Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 153


__ADS_3

Keduanya menelan saliva dengan susah merasakan aura Denis yang sangat menakutkan. Sandro berusaha mengontrol dirinya mengambil hp dan mengirim pesan ke Arkan.


Denis lalu menyuruh keduanya keluar. Sampai di luar Arsen dan Sandro menghembuskan napas dengan lega karena sudah tidak merasakan aura sang bos lagi.


"Kalian kenapa?" tanya Rian dengan alis sebelah terangkat.


Keduanya menatap Rian dengan sinis merasa kesal. Tak menjawab pertanyaannya, mereka segera pergi ke ruangan masing-masing meninggalkan Rian yang menatap mereka dengan bingung.


Sedangkan didalam ruang Denis, ia saat ini sedang memberitahu Leila tentang apa yang terjadi tidak ada yang disembunyikan.


"Apa dia ingin mencelakai aku lagi sayang?" tanya Leila dengan tubuh gemetaran.


Melihat hal itu Denis lalu memeluk kekasihnya dengan erat sambil mengelus punggungnya untuk menenangkan Leila.


"Kamu jangan khawatir sayang karena aku tidak akan biarkan dia menyentuh seujung rambutmu juga" ucap Denis dengan suara tegas.


"Tapi aku takut dia akan kembali melukai keluarga aku sayang" keluh Leila dengan perasaan cemas.


"Jangan khawatir sayang karena kakakmu sudah mengurus semuanya" jawab Denis dengan suara lembut.


"Aku tidak ingin kehilangan keluarga aku lagi sayang.........hiks hiks hiks" lirih Leila sambil menangis.


"Shut! Kamu tidak akan kehilangan keluargamu lagi sayang. Kamu harus yakin dan percaya kepada aku dan kakakmu sayang" ucap Denis dengan cepat.


"Mulai sekarang kamu harus selalu stand by 24 jam disisi aku sayang. Jika aku tidak ada maka Arkan yang akan menemanimu sambil menjagamu sayang" tambahnya lagi sambil mengelus pipi Leila dengan lembut.


"Iya sayang" ucap Leila merasa sedikit lebih tenang karena di hibur Denis.


Denis lalu menyuruh Leila untuk tidur sedangkan ia harus memeriksa beberapa laporan. Sebelum keluar dari kamar pribadinya Leila tak lupa mengingatkannya untuk sarapan.


~ BakerTech ~


Rayen menutup mata mengontrol emosinya saat mendengar ucapan Leo tentang Lewis yang menargetkan adiknya sekarang.


"Dimana Arkan? Suruh dia ketemu dengan aku sekarang!" titah Rayen dengan suara tegas.


"Tuan muda Arkan sedang menuju ke perusahaan presdir Denis tuan. Ia akan mampir ke sini setelah urusannya selesai disana" ucap Leo yang tadi sudah menghubungi Arkan.


"Suruh anak buahku untuk mengawal Arkan dan Leila dengan ketat mulai sekarang"


"Baik tuan"


"Segera buka lowongan rekrutmen untuk posisi yang kosong besar-besaran dan ingat kamu sendiri yang harus memantau langsung seleksi nanti" ucap Rayen memberi perintah.


"Baik tuan" jawab Leo dengan suara tegas.


Leo segera keluar dari ruangan Rayen saat melihat isyarat tangan Rayen yang menyuruhnya untuk pergi.


Setelah kepergian Leo dengan cepat Rayen mengambil hpnya dan menghubungi Denis.


"Heemmm"


Rayen menutup mata menetralkan rasa kesalnya saat mendengar ucapan dingin dan datar dari seberang yang tidak ada sopan santunnya kepada dia sedikit saja.


^^^"Apa yang terjadi tadi?" tanya Rayen setelah mengontrol rasa kesalnya.^^^


"Semuanya sudah beres" jawab Denis dengan santai dari seberang.


^^^"Kalian baik-baik saja kan?" tanya Rayen dengan cemas.^^^


"We good. Aku sudah menceritakan semuanya kepada kekasihku" jawab Denis dengan suara tegas.


^^^"Apa! Lalu bagaimana reaksi Leila?" tanya Rayen dengan kaget.^^^


"Dia baik-baik saja dan aku sudah memberitahunya untuk tidak memikirkan hal ini dan biarkan kita yang mengatasinya" jawab Denis.


Phew............

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Rayen membuang napas dengan lega setelah mendengar kondisi adiknya yang baik-baik saja saat mendengar semua masalah yang sedang terjadi saat ini.


^^^"Aku titip kedua adik aku di kamu Denis karena saat ini aku tidak bisa mengontrol mereka semua sekaligus" ucap Rayen dengan cepat.^^^


"Jangan khawatir tentang Leila dan Arkan. Mereka akan menjadi bagianku" balas Denis dengan suara tegas.


^^^"Baiklah"^^^


"Oh aku mau bilang kalau Minggu depan aku akan melamar Leila" ucap Denis dengan suara dingin.


^^^"What! Kamu sedang meminta restuku menikahi adik aku Denis?" tanya Rayen dengan syok.^^^


"Ya anggap saja seperti itu" jawab Denis dengan suara dingin.


^^^"Apa kamu tidak berencana bertemu dengan aku sebagai wali sah adik aku Leila Denis" cibir Rayen.^^^


"Tidak. Itu hanya bikin ribet saja" balas Denis dengan santai.


Rayen menutup mata sambil memijit keningnya yang tiba-tiba sakit tidak menyangka Denis bisa berbicara seperti itu dengan santai.


Apa lagi saat ia memikirkan Denis yang akan menjadi adik iparnya. Entah kenapa ia merasa geli sendiri ia membayangkan Denis yang akan memanggil dia kakak ipar.


Kenapa rasanya aneh ya jika sialan itu manggil aku kakak ipar, batin Rayen dengan suara dingin.


Denis yang dari seberang tak mendengar suara Rayen segera mematikan panggilannya dengan sepihak. Hal itu membuat Rayen seketika tersadar dari lamunannya.


"Sial! Lagi-lagi panggilan aku dimatikan sepihak! Dasar manusia es menyebalkan!" ketus Rayen dengan kesal.


~ Mansion Lewis Hamilton ~


Prang............prang.............prang..........


Bunyi benda pecah bergema didalam mansion Lewis Hamilton setelah mendengar informasi dari Bernad tangan kanannya.


"Maaf bos tapi anak buah kita belum menemukan pelakunya" jawab Bernad sambil menunduk.


"Anj**g kalian semua!" maki Lewis dengan suara menggelegar.


Bernad diam tidak berbicara satu katapun karena tak ingin menjadi samsak tinju bosnya yang saat ini sedang emosi.


Lewis seperti kesetanan memikirkan bisnis haramnya yang sudah rata dengan tanah dan di pastikan ia mengalami kerugian hingga triliun.


"Rayen Baker" gumam Lewis dengan tatapan berkilat tajam saat nama itu muncul di benaknya.


~ DA Corp ~


Arkan dengan santai berjalan keluar dari lift menuju ruangan presdir yang berada didepannya.


Rian yang sedang berkutat dengan komputer langsung mengangkat kepalanya saat mendengar bunyi langkah kaki.


"Hay ka Rian" sapa Arkan dengan ceria.


"Heemmm" deham Rian dengan suara dingin.


"Cih!! Apa sehari saja balas sapaan aku jangan deham saja" ketus Arkan dengan sinis.


"Aku akan memberitahu kedatangan kamu kepada presdir" ucap Rian tidak menggubris ucapan Arkan barusan.


Phew.............


Arkan membuang napasnya dengan kasar melihat sifat dingin Rian yang sama persis seperti Arsen dan bosnya.


^^^"Halo presdir. Aku ingin beritahu jika Arkan sudah berada didepan ruangan presdir"^^^


"..........."

__ADS_1


^^^"Baik presdir"^^^


Rian menatap Arkan dan mengangguk kepalanya menunjuk ke arah pintu memberitahu jika ia sudah bisa mkasu ke dalam ruangan Denis.


"Aku ketemu bos dulu ya ka" ucap Arkan dengan cepat.


"Ya. Semoga kamu masih hidup 1 jam ke depan" balas Rian dengan suara dingin.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Arkan mengerutkan keningnya mendengar ucapan Rian yang tidak ia paham. Ingin sekali ia menanyakannya tapi ia urungkan karena Denis sudah menunggunya didalam.


Saat masuk ke dalam ruangan Denis, tiba-tiba bulu kuduk Arkan berdiri saat melihat sosok didepan sana yang sedang duduk di kursi kebesarannya dengan gagah.


"B.......os" ucap Arkan dengan terbata-bata karena gugup.


Denis mengerakkan jari telunjuknya sebagai tanda untuk mendekat ke arahnya. Arkan dengan langkah pelan berjalan menghampiri Denis yang menatapnya dengan tatapan tajam.


"Uhmm...........bos memanggilku?" tanya Arkan dengan suara pelan.


"Ya" jawab Denis dengan singkat.


Glek..............


Arkan menelan salivanya dengan susah melihat tatapan Denis yang sangat mengintimidasinya. Perlahan-lahan ia bangun dan berjalan menghampiri Arkan yang berdiri dengan gemetar.


Bugh................prang..............


Denis menendang Arkan dengan kuat hingga terpental ke belakang dan membentur lemari kaca hingga pecah.


"B......os apa salahku?" tanya Arkan sambil meringis kesakitan.


Bugh............bugh........bugh........bugh......


Tidak menjawab pertanyaannya Denis malah menghajar Arkan dengan brutal tak memberinya kesempatan untuk membalas atau istirahat sejenak.


Brak..................


Sofa tunggal didalam sana seketika patah jadi dua bagian saat Denis membanting Arkan.


Aaarrgghh..............


Suara jeritan kesakitan Arkan bergema didalam sana merasa sekujur tubuhnya sangat sakit. Napasnya naik turun tak menyangka akan dihajar oleh sang bos, entah apa yang sudah ia lakukan ia tidak tahu.


"Am.......pun bos" lirih Arkan dengan napas satu-satu.


"Beraninya kamu melanggar perintahku dan pergi menemui orang itu" ucap Denis dengan suara dingin.


Deg................


Jantung Arkan berdetak dengan cepat sudah tahu apa kesalahannya membuat ia semakin gemetar ketakutan.


Denis tersenyum menyeringai melihat Arkan yang sepertinya sudah sadar apa kesalahannya sehingga di beri hukuman.


"Akhirnya kamu sadar juga" ucap Denis sambil tersenyum mengejek.


"Apa kamu tahu, karena ulah kamu tadi malam saat ini kakakmu Rayen sudah menjadi Terget orang itu dan ia sedang dalam bahaya saat ini" tambahnya lagi dengan suara dingin.


"Bos" lirih Arkan dengan wajah cemas dan panik.


Bugh.........bugh...........bugh..........


Denis kembali menghajar Arkan dengan brutal tak perduli jika saat ini Arkan sudah tak sanggup lagi untuk berdiri atau berbicara.


"APA YANG KAMU LAKUKAN DENIS" teriak Leila dengan suara menggelegar saat membuka pintu.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...

__ADS_1


To be continue...........


__ADS_2