
Arsen menarik tangan sang istri masuk ke dalam rumah dengan tatapan dingin. Para pelayan yang melihat kedatangan tuan muda mereka, dengan wajah emosi tidak berani menyapanya.
"Mas sakit" lirih Geby merasa sangat kesakitan di bagian tangan.
"DIAM!" bentak Arsen dengan suara menggelegar.
Deg...............
Jantung Geby seakan ingin keluar dari tempatnya mendengar bentakan sang suami untuk pertama kali.
Tubuhnya bergetar melihat wajah dingin suaminya, apa lagi rahangnya yang mengeras membuat urat-urat di lehernya sampai kelihatan.
Sepertinya aku sudah membangunkan singa yang tertidur, batin Geby dengan ketakutan.
Arsen menarik istrinya menuju kamar mereka di lantai dua. Ia seakan tuli mendengar teriakan mama dan kedua kakaknya di bawah sana untuk tidak menyakiti sang istri.
Blam.................
Geby melonjak kaget saat pintu kamar mereka di banting dengan kuat. Ia menunduk tak berani melihat suaminya yang berdiri di depan sana dengan napas memburu, menandakan ia saat ini sangat emosi.
"Katakan" ucap Arsen dengan suara dingin.
"Maa.....f mas" cicit Geby dengan tubuh gemetar.
"Aku tidak butuh maaf tapi alasan kamu nyonya Sanjaya" ucap Arsen dengan suara lantang dan tegas.
"Hiks hiks hiks...........maafkan aku mas...........hiks hiks hiks........aku salah mas............hiks hiks hiks" ucap Geby sambil menangis.
"Tatap lawanmu kalau lagi bicara" hardik Arsen dengan suara tinggi.
Geby seketika mengangkat kepalanya sehingga tatapan mereka bertemu. Air mata Geby terus mengalir melihat wajah sang suami yang sudah merah padam saking emosinya.
"Katakan alasan kamu mempermainkan aku" ucap Arsen dengan suara dingin dan tegas.
"Hiks hiks hiks........maaf mas.........aku salah" ucap Geby sambil menangis.
"Aku tidak butuh maaf istriku tapi aku butuh alasan kamu mempermainkan aku mengatasnamakan anak kita" ucap Arsen sambil tersenyum getir memegang rahang istrinya.
Meski sedang emosi, Arsen menahan dengan kuat emosinya agar tidak sampai menyakiti istrinya. Apa lagi saat ini istrinya sedang mengandung.
"Maafin aku mas........hiks hiks.......aku tidak pernah ingin mempermainkan kamu mas.......hiks hiks" lirih Geby semakin histeris.
"Lalu tadi itu apa? Apa itu tidak termasuk kamu mempermainkan aku?" tanya Arsen dengan tatapan tajam.
"Aku salah mas..........hiks hiks hiks.......aku minta maaf mas..........hiks hiks hiks"
"Kamu menyakiti hati aku terlalu dalam Geby" lirih Arsen dengan tatapan kecewa.
"Apa selama ini perhatian dan cinta aku kurang membuat kamu percaya kalau aku itu sangat mencintaimu?" tanya Arsen sambil tersenyum getir.
"Tidak mas.......hiks hiks hiks........aku mohon jangan katakan seperti itu"
"Sakit! Rasanya sangat sakit jika hati dan perasaan kita di permainkan oleh orang yang kita cintai sendiri" balas Arsen dengan perasaan hancur.
"Selamat istriku. Kamu berhasil menghancurkan hati aku" tambahnya lagi dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Hiks hiks hiks.........mas aku minta maaf........hiks hiks hiks.........aku salah mas tapi aku tidak pernah meragukan cinta kamu mas........hiks hiks" ucap Geby sambil memegang kedua tangan Arsen dengan erat.
"Pukul saja aku mas.......hiks hiks hiks.......pukul aku atau apapun asal kamu memaafkan aku mas.......hiks hiks hiks" tambahnya lagi semakin histeris.
"Aku ingin sendiri" balas Arsen melepas genggaman istrinya dan berlalu pergi.
"Mas............hiks hiks hiks" teriak Geby berlari mengikuti sang suami dan memeluknya dari belakang.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Arsen berhenti didepan pintu kamar membiarkan istrinya memeluknya. Ia menutup mata mengontrol perasaannya yang sedih, hancur, dan emosi bercampur satu.
"Lepas" ucap Arsen dengan suara dingin.
"Tidak mas! Jangan tinggalkan aku mas" ucap Geby sambil menggelengkan kepalanya.
"Biarkan aku menenangkan diri. Aku tidak ingin sampai menyakitimu saat ini" ucap Arsen dengan suara tegas.
__ADS_1
Deg.................
Jantung Geby berdetak dengan cepat mendengar ucapan sang suami. Apa lagi saat Arsen melepas pelukannya dengan kasar dan berlalu keluar
Hiks............hiks.........hiks............
Geby meraung-raung menangis histeris didalam kamar.
Ia menyalahkan dirinya yang sangat bodoh sehingga tega membohongi suaminya hanya untuk membuktikan cinta suaminya, padahal selama ini ia sangat di manajakn oleh suaminya.
"Maafkan aku mas..........hiks hiks hiks.......aku salah mas........hiks hiks hiks..........maafkan aku mas.......hiks hiks" teriak Geby sambil meraung-raung histeris.
Tes..............
Air mata Arsen menetas mendengar tangisan sang istri yang sangat memilukan. Ia tadi keluar tapi tidak menutup pintu seutuhnya, sehingga ia bisa mendengar dengan jelas apa yang istrinya ucapkan.
"Arsen" panggil Bella.
"Tolong jaga istriku bu" ucap Arsen segera berlalu pergi dari sana sebelum ibunya menjawab.
Bella menatap punggung putranya yang sudah berlalu keluar dari dalam rumah. Riana dan Isti lalu menghampiri sang ibu dan masuk ke dalam kamar Arsen ingat melihat keadaan Geby.
~ Kediaman Baker ~
Tak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh Arsen dan Geby, saat ini suasana di kediaman Baker tak kalah tegang.
Prang...........prang............orang............
Rayen melampiaskan emosinya dengan menghancurkan seisi rumah. Tidak perduli dengan harga barang yang ia pecahkan bernilai ratusan juta.
Claudia sendiri menangis histeris di dalam kamar merasa sangat bersalah kepada suaminya. Meski ia tidak di marahi atau dipukul suaminya, tapi ia tahu saat ini suaminya dengan melampiaskan emosinya di luar sana.
"Tuan Leo" ucap pak Jordi saat Leo datang.
"Dimana nyonya?" tanya Leo.
"Nyonya di dalam kamar tuan Leo. Sejak pulang tadi tuan tidak berbicara apa-apa dan menyuruh saya membawa nyonya ke kamar serta tidak mengijinkannya keluar" jawab pak Jordi menjelaskan.
Phew................
"Suruh pelayan keluar dan jangan biarkan mereka masuk sebelum aku memberi perintah" titah Leo dengan suara tegas.
"Baik tuan Leo" jawab pak Jordi dengan sopan.
Leo mengurut keningnya melihat seisi ruangan yang sudah hancur tak lepas dari amukan sang tuan. Apa lagi saat melihat lukisan yang bernilai hampir 1 miliar sudah sobek dan patah di lantai.
Aku akan pusing setelah ini, batin Leo sambil membuang napasnya dengan kasar.
Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan bulan sudah berganti dengan matahari menandakan hari sudah pagi.
~ Deluxe Casino ~
Adrian memijit keningnya melihat 4 pria yang sangat ia kenali masih tidur di dalam ruangan khusus yang bisa mereka tempati saat datang kesini.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Padi-pagi sekali Ken tangan kanannya menelpon memberitahu kalau Rayen, Arsen, Ando, dan Rian dari semalam mabuk sampai pagi di kasino.
"Jam berapa mereka datang ke sini?" tanya Adrian sambil menutup hidungnya mencium bau alkohol yang sangat pekat.
"Jam 12 malam bos" jawab Ken.
"Oh my God. Dewa-dewa tampak eike" pekik Lola saat masuk ke dalam ruangan.
"Lola suruh anak buah aku bawa mereka semua ke apartemen" titah Adrian.
"Kenapa ke apartemen bos. Kenapa tidak ke rumah mereka masing-masing saja?" tanya Lola dengan suara gemulai.
"Kamu itu bodoh atau apa! Hah?" tanya Adrian dengan suara tinggi.
"Isshh! Bos jangan marah-marah nanti tua loh" ketus Lola.
"Cepat kerjakan perintah aku sebelum aku mencincang burung perkututmu itu sialan!" bentak Adrian dengan emosi.
__ADS_1
"Iya iya eike kerjakan sekarang" ucap Lola segera berlari keluar dari sana tak mau mendapat amukan dari sang bos.
Ken mengulum senyum menahan tawa, melihat bosnya yang selalu saja di buat darah tinggi oleh Lola. Meski Adrian bukan artis lagi tapi ia masih mempekerjakan Lola sebagai asisten pribadinya.
"Apa lihat-lihat" ketus Adrian dengan sinis menatap Ken.
"Tidak bos" balas Ken sambil menunduk tak mau membuat Adrian kesal.
"Ckk!!" decak Adrian sambil berlalu pergi.
Sampai di luar ia segera menelpon sahabat gunung esnya itu untuk memberitahu tentang anak buahnya.
"Heemmm"
^^^"Mereka berempat dari semalam mabuk sampai pagi di kasino aku" ucap Adrian mengeluh kepada Denis.^^^
"Kamu urus mereka"
^^^"Ya aku tahu. Apa aku harus memberitahu istri mereka?" tanya Adrian.^^^
"Tidak perlu" jawab Denis singkat.
"Sialan kamu Denis ARKANA" umpat Adrian saat Denis memutuskan panggilannya sepihak.
Padahal ia masih ingin bertanya lagi apa tidak apa-apa tidak memberitahu keberadaan mereka kepada istrinya mereka masing-masing.
~ DA Corp ~
Denis mengetuk jarinya di atas meja setelah mematikan panggilannya dengan Adrian. Sandro sendiri diam didepan meja kerja Denis setelah memberikan laporan perusahaan.
"Apa anak-anakku di markas sudah makan?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Ehh! Aku tidak tahu bos" jawab Sandro dengan bingung.
"Beritahu Max untuk tidak memberi Leon dan temannya-temannya makan nanti sore" titah Denis sambil tersenyum menyeringai.
"Baik bos"
"Sore nanti suruh anak buah aku culik 2 sialan itu dan bawa ke markas"
"Bos apa bisa dengan adik iparku?" tanya Sandro ingin memberi pelajaran kepada adik iparnya karena sudah membuat istrinya repot mengurus anak dan istrinya semalam.
"Terserah" jawab Denis acuh.
"Baik bos"
"Istriku?" tanya Denis singkat.
"Nyonya berada di rumah nyonya besar bersama para istri kita semua bos" jawab Sandro yang tadi sempat mendapat kabar dari sang istri.
"Heemmm" deham Denis sambil mengibas tangannya menyuruh Sandro pergi.
Sandro keluar dari ruangan Denis dan segera menelpon anak buah mereka, memerintah perintah Denis tadi.
Siapa suruh kalian bolos kantor tanpa keterangan, batin Sandro sambil tersenyum menyeringai.
Ia sudah tidak tidak sabar menunggu sore ingin melihat hukuman apa yang akan Denis berikan kepada Arsen, Rian, dan Ando adik iparnya.
~ Rumah Arkana ~
Amira dan Steven hanya bisa menggelengkan kepala melihat keempat wanita hamil di depan mereka yang sedang menangis.
"Sayang mending kita pergi ke kamar saja" ajak Steven sambil berbisik.
"Tapi mas" ucap Amira yang langsung di potong Amira.
"Kan ada bi Eda dan Leila sayang" potong Steven.
"Iya mas" Amira tak membantah ucapan suaminya dan segera pergi dari sana.
Sedangkan Leila ia pusing mengurut keningnya tak tahu harus berbuat apa kepada keempat wanita hamil didepannya.
Coba tadi aku pulang saja ke mansion, batin Leila dengan gusar.
__ADS_1
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue................