
Alexandro yang sedang menatap Denis dan istrinya di taman belakang tidak sadar kalau kepala pelayan memanggilnya sedari tadi.
"Tuan" panggil kepala pelayan dengan suara kencang.
"Ada apa?" tanya Alexandro dengan tatapan sinis karena sudah mengagetkannya.
"Maafkan saya tuan. Saya sudah memanggil tuan dari tadi tapi tuan tidak merespon" ucap kepala pelayan menunduk meminta maaf.
"Heeemm! Suruh koki siapkan makan malam mewah dan minta Denis untuk makam malam bersama" titah Alexandro dengan suara tegas.
"Baik tuan"
"Dimana keluarga Martin?" tanya Alexandro dengan wajah berkilat tajam menahan emosi.
"Mereka sedang menonton di ruang keluarga tuan" jawab kepala pelayan.
"Awasi mereka dan jangan sampai mereka mengusik Denis" ucap Alexandro memberi perintah.
"Baik tuan"
Kepala pelayan segera keluar untuk menyampaikan perintah Alexandro kepada koki, tak lupa memberitahu Denis juga untuk tinggal makan malam disana.
Denis awalnya ingin menolak tapi neneknya terus membujuknya dan mau tak mau ia pun ikut makan malam disana.
Ia juga memberitahu sang nenek untuk mengajak ketiga anak buah kepercayaannya tak lupa dengan Thomas juga untuk makan malam bersama.
Kini tiba saatnya makan malam dan semua sudah duduk di meja makan tak lupa Arsen, Thomas, Arkan, dan Sandro juga.
"Bos Sandro apa tidak apa-apa aku ikut makan disini?" tanya Thomas berbisik.
"Ini perintah bos" jawab Sandro berbisik.
Thomas tak bertanya lagi dan diam dengan wajah datar dan dingin. Marcel dan Hana yang melihat Denis dan anak buahnya ikut bergabung di meja makan, mengepal tangan dengan erat di bawah meja menahan emosi.
*Sialan! Kenapa sih **daddy** harus ajak anak miskin ini buat makan malam bersama? Bikin seleraku hilang saja, batin Hana dengan kesal menatap Denis seakan ingin menelannya hidup-hidup*.
"Pergi saja kalau tidak berselera" usir Denis sambil tersenyum sinis.
Mata Hana seakan ingin keluar dari tempatnya mendengar ucapan Denis yang seakan tahu apa yang ia pikirkan.
Dari mana anak sialan ini tahu apa yang aku pikirkan, batin Hana penasaran.
"Tertera sekali di wajahmu perempuan tua" ucap Denis dengan suara dingin.
"Siapa yang kamu sebut perempuan tua sialan!" bentak Hana menunjuk Denis dengan pisau makan di depannya.
Byur...............
"Aarrgghh..........panas. Panas" teriak Hana dengan histeris saat Thomas menyiramnya dengan sup panas didepannya.
"Kurang ajar! Apa yang kamu lakukan ke mommy aku pengawal rendahan!" bentak Marcel dengan suara tinggi.
"Marcel Massimo perhatikan ucapanmu!" bentak Linda dengan suara menggelegar.
"Siapapun yang berkata buruk kepada bos kami harus di hukum" ucap Thomas dengan suara dingin.
"Kamu" tunjuk Marcel ingin menghampiri Thomas dan menghajarnya tapi ditahan oleh kepala pelayan.
Alexandro yang melihat suasana di meja makan susah tidak kondusif lagi, menghela napas dengan kasar tak tahu harus berkata apa.
"Pelayan bawa Hana ke kamar dan panggil dokter Beni" titah Alexandro.
"Baik tuan" jawab seorang pelayan.
"Kamu Marcel duduk kembali di tempatmu! Jika kamu ingin mencari keributan kakek tidak segan-segan mengusir kamu dari mansion" ancam Alexandro dengan suara tegas.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Marcel kembali duduk di kursinya tak berbicara apa-apa karena takut dengan ancaman sang kakek. Saat ini ia tidak bisa protes karena mereka sudah jatuh miskin dan hanya bisa menumpang hidup di mansion utama Massimo.
"Denis sebenarnya ada apa kamu dengan Hana nak?" tanya Linda dengan suara lembut.
Sebelum menjawab pertanyaan sang nenek Denis melirik ke arah Marcel dan kebetulan ia juga sedang memandangnya dengan mulut komat-kamit.
Ia tersenyum smirk seakan mengejeknya kalau Linda lebih perhatian dengannya dari pada dia.
Berengsek! Lihat saja aku akan membalasmu manusia rendahan, batin Marcel dengan tatapan penuh kebencian.
"Wanita itu tidak suka makan satu meja dengan aku nek" ucap Denis dengan suara dingin.
"Apa! Kurang ajar si Hana! Dia pikir dia siapa berani mengatur cucuku!" bentak Linda dengan kesal.
__ADS_1
"Mom jangan marah-marah. Ingat kesehatanmu belum pulih betul" ucap Alexandro dengan suara lembut sambil mengelus tangan istrinya.
"Aku itu kesal dad" ketus Linda.
"Nenek mommy tidak salah. Memangnya nenek dengar kalau mommy bilang tidak ingin makan malam satu meja dengan si miskin ini nek" protes Marcel sambil menunjuk Denis.
"JAGA BICARAMU MARCEL! DENIS INI KAKAK SEPUPU KAMU DAN KAMU TIDAK BOlEH BERKATA SEPeRTI ITU KEPADANYA!" bentak Linda dengan tatapan tajam.
Glek.............
Marcel menunduk menelan salivanya dengan susah tak berani melihat tatapan sang nenek yang terlihat sangat menyeramkan. Apa lagi semua pasang mata disana menatapnya seakan ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Uhm! Nek aku nanti saja makan ya soalnya aku ingin lihat keadaan mommy dan daddy dulu" ucap Marcel dengan cepat.
Ia bergegas pergi dari sana tak menunggu jawaban dari nenek dan kakeknya. Sedangkan Arkan yang sedari tadi menahan kesal, menatap kepergian Marcel dengan tatapan tajam.
"Bos aku ke kamar mandi dulu" ucap Arkan.
"Heemm! Gunakan waktumu sepuasnya" balas Denis sambil penuh arti.
"Oke bos" balas Arkan sambil tersenyum lebar.
Denis tersenyum menyeringai melirik kepergian Arkan, ia tahu apa yang akan dilakukan oleh Arkan karena Arkan tidak akan ke kamar mandi melainkan ingin bermain sebentar.
"Cucuku lebih baik kita makan saja tidak usah perduli dengan mereka" ajak Linda sambil tersenyum manis.
"Iya nek" balas Denis.
Denis lalu menikmati stik didepannya beberapa sendok saja karena lidahnya tidak cocok dengan makanan itu. Apa lagi rasanya yang aneh membuat dia tidak menghabiskannya.
Aku ingin sekali masakan istriku, batin Denis.
Seperti tebakan Denis tadi ternyata Arkan bukan pergi ke kamar mandi tapi mengikuti Marcel menuju kamarnya di lantai dua.
Klik..............
Arkan mengunci pintu kamar Marcel setelah berhasil masuk ke dalam. Ia berbalik melihat kamar yang kosong tak beberapa lama Marcel keluar dari balkon setelah menelpon.
"Kamu! Beraninya kamu masuk ke kamar aku berengsek!" tunjuk Marcel dengan suara tinggi.
Hehehehe.............
Arkan terkekeh tak membalas ucapan Marcel, ia lalu maju menghampiri Marcel sambil memainkan pistol di tangan kirinya.
"Aku bilang jangan mendekat bajingan!" bentaknya lagi dengan gemetar ketakutan.
"Kenapa? Apa kamu takut? Dimana semangatmu tadi yang mengatai bosku?" tanya Arkan sambil tersenyum menyeringai.
"Pergi! Pergi sialan!" teriak Marcel.
Bugh.............bugh..........bugh............
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Arkan menghajar Marcel dengan brutal tak memberinya kesempatan untuk membalas pukulannya. Marcel hanya pasrah saja dihajar Arkan karena tidak bisa berbuat apa-apa.
Krek.................eemmppp...........
Marcel berteriak kesakitan tapi tidak ada suara yang keluar karena mulutnya di bekap Arkan. Air matanya mengalir dengan deras merasa sangat kesakitan di bagian kaki kiri karena di patah Arkan.
Arkan yang melihat Marcel kesakitan dan ketakutan tersenyum lebar karena sudah memberi pelajaran kepada Marcel.
"Ini peringatan buat kamu berengsek! Jangan pernah mengatai bosku kalau tidak kamu tinggal nama saja di bumi ini" ancam Arkan didepan wajah Marcel sambil tersenyum smirk.
Ia lalu keluar dari kamar Marcel dengan senang karena susah berhasil memberi pelajaran kepada Marcel. Dengan santai Arkan ikut makan malam di bawah sana seperti tidak terjadi apa-apa.
Tepat jam 21:00 malam Denis lalu pamit pulang karena besok ia harus pergi dari negara ini. Tak lupa ia juga memberitahu tentang keberangkatan Linda 2 hari lagi ke Indonesia.
~ Mansion Simon Martinez ~
Huaaawaa................
Tangis Seila dan Riana pecah didalam mansion milik Simon saat ada yang mengantar paket berisi mayat Roy Martinez.
Apa lagi kondisi mayat Roy sudah tidak bisa dikenali karena dipenuhi luka dan darah di sekujur tubuhnya.
"Hiks hiks hiks..........dad kenapa kamu pergi secepat ini.........hiks hiks hiks............kenapa dad?" tanya Riana sambil menangis histeris.
"Daddy aku mohon jangan tinggalkan aku, kakak, dan mommy.........hiks hiks hiks........bangun daddy. Bangun" teriak Sial sambil menangis histeris.
"Bram persiapan pemakaman daddy aku besok pagi" titah Simon dengan suara tegas.
__ADS_1
"Baik tuan" jawab Bram sambil berlalu keluar.
"Ka.........hiks hiks hiks.........siapa yang berbuat daddy seperti ini ka...........hiks hiks hiks.........siapa ka?" tanya Seila dengan sesegukan karena sedang menangis.
"Simon kamu harus balas kematian daddy kamu........hiks hiks hiks.........mommy yakin ini semua karena anak sialan itu........hiks hiks" ucap Riana dengan berapi-api.
"Iya kak mommy benar. Aku yakin ini semua ulah Denis sialan itu" seru Seila dnehan tatapan penuh kebencian.
"Diam! Bisa tidak kalian tidak menyalahkan orang lain lagi!" bentak Simon dengan suara tinggi.
"Kamu bentak mommy Simon" pekik Riana dnehan suara tak kalah tinggi.
"Iya mom memangnya kenapa. Di pikiran mommy itu hanya ada balas dendam saja dan tidak pikir kenapa Ini semua terjadi sama daddy. Seharusnya mommy introspeksi diri dan jangan menyalahkan orang lain" teriak Simon dengan suara lantang sampai urat lehernya terlihat.
Hening!
Tidak ada yang berbicara atau menangis saat mendengar ucapan Simon.
"Asal kalian tahu, daddy yang selama ini kita kenal itu adalah seorang pembunuh berdarah dingin dan karena daddy Denis harus kehilangan papanya saat berumur 9 tahun dan harus menderita dengan tante Amira selama ini" ucap Simon lagi dengan suara menggelegar.
Simon berlalu pergi tak ingin kembali emosi melihat mommy dan adiknya yang terus menyalahkan Denis. Padahal ia sangat malu untuk berhadapan lagi dengan Denis atau tante Amira karena ulah daddynya.
Kenapa sampai matipun daddy masih saja menyusahkan aku, batin Simon sambil mengepal kedua tangannya.
Ting.............
Seina My Sister
"Aku udah berangkat sekarang ke sana ka"
Simon tak membalas pesan sang adik dan malah meneruskan pesan Seina kepada Sandro, memberitahu tentang kedatangan Seina kesini setelah mendengar kabar kematian daddy mereka.
"Uncle Demian maafkan daddy aku" ucap Simon sambil menatap langit dengan tatapan sedih.
~ Markas Black Devil I ~
Sandro yang mendapat pesan dari Simon segera menelpog istrinya tapi sial nomor Seina sudah tidak aktif.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Ia lalu menelpon ibunya bertanya tentang istrinya dan ternyata benar istri dan anaknya sedang dalam perjalanan kesini.
"Sial!" umpat Sandro dengan kesal.
Ia lalu menghampiri Denis yang sedang berada didalam ruang kerja untuk memberitahu jika ia tidak bisa pergi bersama mereka besok.
"Baiklah kamu temani Seila dan setelah urusan kalian selesai disini barulah kalian kembali" ucap Denis dengan suara dingin.
"Baik bos terima kasih" ucap Sandro dengan senang.
"Heemmm"
~ Bandar Udara Internasional Leonardo Da Vinci ~
Denis bersama rombongannya sudah tiba di landasan pribadi khusus untuknya pagi-pagi sekali. Ia segera masuk ke dalam jet dan menyuruh pilot untuk segera berangkat ke Venezuela.
Sedangkan Sandro ia sedang menunggu istrinya di bandara setelah melihat kepergian Denis dan lainnya, karena 30 menit lagi jet pribadinya akan tiba.
30 Menit kemudian
Jet pribadi Sandro akhirnya landing di landasan pribadi milik Denis. Ia berdiri di depan mobil menunggu istri dan buah hati mereka.
"Mas" panggil Seila dengan kaget melihat suaminya yang sudah menunggu mereka di bawah sana.
Grep................
Sandro memeluk istrinya dan mengecup bibirnya singkat tak lupa anak mereka. Ia lalu membawa keduanya masuk ke dalam mobil untuk segera pergi ke mansion Simon.
"Kamu harus dihukum karena datang tidak meminta izin sama suamimu honey" ucap Sandro dengan suara tegas.
"Maaf mas. Aku terlalu panik setelah mendapat kabar dari ka Simon dan aku tidak sempat mengabari kamu" ucap Seila mengaku bersalah.
"Tetap kamu harus dihukum honey" ucap Sandro sambil mengangkat dagu istrinya sehingga kedua saling bertatapan.
"Iya mas aku terima saja" ucap Seila dengan gugup.
Cup...............
Sandro mencium bibir sang istri yang sudah ia rindukan selama ini. Ia lalu membawa Seila ke dalam pelukannya sambil mengelus puncak kepalanya dengan lembut.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
__ADS_1
To be continue..............