi ke perusahaan ia mengantar istrinya ke mansion terlebih dahulu.
Kebetulan hari ini Leila akan bertemu dengan Seila dan juga Ara untuk menemani Seila yang ngidam ingin berbelanja dan makan bersama keduanya.
__ADS_1
Sebelum itu ia sudah memberitahu sang suami meminta izin. Melihat suaminya sudah pergi Leila bergegas masuk ke dalam mansion untuk bersiap-siap.
Grup Para Istri Kece
^^^"Hay ladies! Udah siap belum?"^^^
"Baru mau mandi" balas Seila.
"Sama aku juga" balas Ara.
^^^"Kalau gitu 2 jam lagi kita ketemuan di mall Baker baru habis itu kita akan di restoran mertuaku"^^^
"Oke aku setuju"
"Oke"
"Leila nanti kamu bawa ya katalog WO yang pernah aku minta ya" balas Seila.
^^^"Oke siap nanti aku bawa"^^^
"Oke😘"
Leila hanya membaca saja pesan balasan Seila tak berniat membalasnya. Ia segera ke kamar mandi untuk melakukan perawatan tubuh terlebih dahulu sebelum berendam dengan aroma terapi mawar kesukaannya.
~ Roma, Italia ~
Simon yang mendapat kabar dari Sandro mengenai apa yang mereka kirim tadi hanya diam saja. Ia tidak perduli dengan apa yang dilakukan Denis karena tidak ada hubungan dengannya.
"Apa proyek Denis dan Candra sudah berjalan?" tanya Simon dengan suara dingin.
"Sudah tuan. 3 Hari yang lalu proyek itu sudah mulai beroperasi" jawab Alex yang duduk di samping sopir.
"Pastikan orang-orang kita yang juga terlibat dalam proyek itu tidak melakukan kesalahan" titah Simon dengan suara tegas.
"Baik tuan"
"Oh iya beritahu kakek Alexandro kalau besok aku tidak bisa berkunjung ke sana"
"Iya tuan"
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
~ Mansion Martinez ~
Sampainya di mansion Simon segera keluar dari dalam mobil setelah Alex membukakan pintu mobil untuknya.
"Kamu pulanglah" ucap Simon dengan suara tegas.
"Baik tuan dan selamat beristirahat" ucap Alex dengan sopan.
"Heemmm" deham Simon sambil berlalu masuk ke dalam mansion.
Saat hendak naik ke lantai dua Simon berpapasan dengan kepala pelayan yang juga hendak naik ke lantai dua, sambil membawa kotak hitam berukuran sedang.
"Paket lagi?" tanya Simon dengan suara dingin.
"Benar tuan muda" jawab kepada pelayan.
"Dari siapa?" tanya Simon lagi.
"Dari Mr. Draw tuan muda" jawab kepala pelayan dengan sopan.
"Aku penasaran sudah beberapa hari terakhir selalu saja daddy mendapat paket. Memang isi paket itu apa?" tanya Simon dengan tatapan selidik.
"Maaf saya tidak tahu tuan muda" jawab kepala pelayan berbohong.
Simon tersenyum smirk menatap kepala pelayan yang menunduk karena tahu apa isi dari kotak tersebut. Ia segera berlalu pergi ke kamarnya tidak mau bertanya lagi mengenai isi kotak tersebut.
Daddy tidak usah menyembunyikan hal itu karena aku sudah mengetahuinya, batin Simon sambil tersenyum sinis.
Melihat Simon sudah masuk ke dalam kamarnya, kepala pelayan segera mengetuk pintu ruang kerja Roy dan setelah mendapat ijin masuk barulah ia masuk.
"Paket lagi?" tanya Roy dengan sebelah alis terangkat.
"Benar tuan" jawab kepala pelayan.
"Kali ini dari siapa lagi?" tanya Roy dengan sinis.
"Pengirimnya dari Mr. Alan Draw tuan" jawab kepala pelayan sambil membaca nama pengirim.
Deg.................
Ada rasa aneh yang menjalar didalam hatinya saat mendengar ucapan kepala pelayan mengenai nama pengirim paket.
Bukan tanpa alasan karena sudah beberapa kali nama pengirim paket yang datang adalah orang terdekatnya yang saat ini sedang menjalankan misi perkumpulan mereka.
Semoga saja apa yang aku pikirkan. tidak benar, batin Roy penuh harap.
__ADS_1
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue...............