Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 140


__ADS_3

Denis berdiri di depan jendela sambil menyesap segelas anggur. Matanya memandang ke depan dengan pikiran berkelana kemana-mana memikirkan berita yang saat ini sedang viral.


"Bos" panggil Sandro.


"Apa Ando yang mengurus jenazah sialan itu?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Iya bos. Saat ini mereka sudah membawa jenazahnya pulang ke mansionnya" jawab Sandro.


"Beritahu Ando untuk memberikan semua harta sialan itu kepada kedua kakaknya. Sedangkan ayahnya terserah dia mau melakukan apa kepada bajingan tua itu!" titah Denis dengan suara dingin.


"Baik bos" balas Sandro.


"Siapkan mobilku. 1 jam lagi kita akan pergi ke kasa" ucap Denis memberi perintah.


"Apa anda yakin bos?" tanya Sandro dengan cepat.


"Ya" jawab Denis dengan singkat.


Sandro tak bertanya lagi dan segera keluar dari ruangan Denis untuk melakukan perintahnya tadi.


1 Jam kemudian


Tok...........tok.........tok.......


"Masuk"


Sandro segera masuk ke dalam ruangan Denis setelah mendapat ijin untuk masuk.


"Bos mobilnya sudah siap" ucap Sandro dengan suara dingin.


"Heemmm"


Denis mengambil jas dan memakainya setelah itu segera keluar dari ruangannya diikuti oleh Sandro dan Rian.


Sampainya di lobby ternyata Arsen dan Arkan sudah menunggunya disana karena mereka akan bersama-sama pergi ke rumah duka.


"Suruh anak buah kamu untuk berjaga disana saat kita sampai" titah Sandro kepada Thomas.


"Baik bos" jawab Thomas dengan suara dingin.


Sandro segera masuk ke dalam mobil dan duduk di samping sopir bersama Denis. Sedangkan Arkan, Arsen, dan Rian memilih menaiki mobil mereka sendiri mengikuti mobil Denis dari belakang.


Kring............


Denis mengambil hpnya yang berdering dan tersenyum manis melihat nama Leila di layar.


"Halo sayang" ucap Leila dari seberang.


^^^"Ada apa sayang?" tanya Denis to the point.^^^


"Jam berapa kamu kesini sayang?" tanya Leila dengan. suara lembut.


^^^"Habis dari tempat duka baru aku ke sana sayang" jawab Denis dengan suara lembut.^^^


"Hah! Memangnya siapa yang meninggal sayang?" tanya Leila dengan kaget.


^^^"Manusia sialan itu sayang" jawab Denis.^^^


"Aku pikir kamu tidak akan melayat kesana sayang"


^^^"Ada sesuatu yang harus aku urus untuk terakhir kali dengan sialan itu sayang" ucap Denis dengan suara dingin.^^^


"Baiklah sayang. Kalau begitu aku tunggu kamu di rumah ya sayang"


^^^"Heemmm"^^^


"Mama juga aku suruh kesini sayang biar kita makan malam bareng sekalian ngenalin ka Rayen sama mama sayang"


^^^"Kamu atur saja sayang"^^^

__ADS_1


"Iya sayang"


Denis segera mematikan panggilannya sepihak karena sebentar lagi mereka akan sampai ke tempat duka.


~ Mansion Kenzo ~


Sampainya di mansion Kenzo ternyata ada banyak sekali wartawan yang berada di sana tapi tidak ada satu pun pelayat hanya ada keluarga besar dari Arjuna.


Denis menatap sekeliling sebelum keluar dari dalam mobil. Sedangkan Sandro dan lainnya sudah keluar dan berdiri tepat di samping mobil Denis.


Cekrek...............cekrek........cekrek..........


Bunyi blitz terus berbunyi saat melihat kedatangan Arsen, Sandro, Rian, dan Arkan. Mereka tidak menyangka jika orang kepercayaan Presdir Denis Arkana akan datang ke sini.


Tak lama mereka semua di buat kaget liat sosok tinggi dengan aura kekuasaan turun dari mobil pribadinya.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Para wartawan dengan tak sabar mengambil foto Denis yang hari ini bisa mereka lihat secara langsung karena jarang sekali ia tampil di publik.


"Ka Sandro" ucap Ando menemui mereka semua.


"Kamu sudah bekerja dengan baik adik ipar" puji Sandro sambil menepuk pundak Ando.


Ando lalu menuntun mereka masuk ke dalam mansion untuk melihat jasad Kenzo untuk terakhir kalinya.


Saat masuk ke dalam semua keluarga besar Arjuna menatap Denis dan rombongannya dengan bingung karena setahu mereka Denis tidak ada hubungan dengan Kenzo selama ini.


Kenapa presdir Denis ada disini


Ada hubungan apa presdir Denis dan Kenzo


Aku baru tahu kalau ternyata Kenzo kenal sama presdir Denis


Sepertinya mereka dulu sangat dekat ya makanya saat kematian Kenzo presdir Denis hadir


Aku merasa hubungan diantara keduanya sangat rumit


Denis menatap Ando dengan tatapan tajam memberi isyarat jika dia sangat tidak suka mendengar bisikan-bisikan itu.


"Uhm..........mohon perhatian semuanya. Saya meminta kesediaan semuanya untuk memberi ruang pribadi kepada presdir Denis memberi penghormatan terakhir kepada mendiang tuan Kenzo" ucap Ando dengan suara tegas.


Semuanya segera pergi dari sana meninggalkan Denis dan rombongannya disana bersama dengan Ando saja.


"Sayang sekali kamu sudah mati berengsek! Padahal aku berharap kamu menderita dulu baru mati!" ucap Arkan dengan sinis.


"Aku sangat membencimu! Aku tidak akan mendoakan kamu untuk tenang didalam sana malah aku berharap kamu ditempatkan di neraka" ucap Sandro dengan tatapan penuh kebencian.


"Aku memaafkan kamu karena setidaknya kamu sudah tidak berada lagi di dunia ini" ucap Arsen dengan wajah datar.


Sandro dan Arkan langsung menatap ke arahnya tak menyangka ia akan memaafkan Kenzo begitu saja.


Sedangkan Denis ada perasaan marah, benci, emosi, senang, dan perasaan yang tidak pernah ia rasakan selama ini dalam hidupnya.


Mata coklatnya menatap tubuh Kenzo yang sudah kaku dengan tatapan sulit diartikan. Entah apa yang sedang ia pikirkan hanya dia dan Tuhan saja yang tahu.


Aku senang bisa diberi kehidupan kedua saat ini! Rasanya beban dalam hidupku seakan terlepas begitu saja melihat kamu yang terbujur kaku seperti ini, batin Denis dengan perasaan lega dan senang.


Kamu tahu aku sangat membencimu selama aku hidup dan melihat kamu seperti ini membuat perasaan dendam dalam hati aku hilang begitu saja, batinnya dengan tatapan datar.


"Semoga kamu tidak ada lagi di kehidupan selanjutnya" ucap Denis dengan suara dingin dan tegas.


Semuanya kaget mendengar ucapan Denis yang terdengar sangat mengerikan di telinga mereka. Entah kenapa mereka merasa ada perasaan benci yang amat besar dari ucapan Denis barusan.


Denis segera berlalu pergi dari sana tak berkata apa-apa membuat Sandro dan lainnya segera mengikutinya.


Sebelum pergi Arsen masih berbicara dengan wartawan untuk tidak mempublikasikan kehadiran mereka saat ini jika tidak ingin di tuntut oleh DA Corp.


~ Kediaman Baker ~

__ADS_1


Leila menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 18:40 dengan cemas. Ia sedari tadi mondar-mandir melihat ke arah jam memikirkan kapan Denis akan datang.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Kamu kenapa sih dek?" tanya Rayen dengan bingung.


"Tidak apa-apa ka. Aku hanya menunggu Arkan saja ka" jawab Leila sambil tersenyum manis.


"Kakak juga sudah kangen sekali dengan Arkan dan tumben Arkan keluar dari pagi ampe sekarang belum pulang dek?" tanya Rayen dengan bingung.


"Bukannya dia itu penakut untuk pergi sendirian ya dek?" tanyanya lagi semakin penasaran.


"Nanti juga kakak bakal tahu jawabannya" jawab Leila sambil tersenyum lebar.


Rayen menyipitkan matanya menatap Leila yang seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Apa lagi melihat ke arah wanita paruh baya di depannya yang sedari tadi di panggil mama oleh Leila.


Sebenarnya apa saja yang sudah aku lewatkan selama ini, batin Rayen semakin dibuat penasaran.


Bruumm.................


Leila segera berdiri saat mendengar deru bunyi mobil didepan. Ia hendak pergi ke depan tapi ditahan oleh kakaknya untuk tetap disini saja.


"Kakak" protes Leila dengan wajah cemberut.


"Tetap di tempatmu dek. Biar Arkan masuk sendiri tidak usah disambut segala" titah Rayen dengan suara tegas tak mau di bantah.


Leila memanyunkan bibirnya seperti bebek merasa kesal di suruh tidak boleh ke depan oleh Rayen. Amira yang melihat hal itu tersenyum lucu dan mengelus kepala Leila dengan lembut supaya dia tidak cemberut.


"Aku pulang" teriak Arkan dengan suara menggelegar.


Rayen kaget mendengar suara adiknya yang baru kali ini masuk ke dalam rumah sambil berteriak seperti itu.


Tak lama Arkan muncul dari depan membuat Rayen seketika syok melihat penampilan sang adik yang sangat berubah drastis.


Tubuh tinggi dan proposional serta aura mereka yang terasa sama seperti daddy mereka selama ini. Yang membedakan mereka hanya di warna rambut saja.


"Arkan that is you?" (Arkan ini kamu) tanya Rayen dengan kaget.


Deg...............


Jantung Arkan berdetak dengan cepat melihat sosok yang selama ini ia rindukan berdiri didepannya. Tak banyak bicara ia berlari dan langsung menerjang tubuh Rayen dengan pelukan.


"Hiks hiks hiks...........ini ka Rayen kan.........hiks hiks hiks........betul ini ka Rayen kakak Arkan kan?" tanya Arkan sambil menangis histeris.


"Iya ini kakak dek" jawab Rayen dengan suara lembut.


Huawaa................


Tangis Arkan pecah didalam sana tak menyangka kakaknya sudah sadar dari koma dan saat ini sudah berdiri di depannya.


Leila yang melihat keduanya berpelukan ingin ikut memeluk mereka tapi tiba-tiba pinggangnya di tarik ke belakang hingga membentur dada kokoh di belakangnya.


"Sayang" keluh Leila dengan wajah cemberut sambil mengelus keningnya yang sakit.


Bagaimana tidak dada Denis keras seperti batu membuat kening Leila terasa sangat sakit.


"Aku tidak mau kamu memeluk laki-laki lain selain aku sayang" ucap Denis dengan tatapan tajam dan tegas.


"Tapi mereka adik dan kakak aku sayang" protes Leila.


"Aku tidak perduli sayang. Selama mereka laki-laki kamu dilarang memeluk mereka" tegas Denis dengan aura mengintimidasi.


"Ckk!!" decak Leila dengan ketus merasa kesal dengan sifat posesif kekasihnya itu.


Amira menggelengkan kepalanya melihat sifat sang anak yang sama persis dengan mendiang suaminya.


Semoga kalian berdua selalu bahagia nak, batin Amira mendoakan yang terbaik untuk keduanya.


🌼 🌼 🌼 🌼 🌼

__ADS_1


To be continue..............


__ADS_2