Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 69


__ADS_3

Tok……………tok……………..tok……………..


“Masuk” ucap Kenzo dengan suara dingin.


Ceklek……………..


Ando membuka pintu ruang kerja Kenzo setelah mendengar seruan masuk dari dalam. Saat pintu terbuka ia kaget melihat ruangan Kenzo yang seperti baru saja habis di terpa badai.


Lagi-lagi barang didalam sini jadi pelampiasan emosi tuan, batin Ando menatap lirih semua barang didalam ruangan tuannya sudah hancur.


“Bagaimana?” tanya Kenzo mengagetkan Ando dari lamunannya.


“Maaf tuan, tapi kami tidak berhasil mendapat informasi mengenai orang yang mengirim jasad anak buah kita yang menculik putri direktur Steven” jawab Ando dengan suara dingin.


“F**k! Siapa sih orang yang dibayar direktur berengsek itu” maki Kenzo dengan suara menggelegar didalam sana.


“Sepertinya mereka mafia di dunia bawah tuan” ucap Ando menebak.


“Dunia bawah?” tanya Kenzo dengan kening berkerut.


“Iya tuan. Dari hasil kerja mereka yang tidak meninggalkan jejak apapun sepertinya mereka bukan preman atau pembunuh bayaran biasa. Tapi mereka bisa saja anggota mafia di dunia bawah yang sangat terkenal dengan cara kerjanya yang sangat rapi tanpa meninggalkan jejak tuan” jawab Ando menjelaskan.


“Apa kamu yakin orang bayaran direktur sialan itu adalah kelompok mafia?” tanya Kenzo dengan selidik.


“Ini hanya pemikiran saya saja tuan tapi saya sangat yakin tuan” jawab Ando dengan suara tegas.


“Heeemmmm”


Kenzo diam memikirkan ucapan Ando yang ada benarnya juga mengenai apa yang terjadi semalam di mansionnya.


Entah dari mana orang-orang itu bisa mengetahui mansionnya dan mengirim 10 jasad anak buahnya yang ia suruh untuk menculik putri direktur Steven, hanya untuk mendapat informasi mengenai pertemuan dia dengan Sandro di Singapura waktu itu.


“Jadi direktur Steven sudah mengetahui siapa dalang di balik penculikan anaknya” tebak Kenzo.


“Sepertinya ia tuan” jawab Ando dengan singkat.


“Ckk!! Dasar manusia lemah hanya kerja gampang saja tidak becus” dengus Kenzo dengan kesal.


Kalau gampang kenapa tidak tuan sendiri yang turun tangan, batin Ando mengejek Kenzo dalam hati.


“Perketat penjagaan di semua markasku dan gudang penyimpanan kita yang baru, karena aku tidak ingin direktur Steven membalas apa yang aku lakukan melalui bisnis gelapku” titah Kenzo dengan tatapan tajam.


“Baik tuan”


“Satu lagi! Bakar semua mayat-mayat anak buahku yang tidak berguna itu dan jangan sampai polisi mengetahui hal ini” ucap Kenzo dengan suara tegas.


“Aku sudah membakar semua jasad mereka tuan” jawab Ando dengan cepat.


“Good” (bagus)


“Tuan lalu bagaimana dengan keluarga mendiang anak buah kita?” tanya Ando.


“Biarkan saja mereka berpikir jika saudara mereka sedang pergi bekerja jauh. Tidak usah memberikan penjelasan apapun kepada mereka” jawab Kenzo dengan santai.


“Tapi tuan setidaknya kita harus memberi mereka santunan dan menyampaikan yang sebenarnya agar mereka tidak khawatir” bantah Ando yang tak setuju dengan ucapan Kenzo.


“Sialan! Kamu pikir aku ini pemberi bansos apa?” maki Kenzo dengan suara tinggi.


“Maaf tuan”


“Kalau kamu mau bantu mereka silahkan sana, karena aku tidak sudi mengeluarkan uang sepeserpun untuk keluarga orang tak becus seperti mereka semua” hardik Kenzo dengan tatapan tajam.


“Iya tuan”


“Kamu keluar dan kirim pesan ke manajer kekasihku untuk menyuruh Alexa malam nanti datang ke apartemenku” titah Kenzo dengan suara tinggi.


“Baik tuan. Permisi” ucap Ando dengan sopan.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Ia berlalu keluar dari dalam ruangan Kenzo sambil mengepal kedua tangannya dengan emosi, merasa sangat marah dengan kelakuan Kenzo yang tidak memikirkan nasib anak buahnya, berbeda sekali saat mereka masih dipimpin oleh Denis.


Anda tidak cocok menjadi ketua kami karena sampai kapan pun yang lebih cocok jadi ketua itu adalah bos Denis, batin Ando sambil mengontrol emosi didalam dirinya.


Windi yang melihat wajah Ando seperti orang sedang menahan amarah, hanya diam saja tak berniat untuk bertanya. Karena tidak ingin menjadi sasaran pelampiasan emosi Ando seperti tuannya.


~ Kediaman Baker ~


Sampainya di kediaman Baker, Arkan bergegas keluar dari dalam mobil tanpa lupa mengucapkan terima kasih meski terbata-bata karena gugup.


“Ambil ini” ucap Denis sambil menyodorkan sepotong kertas berisi nomor teleponnya kepada Arkan.


“I…ni?” tanya Arkan dengan bingung.

__ADS_1


“Nomorku. Hubungi aku jika suatu hari kamu ingin berubah menjadi orang yang kuat dan tidak penakut lagi” ucap Denis dengan suara dingin dan tegas.


“Ah! Iy….a ka” jawab Arkan dengan gugup.


Denis segera menyuruh sopir melajukan mobil pergi dari sana diikuti oleh mobil Rian dan pengawalnya. Arkan menatap kertas berisikan nomor Denis dengan tatapan yang sulit diartikan, seakan saat ini ia sedang berpikir keras apa yang harus ia lakukan.


“Bos dia itu siapa?” tanya Sandro yang sudah sangat penasaran sedari di restoran tadi.


“Adik kekasihku” jawab Denis dengan singkat.


“Oh”


1 Detik


4 Detik


5 Detik


8 Detik


10 Detik


“Apa kekasih bos?” tanya Sandro dengan suara melengking setelah mencerna ucapan Denis barusan.


Bugh……………aww………………..


Sandro meringis sakit di bagian keningnya karena terkena dashboard mobil, saat Denis menendang kursinya dengan kuat dari belakang hingga ia terpental ke depan.


Sopir yang melihat hal itu kaget bukan main melihat Sandro yang ditendang bos mereka dan beruntung ia tidak mengerem mendadak tadi.


“Sekali lagi kamu ribut aku akan menjahit mulutmu itu” ancam Denis dengan suara dingin.


“Maafkan aku bos. Aku hanya kaget saja mendengar bos sudah mempunyai kekasih” balas Sandro sambil mengelus keningnya dengan lembut.


Denis diam tidak membalas ucapan Sandro dan kembali berkutat membaca email masuk di iPad miliknya. Ia juga tadi sudah mengirim pesan ke kekasihnya, kalau ia sudah mengantar Akran tiba di kediaman mereka dengan selamat.


Aku harus bertanya ke bocah empat mata itu karena pasti dia tahu mengenai kekasih bos, batin Sandro.


Tak terasa waktu pun berlalu dan matahari sudah berganti dengan bulan, menandakan sudah waktunya berhenti dari semua aktifitas seharian bagi para pekerja di muka bumi.


Leila malam ini pulang sendiri saja bersama sopir karena Leo harus mengawasi Kenzo melakukan instalasi ulang listrik di BT mall.


“Pak Toni nanti tolong mampir ke toko kue langganan saya ya pak” ucap Leila dengan suara lembut.


~ Delicious Bakery ~


Sampainya di toko kue langganan Leila, ia bergegas turun dan masuk membeli kue kesukaannya tak lupa roti kesukaan sang adik. Leila juga membeli buat pak Toni sopir pribadinya agar bisa dibawa ke rumahnya saat pulang nanti.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


“Total semuanya Rp.300.000 ka” ucap sang kasir.


Leila lalu menyodorkan uang pecahan seratus sebanyak 3 lembar ke kasir lalu mengambil belanjaannya keluar. Pak Toni yang melihat nona mudanya kesusahan membawa belanjaannya, segera keluar dan membantu membawakan barang belanjaannya.


“Non biar saya saja ya bawa” ucap pak Toni segera mengambil semua plastik belanjaan milik Leila.


“Wah terima kasih ya pak” ucap Leila dengan suara lembut.


“Sama-sama non. Lagian ini sudah jadi tugas saya juga” balas pak Toni sambil memamerkan giginya.


Leila hanya tertawa saja membalas ucapan sopirnya dan berjalan dengan santai menuju mobil mereka yang terparkir di pinggir jalan, karena parkiran di Delicious Bakery sudah penuh.


Tanpa ia sadari tenyata sedari keluar dari perusahaan mobilnya sudah dibuntuti oleh 2 orang yang mengendarai motor trail. Kedua orang itu melihat Leila yang sedang berjalan menuju pintu sebelah lalu melajukan motor mereka dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Leila.


Brak………………brugh…………………


“Nona muda” teriak pak Toni yang hendak masuk ke dalam mobil dengan suara melengking.


Dengan langkah cepat ia bergegas menghampiri Leila yang terkena serempet dari motor barusan, hingga ia terpental ke samping dan terjatuh di tengah jalan.


Beruntung tidak ada kendaraan yang melintas saat itu jika tidak Leila pasti sudah tertabrak karena ia terpental hingga ke tengah ruas jalan.


Pak Toni bergegas membantu Leila yang merasa pusing di kepalanya, karena terkena benturan tadi hingga keningnya berdarah. Sedangkan pak Toni mencari keberadaan orang yang sudah menyerempet Leila tapi keduanya sudah kabur.


“Non baik-baik saja kan. Apa ada yang sakit non?” tanya pak Toni dengan cemas.


“Aku baik-baik saja pak Toni jangan cemas ya” jawab Leila dengan suara lembut.


“Tapi non kening non berdarah”


“Ini hanya luka kecil saja pak Toni”


“Biar saya bantu obati ya non” pinta pak Toni dengan cemas.

__ADS_1


“Iya pak”


Leila lalu duduk di pintu samping sambil menunggu pak Toni yang sedang mengobati keningnya yang terluka agar tidak infeksi nanti. Selesai mengobati lukanya keduanya bergegas pergi dari sana menuju kediaman Baker.


~ BT Mall ~


Leo duduk di kursi sambil menatap Kenzo dan pak Budi yang sedang melakukan instalasi listrik dari awal di BT mall.


Matanya lalu melirik ke arah Ando asisten Kenzo yang sedari tadi berdiri diam di dekat Kenzo seperti menjaga anak kecil saja.


Ckk!! Dia itu sudah besar tidak butuh di kawal lagi, batin Leo dengan sinis.


Ehh…………


Seketika ia ingat jika ia juga sama seperti Ando yang selalu berdiri didekat tuannya untuk menjaga keselamatannya. Wajahnya seketika murung mengingat tuannya yang masih terbaring koma di rumah sakit Jerman, setelah kecelakaan waktu itu yang hampir merenggut nyawanya.


“Tuan kapan anda sadar. Nona muda sangat susah mengurus perusahaan sebesar ini sendiri saja tuan” gumam Leo dengan sedih.


Tak berselang lama Ando berjalan menghampiri Kenzo membisikan sesuatu, setelah anak buahnya mengirim pesan kepadanya barusan. Kenzo melirik Leo dibelakang sana sambil tersenyum menyeringai mendengar ucapan Ando barusan.


Rasakan kamu perempuan sialan. Beraninya kamu ingin main-main dengan seorang Kenzo Arjuna, batin Kenzo sambil tersenyum menyeringai.


~ Imperial Kingdom ~


Denis menatap pemandangan malam kota Jakarta dari jendela penthouse, sambil menyesap segelas anggur yang baru saja ia ambil dari lemari penyimpanan miliknya.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Tatapan matanya berkilat tajam memikirkan tanggal yang hampir dekat dimana tanggal itu selalu membuat dia merasa sangat kesakitan, seakan ia juga merasakan rasa sakitnya timah peluru itu di kepalanya di kehidupan sebelumnya.


“Aku akan membuatmu tidak akan pernah tertawa bahagia lagi di kehidupan ini bangsat” gumam Denis dengan tatapan penuh kebencian bercampur aura membunuh yang sangat terasa didalam sana.


Prang…………….


Seketika gelas yang di pegang Denis hancur berkeping-keping di tangannya, hingga darah keluar sangat banyak dari tangannya. Ia lalu mengirim pesan ke dokter pribadinya untuk segera datang kesini.


Ting…..…….tong…...….ting………..tong…………


Denis melihat siapa yang datang dari layar interkom dan menekan tombol pintu terbuka setelah melihat siapa yang datang. Bimo segera masuk ke dalam penthouse milik bosnya dengan decak kagum, karena baru pertama kali melihat langsung penthouse.


“Sudah puas lihatnya?” tanya Denis dengan suara dingin mengagetkan Bimo.


“Maafkan aku bos” jawab Bimo dengan malu.


Ia segera mengeluarkan peralatannya dan kaget melihat tangan Denis yang terus berdarah, karena pecahan kaca yang tertancap di telapak tangannya.


Bimo membersihkan luka Denis dengan alkohol sebelum mencabut pecahan kaca tersebut.


Apa bos tidak merasa sakit, batin Bimo dengan  bingung melihat Denis yang tak mengeluh sakit atau raut wajahnya berubah saat diobati.


Tak mau memikirkan itu dengan telaten dokter Bimo segera mengobati luka Denis dan memperbannya. Ia juga meninggalkan kotak P3K untuk Denis jika besok ia ingin menganti perbannya sendiri dan bisa melakukan pertolongan pertama jika sedang terluka.


“Dimana obatnya?” tanya Denis dengan suara dingin.


“Ini bos” ucap Bimo sambil menyodorkan sebotol kecil penuh berisi obat yang hanya dia dan Denis yang tahu.


Bimo menatap Denis dengan ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu tapi tidak berani. Melihat hal itu Denis memberi isyarat kepadanya untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan.


“Saya mohon bos jangan terlalu bergantung pada obat ini karena ini dosisnya sangat tinggi bos” pinta Bimo dengan penuh harap.


“Apa ini akan membunuhku?” tanya Denis dengan tatapan selidik.


“Tidak bos. Tapi obat ini mempunyai efek samping yang berbahaya bos jika bos mengkonsumsinya setiap hari” jawab Bimo dengan cepat.


“Setidaknya efeknya itu tidak membuat aku mati” balas Denis sambil tersenyum smirk.


“Saya hanya minta bos jangan terlalu minum obat ini dan minum disaat genting saja” pinta Bimo.


“Jadi aku harus bergadang setiap malam begitu?” tanya Denis dengan suara dingin dan aura membunuh.


“Bukan itu maksud aku bos” jawab Bimo dengan cepat.


“Aku memilih kamu sebagai dokter pribadiku untuk membantu masalah kesehatanku, jadi lebih baik kamu diam saja dan buatkan obat yang bagus untukku” ucap Denis memperingatinya dengan suara tegas.


“Iya bos aku tahu” balas Bimo mengiyakan saja tak ingin mendapat bogem mentah dari bosnya.


“Pergi” usir Denis dengan suara dingin.


Bimo berlalu keluar dari penthouse Denis merasa udara didalam sana sangat sedikit, membuat dia tidak bisa bernapas dengan leluasa setiap bertemu dengan bosnya.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue………………

__ADS_1


__ADS_2