
Denis tersenyum menyeringai memikirkan apa yang akan dia lakukan kepada Martin Massimo setibanya di Indonesia.
Ia akan memberi pelajaran yang tidak akan pernah dilupakan Martin karena sudah memberi racun kepada papanya.
Sepertinya seru kalau aku juga membalasnya seperti yang ia lakukan kepada papa waktu itu, batin Denis dengan tatapan penuh kebencian.
Auranya menguar didalam sana membuat Max dan Arsen berkali-kali menelan saliva dengan susah. Tubuh keduanya seperti dilem tidak bisa di gerakkan saat merasakan aura sang bos.
Aku yakin adik tuan besar tidak akan lolos kali ini, batin Max dengan yakin.
Martin Massimo kamu sendiri yang menggali kuburanmu sendiri, batin Arsen merasa kasihan dengan nasib Martin Massimo.
Denis tersenyum smirk membaca pikiran kedua anak buahnya, ia lalu menutup mata mengontrol emosinya. Arsen dan Max bernapas dengan lega merasa aura sang bos tidak seperti tadi lagi.
"Bos mobil sudah siap" ucap Arsen membaca pesan dari Sandro di depan ****mansion****.
"Heemmm" deham Denis membuka mata dan berlalu keluar.
Sebelum pergi ia melihat istrinya dulu yang sudah terlelap di dalam kamar. Tak lupa memberi perintah ke pak Tio untuk melayani semua keperluan sang istri setelah bangun nanti.
~ Mansion Ulrico ~
Mobil Denis dan pengawalnya berhenti tepat didepan mansion Pablo. Sandro lalu keluar dan membuka pintu untuk Denis, mata Denis melirik ke sekeliling melihat penjagaan ketat di mansion Pablo.
"Suatu kehormatan kamu mengunjungi om Denis" ucap Pablo menyambut Denis didepan mansion.
"Heemmm" deham Denis dengan wajah datar dan dingin.
"Ayok masuk" ajak Pablo.
Saat masuk ke dalam mansion Pablo mata Arsen menatap tajam seorang gadis remaja yang baru saja turun dari lantai dua. Dia adalah Gaby anak Pablo sekaligus hacker di markas *daddynya*.
"Gaby ayok beri salam sama ka Denis" panggil Pablo saat melihat putrinya di tangga.
"Halo ka Denis kenalkan aku Gaby Ulrico" ucap Gaby dengan suara lembut.
"Heemmm" deham Denis dengan acuh tidak menyambut tangan Gaby yang terulur ke depan.
Gaby menjadi kikuk dan segera menarik tangannya merasa malu. Pablo yang melihat hal itu tidak marah sama sekali karena sifat Denis benar-benar mirip seperti mendiang sahabatnya Demian.
"Ayo beri salam kepada yang lain juga sayang" ucap Pablo mencairkan suasana.
"Iya daddy" ucap Gaby.
Gaby lalu memberi salam kepada Sandro dan memperkenalkan dirinya, tapi saat sampai didepan Arsen ia hanya memberi salam saja membuat Sandro menatap sahabatnya dengan bingung.
"Kenapa?" tanya Arsen dengan suara dingin saat ditatap Sandro seperti itu.
"Kamu sudah mengenal bocah itu?" tanya balik Sandro.
"Ah! Benar saya lupa kalau Arsen sudah mengenal Gaby lebih dahulu karena dia adalah hacker saya yang membantu saya mengirim email ke Arsen waktu itu" bukan Arsen yang menjawab tapi Pablo.
"Apa! Jadi dia seorang hacker?" tanya Sandro dengan kaget.
"Benar" jawab Pablo dengan singkat.
Eheemm................
Denis berdeham membuat Sandro langsung diam setelah mendapat tatapan tajam dari Denis untuk tidak bertanya hal yang tidak penting saat ini.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Sebelum Pablo bertanya maksud kedatangan Denis kesini, mereka di interupsi oleh pelayan yang membawakan minuman untuk mereka semua.
"Jadi ada apa kamu sampai menemui om disini?" tanya Pablo to the point.
"Ini" jawab Denis sambil menunjukkan foto yang diberikan Max tadi.
Pablo mengambil foto-foto itu dan meneliti dengan seksama foto itu. Tak berapa lama matanya melotot kaget saat melihat lambang yang sangat ia kenali.
"Dimana kamu mendapat foto ini Denis?" tanya Pablo dengan cepat.
"Jelaskan dulu maksud foto itu" jawab Denis dengan suara dingin dan tegas tak mau dibantah.
Phew............
Pablo menarik napas dengan dalam dan membuangnya perlahan sebelum menjelaskan foto tersebut.
"Kamu lihat lambang di samping foto itu?" tanya Pablo sambil menunjuk lambang di foto tersebut.
"Ya" jawab Denis dengan singkat.
"Lambang itu adalah lambang mafia papa kamu dulu yang bernama Red Blood. Mereka adalah anggota mafia dari kelompok papa kamu yang sangat misterius dan sangat susah di lacak. Meski om adalah teman papa kamu tapi kami memiliki kelompok masing-masing dan om masih ingat jika anggota mafia papa kamu selalu membantu kelompok om saat diserang" papar Pablo menjelaskan.
"Lalu?" tanya Sandro yang tertarik dengan cerita Pablo.
"Mereka waktu itu hilang bagai di telan bumi setelah papa kamu mengundurkan diri menjadi ketua Red Blood dan digantikan oleh orang kepercayaan papa kamu yang bernama Steven, saat mengenal mama aku. Alasan papa kamu mengundurkan diri dari ketua mafia karena ingin menjalani hidup biasa tanpa diganggu musuh bersama mama kamu" jawab Pablo menjelaskan berhenti sejenak.
__ADS_1
"Setelah keluar dari kelompok Red Blood keberadaan mereka hilang tanpa jejak. Meski papa kamu mengundurkan diri dari dunia mafia tapi ternyata musuh-musuhnya tidak melepas papa kamu sedikit pun. Selama ini om juga mencari keberadaan mereka tapi tidak pernah berhasil" tambahnya lagi dengan suara tegas.
"Red Blood" ucap Denis dengan suara dingin.
"Sekarang katakan dimana kamu menemukan foto ini?" tanya Pablo dengan cepat.
"Meksiko" jawab Denis dengan singkat.
"Apa kamu berhubungan dengan mereka?" tanya Pablo lagi.
"Mereka adalah klien kami yang memesan senjata dari klan kami pak tua" jawab Arsen mewakili Denis.
"Ckk!! Jangan memanggil aku pak tua bocah!" bentak Pablo dengan emosi.
"Aku juga bukan bocah. Umurku sudah 29 tahun" balas Arsen dengan santai.
"Kamu" tunjuk Pablo dengan wajah memerah menahan emosinya.
Hehehehe..............
Arsen terkekeh melihat Pablo yang tidak bisa memukulnya karena ada Denis disini. Sedangkan Denis ia tidak perduli sama sekali dengan keduanya karena sedang memikirkan sesuatu yang menganjal pikirannya.
"Jika mereka sudah ada pemimpin baru kenapa mereka harus memberi penghormatan ke foto papa setiap pagi" ucap Denis dengan bingung.
"Benar bos. Aku rasa mereka masih menganggap tuan besar sebagai ketua mereka" tambah Sandro setuju.
"Sepertinya kamu harus bertemu dengan pemimpin mereka Denis. Saat kamu bertemu dengannya kamu akan tahu seperti apa sosok papa kamu yang sebenarnya didunia bawah" ucap Pablo.
"Heemmmm"
Denis lalu pergi begitu saja membuat Pablo menatapnya dengan syok. Ia tidak pernah bisa menebak jalan pikiran Denis sama sepeti sahabatnya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Setelah kepergian Denis bersamaan dengan mobil Gio yang masuk ke dalam mansion.
"Siapa yang datang daddy?" tanya Gio setelah sampai di depan mansion.
"Denis yang baru saja datang son" jawab Pablo.
"Hah! Ka Denis kesini ngapain daddy?" tanya Gio dengan kaget.
"Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan kepada daddy" jawab Pablo.
"Oh"
~ Mansion Denis Arkana ~
"Pantes aja aku lapar ternyata sudah sore" gumam Leila sambil mengelus perutnya.
Ia segera bangun dan membersihkan tubuhnya tak lupa merapikan ranjang. Beruntung salep yang diberikan Bimo tadi pagi khasiatnya sangat bagus sehingga ia tidak merasa sakit lagi.
"Nyonya ingin makan?" tanya pak Tio saat Leila baru keluar dari kamar.
"Iya pak Tio tolong disiapkan" jawab Leila dengan suara lembut.
"Baik nyonya"
"Dimana suamiku?" tanya Leila dengan cepat.
"Tuan sedang ke mansion tuan Ulrico dari siang tadi nyonya" jawab pak Tio.
"Oh"
Leila tak bertanya lagi dan segera menuju ke meja makan untuk makan siang meski sudah terlambat. Setelah makan ia memilih duduk di taman belakang menikmati angin sore dan melihat taman bunga kesukaannya.
"Indahnya" gumam Leila menikmati pemandangan didepannya.
Kring...............
Hp Leila berbunyi ada panggilan masuk dan saat melihat siapa yang menelpon ternyata itu nomor baru. Karena penasaran ia segera menjawab panggilan tersebut.
^^^"Halo" ucap Leila dengan suara lembut.^^^
"Halo apa benar ini dengan nyonya Leila Arkana?" tanya penelpon dari seberang.
^^^"Iya benar dengan saya sendiri. Maaf kalau boleh tahu ini dengan siapa ya?" tanya balik Leila.^^^
"Saya Liliana Rasyid orang yang sudah menumpahkan wine semalam di gaun anda" jawab Liliana dari seberang dengan suara dingin.
^^^"Oh nona Rasyid. Kalau boleh tahu ada keperluan apa ya nona Rasyid?" tanya Leila dengan sopan.^^^
"Saya sangat kecewa dengan sikap anda yang ternyata sangat licik nyonya" jawab Liliana dengan suara tinggi.
^^^"Maaf tapi maksud anda apa ya?" tanya Leila dengan bingung.^^^
"Karena anda saya harus di rawat di rumah sakit selama sebulan. Tangan kanan saya patah, rusuk saya juga patah, Bahkan seluruh tubuh saya lebam. Itu semua karena kakak anda yang kurang ajar itu memukul saya seperti binatang semalam" jawab Liliana dengan emosi.
__ADS_1
^^^"Apa itu tidak mungkin" pekik Leila dengan kaget.^^^
"Kalau anda tidak percaya datang saja ke rumah sakit kota ruangan VIP 3"
Leila menatap hpnya saat panggilan tiba-tiba dimatikan sepihak. Ia syok mendengar ucapan Liliana tentang sang kakak, tapi ia tidak percaya begitu saja dan harus melihatnya langsung.
Tak berkata apa-apa Leila segera menyuruh Lisa menyiapkan mobil untuk pergi ke rumah sakit kota.
~ Markas Black Damon ~
Saat ini Denis tengah meninjau produksi senjata mereka di markas serta mengecek seluruh pesanan klien mereka.
"Bagaimana dengan penjualan di Amerika?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Omset penjualan disana naik sampai 200% bos dan banyak pembeli yang lebih tertarik dengan senjata buatan kita dibandingkan dengan kelompok lain disana bos" jawab Max menjelaskan.
"Beritahu Sean untuk berhati-hati karena bisa saja ada pihak yang cemburu" titah Denis.
"Baik bos"
Denis segera berlalu menuju ruangan pribadinya dilantai dua. Saat baru duduk tiba-tiba Mark dan Arkan datang menemuinya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Ada apa?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Martin Massimo baru saja landing di bandara Soekarno Hatta bos" jawab Mark.
"Suruh mata-mata kita untuk mengikutinya"
"Baik bos"
"Bos biar aku saja yang mematai dia" ucap Arkan dengan penuh harap.
Denis menatap Arkan dengan tatapan dingin yang dibalas tatapan memohon dari Arkan. Sedangkan Mark menggelengkan kepalanya tidak setuju takut Arkan membuat kacau.
"Tidak" jawab Denis dengan suara tegas.
"Ah! Syukurlah" gumam Mark dengan lega.
"Ayolah bos. Aku sangat bosan tidak melakukan misi sudah 2 minggu bos" pinta Arkan dengan memelas.
"Kamu bosan?" tanya Denis sambil tersenyum menyeringai.
"Iya bos" jawab Arkan dengan cepat.
"Bersihkan kandang Sera dan Sena. Kalau sudah selesai bersihkan juga kandang Leon" titah Denis sambil tersenyum smirk.
"Apa bos" pekik Arkan dengan kaget.
"Sana kerjakan dan ingat jangan ada yang membantu kamu" ancam Denis dengan tatapan tajam.
Arkan mengumpat dan memaki dalam hati tak bisa protes kepada Denis. Meski kesal ia tetap pergi melakukan perintah sang bos, sedangkan Mark ia mengulum senyumnya melihat Arkan yang kesal.
Rasain kamu dude. Siapa suruh mau mengeluh didepan bos, ucap Mark sambil terkekeh.
Kring...............
Mata Denis melihat ke hpnya saat berbunyi dan tertera nama Adrian disana.
^^^"Ada apa?" tanya Denis to the ponit.^^^
"Apa kamu ada di rumah sakit kota dude?" tanya balik Adrian dari sebrang.
^^^"Tidak aku di markas" jawab Denis dengan singkat.^^^
"Lah aku pikir kamu di rumah sakit kota soalnya aku melihat istrimu disini dude"
^^^"Apa maksudmu? Buat apa istriku di rumah sakit?" tanya Denis dengan suara tinggi.^^^
"Mana aku tahu sialan! Leila kan istrimu jadi seharusnya kamu lebih tahu" jawab Adrian dengan suara tinggi merasa kesal.
^^^"Kamu ikuti istriku dan cari tahu kenapa dia disana" titah Denis dengan suara dingin.^^^
Denis lalu mematikan panggilan sepihak tidak menunggu balasan Adrian. Ia berlari keluar dengan wajah cemas dan emosi membuat semua anak buahnya bingung.
Didalam mobil Denis terus menelpon sang istri tapi tidak dijawab membuat dia memakai dan mengumpat.
~ Rumah Sakit Kota ~
Saat ini Leila dan Lisa sedang menuju ke ruangan rawat Liliana di lantai 4 ruang VIP 3. Tanpa Leila sedari ternyata hpnya sedang dalam mode silent jadi ia tidak mengetahui jika suaminya ada menelpon.
Adrian yang diberi perintah oleh Denis untuk mengikuti Leila segera menyusul Leila ke lantai 4 setelah melihat lift yang dipakai Leila berhenti di lantai 4.
Tangan Leila terhenti saat sudah membuka pintu setengah setelah mendengar suara gaduh didalam sana.
Plak.............plak.............plak..........
__ADS_1
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue.................