
Leila mengambil hp dan langsung menghubungi suaminya tapi nomornya tidak aktif. Air matanya mengalir dengan deras mengingat sang suami.
Ia lalu menelpon Thomas tapi sampai panggilan ke tiga belum juga di angkat. Tak putus asa Leila kembali menelpon Thomas dan tak lama panggilannya diangkat.
"Halo nyonya" ucap Thomas dari seberang.
^^^"Halo Thomas. Apa suamiku ada disana?" tanya Leila dengan cepat.^^^
"Bos berada di dalam kamar nyonya, mungkin bos sudah tidur nyonya" jawab Thomas dengan cepat.
^^^"Oh iya aku lupa. Disana kan masih malam ya"^^^
"Iya nyonya"
^^^"Nanti kalau suamiku bangun beritahu suamiku untuk menghubungi aku ya Thomas"^^^
"Baik nyonya"
Leila lalu mematikan panggilannya setelah mengetahui kabar sang suami. Meski perasaannya tidak tenang tapi Leila mencoba untuk mengerti.
Phew...................
Leila membuang napas dengan kasar memikirkan sang suami. Entah kenapa ia merasa suaminya saat ini tidak baik-baik saja.
Ia lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Selesai membersihkan diri Leila keluar dari kamar ingin menyuruh pak Tio membuatkannya soto ayam.
"Pak Tio" panggil Leila.
"Iya nyonya" jawab pak Tio dengan sopan.
"Tolong suruh koki buatkan aku soto ayam ya pak Tio dan jangan lupa buatkan sambal mangga juga pak Tio" titah Leila sambil membayangkan makanan tersebut.
"Baik nyonya"
"Oh ya tolong bawakan anggur hijau ke ruang keluarga" pinta Leila segera berlalu pergi tak menunggu balasan Paka Tio.
Pak Tio segera menuju dapur untuk memerintah koki membuatkan makanan yang diminta sang nyonya tak lupa mengambil sekotak anggur hijau.
Waktu pun berlalu dengan sangat cepat dan matahari sudah berganti dengan bukan.
Hahaha................
Rayen yang baru pulang dari Turki dan mengunjungi adiknya di mansion mengerutkan kening saat mendengar tawa sang adik saat baru masuk.
"Bahagia sekali ya bumil" ucap Rayen sambil tersenyum lebar.
"Ckk!! Ganggu aja!" decak Leila dengan kesal.
"Wah wah wah! Bumil satu ini sudah tidak sayang lagi ya sama kakaknya" ucap Rayen dengan wajah dibuat sedih.
"Tidak perlu pasang muka jelek seperti itu. Lagian muka kakak itu udah jelek makin tambah jelek lagi" sarkas Leila dengan sinis.
"Apa" pekik Rayen dengan mata melotot.
"Kenapa? Mau marah?" tanya Leila dengan suara tinggi.
Rayen menutup mata mengontrol emosinya melihat sifat sang adik yang sama persis seperti suaminya. Ia tahu kalau semua itu adalah hormon kehamilan sehingga sifat Leila berubah drastis beberapa bulan terakhir.
"Terserah kamu saja dek" ucap Rayen memilih mengalah tak mau berdebat.
Batu saja Rayen hendak duduk di sofa tapi tiba-tiba Leila menyuruhnya untuk tidak duduk.
"Apa lagi sih dek?" tanya Rayen dengan kesal.
"Kakak tidak boleh duduk disana" jawab Leila dengan suara tegas.
"Loh memangnya kenapa?" tanya Rayen dengan bingung.
__ADS_1
"Muka kakak jelek jadi aku tidak suka melihatnya" jawab Leila dengan santai.
Hah.............
Rayen tercengang dengan mulut terbuka lebar tak bisa berkata apa-apa mendengar alasan sang adik yang tidak masuk akal saja.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Sepertinya kamu harus pake kaca mata atau periksa ke dokter mata dek" ucap Rayen dengan kesal.
"Buat apa?" tanya Leila dengan kening mengerut.
"Masa ganteng kayak gini masa kamu bilang jelek sih dek" jawab Rayen menggerutu.
"Loh memang kenyataannya kakak itu jelek. Jadi tiap aku lihat muka kakak bawaannya itu pengen aku pukul pakei sendal ka" balas Leila dengan santai.
"Kamu memang adik laknat dek" ketus Rayen dengan kesal.
Ia bangun pergi sambil memaki dan mengumpat menuju mobil didepan mansion. Ia memilih pulang tak mau sampai emosi jika berada terlalu di ruang sang adik.
Aku yakin anak dalam kandungan Leila pasti sifatnya seperti papa sialannya itu, batin Rayen dengan kesal.
Sedangkan Leila ia tersenyum lebar melihat kakaknya yang sudah pergi. Saat melihat wajah sang kakak ia selalu ingin memukulnya dengan sendal, karena menurutnya wajahnya sangat jelek.
"Nyonya makanannya sudah siap" ucap pak Tio dengan sopan.
"Heemmm" deham Leila segera beranjak pergi dari sana dengan wajah berseri-seri.
~ Mansion Pablo Ulrico ~
"Daddy" teriak Geby dari lantai dua dengan suara bergema.
Uuhhuuk.........uhhuukk...........
Pablo batuk karena keselak kopi panas barusan. Ia menatap putrinya dilantai dua dengan tajam karena sudah mengagetkannya.
Sedangkan Steven ia terkekeh melihat Pablo yang mengipas bibir dan lidahnya yang melepuh. Melihat hal itu ingin sekali Pablo memukul kepalanya tapi ia biarkan saja, dari pada urusannya semakin panjang.
"Daddy" panggil Geby dengan suara melengking di b belakangnya.
"GEBY ANASTASIA ULRICO! SEKALI LAGI KAMU BERTERIAK SEPERTI DI HUTAN MAKA DADDY TIDAK SEGAN-SEGAN MENGAMBIL PERATALATAN KOMPUTERMU" hardik Pablo dengan suara tegas.
"Apa! Daddy tidak bisa gitu dong" balas Geby dengan suara tinggi.
"Oh siapa bilang daddy tidak bisa. Semua peralatan komputermu itu kan daddy yang beli" ucap Pablo sambil bersedekap tangan di dada.
"Cih!! Apa daddy lupa kalau semua pekerjaan hacker di markas dan perusahaan daddy itu semua karena siapa? Jadi semua peralatan komputer aku tidak ada hubungan dengan daddy,nggap saja itu sebagai bayaranku" balas Geby sambil mengangkat wajahnya dengan tinggi tak takut sama sekali.
"Ya ya ya! Kamu menang" ucap Pablo mengalah karena apa yang dibilang anaknya benar.
Geby tersenyum smirk melihat daddynya yang tidak bisa berkutik lagi. Mengingat tujuannya mencari sang daddy, ia segera duduk di samping Pablo.
"Kenapa kamu mencari daddy?" tanya Pablo dengan suara lembut.
"Daddy harus lihat ini" jawab Geby sambil menaruh laptop didepan Pablo.
Steven yang penasaran apa yang ingin diperlihatkan Geby, segera duduk di samping Pablo. Tak beberapa lama kedua kaget menonton video berdurasi 3 menit dimana itu adalah markas **Black Devil** di Italia.
"Bukannya mereka itu Black Devil ya?" tanya Steven dengan penasaran.
"Ya uncle benar" jawab Geby.
"Ada hubungan apa Black Devil dengan Nine Cloud?" tanya Steven yang semakin penasaran.
"Denis" ucap Pablo dengan singkat.
Matanya sedari tadi memandang Roy Martinez dan antek-anteknya dengan tatapan tajam dan penuh dendam.
__ADS_1
"Maksudmu apa dude? Apa hubungannya dengan Denis?" tanya Steven dengan bingung.
"Denis adalah pemimpin Black Devil" jawab Pablo.
"Apa" pekik Steven dengan kaget.
Ia syok tidak menyangka kalau Denis itu memang seorang mafia, apa lagi mama mafia mereka sudah sangat terkenal di dunia bawah dan atas.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Bahkan nama Black Devil sangat misterius selama ini dan ditakuti oleh semua mafia di dunia ini. Tidak apa yang tahu siapa pemimpin kelompok mafia tersebut yang terkenal dengan sifat kejam dan iblis berdarah dingin.
"Aku tidak menyangka kalau Denis adalah ketua mafia Black Devil" ucap Steven dengan syok.
"Loh aku kira uncle sudah tahu identitas sebenarnya ka Denis" ucap Geby dengan cepat.
"Uncle tidak tahu" balas Steven sambil menggelengkan kepalanya.
"Kapan ini Geby?" tanya Pablo dengan suara dingin.
"Beberapa jam yang lalu daddy" jawab Daddy.
"Apa! Berarti Denis sedang bertarung dengan Nine Cloud" pekik Pablo dengan suara tinggi.
"Aku tidak tahu daddy karena di video itu hanya ada ka Arkan, ka Arsen, dan Sandro saja daddy"
"Hah! Lalu dimana Denis?" tanya Steven dengan cepat.
"I don't know" ucap Geby sambil mengangkat kedua bahunya.
"Geby cari tahu apa yang terjadi disana sekarang" ucap Pablo dengan suara tegas.
"Tidak bisa daddy. Aku sudah mencoba dari tadi tapi tetap tidak berhasil masuk, sepertinya hacker ka Denis susah menghapus semua rekaman disana" ucap Geby sambil menarik napasnya dalam.
"Lalu bagaimana mereka disana ?" tanya Pablo dengan khawatir.
Ia mencoba menghubungi Denis dan lainnya tapi nomor mereka tidak aktif. Saking paniknya ia tidak menyadari kalau disana masih tengah malam berbeda dengan di Indonesia.
~ Roma, Italia ~
Denis sedari bangun tidak mengaktifkan hpnya karena hatinya hancur memikirkan penderitaan yang dialami papanya semasa hidupnya.
Ia saat ia ni sedang duduk di bawah pohon besar
dimana dikelilingi padang rumput yang hijau dengan angin sepoi-sepoi dari laut dibawah sana.
"Papa kenapa tinggalin Denis dan mama?" tanya Denis dengan lirih.
Tes..................
Air matanya menetes mengingat sang papa yang masih jelas di ingatannya saat kecil. Saat itu senyumannya tidak pernah luntur karena di sayang oleh kedua orang tuanya.
Meski pada umur 9 tahun ia harus kehilangan sosok yang sangat ia cintai dan panutannya selama ia hidup.
"Mereka sudah mati pa dan dendam papa sudah terbalaskan. Maafkan Denis yang sudah menjadi anak pembangkang dan tak berbakti selama sama kalian" lirih Denis dengan tatapan sendu menatap ke langit.
"Denis sangat menyayangi papa dan terima kasih sudah menjadi papa yang hebat untuk Denis" tambahnya lagi dengan tangisan semakin deras.
Hiks...........hiks.........hiks.........
Tangisan Denis terdengar sangat pilu beruntung semua anak buahnya tidak berdiri didekatnya. Hanya ada Thomas yang berjarak 3 meter dari belakang Denis.
Air mata Thomas sampai jatuh mendengar tangisan sang bos yang terdengar sangat pilu. Siapa saja yang mendengar tangisannya sudah pasti akan menangis juga.
Tuan besar anda bisa lihat kan dari sana? Bos selama ini sudah sangat menderita dan tidak ada seorang pun yang tahu tentang rasa kehilangan tuan besar selama ini dalam hidupnya. Aku berharap bos segera menemukan kebahagiaannya sendiri, batin Thomas dengan tatapan sendu menatap ke langit.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
__ADS_1
To be continue................