
Sandro dan Seila saat ini sedang berdiri tepat di depan Denis didalam ruang kerjanya.
Meski jam sudah menunjukkan pukul 01:00 dini hari tapi Denis yang tidak bisa tidur jika tidak ditemani Leila, memilih mengerjakan semua laporan perusahaannya.
Denis menatap kedua orang didepannya dengan wajah datar dan dingin, tak menyangka mereka berdua akan langsung menemuinya saat tiba di Indonesia.
"Satu hari" ucap Denis sambil tersenyum menyeringai.
"Iya bos sesuai perintah bos" balas Sandro sambil tersenyum lebar.
"You tell her?" (kamu sudah memberitahunya) tanya Denis dengan suara dingin.
"Yes i do bos" (aku sudah memberitahunya bos)
"Heeemmm! Aku tahu kamu mengerti apa yang aku katakan" ucap Denis dengan menggunakan bahasa Indonesia sambil menatap Seila.
"Ya aku mengerti. Aku hanya belum bisa terlalu lancar berbicara dengan bahasa Indonesia ka" ucap Seila dengan pelan.
"Jadi apa rencana kamu sekarang?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Pertama aku tidak akan pulang ke Italia. Aku mohon sama ka Denis untuk menolong aku dari anak buah daddy yang pasti akan mencari aku sampai ke sini" jawab Seila dengan suara tegas.
"Biarkan Seila bersama aku bos. Aku yang akan menjaganya dan melindunginya dari pak tua itu bos" ucap Sandro dengan cepat.
"Tidak ka Sandro. Aku tidak ingin kakak menjadi sasaran daddy" tolak Seila dengan cepat.
"Jangan melarang aku baby! Apa yang aku putuskan itu sudah menjadi pilihanku!" tegas Sandro sambil menatap kekasihnya dengan tajam.
"Tapi" ucap Seila yang langsung di potong Denis.
"Menurutku ucapan Sandro ada benarnya juga" potong Denis.
"Ka Denis" lirih Seila sambil menggelengkan kepalanya tak setuju.
"Sandro tangan kananku sekaligus kekasihmu. Aku yakin dia akan menjaga kamu seperti dirinya sendiri" balas Denis dengan suara tegas.
"Itu sudah pasti bos" tambah Sandro.
"Lalu apa rencana kamu?" tanya Denis sambil menatap Sandro dengan tajam.
"Aku akan menikahinya secepatnya bos" jawab Sandro dengan suara tegas.
"APA!" pekik Seila dengan suara tinggi karena kaget.
Denis tersenyum menyeringai melihat Sandro dimana ia tadi sudah menebak apa yang akan dilakukan oleh Sandro.
"Lakukan apa yang ingin kamu lakukan tapi sebelum itu kamu harus memberitahu hal ini kepada kakaknya" ucap Denis.
"Pasti bos" balas Sandro.
"Bawa dia pulang" titah Denis dengan suara dingin.
"Baik bos"
"Aku menunggu laporan hari ini besok pagi di perusahaan" ucap Denis dengan suara dingin.
"Siap bos" balas Sandro sambil mengangguk kepalanya.
Sandro dan Seila segera pergi dari sana setelah tidak ada lagi yang ingin mereka katakan kepada Denis.
Melihat hal itu Denis segera mengambil hpnya dan mengirim pesan kepada Simon tentang Seila dan tak membutuhkan waktu lama pesannya langsung di balas Simon.
Simon Martinez
"Terima kasih Denis"
^^^"Dia sekarang berada di bawah tanggung jawab tangan kananku"^^^
"Apa maksudmu?" tanya Simon dengan bingung dari seberang.
^^^"Mereka sepasang kekasih dan mungkin besok dia akan menghubungimu"^^^
__ADS_1
"Apa? Sejak kapan adik aku mempunyai kekasih?"
Denis hanya membaca pesan Simon tak berniat menjelaskannya karena menurutnya itu tidak penting dan juga bukan urusannya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Yang terpenting ia sudah menjalankan bagiannya untuk menolong Seila dari perjodohan itu.
~ Roma, Italia ~
Simon membuang napasnya berulang kali karena pesannya tidak dibalas sama sekali oleh Denis.
Ia yang sangat penasaran apa yang dimaksud oleh Denis ingin sekali menelponnya dan menanyakannya langsung tapi ini bukan waktu yang tepat.
Ia saat ini sudah berdiri didepan pintu mansion utama Massimo.
"Maaf membuat anda menunggu lama tuan muda Martinez" ucap Justin dengan sopan.
"Tidak apa-apa uncle Justin" balas Simon dengan berwibawa.
"Silahkan ikut saya. Anda sudah di tunggu tuan besar di ruang kerjanya" ucap Justin sambil berbalik menuntun Simon ke ruang kerja Alexandro.
Simon mengikuti langkah uncle Justin dengan langkah tegap menuju ke ruang kerja Alexandro Massimo di lantai dua.
Sepanjang jalan ia melihat sekeliling mansion dan mendapati banyak sekali foto-foto Demian Arkana Massimo yang terpajang disana.
Meski uncle Demian diusir tapi kenangannya tidak pernah disingkirkan dari mansion utama, batin Simon.
Tok.........tok...........tok........
Simon berdiri didepan pintu kayu yang terlihat sangat mahal di belakang uncle Justin yang sedang mengetuk pintu.
Keduanya lalu masuk ke dalam ruangan tersebut dan langsung di sambut dengan wajah tegas dan berwibawa seorang Alexandro Massimo.
Meski umurnya sudah lanjut usia tapi aura dan perawakannya terlihat masih sangat bugar dan mengintimidasi orang lain.
"Selamat datang di mansion aku tuan muda Martinez" ucap Alexandro dengan suara tegas.
"Terima kasih sudah mengizinkan saya datang kesini tuan besar Massimo" balas Simon dengan sopan.
"Panggil saja Simon tuan besar. Lagian ini bukan pertemuan formal" ucap Simon dengan sopan.
"Baiklah. Kalau begitu anda bisa memanggil aku kakek jika kita hanya berdua saja seperti ini" ucap Alexandro sambil tersenyum tipis.
"Baik kek"
"Jadi ada maksud apa Sandro kesini?" tanya Alexandro dengan cepat.
Sebelum memberitahu maksud kedatangannya Simon melirik uncle Justin yang berdiri di samping Alexandro. Melihat hal itu Alexandro tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Simon.
"Tenang saja uncle Justin adalah orang kepercayaan kakek" ucap Alexandro dengan cepat.
"Dia adalah salah satu orang kepercayaan kakek yang tahu semua permasalahan dalam keluarga dan perusahaan kakek" tambahnya lagi.
"Baik kek aku paham" balas Simon.
Simon lalu memberikan sebuah flashdisk berwarna merah kepada Alexandro. Melihat hal itu Justin segera mengambilnya dan memasang flashdisk tersebut di laptop.
Alexandro membaca setiap informasi yang tertera didalam sana dan kaget tak menyangka anaknya seperti itu.
"Sejak kapan?" tanya Alexandro dengan suara dingin.
"1 Tahun yang lalu. Alasan daddy membantu perusahaan kakek juga karena perjanjian daddy dan uncle Martin" jawab Simon dengan cepat.
"Jadi bantuan daddy kamu waktu itu karena ada alasannya?" tanya Alexandro dengan tatapan tajam.
"Ya 20% saham di perusahaan kakek" jawab Simon.
Brak.............
Alexandro menggebrak meja didepannya membuat Simon dan Justin kaget. Keduanya melihat Alexandro yang sudah berwajah merah padam menandakan ia sangat emosi.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa kamu memberitahu ini kepada kakek?" tanya Alexdro dengan tatapan membunuh.
"Karena aku membenci daddy. Karena daddy kedua adik aku harus dipaksa menikah dengan perjodohan yang tidak masuk akal" jawab Simon dengan emosi.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Alexdro memicing matanya melihat Simon dengan selidik tidak percaya begitu saja dengan ucapannya.
"Adik aku Seila kemarin di kirim ke Singapura untuk menikah dengan teman daddy yang seumuran dengannya" papar Simon menjelaskan.
"Bukan hanya Seila saja tapi Seina juga di jodohkan dengan cucu kakek dengan alasan yang tidak masuk akal" tambahnya lagi.
"Cucuku?" tanya Alexdro dengan bingung.
"Iya kek. Denis Arkana!" jawab Simon dengan suara tegas.
Deg..............
Jantung Alexandro berdetak dengan cepat mendengar nama tersebut yang selalu membuatnya hancur dan sedih.
Simon mengerutkan keningnya meliaht wajah Alexandro yang seketika berubah drastis saat mendengar nama Denis disebut.
Ia lalu menjelaskan apa yang terjadi kepada Seila adiknya dan semua yang mereka alami saat di Indonesia. Alexandro diam mendengar cerita Simon tentang cucunya yang ternyata memiliki sifat sama persis dengan putranya.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Alexandro yang sedari tadi diam tidak berbicara.
"Iya kek dia baik-baik saja" jawab Simon.
Alexandro kembali bungkam dan meneteskan air mata mengingat Denis. Melihat hal itu Simon lalu sengaja mengalihkan pembicaraan mereka karena tidak ingin membuat Alexandro sedih.
"Kek apa aku bisa menemui nenek?" tanya Simon dengan was-was.
"Buat apa kamu ingin menemui istriku?" tanya balik Alexandro dengan selidik.
"Nenek adalah orang ketiga yang aku hormati selain daddy dan mommy. Nenek pernah memberikan aku kepercayaan diri saat aku akan menjadi ketua OSIS di sekolah waktu itu" jawab Simon sambil tersenyum hangat.
Alexandro mengamati wajah Simon saat mengatakan hal itu dan tidak mendapati kebohongan dari setiap ucapannya.
"Ayo ikut kakek" ajak Alexandro membuat Simon senang bukan main.
Keduanya lalu menuju ke kamar utama dimana disana nyonya di mansion ini berada.
Saat masuk ke dalam Simon kaget melihat tubuh orang yang selama ini ia hormati terbaring lemah di atas ranjang dengan alat-alat rumah sakit.
Tes................
Air matanya jatuh melihat miaht kondisi tubuh Linda Massimo yang sangat kurus.
"Aku harap nenek cepat sembuh" ucap Simon dengan suara bergetar.
Alexandro membelakangi Simon karena tak ingin Simon melihatnya menangis. Melihat hal itu Simon lalu mendekat ke arah Linda dan membisikan sesuatu.
"Denis Arkana cucu nenek sangat menyayangi nenek dan ingin sekali melihat nenek" bisik Simon.
Saat Simon membisikan hal tersebut air mata Linda jatuh seakan ia bisa mendengar setiap ucapan.
~ Rumah Arkana ~
Denis menatap wajah papanya dengan perasaan rindu yang sangat mendalam. Amira yang melihat hal itu segera menghampiri anaknya dan memeluknya dari samping.
"Papa kamu sangat tampan waktu itu" ucap Amira dengan suara lembut.
"Ya karena buktinya aku juga sangat tampan ma" balas Denis sambil menatap namanya dengan tatapan hangat.
"Ya kamu benar nak" balas Amira dengan senyum manis.
Denis memeluk sang mama dengan sangat erat sambil menatap foto sang papa yang sangat tampan didepan sana.
"Ma apa papa pernah mengajak mama ketemu dengan nenek?" tanya Denis.
Deg................
__ADS_1
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue................