Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 149


__ADS_3

Rayen dan Denis diam dengan tatapan membunuh menunggu Arsen yang sedang berkutat dengan iPad membajak cctv di D&A Resto.


Arsen lalu menghidupkan tv didepan sana agar mereka bisa melihat cctv di restoran tante Amira. Ketiganya menonton cctv didepan restoran dari saat Amira sampai di restoran hingga Leila yang datang jam 10:00 pagi.


"Bangsat!" maki Denis dan Rayen dengan serentak.


Tatapan mata keduanya berkilat tajam saat melihat wajah Lewis Hamilton yang terlihat diseberang jalan saat mobilnya berlalu pergi.


"Hubungi anak buah Sean" titah Denis dengan suara berat.


"Baik bos" jawab Arsen.


Ia segera menghubungi anak buah Sean yang bernama Abi yang sedang mengikuti Lewis Hamilton dan pada dering kedua ia segera menjawab panggilan Arsen.


"Halo bos Arsen" ucap Abi dari seberang.


^^^"Dimana dia?" tanya Arsen dengan suara dingin.^^^


"Dia saat ini berada di markas geng Elang Putih bos Arsen" jawab Abi.


^^^"Buat apa dia disana?" tanya Arsen dengan bingung.^^^


"Aku tidak tahu bos Arsen" jawab Abi dengan cepat.


^^^"Terus ikuti dia dan laporkan ke aku terus apa yang ia lakukan" titah Arsen dengan suara tegas.^^^


"Baik bos Arsen"


Arsen segera mamatikan panggilannya karena tidak ada lagi yang ingin ia katakan. Denis dan Rayen yang mendengar ucapan Abi barusan saling melirik.


"Aku yakin kamu tahu sesuatu" tebak Denis dengan mata memincing.


"Uhmmm.........tunggu aku ingat-ingat dulu hubungan mereka" ucap Rayen sambil berpikir.


1 Menit


2 Menit


3 Menit


4 Menit


5 Menit


"Ah! Aku ingat sekarang! Riski Akbar adalah teman anj**g itu" ucap Rayen dengan cepat.


"Jika dia teman manusia licik itu berarti ia pasti akan membalas kematian temannya bos" ucap Arsen sambil menatap Denis.


"Aku siap kapan pun dia ingin membalas ku" ucap Denis sambil tersenyum smirk.


"Jangan anggap remeh sialan itu Denis" ucap Rayen memperingatinya.


"Aku tidak mengganggap remeh dia, tapi aku akan dengan welcome menyambut balas dendamnya" balas Denis dengan suara dingin.


"Aku peringati kamu mending jangan sampai kamu terlibat dengannya"


"Sudah terlambat untuk tidak terlibat dengannya Rayen" ucap Denis sambil tersenyum penuh arti.


Rayen menggelengkan kepalanya tidak tahu harus berkata apa untuk meminta Denis tidak terlibat dengan musuh lamanya itu. Ia yakin Denis pasti saat ini sudah memikirkan rencana untuk bertemu dengan Lewis Hamilton.


"Apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Rayen.


"Sebelum bertempur ada kalanya kita harus bertemu dengan lawan kita untuk berkenalan" jawab Denis dengan santai.


"****! Jangan bilang kamu akan menemuinya langsung" tebak Rayen dengan suara tinggi.


"Menurutmu?" tanya Denis sambil tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Phew..............


Rayen mengusap wajahnya dengan kasar karena tebakannya benar. Ia lalu menyuruh Denis untuk berhati-hati saat ingin menemui musuh lamanya itu.


Tak berselang lama Rayen pun pamit pergi karena harus pergi ke perusahaan. Saat Rayen hendak masuk ke dalam lift ia berpapasan dengan Sandro yang akan menemui Denis.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Rayen menatap Sandro yang berlalu pergi dengan tatapan datar dan dingin. Ia teringat dengan ucapan Leo semalam yang menunjukkan foto-foto orang kepercayaan Denis.


Jadi dia yang asisten sekaligus tangan kanan Denis ya, batin Rayen.


Sandro yang sudah sampai didepan pintu ruangan Denis melirik sekilas ke belakang karena tahu jika sedari tadi Rayen sedang melihatnya.


Untung kamu kakak nona Leila jika tidak sudah aku congkel matamu, batin Sandro.


Ceklek............


Sandro segera masuk ke dalam ruangan Denis bersama Rian saat dipersilahkan masuk.


"Bos" panggil Sandro dengan sopan.


"Heemmm" deham Denis dengan suara dingin.


"Aku ingin melapor tentang misi aku kemarin bos" lapor Sandro dengan suara dingin.


"Katakan" titah Denis dengan suara tak kalah dingin dan tegas.


"Orang yang akan dijodohkan dengan Seila adalah Hito Candra ketua mafia Gagal dari Singapura bos. Ternyata pak tua itu meminta bantuan kepada Hito Candra untuk membantunya membunuh bos dan seluruh keluarga bos" papar Sandro menjelaskan.


Hahahaha.................


Tawa Denis seketika bergema didalam sana tak menyangka jika Roy Martinez akan meminta bantuan kepada mafia Gagak untuk membunuhnya.


"Rian apa kita punya kerja sama dengan Hito Candra?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Sebentar aku cek dulu presdir" jawab Rian sambil berkutat dengan iPadnya.


"Putuskan kerja sama dengan perusahaannya dan blacklist perusahaan dia" titah Denis dengan suara tegas.


"Baik bos" jawab Rian dengan patuh.


"Sandro suruh Max untuk memberitahu semua pengawal keluargaku untuk selalu bersiaga" ucap Denis dengan suara tegas.


"Aku sudah memberitahu Max dari semalam bos" balas Sandro.


"Good. Arsen suruh Abi untuk segera melapor jika Lewis pergi ke club atau kasino" titah Denis sambil menatap Arsen.


"Siap bos" ucap Arsen.


"Beritahu semua anak buahku untuk selalu waspada dan segera bertindak jika ada yang mencurigakan" tegas Denis dengan tatapan berkilat tajam.


"Siap bos" ucap ketiganya dengan serentak.


Ketiganya lalu keluar dari ruangan Denis setelah tidak ada lagi yang mereka bicarakan.


Kring.............


Denis menatap hpnya yang berbunyi ada panggilan masuk dimana tertera nama Simon Martinez.


^^^"Katakan" ucap Denis dengan suara dingin.^^^


"Aku sudah mengirim data nenek Linda ke kamu" ucap Simon dari seberang.


^^^"Nenek?" tanya Denis dengan alis sebelah terangkat.^^^


"Ya aku dari dulu memanggilnya nenek dan sudah menganggap beliau seperti nenek aku sendiri" jawab Simon.

__ADS_1


^^^"Heemmm"^^^


"Oh ya aku sudah berbicara dengan Sandro yang kamu bilang kekasih Seila" ucap Simon memberitahu.


^^^"Lalu?" tanya Denis dengan suara dingin.^^^


"Aku merestui hubungan mereka. Jika mereka akan menikah aku akan hadir sebagai orang tua Seila karena daddy dan mommy tidak mungkin hadir" jawab Simon.


^^^"Baguslah"^^^


Denis segera mamatikan panggilannya sepihak tak menunggu balasan Simon dari seberang. Ia segera membuka email untuk membaca informasi yang dikirim Simon barusan.


"Nenek" ucap Denis dengan syok melihat foto-foto sang nenek yang terbaring lemah di atas ranjang.


Ia tak menyangka jika neneknya akan seperti itu dan terlihat sangat kurus dan lemah. Ada rasa sakit, sedih, dan rindu didalam hatinya saat melihat kondisi sang nenek.


"Secepatnya aku akan pergi menemui nenek bersama dengan mama" ucap Denis dengan sedih.


"Saat waktu itu tiba aku mohon nenek harus sudah sadar karena ada banyak sekali yang ingin aku tanyakan mengenai papa nek" tambahnya lagi dengan mata berkaca-kaca melihat foto sang nenek.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Denis bertekad akan segera memberitahu sang mama dan mengaknya untuk menemui sang nenek di Italia.


~ Roma, Italia ~


Di mansion utama keluarga Martinez saat ini Simon sedang mengumpat dan memakai Denis karena mematikan panggilannya sepihak.


"Berengsek! Lagi-lagi panggilan aku di matikan sepihak!" ketus Simon dengan kesal.


Prang...........prang...........prang.............


Simon kaget saat mendengar bunyi pecahan dari lantai satu. Ia yang saat ini sedang berada di balkon lantai dua segera berjalan menuju ke arah tangga ingin melihat apa yang terjadi di bawah sana.


"Ada apa dengan daddy?" tanya Simon dengan penasaran.


Ia memilih tidak turun ke bawah dan hanya memantau dari lantai dua. Suara teriakan Roy bergema dibawah sana menandakan ia saat ini sedang marah.


"Berengsek kamu Hito! Aku tidak mau tahu cepat kamu cari putriku sialan!" hardik Roy dengan suara tinggi.


Mendengar apa yang dikatakan daddynya ia tersenyum smirk karena sudah tahu apa yang terjadi.


"Itu hukuman buat daddy. Daddy tidak bisa membuat adik-adik aku menderita dengan keegoisan daddy lagi" gumam Simon sambil tersenyum penuh arti.


Tanpa Simon sadari ternyata Seina mendengar gumamnya dan bingung apa maksud sang kakak.


Sepertinya ada yang disembunyikan oleh kakak, batin Seina dengan tatapan selidik.


Simon segera masuk ke kamarnya tidak mau perduli dengan apa yang sedang daddynya lakukan dibawah sana. Saat melewati lemari kaca matanya memincing melihat Seina yang sedang bersembunyi di belakang sofa.


Seina kakak sayang sama kamu tapi jika kamu mendukung apa yang daddy dan mommy lakukan maka kakak tidak akan pernah membiarkanmu berhasil, batin Simon.


Bukan tanpa alasan Simon tak bisa mempercayai adiknya Seina, karena sejak dulu ia sangat tahu sifat adiknya itu yang tidak menyukai kembarannya.


~ Jakarta, Indonesia ~


Melihat sudah jam makan siang Denis segera pergi bersama Arsen dan Sandro menuju ke restoran sang mama untuk makan siang disana.


Saat di tengah jalan tiba-tiba saja mobil mereka di hadang oleh beberapa mobil Jeep didepan sana.


"Ckk!! Siapa lagi yang ingin main-main dengan kita" ketus Sandro dengan kesal.


"Beritahu Thomas untuk membereskan mereka dalam 10 menit" ucap Denis dengan santai sambil membaca email masuk di iPad.


"Oke bos"


Dor.............dor..........dor...........

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue..................


__ADS_2