
Semua didalam mansion tersentak saat Linda tiba-tiba meneriaki nama Martin dengan suara lantang.
Apa lagi wajahnya yang biasanya terlihat ramah dan selalu tersenyum saat ini berubah menjadi garang dan terlihat sangat emosi seakan ingin menelan putra keduanya hidup-hidup.
Plak...............
Bunyi tamparan menggema didalam sana saat Linda melayangkan tangannya ke pipi kiri Martin. Syok! Itulah yang dirasakan oleh Martin karena selama ia hidup baru kali ini mommynya menamparnya.
"Mommy nampar aku?" tanya Martin dengan kaget.
Plak................
Kembali tamparan dari Linda ia dapatkan di pipi kanannya. Saking kuatnya tamparan itu wajah Martin sampai menoleh ke samping.
"Beraninya kamu berani bermain perempuan di belakang istrimu!" bentak Linda dengan suara menggelegar.
"Mommy itu semua editan. Aku tidak pernah melakukan hal itu mom" elak Martin tak mau mengaku.
"Editan kamu bilang? Apa mommy terlihat seperti anak kecil yang mudah kamu bohongi" ucap Linda dengan suara tinggi.
"Mommy tidak pernah mengajarkan anak-anak mommy melakukan hal sepeti itu Martin! Mommy merasa gagal sudah mendidik anak-anak mommy........hiks hiks hiks hiks.......mommy kecewa sama kamu Martin" tambahnya lagi sambil menangis histeris.
Hahahahaha............
Tawa Martin seketika pecah didalam sana mendengar ucapan sang mommy yang mengatakan kecewa padanya. Matanya berkilat tajam menatap Linda karena sedari dulu ia selalu dibeda-bedakan dengan kakaknya Demian.
"Mommy bilang menyesal punya anak sepeti aku karena di mata mommy hanya ada si Demian siaaln itu" teriak Martin dengan suara menggelegar.
"Apa maksudmu?" tanya Linda dengan bingung.
"Sedari dulu mommy dan daddy selalu saja membanggakan Demian dalam segala hal. bahkan mommy dan daddy juga suka menyuruh aku dan Laura untuk mencontoh Demian dan harus selalu seperti Demian, apa mommy pikir kamu senang? Hah!" jawab Martin dengan bentakan.
"Jaga ucapanmu Martin. Ingat dia mommy kamu!" bentak Alexandro dengan suara tinggi.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu Martin. Sejak dulu mommy tidak pernah membeda-bedakan kamu dan kedua saudaramu" ucap Linda dengan suara tegas.
"Tidak pernah mommy bilang" ejek Martin sambil tersenyum sinis.
"Tapi kenyataannya seperti itu mom" hardiknya lagi dengan suara tinggi.
Laura mematung mendengar ucapan putranya yang berpendapat kalau selama ini ia membeda-bedakan anak-anaknya. Padahal selama ini ia selalu berlaku adil kepada ketiga anaknya.
Bugh.................
Linda menutup mulut menangis melihat suaminya yang memukul Martin hingga terjatuh di lantai.
"Beraninya kamu berbicara seperti itu kepada mommy kamu Martin!" bentak Alexandro dengan suara tinggi.
"Dad sudah jangan pukul lagi Martin" ucap Linda menahan suaminya yang ingin menghajar Martin lagi.
"Lepas mom biar daddy hajar anak kurang ajar ini" ucap Alexandro.
"HENTIKAN DAD AKU MOHON" teriak Linda sambil menangis histeris.
"Kenapa mommy? Biarkan saja daddy memukulku karena selama ini aku sudah biasa. Di mata kalian hanya ada si Demian sialan itu saja " teriak Martin dengan suara menggelegar.
"JANGAN PERNAH MENYEBUT NAMA KAKAKMU SEPERTI ITU MARTIN!" bentak Alexandro dengan suara menggema.
"AKU TIDAK PERDULI! KARENA DARI KECIL AKU SANGAT MEMBENCI ANAK EMAS DADDY DAN AKU SANGAT SENANG AKHIRNYA DIA MATI! HAHAHAHA" dengan lantang Martin tertawa membalas ucapan Alexandro.
Dor.....................aaarrgghhh...........
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Suara jeritan kesakitan dan tenangkan bergema didalam sana membuat semua disana kaget melihat kejadian barusan.
"MARTIN" teriak Linda dengan syok menghampiri sang anak.
Alexandro dan Justin menoleh ke arah asal suara tembakan dan mendapati Denis yang sedang menodong pistol dengan wajah menghitam dan aura membunuh.
"Denis" ucap Alexandro dengan kaget.
Linda yang mendengar nama Denis langsung berbalik menatap ke arah pintu masuk. Ia sampai syok melihat Denis didepan sana yang terlihat seperti pembunuh berdarah dingin.
Apa lagi saat mengetahui kalau Denis yang menembak Martin barusan. Denis berjalan mendekat mereka di temani Arkan, Thomas, dan 6 anak buahnya dengan santai.
"Denis cucuku" panggil Linda dengan suara bergetar.
Dor..................
Aaarrgghh.............
__ADS_1
Teriak Linda bergema sambil menutup kedua telinganya saat Denis kembali menembak Martin di kaki. Bau anyir darah Martin mengalir dengan deras dari kaki dan bahunya yang terkena tembakan.
"Berengsek! Beraninya kamu menembak aku anak sialan!" bentak Martin dengan tatapan penuh kebencian.
Bugh...........bugh..........bugh............
Tak berkata apa-apa Denis langsung menghajar Martin dengan brutal tidak perduli dengan teriakan sang nenek yang menangis dengan histeris.
"Hiks hiks hiks.........hentikan Denis......hiks hiks hiks.......nenek mohon hentikan" pinta Linda sambil menangis histeris.
Bugh............prang..........prang...........
Bunyi benda pecah bergema didalam sana saat Denis menendang Martin hingga mengenai barang di sekitarnya. Tubuh Martin sudah penuh dengan lebam dan darah tapi Denis tidak ada niatan sama sekali untuk berhenti.
Alexandro yang melihat kekejaman Denis hanya berdiri mematung, sedangkan Arkan ia menahan Linda yang memberontak ingin memisahkan keduanya.
Demian anakmu ternyata sama kejam seperti kamu, batin Alexandro.
Krek.............krek............aaarrgghhh..........
Teriak Martin bergema saat kedua kakinya di patahkan Denis, bukan hanya itu saja Denis juga menginjaknya hingga hancur dan dipastikan ia akan lumpuh seumur hidupnya.
"NENEK MOHON DENIS BERHENTI" teriak Linda dengan histeris.
Denis berbalik tersenyum menyeringai seperti monster kelaparan menatap sang nenek. Linda seketika diam mematung merasa tubuhnya yang seperti sedang diikat didasar lautan yang paling dalam.
Uhuukk...........uhuukkk...........
Martin seketika batuk mengeluarkan darah yang sangat banyak. Denis hanya menatapnya dengan tatapan datar dan dingin seperti predator ganas yang sedang mengintai mangsanya.
"Beraninya kamu mengatai papaku anak sialan bangsat!" bentak Denis dengan suara menggelegar.
Grep............
Denis mencekik leher Martin hingga tubuhnya berdiri tergantung. Tangannya memukul Denis untuk melepas cekikannya tapi tetap tidak terlepas.
Wajah Martin sudah pucat pasi karena kesulitan bernapas, melihat hal itu Denis tersenyum bahagia melihat mangsanya yang sekarat ditangannya.
Brak......
Denis melempar tubuh Martin hingga membentur tembok dibelakangnya. Semua didalam sana berdiri mematung seakan tidak ingin mencari masalah dengan Denis.
"Denis nenek mohon nak.........hiks hiks hiks.......jangan lagi memukul om kamu.......hiks hiks hiks" pinta Linda sambil menangis.
"Ya aku tahu nek. Tapi binatang itu tidak pantas di sebut manusia" ucap Denis dengan tatapan membunuh.
"Denis" lirih Linda dengan mata berkaca-kaca.
"Asal nenek tahu ya manusia biadab ini adalah orang yang sudah membunuh papaku" teriak Denis dengan suara menggelegar.
Duar....................
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Bagai di sambar petir Alexandro dan Linda berdiri mematung mendengar ucapan Denis barusan. Keduanya syok dan tidak bisa berpikir dengan jernih mengenai ucapan Denis barusan.
"Apa maksudmu Denis?" tanya Alexandro dengan tatapan tajam.
"Ckk!! Putra kebanggaan anda ini adalah orang yang sudah membunuh papaku tuan Alexandro Massimo. Saat papa dan mamaku datang kesini meminta restu dia menaruh racun di makanan papaku. Bertahun-tahun papaku harus menderita karena penyakitnya dan kalian dengan kejam menghancurkan semua usaha papaku agar ia semakin menderita" jawab Denis dengan suara lantang.
Brugh.............
Linda terduduk di lantai dengan syok mendengar penjelasan Denis. Ia menangis meraung-raung memanggil putranya Demian karena hari ini baru mengetahui penyebab kematian putranya.
Air mata Alexandro mengalir dengan deras dari kedua matanya. Ia memegang jantungnya yang tiba-tiba berdenyut sakit memikirkan putra sulung Demian.
Menyesal & Bersalah
Itulah yang dirasakan oleh Alexandro saat ini. Tubuhnya hampir saja jatuh ke belakang tapi beruntung di tahan Justin. Ia menangis dalam diam merasa sangat bersalah dan menyesal.
Ingatan-ingatan saat ia menyuruh Martin untuk menghancurkan usaha putranya terus berputar di kepalanya. Tanpa ia sadari ternyata ia juga ambil bagian dalam kematian putranya.
"Hiks hiks hiks........maafkan daddy Demian.......hiks hiks hiks" teriak Alexandro sambil meraung histeris.
"Puaskan tuan Alexandro! Puas anda dan putra sialan anda itu membunuh papaku bangsat!" teriak Denis dengan suara menggelegar.
Urat-urat lehernya sampai kelihatan menandakan saat ini ia sangat emosi. Arkan yang mendengar cerita Denis barusan juga ikut menangis, ia tidak menyangka kalau papa Denis ternyata menjalani kehidupan yang sangat menderita.
Ternyata selama ini bos menyimpan rasa sakitnya sendiri, batin Arkan yang menatap nanar Denis.
"Kematian dibalas kematian. Aku sudah memberikan racun yang sama persis dengan racun yang kamu berikan ke papaku pak tuan dan semoga kamu bisa menikmati rasa sakit itu" ucap Denis sambil tersenyum menyeringai menatap Martin.
__ADS_1
David syok akhirnya kecurigaannya selama ini tentang kondisi tuannya ternyata benar. Ia tidak tahu bagaimana kerja racun itu tapi satu yang pasti racun itu sudah menggerogoti organ dalam tubuh Martin.
Denis berlalu pergi dari sana tidak perduli dengan nenek dan kakeknya yang sedang menangis histeris. Ia rasa pembalasan untuk Martin Massimo cukup karena sebentar lagi dia akan menemui ajalnya.
Sekarang gilang kamu Roy Martinez, batin Denis dengan penuh dendam.
~ Nine Cloud ~
Roy membaca pesan yang barusan dikirim oleh mata-matanya kalau Denis Arkana baru saja keluar dari mansion utama Massimo.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Henry dengan emosi.
"Kita harus membunuh anak sialan itu sebelum dia menghancurkan kita lebih dulu" ucap Sanches tak kalah emosi.
"Sial! Dalam beberapa jam saja semua aset aku dibekukan dan aku harus menjalani pemeriksaan besok" hardik William dengan suara tinggi.
"Malam ini juga kita bergerak" ucap Roy yang sedari tadi diam.
"Apa kita harus mengirim anak buah kita ke Indonesia? Bukannya itu percuma saja?" tanya Sanches dengan cepat.
"Tidak perlu karena mangsa kita sudah berada di negara ini" jawab Roy Martinez sambil tersenyum menyeringai.
"Kalau begitu tunggu apa lagi! Sekarang juga kita serang dia" ucap Henry dengan menggebu-gebu.
"Ya aku setuju dengan Mr. Ignasio. Aku sudah tidak sabar ingin memukul wajahnya itu dengan tanganku sendiri" tambah William dengan berapi-api.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Roy mengangguk kepalanya menyetujui ucapan anggotanya. Ia mengetuk jari di meja sudah tidak sabar ingin membalas dendam kepada Denis.
"Menurutku kita jangan gegabah dulu karena lawan kita bukanlah orang sembarang" ucap Sanches dengan suara tegas.
"Lalu apa kita harus melewatkan kesempatan ini?" tanya Henry dengan suara tinggi.
"Mr. Ignasio ingat Denis Arkana itu orang yang licik dan kita belum tahu pergerakannya saat ini" jawab Sanches dengan tatapan tajam.
"Oleh karena itu kita harus menyerang dia lebih dahulu sebelum kita yang diserang"
"Aku setuju dengan ucapan Mr. George" ucap Roy dengan suara dingin.
"Tapi" ucap Henry yang langsung dipotong Roy.
"Jangan menganggap remeh musuhmu karena bisa jadi kamu yang akan dihabisi terlebih dahulu" potong Roy dengan tatapan berkilat tajam.
Semua ya diam membenarkan ucapan Roy karena saat ini jika mereka gegabah dan tidak memiliki rencana matang maka mereka yang akan habis lebih dahulu.
"Jadi apa rencanamu anda Mr. Martinez?" tanya Sanches.
"Kita urus masalah Mr. Richie lebih dahulu sebelum nama kita muncul di kasus ini" jawab Roy dengan suara tegas.
"Besok anda tenang saja Mr. Richie karena penyidik yang akan mengintrogasi anda adalah orangku" ucap Sanches sambil menghembuskan asap rokok.
"Baiklah Mr. George aku percaya sama kamu" balas William.
"Lalu kapan kita memberi pelajaran ke anak sialan itu? Apa lagi saat ini dia berada di Italia wilayah kekuasaan kita" ucap Henry.
"Mr. George batasi pergerakan Denis didalam begera ini dan tetap awasi kemana pun dia pergi selama 24 jam" titah Roy dengan suara tegas.
"Heemmm" deham Sanches sambil mengangguk kepalanya.
"Setelah kasus Mr. Richi selesai kita langsung menangkap Denis Arkana" ucap Roy sambil tersenyum menyeringai.
"Baik" ucap William, Sanches, dan Henry dengan serentak.
Tak terasa waktu pun berlalu dengan sangat cepat, semalam Roy sudah bertemu dengan calon suami Seila dan sudah menentukan tanggal pernikahan mereka yang akan diadakan 3 Minggu lagi.
Saat ini ia sedang menonton berita tentang William yang sedang melakukan penyelidikan selama 72 jam di kantor polisi Roma.
Seluruh siaran televisi hari ini penuh dengan berita tentang William Richie senat tertinggi di Italia yang terjerat kasus perdagangan manusia.
~ Bandar Udara Internasional Leonardo Da Vinci ~
Arsen turun dari jet pribadi miliknya sambil memakai kaca mata hitam. Hari ini ia berpenampilan santai sambil memakai tas belakang dan satu buah koper.
"Aku kira kamu tidak datang bocah mata empat" ucap Sandro yang bersandar di mobil.
"Ckk!! Sebaiknya kamu pikirkan saja dirimu serta penjelasan yang bagus untuk bos nanti" decak Arsen sambil tersenyum menyeringai.
"Sialan!" sarkas Sandro dengan kesal.
Hehehehe.............
__ADS_1
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue..................