Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 144


__ADS_3

Rayen seperti patung yang di tidak dianggap keberadaannya karena ketiga orang disana hanya sibuk dengan dunia mereka sendiri.


Ingin sekali dia memarahi kedua adiknya yang tidak menggubrisnya tapi ia urungkan, karena menurutnya percuma saja.


Bukan tanpa alasan, Rayen tahu kalau kedua adiknya akan melawannya jika dia memarahi mereka menyangkut Denis.


Ting..........


Ka Sandro


"Bocah beritahu bos kalau semuanya sudah siap"


^^^"Oke ka😍"^^^


Arkan terkekeh melihat balasan pesannya kepada Sandro dan ia yakin Sandro pasti sedang mengumpat dan memakinya disana.


"Arkan kamu masih sehatkan?" tanya Rayen dengan cepat.


"Ya iyalah ka. Memangnya kakak pikir aku gila apa!" balas Arkan dengan kesal.


"Ckk!! Kamu berani ya sekarang sama kakak!" sarkas Rayen dengan suara tinggi.


"Selagi aku tidak salah buat apa aku takut ka" balas Arkan dengan santai.


Brugh...........


"KA RAYEN" pekik Arkan dengan suara melengking karena di lempar bantal sofa hingga mengenai kepalanya.


"Cukup! Kalian ini seperti anak kecil saja!" bentak Leila dengan suara tinggi.


Bibir Arkan menggerutu sambil menatap kakaknya Rayen dengan kesal. Ia memilih diam karena tidak ingin mendengar ceramah Leila yang akan membuat kupingnya sakit.


"Bos kata ka Sandro semuanya sudah siap" ucap Arkan.


"Heemmm" deham Denis sambil berdiri memperbaiki jas mahalnya.


Leila ikut berdiri untuk mengantar kepergian kekasih dan adiknya tak lupa Rayen juga. Sampai di depan pintu Denis memeluk Leila dengan erat sebelum pergi.


"Jaga diri kamu dan Arkan disana sayang. Ingat aku selalu menunggumu disini sayang" ucap Leila dengan suara lembut.


"Iya sayang" balas Denis dengan suara lembut.


"Denis tolong jaga adik aku. Aku percayakan dia sama kamu" ucap Rayen dengan suara dingin.


"Heemmm"


Cup.............


Mata Rayen melotot ingin keluar dari tempatnya melihat Denis yang sangat santai mencium adiknya kembali tepat didepannya.


"Aku pergi sayang" bisik Denis setelah mencium bibir kekasihnya.


"Iya sayang" ucap Leila dengan wajah merah padam karena malu.


"Ka Rayen, ka Leila, aku pergi dulu ya" pamit Arkan.


"Hati-hati dek" ucap Leila dan Rayen dengan serentak.


"Pasti ka" ucap Arkan sambil mengangkat jarinya tanda oke.


Keduanya segera pergi dari sana meninggalkan Leila dan Rayen yang menatap mobil mereka hingga tidak kelihatan lagi.


~ Bangkok, Thailand ~


Setelah 3 jam 30 menit di udara akhirnya jet pribadi Denis mendarat di Bandar Udara Suvarnhabumi di Bangkok, Thailand.


Sebelum Denis dan Arkan turun dari jet anak buah Denis sudah berjejer rapi menunggu mereka di bawah dengan pengawalan sangat ketat.


Sebelum keluar dari jet pribadi Denis mengganti pakaiannya dengan pakaian serba hitam tak lupa menggunakan topeng wajahnya agar tidak ada yang mengenalinya disini.


Ia melirik jam tangan mahalnya yang menunjukkan pukul 03:15 dini hari waktu setempat.


"Bos semua sudah aman" ucap Arkan memberitahu.


"Ayo kita berburu" ajak Denis sambil tersenyum menyeringai.


"Siap bos" ucap Arkan dengan antusias.


Denis keluar dari dalam jet dengan langkah tegap dan berwibawa. Semua anak buahnya menunduk melihat kedatangan bos mereka dengan aura mengintimidasi disana.

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Dimana pencuri itu?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Dia sedang mengadakan transaksi dengan salah satu bandar narkoba di sini di markas mereka bos" jawab Jeki yang sudah lebih dulu datang kesini dan memantau musuh mereka.


"Kita ke sana" titah Denis dengan aura membunuh.


"Baik bos"


Denis dan semua anak buahnya segera masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir didepan sana.


Di dalam mobil Denis tersenyum menyeringai menonton musuhnya yang sedang melakukan transaksi lewat iPad.


"Jangan harap kamu akan selamat setelah mencuri barang milikku" gumam Denis dengan suara dingin dan tatapan berkilat tajam.


Glek.............


Arkan dan sopir menelan saliva mereka dengan susah merasakan aura Denis yang terasa sangat mengintimidasi dari kursi belakang.


Keduanya merasa seperti sedang berada di penjara bawah tanah yang gelap dan minim oksigen sehingga mereka bernapas dengan susah.


~ Markas Gajah ~


Denis dan pasukannya mengintai musuh mereka yang sedang melakukan transaksi di markas Gajah salah satu pengedar narkoba terbesar di Thailand.


"Bos ada 200 orang yang berjaga di sini" ucap Jeki lewat earpiece.


^^^"Tim sniper ambil posisi kalian" titah Denis dengan suara dingin lewat earpiece.^^^


"Baik bos" jawab tim sniper serentak.


^^^"Ledakan markas itu di seluruh sudut. Serang mereka setelah meledakan markas mereka! Lumpuhkan tim pengintai mereka terlebih dahulu" ucap Denis dengan suara dingin.^^^


"Baik bos" ucap semuanya dengan serentak.


^^^"Bergerak sekarang"^^^


Wush................


Seperti angin yang berhembus semua anak buah Denis berpencar mengambil posisi di setiap sudut markas geng Gajah.


Dor..........dor...........dor...........


"Tim sniper done" ucap tim sniper setelah berhasil melumpuhkan bagian patroli dan tim sniper mereka.


^^^"Serang" titah Denis dengan suara tegas.^^^


Duar..............duar........duar.......duar........


Bunyi ledakan besar mengagetkan pihak musuh. Mereka sampai kelimpungan berlari mencari senjata untuk melawan musuh yang menyerang, sedangkan yang lain sibuk berlari menyelamatkan diri.


Dor...........dor.........dor........dor........dor........


Bunyi tembakan bersahutan di luar markas dari pihak Denis tak memberikan pihak musuh melarikan diri.


Ia tidak perduli jika harus melenyapkan semua anggota geng Gajah karena saat ini ia hanya ingin menghabisi musuhnya yang sedang melakukan transaksi di dalam sana.


"Berengsek! Kamu mengkhianati aku sialan!" bentak Rio ketua geng Gajah.


"Fu*k! Aku tidak mengkhianati kamu sialan!" balas Lexi Ferguson.


"Kalau bukan kamu siapa sialan! Hanya kamu yang aku ijinkan datang ke markas aku bangsat!" maki Rio dengan suara tinggi.


"Bukan aku yang melakukan penyerangan sialan! Apa kamu pikir aku itu bodoh untuk menyerang markas kamu saat akan melakukan transaksi besar dengan kamu an***g" sarkas Lexi dengan emosi.


"Aarrgghh! Fu*k you" maki Rio sambil berteriak kesetanan.


"Bos sebaiknya kita pergi sebelum musuh sampai ke sini" bisik Medi tangan kanan Lexi.


"Ya kamu benar. Ayok kita pergi" ajak Lexi.


"Iya bos"


Brak...............


Keduanya menghentikan langkah mereka saat pintu didepan sana tiba-tiba di tendang dengan kuat hingga terlepas dari engselnya.


"Wah sepertinya ada pertemuan penting disini" ucap Arkan sambil tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Semua anak buah Rio dan Lexi langsung menodongkan senjata mereka kepada Arkan. Melihat hal itu Arkan dengan santai masuk tidak takut sama sekali berjalan menghampiri mereka.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Siapa kamu? Kenapa kamu menyerang markas rlas aku sialan?" tanya Rio dengan suara tinggi.


"Aku cuma seorang bocah yang kebetulan lewat sini saja dan ingin sedikit bermain denganmu" jawab Arkan sambil tersenyum lebar.


"Omong kosong! Aku tidak bodoh sialan!!" bentak Rio dengan emosi.


"Hehehehe..........kamu sepertinya pintar juga om"


"I'm not your uncle kid!" (aku bukan om kamu bocah) sarkas Rio dengan emosi.


"Cih!! Memangnya yang bilang kamu itu om aku siapa? Aku hanya memanggilmu om karena memang kamu itu sudah tua" decih Arkan dengan kesal.


"Berengsek kamu bocah! Aku akan membunuhmu sialan!" teriak Rio sambil mengambil cambuknya ingin mencambuk Arkan.


Crash..................


Arkan dengan santai menghindar cambukan Rio membuat Rio semakin emosi. Lexi yang melihat keduanya sedang sibuk segera mengambil langkah untuk menyelinap pergi dari sana.


Dor.............


Lexi kaget bukan main melihat peluru yang bersarang tepat didepan kakinya. Tubuhnya seketika mematung tak menyangka akan mendapat tembakan seperti itu dari Arkan.


"Jangan mencoba kabur pak tua. Karena kamulah kami menyerang markas ini" ucap Arkan dengan suara dingin memperingatinya.


"Apa maksudmu bocah? Jika kamu datang kesini untuk menyerang Lexi Ferguson kenapa kamu harus menghancurkan markas aku sialan" bentak Rio dengan suara tinggi.


"Karena kamu bekerja sama dengan pak tua itu om. Apa lagi kamu ingin membeli barang bos aku yang pak tua itu curi" balas Arkan dengan santai.


Deg..............


Jantung Lexi berdetak dengan cepat mendengar ucapan Arkan barusan. Tubuhnya seketika gemetar karena sudah ketahuan aksinya beberapa hari yang lalu.


"Black Damon" ucap Lexi dengan tubuh gemetar.


"Ah! Akhirnya kamu ingat juga apa yang kamu lakukan pak tua! Hehehehe" ucap Arkan sambil terkekeh.


"Jadi senjata itu bukan milikmu sialan!" teriak Rio dengan suara tinggi sambil menatap Lexi dengan tajam.


"Arkan" panggil suara dingin dari arah pintu.


Semuanya bergidik ngeri mendengar suara baritone berat yang terdengar sangat menakutkan.


Tubuh mereka semua yang berada didalam sana mematung melihat sosok tinggi besar yang berdiri di depan pintu dengan aura yang sangat mengintimidasi.


"King Black Damon" lirih Rio yang mengenali topeng wajah Denis.


Mata coklat Denis menatap semua didalam sana dengan tatapan tajam dan dingin seakan ingin menelan mereka hidup-hidup.


Matanya melirik Jeki seakan memberi isyarat kepadanya. Jeki yang paham lirikan mata sang bos dengan santai berjalan menuju ke arah Lexi Ferguson.


Sret.................


Semuanya dibuat kaget melihat kepala Medi yang sudah lepas dari tubuhnya dan menggelinding di lantai.


"Lexi Ferguson" ucap Denis dengan suara dingin dan berat.


"A........mpun! Aku mohon tolong amp......uni aku" pinta Lexi dengan suara terbata-bata.


"Ampun! Hehehehe" balas Denis sambil terkekeh.


"Seharunya kamu pikir konsekuensinya saat ingin mencuri barangku" tambahnya lagi dengan suara dingin.


"A......ku m......ohon ampuni aku! Aku akan mem....berikan berapapun yang kamu mau" ucap Lexi dengan gemetar.


"Hey sialan! Kamu pikir bos kami miskin! Hah" hardik Arkan dengan suara tinggi.


"Tolong jangan bunuh aku. Aku mohon" ucap Lexi sambil menggatup kedua tangannya.


Brugh..........


Denis tersenyum menyeringai menatap Lexi yang berlutut didepannya sambil menggatup kedua tangannya meminta pengampunan.


🌼 🌼 🌼 🌼 🌼


To be continue...........

__ADS_1


__ADS_2