Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 268


__ADS_3

Mata coklat Denis memicing melihat nomor tak di kenal menelponnya. Ia lalu menyuruh Arsen mengangkat karena ia sangat malas mengurus nomor tidak di kenal.


"Bos" panggil Arsen.


"Heemmm" deham Denis sambil sibuk menyuapi putranya cake black forest.


"Papa mium" ucap Kai dengan suara cadel.


Denis lalu menyodorkan sedotan ke mulut sang anak untuk minum air. Kai seperti dirinya, yang tidak menyukai minuman manis atau hal apa pun yang berkaitan dengan rasa manis.


Arsen diam tidak melanjutkan ucapannya karena melihat sang bos sedang sibuk dengan bos kecilnya. Setelah memberi anaknya minum, Denis melirik Arsen dengan isyarat mata untuk melanjutkan apa yang ingin ia katakan tadi.


"Orang yang menelpon barusan adalah Marcel Massimo bos" ucap Arsen.


Mata elang Denis langsung menatap Arsen dengan tajam, membuat Arsen menelan salivanya dengan susah saat di tatap seperti itu.


"Itu....dia ingin bertemu pribadi dengan bos" ucap Arsen dengan gugup.


"Ckk!!" decak Denis dengan kesal.


Ia tidak suka berhubungan dengan keluarga papanya lagi dan hanya ingin berhubungan dengan neneknya saja. Ia yakin pasti Marcel sudah mengetahui apa yang terjadi dengan mommynya dan juga saudara tirinya.


"Dia masih dalam panggilan bos" lapor Arsen sambil menunjukkan panggilannya dengan Marcel yang masih terhubung.


Denis langsung menerima hpnya dan menaruh di telinganya untuk berbicara dengan Marcel.


Percuma saja dia menghindari mereka, karena suatu saat pasti mereka akan bertemu untuk membahas apa yang terjadi di atantea mereka.


^^^"Heemmmm" deham Denis tak ada niat untuk mulai mengobrol.^^^


"Denis itu kamu" ucap Marcel dari seberang.


^^^"Ada apa?" tanya Denis to the point.^^^


"Aku ingin bertemu denganmu secara pribadi" jawab Marcel dengan suara tegas dari seberang.


^^^"Apa kamu ingin membahas mommy kamu atau saudara tiri kamu? Hehehehe" tanya Denis sambil terkekeh.^^^


"Tidak dua-duanya tapi aku ingin membahas sesuatu secara pribadi dengan kamu" jawab Marcel.


^^^"Heemmm! Oke" dengan Denis dengan singkat.^^^


"Besok aku dan seluruh keluarga besar Massimo akan ke Indonesia jadi kita bertemu nanti disana"


^^^"Heemm"^^^


Denis langsung mematikan panggilannya sepihak karena tidak ingin berlama-lama berbicara dengan Marcel. Meski mereka keluarga dari papanya, tapi menurut Denis mereka bukan keluarganya lagi.


Keduanya lalu diam sibuk dengan anak mereka masing-masing, sehingga menjadi pusat perhatian pengunjung cafe dan pengguna jalan.


Apa lagi keduanya memilih duduk di luar cafe untuk memantau istri mereka meski sudah di kawal oleh pengawal. Sedangkan Leila dan Seila keduanya semakin mencari spot untuk berfoto.


"Ka sebaiknya kita kembali ke suami kita" ajak Seila.


"Bentar lagi Seila. Aku belum puas ambil gambar di sini" ucap Leila sambil melihat foto-foto mereka yang di ambil oleh fotografer.


"Ka coba lihat ke sana" ucap Seila sambil memutar kepala Leila.


Mata Leila melotot seakan ingin keluar dari tempatnya melihat suami dan putranya yang menjadi pusat perhatian. Apa lagi sedari tadi banyak sekali kaum hawa yang terang-terangan ingin menggoda suaminya.


"Berengsek!" umpat Leila dengan emosi.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Dengan tergesa-gesa Leila menghampiri suaminya tidak menunggu Seila lagi. Seila sendiri hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Leila yang sedang cemburu.


"Lucu juga ya kalau ka Leila lagi cemburu! Hehehehe" ucap Seila sambil terkekeh.

__ADS_1


Ia lalu mengikuti Leila menuju suami dan ka Denis serta anak-anak mereka. Sebelum sampai disana ia sudah lebih dulu di hampiri oleh suami dan anak mereka, lalu bergegas pergi dari sana.


"Mas kita mau kemana?" tanya Seila dengan bingung.


"Pulang" jawab Arsen singkat.


Ehh..............


Meski bingung kenapa mereka harus pulang tapi Seila tidak bertanya saat melihat wajah sang suami yang terlihat sedang menahan emosi.


Sedangkan di cafe yang tak jauh dari menara Eiffel Leila sedang menatap suaminya dengan bibir mengerucut.


"Udah puas fotonya?" tanya Denis dengan tatapan tajam.


"Aku tidak mau foto lagi" jawab Leila dengan kesal.


"Sini" panggil Denis dengan suara lembut.


Meski sedang kesal tapi tetap Leila menghampiri suaminya. Saat sudah berada didepan suaminya tiba-tiba tangan Leila di tarik sehingga ia terjatuh di atas paha kiri suaminya.


"Sayang kamu apa-apaan sih" pekik Leila dengan mata melotot kaget.


"Mama eluk kita" ucap Kai dengan senang.


"Sayang" ucap Leila dengan kesal.


"Ayok peluk kita mama" ucap Denis sambil tersenyum smirk.


"Ckk!! Kalian menyebalkan" decak Leila dengan kesal


Meskipun begitu ia tetap memeluk suami dan putranya. Semua yang disana tersenyum melihat keharmonisan keluarga kecil Denis dan Leila yang sangat mengemaskan.


Hari berlalu dengan sangat cepat dan tanpa terasa liburan Denis dan keluarga kecilnya berakhir hari ini. Mereka bertiga saat ini sedang tidur didalam kamar yang berada di jet pribadi Denis.


~ Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta ~


Setelah berjam-jam di atas pesawat akhirnya mereka tiba juga di tanah air. Seperti biasa Denis keluar sambil mengendong putranya yang masih tertidur sambil memeluk pinggang istrinya dengan posesif.


"Langsung ke mansion saja sayang. Aku masih kuat kok" balas Leila dengan suara lemah.


"Apa masih sakit sayang?" tanya Denis khawatir.


"Ini karena siapa aku sakit kayak gini" jawab Leila dengan sinis.


"Maaf sayang semalam aku tidak bisa menahan diri" ucap Denis dengan sesal.


"Sayang lain kali jangan terlalu kasar dan lama sayang. Aku tidak bisa bertahan selama 5 jam nonstop sayang" keluh Leila.


"Iya sayang" balas Denis.


Sedangkan Tom dan sopir keduanya bergidik ngeri mendengar ucapan sang nyonya barusan. Mereka tidak menyangka ternyata kekuatan sang bos di atas ranjang sangat brutal.


Denis memeluk istrinya yang kembali tertidur dalam pelukannya saat dalam perjalanan pulang. Matanya lalu menatap ke arah luar melihat suasana Jakarta yang sangat sibuk di siang hari.


Sepertinya mulai besok aku akan lembur, batin Denis dengan gusar.


~ Mansion Denis Arkana ~


Seperti biasa sampainya di mansion mbok Erna mengendong Kai masuk ke dalam mansion sedangkan Denis mengendong istrinya yang sudah tertidur pulas.


Kebiasaan keduanya yang tidak pernah berubah sama sekali setiap mereka pulang dari suatu tempat.


"Selamat datang kembali tuan, nyonya, dan tuan muda" sambut pak Liam dan pelayan didepan mansion.


Seperti biasa Denis tidak membalas sambutan mereka dan berlalu masuk dengan wajah datar dan dingin. Saat masuk ke dalam mansion kening Denis mengerut mendengar suara orang yang sedang berbicara dari ruang keluarga.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...

__ADS_1


"Siapa?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Nyonya besar datang bersama dengan keluarga besar Massimo tuan" jawab pak Liam.


"Massimo?" tanya Denis dengan rahang mengeras menatap pak Liam.


"Iya t........uan" jawab pak Liam dengan gugup.


Denis menutup mata mengontrol emosinya karena saat ini ia sedang mengendong istrinya. Dengan langkah panjang Denis berjalan masuk ke dalam mansion, tak lupa aura mengintimidasinya menguar didalam sana.


"Kalian susah sampai nak" ucap Amira sambil tersenyum lebar melihat kedatangan anak dan keluarganya.


Amira yang mencari keberadaan cucunya harus mengurungkan niatnya yang ingin bermain dengan cucunya saat melihat Kai sedang tidur.


"Sandro" panggil Denis dengan suara menggelegar.


Huawaa.................


Tangis Kai seketika pecah karena kaget mendengar suara sang papa. Begitu juga dengan Leila yang terbangun kaget dalam gendongan suaminya.


"Bawa anakku ke kamarnya" titah Denis dengan suara dingin menatap mbok Erna.


"Baik tuan" jawab mbok Erna segera berlalu pergi.


"Sayang" panggil Leila dengan mata sayup-sayup.


"Tidur lagi ya sayang" ucap Denis dengan suara lembut.


"Heemmm" deham Leila kembali menutup mata.


Denis menatap Sandro memberi isyarat dengan gerakan kepala ke arah tamu tak diundang dalam mansionnya. Sandro mengangguk kepala tanda mengerti isyarat Denis barusan.


Tak berkata apa-apa lagi Denis segera masuk ke dalam lift menuju kamar mereka. Amira yang hendak mengikutinya langsung di tahan suaminya untuk tidak mengikuti Denis saat ini.


"Kenapa sih mas? Aku kan ingin memberitahu tentang maksud aku yang datang dengan keluarga papanya kesini mas" ucap Amira dengan cepat.


"Saat ini mending jangan dulu sayang. Apa kamu tidak lihat ekspresi wajah Denis barusan sayang?" tanya Steven dengan suara lembut.


"Maksudmu mas?" tanya balik Amira.


"Denis sedang dalam suasana hati yang lagi bad mood sayang. Jadi mending kamu jangan ganggu dia saat ini sayang" jawab Steven.


"Baiklah mas" balas Amira tak membantah.


Sedangkan didalam kamar utama setelah menidurkan sang istri dan membantunya mengganti pakaian, Denis segera mengirim pesan kepada Sandro.


Sandro Saudaraku


^^^"Usir mereka semua dari mansion aku"^^^


"Baik bos"


^^^"Katakan kepada mamaku jika dia berani membawa masuk orang asing ke dalam mansionku maka selamanya mama tidak diijinkan masuk ke dalam mansion aku lagi"^^^


"Oke bos akan saku sampaikan"


Denis segera menaruh kembali hpnya dan membersihkan diri sebelum bergabung bersama dengan sang istri di atas ranjang.


Sedangkan di bawah sana, Amira menelan salivanya dengan susah membaca pesan yang dikirim Denis kepada Sandro.


"Aku harap ini yang terakhir kali nyonya besar" ucap Sandro dengan suara tegas.


"Apa yang kamu tunjukkan kepada istriku sialan?" tanya Steven dengan emosi.


"Ckk!! Tanya saja sama nyonya besar pak tua" decak Sandro dengan kesal.


"Bajingan sialan" umpat Steven dengan suara pelan menatap Sandro seakan ingin menelannya hidup-hidup.

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue.....................


__ADS_2