
Setibanya di markas semua anak anggota Black Devil tercengang sekaligus merinding melihat penampilan bos mereka yang seperti monster berdarah dingin. Max yang sudah tahu kejadian di Puncak berdiri dengan sopan menyambut kedatangan sang bos di depan pintu markas.
“Hancurkan geng Ular Cobra malam ini juga” titah Denis dengan suara dingin dan aura membunuh saat tiba didepan Max.
“Siap laksanakan bos” ucap Max dengan suara dingin.
“Lakukan dengan bersih” ucap Denis dengan tatapan tajam.
“Baik bos”
“Bos apa aku boleh ikut bermain bersama ka Max malam nanti” pinta Arkan dengan wajah memelas.
“Heemm” deham Denis sambil mengangguk kepalanya.
“Yeay! Terima kasih bos” seru Arkan dengan senang.
Denis segera menuju ke kamar pribadinya meninggalkan Arkan, Adrian, dan Max disana yang sedang membahas tentang rencana penyerangan malam nanti ke markas geng Ular Cobra sekaligus ingin membuat geng itu hilang dari muka bumi.
“Bocah apa kamu yakin akan ikut malam nanti?” tanya Adrian setelah keduanya sampai di mini bar.
“Yakinlah!” ucap Arkan dengan suara tegas.
“Kenapa kamu mau ikut dalam misi Max malam nanti?” tanya Adrian dengan penasaran.
“Karena aku ingin menghancurkan semua milik siular sialan itu karena sudah menculik ka Leila dan melukainya” jawab Arkan dengan berapi-api mengingat keadaan kakaknya waktu di vila tadi.
Adrian mengangguk kepalanya sudah paham apa tujuan Arkan ingin ikut misi nanti malam dan ia yakin pasti Arkann ingin sekali menghabisi Kenzo tadi tapi sudah didahului oleh Denis.
Sedangkan Sandro yang sedang dalam perjalanan pulang ke Jakarta bersama Arsen, Ando, dan anak buah mereka tersenyum smirk membaca pesan grub Black Devil yang memberitahu informasi mengenai misi sebentar malam.
Sandro mengangkat kepalanya dan langsung bertatapan dengan Arsen yang juga menatapnya lewat kaca spion memberi isyarat kepada Sandro tentang Ando yang duduk disampingnya setelah membaca pesan grub.
Eheemm………….
Sandro berdeham mengagetkan Ando yang sedang menatap ke luar mengingat kematian sang ayah dan adiknya yang sangat menyakitkan baginya. Ia mengontrol emosinya dan melihat ke arah Sandro bertanya ada apa lewat matanya.
“Malam nanti kami akan menyerang markas kalian” ucap Sandro memberitahu.
“Lakukan saja karena aku tidak perduli” ucap Ando dengan suara dingin dan santai.
“Oke”
“Apa aku boleh meminta sesuatu?” tanya Ando dengan cepat.
“Katakan” jawab Sandro sambil menatap Ando dengan tatapan tajam.
“Kalian boleh menghancurkan dan membakar markas kami tapi aku mohon jangan membunuh anggota geng Ular Cobra karena selama ini mereka semua hanya melakukan perintah anj*ng itu” pinta Ando dengan suara tegas.
“Kenapa kamu ingin menyelamatkan mereka?” tanya Sandro sambil menyipit matanya selidik.
“Karena biar bagaimanapun mereka adalah sahabat yang sudah menjadi keluarga aku selama ini” jawab Ando dengan tulus.
“Baiklah aku akan mengabulkan permohonanmu itu” ucap Sandro.
“Terima kasih”
Arsen diam saja didepan mendengar pembicaraan keduanya dan ia sangat suka dengan sifat Ando yang masih memikirkan teman-temannya yang selama ini sudah berjuang bersamanya, meski yang mereka lakukan kebanyakan adalah tindak kejahatan yang sangat fatal.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Jiwa solidaritasnya sangat tinggi, batin Arsen.
~ Puncak, Bogor ~
Detektif Gilang dan anak buahnya kaget bukan main sampai di vila pribadi milik Kenzo setelah mendapat kabar tentang keberadaan Kenzo yang berhasil mereka lacak.
__ADS_1
Kedatangan mereka kesini ingin menangkap Kenzo untuk kasus ayahnya dan juga seorang pengedar narkoba terbesar di Asia yang selama ini mereka selidiki.
“Apa yang terjadi disini?” tanya Ringgo dengan syok melihat kondisi Kenzo yang sangat prihatin.
“Sepertinya baru saja ada pertempuran besar disini?” jawab Luki.
“Menurutku tidak! Jika pertempuran besar pasti bangunan di sekitar vila hancur. Tapi ini hanya dalam vila saja yang hancur meski tidak parah” ucap Ari dengan pemikirannya.
“Lalu menurutmu ada berapa orang yang berkelahi dengan Kenzo Arjuna?” tanya Luki.
“3 atau 4 orang mungkin” jawab Ari.
“Satu” ucap detektif Gilang yang sedari tadi diam.
“Eh! Maksud anda komandan?” tanya Luki.
“Hanya satu orang saja yang berkelahi dengan Kenzo Arjuna tepatnya menghajarnya” jawab detektif Gilang sambil menatap anak buahnya dengan tatapan tajam.
“Dari mana komandan tahu jika Kenzo Arjuna dihajar oleh satu orang?” tanya Ringgo dengan penasaran.
“Feelingku saja” jawab detektif Gilang dengan ambigu.
Ringgo dan lainnya di buat tak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan komandan mereka yang sangat santai sekaligus membingungkan. Detektif Gilang menghisap rokok sambil berkeliling didalam vila tidak memperdulikan tim investigasi yang sedang mengambil foto disana.
Kenzo sendiri sudah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan. Mata detektif Gilang lalu tertuju kepada jari-jari tangan milik Kenzo yang sudah di kumpulkan di satu tempat untuk di bawa ke rumah sakit.
Aku yakin orang yang melakukan ini semua kepada Kenzo Arjuna adalah seseorang yang memiliki jiwa psychopath, batin detektif Gilang dengan tatapan sulit diartikan.
Phew……………
Ia menghembuskan asap rokok ke udara merasa pusing dengan skandal-skandal Kenzo yang tiba-tiba muncul di publik setelah ia mendapat semua bukti-bukti tentang Kenzo mengenai kasus ayahnya dari Arsen beberapa jam sebelum itu.
“Sepertinya aku harus bertemu dengan Arsen Sanjaya” gumam detektif Gilang sambil mendial nomor Arsen.
Detektif Gilang menunggu dengan sabar panggilannya diangkat tapi hingga pangilannya berakhir Arsen tidak menjawab panggilannya. Baru saja ia ingin menaruh kembali hpnya didalam jeket tiba-tiba hpnya berdering dengan nama Arsen Sanjaya di layar.
“Ada apa anda memanggil aku barusan detektif?” tanya Arsen to the point dari seberang.
^^^“Aku ingin bertemu dengan anda tuan muda Sanjaya” jawab detektif Gilang dengan cepat.^^^
“Jam 23:00 malam di club Zues ruangan saat kita bertemu terakhir kali disana” ucap Arsen dengan suara dingin.
^^^“Bai…”^^^
Detektif Gilang menatap hpnya dengan wajah pias saat panggilan mereka sudah terputus, padahal ia belum menyelesaikan ucapannya tapi sudah diputuskan sepihak oleh Arsen.
“Ckk!! Orang kaya memang aneh” decak detektif Gilang dengan kesal.
~ Markas Utama Black Devil ~
“Siapa?” tanya Sandro setelah Arsen selesai bertelpon.
“Detektif Gilang. Dia ingin menemuiku dan aku menyuruhnya ke club Zeus nanti malam jam 11” jawab Arsen sambil berkutat dengan laptop didepannya.
“Buat apa dia ingin menemuimu bocah mata empat?” tanya Sandro dengan selidik.
“Aku tidak tahu” jawab Arsen dengan jujur.
“Apa dia ingin mencari tahu tentang kejadian di vila tadi?” tanya Sandro menebak apa maksud detektif Gilang ingin bertemu Arsen.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Arsen mengangkat kedua bahunya menjawab tak tahu dengan maksud detektif Gilang yang ingin menemuinya nanti malam. Keduanya lalu segera memeriksa laporan perusahaan dan markas sebelum memberikan kepada Denis.
~ Rumah Arkana ~
__ADS_1
Denis keluar dari dalam mobil sambil mengendong Leila diikuti oleh Adrian disampingnya masuk ke dalam rumah yang sudah di tunggu Amira dengan cemas didepan pintu.
“Leila” ucap Amira dengan kaget melihat Leila yang di gendong anaknya.
Rasa cemas dan khawatir melanda dirinya saat melihat tubuh Leila yang terdapat perban dan memar. Air matanya mengalir dengan deras merasa sangat khawatir melihat Leila seperti itu.
“Jangan menangis ma aku tidak suka melihat mama menangis” ucap Denis dengan suara lembut.
“Hiks hiks hiks……….mama sangat mencemaskan Leila nak. Kenapa dia bisa seperti ini nak?” tanya Amira sambil menangis.
“Ayok kita masuk ke dalam ma nanti aku ceritakan didalam” jawab Denis.
“Bawa dia ke kamar mama saja nak biar mama saja yang menjaga dan merawatnya nak” titah Amira dengan penuh harap.
“Iya ma”
Mereka lalu masuk ke dalam rumah dan segera menuju ke kamar Amira melewati Seila, Seina, dan Simon yang duduk di ruang keluarga sedari tadi. Ketiganya mengerinyitkan kening dengan bingung melihat Denis yang datang sambil mengendong seorang perempuan.
“Siapa perempuan itu ka?” tanya Seina dengan penasaran.
“Kakak tidak tahu dek. Tapi wajahnya seperti tidak asing” jawab Simon yang juga sangat penasaran siapa yang digendong Denis barusan.
“Bukannya itu kakak cantik yang waktu itu kita temui saat pertema kali datang kesini” ucap Seila yang mengingat dimana pernah melihat Leila.
“Ah! Benar dek dia perempuan yang kita lihat waktu itu” ucap Simon dengan cepat.
“Ckk!! Cantik apaan? Aku lebih cantik dari dia!” decak Seina dengan sinis tak suka mendengar ucapan kembarannya barusan.
“Dia memang cantik Na” ucap Seila dengan suara tegas.
“No dia tidak cantik karena akulah yang paling cantik dari dia” ucap Seila dengan ketus.
Seila memutar malas matanya melihat sifat kembarannya yang sangat makan puji dan sombong. Sedangkan Seina terus melihat ke arah kamar tante Amira dengan pikiran berkelana memikirkan siapa itu Leila dan apa hubungannya dengan tante Amira dan Denis.
Karena setahunya tante Amira hanya punya satu anak saja dan tidak mempunyai keluarga lain. Bukan hanya Seina saja yang penasaran dengan identits Leila tapi Simon juga karena sedari awal melihat Leila ia sudah jatuh hati kepadanya.
Siapa perempuan itu dan apa hubungannya dengan tante Amira, batin Simon dengan penasaran.
Aku tidak perduli dia siapa. Tapi aku tidak akan membiarkan dia mendekati Denis karena Denis hanyalah milikku dan tidak boleh ada perempuan lain yang memilikinya selain aku!, batin Seina dengan tatapan tajam sambil mengepal kedua tangannya dengan erat.
Sedangkan didalam kamar Amira menangis sejadi-jadinya mendengar cerita Denis mengenai apa yang dialami oleh Leila barusan dan siapa yang sudah menculiknya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Denis memeluk mamanya sambil mengusap punggungnya agar lebih tenang dan jangan mengkhawatirkan Leila lagi karena saat ini ia sudah baik-baik saja dan tinggal menunggu pemulihan saja.
“Sudah jangan menangis lagi ma” ucap Denis dengan suara lembut.
“Hiks hiks hiks……………mama tidak bisa membayangkan bagaimana Leila akan seperti itu nak……………hiks hiks hiks” ucap Amira sambil menangis histeris.
“Ini semua salah mama…………hiks hiks hiks……………jika saja mama menemani dia masuk ke supermarket pasti dia tidak akan di culik dan mengalami ini semua nak” tambahnya lagi dengan rasa bersalah.
“Sutt………mama tidak boleh bicara seperti itu ma karena ini semua bukan salah mama “ ucap Denis dengan suara tegas.
“Tapi” ucap Amira yang langsung di potong Adrian.
“Benar yang dibilang Denis tante. Ini semua bukan salah tante dan jangan menyalahkan diri tante tapi salahkan saja Kenzo sialan itu tante” potong Adrian dengan emosi mengingat nama Kenzo.
Amira diam tak membalas ucapan keduanya dan berlalu duduk di ranjang sambil mengenggam tangan Leila dengan erat.
“Mama sayang sama kamu nak. Mama mohon kamu cepat sembuh ya nak” ucap Amira dengan suara sangat lembut.
Cup……………..
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
__ADS_1
To be continue………………..