
Setelah 2 jam kepergian Denis, Simon bergegas kembali ke perusahaan bersama dengan Bram. Ia sangat penasaran bagaimana reaksi daddynya ketika tahu rencananya gagal.
Sampai di lobby Simon tersenyum melihat daddynya yang baru keluar dari lift dengan uncle Martin dengan wajah emosi.
Hehehehe.........sepertinya rencana aku berhasil, batin Simon sambil terkekeh.
"Daddy" panggil Simon saat keduanya berhadapan.
"Dari mana kamu?" tanya Roy dengan suara dingin menahan emosinya.
"Aku baru aja selesai meeting dengan Archile Company daddy" jawab Simon dengan jujur.
"Beneran?" tanya Roy dengan selidik.
"Kalau daddy tidak percaya hubungi saja direktur Archile dan tanya langsung ke dia" jawab Simon dengan suara tegas.
Roy di buat bungkam dengan ucapan sang anak meski dalam hatinya ia mencurigai sang anak yang membantu Denis lolos dari pemeriksaan.
"Dude kita tidak ada waktu lagi" bisik Martin.
"Heemmm" deham Roy.
Ia bergegas pergi bersama Martin tidak berbicara satu katapun dengan Simon. Simon berbalik menatap kepergian daddynya sambil tersenyum smirk karena tahu daddynya akan ke mana.
Jangan harap semua rencana daddy akan berhasil karena aku akan terus menggagalkannya, batin Simon dengan tatapan penuh amarah.
~ Markas Nine Cloud ~
Roy masuk bersama Martin yang sudah di tunggu oleh 7 orang anggota Nine Cloud didalam sana.
"Bisa anda jelaskan Mr. George kenapa Denis Arkana bisa lolos dari pantauan anda?" tanya Roy dengan suara tinggi.
"Ini semua karena kamu sialan! Coba saja anak buahmu tidak kecolongan aku pasti sudah berhasil menangkapnya berengsek!" bentak Sanches tak terima dengan perlakuan Roy.
"Biadab! Kamu sudah gagal menjalankan misi ini malah melempar kesalahan ke aku!" hardik Roy dengan suara tinggi.
"Aku tidak melempar kesalahan ke kamu tapi ini memang kenyataannya kalau anak buahmu yang tidak becus bangsat!" maki Sanches dengan emosi.
"Bukan anak buahku tapi kamu sialan!".
"Kamu berengsek"
"Kamu"
"Kamu"
Keduanya saling tuding menuding melempar kesalahan membuat ketujuh orang didalam sana menutup mata mengontrol emosi mereka.
Brak................
William mengebrak meja mengagetkan semuanya. Roy dan Sanches seketika diam saat mendapat tatapan tajam dari William.
"Apa kalian pikir ini waktunya saling menyalahkan!" bentak William dengan suara tinggi.
Keduanya diam tidak bisa menjawab ucapan William. Suasana seketika terasa hening karena tidak ada yang berbicara, melihat hal itu Roy segera angkat bicara.
"Maafkan aku yang tersulut emosi tadi" ucap Roy dengan berwibawa.
"Sebaiknya anda kontrol emosi anda Mr. Martinez karena jika tidak maka semua rencana kita selama ini akan hancur berantakan" ucap Yuri dengan saura dingin.
"Ya aku akan ingat kata-kata anda Mr. Yuri" balas Roy dengan suara tegas.
"Kalau begitu apa sudah bisa kita membahas masalah tadi?" tanya Dante dengan suara dingin.
"Ya" jawab Roy dengan suara tegas.
Mereka lalu membahas tentang Denis yang lolos begitu saja hari ini, padahal Sanches sudah mengeluarkan perintah untuk menahannya.
Tak hanya itu saja mereka juga membahas rencana selanjutnya dari informasi yang sudah dikumpulkan oleh Dante dan Sanches.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Jadi untuk rencana selanjutnya aku percayakan ke Mr. Draw" ucap Roy dengan tegas.
"Boleh saja tapi aku butuh aliran dana yang besar jika ingin melakukan rencana ini" ucap Alan dengan suara tegas.
"Untuk dana anda tidak perlu khawatir karena dana gelap kita selama ini akan masuk ke rekening anda" jawab William sambil tersenyum menyeringai.
"Jika seperti itu maka semuanya sudah beres" balas Alan sambil tersenyum lebar.
"Satu hal yang perlu Anda waspadai nanti yaitu jangan sampai Denis mencurigai anda kalau anda berhubungan dengan aku dan Martin Mr. Draw" ucap Roy memperingatinya.
"Ya aku tahu. Lagian aku tidak akan pergi ke sana sendirian ya kan Mr. Othello" balas Alan sambil tersenyum smirk.
"Ah! Jadi rencana bisnis aku ternyata sudah sampai di telinga anda ya Mr. Draw" ucap Luca sambil tersenyum penuh arti.
"Hehehehe! Anda bisa menebaknya sendiri" balas Alan sambil terkekeh.
"Aku akan ikut kesana juga" ucap Dante dengan suara dingin.
"Wah wah wah! Lihat siapa yang ingin bertemu dengan musuh lamanya" cerca Yuri sambil tersenyum lebar.
"Aku rasa kalian akan butuh kekuatan dunia bawah disana" balas Dante dengan santai.
"Aku setuju dengan ucapan Mr. Constanzo" ucap William.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu yang akan pergi ke Indonesia yaitu Mr. Draw, Mr. Constanzo, dan Mr. Othello. Sampai disana jangan lupa selalu beri kabar kepada kami seperti biasa" ucap Roy dengan suara tegas.
"Baik" ucap ketiganya dengan serentak.
"Mr. George aku butuh kekuasaan anda untuk membawa masuk pasukan aku ke sana" pinta Dante.
"Serahkan semuanya kepadaku" balas Sanches.
"Baiklah"
Setelah membahas semuanya, mereka lalu membubarkan diri dan pergi dari sana kembali ke rutinitas mereka seperti biasa.
~ Jakarta, Indonesia ~
Setelah 13 jam lebih di udara akhirnya rombongan Denis tiba di Jakarta tepat pukul 02:00 dini hari.
Anak buah Denis sudah bersiap di bawah jet menunggu kedatangan Denis bersama Arsen. Biasanya Sandro yang akan menjemput Denis tapi berhubung kondisinya belum pulih maka dia yang menjemputnya.
"Selamat datang kembali bos" ucap Arsen dengan suara dingin.
"Kita ke mansion" titah Denis dan segera masuk ke dalam mobil.
"Baik bos"
Arsen lalu membukakan pintu untuk Denis yang sedang mengendong istrinya yang sudah terlelap. Mereka lalu bergegas menuju mansion Denis bersama dengan Amira juga.
~ Mansion Denis Arkana ~
Sampainya di mansion Denis keluar sambil mengendong Leila. Pak Ed yang menunggu kedatangan Denis segera menyusul Denis untuk membukakan pintu kamar buatnya.
Sebelum masuk ke dalam kamar Denis berbalik menatap Arsen dengan tatapan dingin dan datar.
"Temui aku besok tepat jam 07:00 pagi" titah Denis dengan saura dingin.
"Baik bos"
"Pak Ed perhatikan mama aku dan layani dia jika dia butuh sesuatu" ucap Denis dengan tegas.
"Baik tuan" jawab pak Ed dengan sopan.
Denis lalu masuk ke dalam kamar dan segera menidurkan istrinya di ranjang dengan pelan. Tak lupa ia mengganti pakaian istrinya dengan piyama tidur.
Cup............
Denis mencium bibir dan kening Leila sebelum menyusulnya ke alam mimpi. Karena kecapaian tak butuh lama ia sudah terlelap.
Waktu berlalu dengan cepat dan Leila perlahan-lahan membuka matanya saat matahari mengenai wajahnya. Setelah beberapa saat ia melihat sekeliling dan mengenali tempat itu yang adalah kamar mereka di mansion.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Good morning my husband" ucap Leila sambil mencium bibir suaminya dengan pelan.
Eeughh...........
Denis melenguh saat bibirnya dicium tapi tidak membuka matanya. Melihat hal itu Leila tersenyum dan perlahan-lahan memindahkan tangan suaminya agar bisa ke kamar mandi.
Selesai membersihkan diri Leila memutuskan keluar untuk membuatkan sarapan bagi suaminya karena waktu sudah menunjukkan pukul 06:30lagi.
"Selamat pagi nyonya" sapa pak Ed dengan sopan di lantai satu.
"Pagi juga pak Ed. Pak Ed semalam kami tiba jam berapa?" tanya Leila dengan suara lembut sambil berlalu menuju dapur.
"Jam 02:30 dini hari nyonya" jawab pak Ed.
"Apa mama juga menginap disini pak Ed?" tanya Leila yang mengingat mertuanya.
"Iya nyonya"
Saat akan bertanya dimana sang mama Leila mengurungkan niatnya karena melihat sosok tersebut sedang berada di dapur.
"Selamat pagi ma" ucap Leila dengan suara lembut.
"Pagi juga nak. Kamu sudah bangun sayang?" tanya Amira sambil tersenyum manis.
"Iya ma. Mama lagi ngapain?" tanya Leial.
"Nih lagi buatin sarapan nak" jawab Amira dengan suara lembut.
"Iya bantuin ya ma"
"Ayok sini nak kita bikin sarapan sama-sama"
"Iya ma"
Keduanya lalu membuat sarapan diselingi canda tawa. Pak Ed dan para pelayan yang melihat kedekatan keduanya merasa sangat senang, apa lagi mereka mendapat majikan yang sangat baik dan bertutur lembut.
"Wah akhirnya selesai juga" pekik Leila dengan senang.
"Ayo. bangunkan suamimu nak biar kita sarapan sama-sama" ucap Amira.
"Iya ma"
Leila bergegas menuju ke lantai dua untuk membangunkan suaminya. Tak berapa lama setelah kepergian Leila datanglah Arsen, Sandro, dan juga Arkan.
"Selamat pagi nyonya besar. Mama" ucap ketiganya dengan serentak.
__ADS_1
"Pagi juga nak. Apa kalian sudah sarapan?" tanya Amira dengan suara lembut.
"Aku belum ma" jawab Arkan.
"Aku sudah nyonya besar" jawab Sandro dan Arsen dengan serentak.
"Kalau begitu nak Arkan ayok ikut sarapan. Untuk nak Sandro dan nak Arsen biar tante buatkan kopi ya" ucap Amira.
"Baik nyonya besar" ucap Arsen dana Sandro tak menolak.
Amira lalu menyuruh pelayan membuatkan kopi untuk keduanya, sedangkan dia dan Arkan menunggu Denis dan Leila untuk sarapan bersama.
Tak berapa lama Denis dan Leila datang dan mereka segera sarapan bersama dengan hening. Setelah sarapan Denis segera pamit ke sang istri untuk ke perusahaan karena pekerjaannya sudah menumpuk.
"Siang nanti aku anterin makan siang ya sayang" ucap Leila didepan mansion.
"Aku tunggu sayang" balas Denis dengan suara lembut.
Cup............
Denis mencium bibir Leila sebelum masuk ke dalam mobil. Ia tidak perduli jika dilihat banyak orang berbeda dengan Leila yang merasa sangat malu.
"Kalau begitu mama pamit juga ya nak udah kangen rumah soalnya" pamit Amira.
"Iya ma. Hati-hati ya ma dan jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai"
"Iya nak"
Leila menatap kepergian sang mama hingga mobilnya tidak terlihat lagi. Setelah itu ia mengajak pak Ed untuk membantunya mendekorasi mansion dengan barang yang ia beli waktu bulan madu.
~ DA Corp ~
Denis turun dari mobil setelah Sandro membukakan pintu untuknya. Mata tajamnya menatap sekeliling melihat keadaan perusahaan yang ditinggalkan beberapa minggu.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Beritahu semuanya meeting dimulai 20 menit lagi" titah Denis dengan suara dingin.
"Baik presdir" jawab Rian dengan cepat.
"Arsen bawakan semua laporan proyek saat ini"
"Baik bos" jawab Arsen.
"Sandro beritahu Max untuk membawakan laporan markas saat jam makan siang nanti" titah Denis dengan suara tegas.
"Baik bos" jawab Sandro.
"Arkan kamu pergi ke restoran mamaku dan urus pelayan yang mencuri uang restoran"
"Siap ka serahkan kepadaku"
Denis segera masuk ke dalam lift bersama Arsen, Rian, dan juga Sandro. Sedangkan Arkan ia sudah berlalu pergi melakukan perintah Denis.
Ting.............
Lift berbunyi setelah sampai di lantai 85 ruangan Denis berada. Arsen dan Sandro segera mengikuti Denis masuk ke dalam ruangannya sedangkan Rian menuju ke mejanya sebelum masuk ke dalam nanti.
"Katakan" titah Denis dengan suara dingin setelah duduk di kursi kebesarannya.
"Ada seseorang yang mengirimi aku email selama 1 bukan terakhir bos" ucap Arsen sambil memberikan iPad kepada Denis.
"Langit malam" ucap Denis membaca pesan email tersebut.
"Benar bos. Pesan itu selalu sama setiap hari dan akan masuk tepat jam 10:00 pagi bos" papar Arsen menjelaskan.
"Apa kamu sudah melacak siapa dia?" tanya Denis.
"Sudah bos tapi belum ada titik temu bos" jawab Arsen dengan suara dingin.
"Terus cari tahu dia siapa karena bisa jadi dia adalah musuhku" titah Denis dengan suara dingin.
"Baik bos"
"Bagaimana pembangunan hotel aku di Korea?" tanya Denis sambil membuka berkas didepannya.
"Sudah 80% bos dan bulan depan nanti sudah bisa mulai beroperasi bos" jawab Sandro.
"Kamu pantai terus pembangunannya dan jangan sampai ada kesalahan"
"Baik bos"
Tok............tok.......tok.........
Arsen berlalu membuka pintu saat mendengar ketukan dan ternyata itu adalah Rian yang datang sambil membawa setumpuk berkas yang menggunung.
"Sial!" hardik Denis dengan kesal.
Bagaimana tidak ia harus membaca semua laporan tersebut sebelum menandatanganinya. Belum lagi laporan dari markas yang akan datang siang nanti.
Ini akibatnya aku terlalu lama libur, batin Denis sambil memijit keningnya yang tiba-tiba sakit.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue..............
__ADS_1