
Arsen memaki dan mengumpat merasa kesal merasa di permainkan oleh seseorang, apa lagi ia saat mencarinya ia tidak mendapat jejak apapun dari pengirim email tersebut.
"Fu*k!" maki Arsen dengan kesal.
Ceklek...............
Seketika pintu ruangannya dibuka oleh seseorang tanpa mengetuknya. Mata tajamnya menatap Arkan dan Mark dengan tajam membuat keduanya bergidik ngeri.
"Apa kamu tidak punya sopan santun bangsat!" bentak Arsen dengan suara tinggi.
"Hehehehe! Sorry ka aku lupa" ucap Arkan sambil terkekeh.
"Ckk!! Sekali lagi kamu masuk tanpa mengetuk pintu maka aku akan memotong tanganmu itu sialan!" hardik Arsen dengan suara tinggi.
"Iya ka aku bakal ingat nanti kalau datang lagi" balas Arkan memilih mengalah tak mau mendapat hukuman dari Arsen.
Arkan lalu masuk bersama Mark ke dalam dan segera duduk di sofa. Arsen menatap Mark dengan tatapan tajam melihat perubahannya yang sangat drastis.
"Cih! Apa bocah sialan itu memaksamu?" tanya Arsen.
"Jangan asal tuduh ya ka" hardik Arkan dengan suara tinggi.
"Kenyataannya bocah! Lagian mana mungkin Mark akan mewarnai rambutnya dengan warna biru aqua sepeti itu" ketus Arsen.
"Ya dia sendiri yang mau warna itu bukan karena dipaksa ya ka" protes Arkan tak mau mengalah.
"Yakin?" tanya Arsen dengan selidik.
"Yang di bilang Arkan benar bos Arsen. Aku yang mau warna ini karena menurut aku ini sangat keren" jawab Mark sambil tersenyum lebar.
"Dengar itu ka Arsen! Jangan asal nuduh aja!" sarkas Arkan dengan sinis.
"Ya ya ya sorry" ucap Arsen dengan sesal.
"Kalau minta maaf segampang itu tidak mungkin banyak orang pergi ke kantor polisi ka" ucap Arkan sambil tersenyum menyeringai.
Phew.............
Arsen membuang napasnya dengan kasar mendengar ucapan Arkan dan ia tahu ada sesuatu yang diinginkan oleh bocah itu saat ini.
"Katakan" titah Arsen dengan suara dingin.
"Hehehehe! Aku sayang banget deh sama ka Arsen" ucap Arkan sambil terkekeh.
"Cih!" decih Arsen dengan sinis.
"Aku pengen kakak traktir kita di resto di jl.xxx yang baru buka itu ka dan aku mau pesan menu termahal mereka yang lagi viral itu ka" ucap Arsen dengan menggebu-gebu.
"Pesan online saja apa yang kamu mau karena aku masih banyak kerjaan bocah"
"Tapi aku maunya makan disana ka" ucap Arkan dengan bibir mengerucut.
"Pesan online atau tidak usah sama sekali" tekan Arsen dengan suara dingin.
"Ckk!!" Arkan berdecak kesal mendengar ucapan Arsen barusan.
Mau tak mau ia memesan makanan online buat mereka dari pada tidak mendapat traktiran dari Arsen.
"Kita pesan juga buat ka Rian ya ka" ucap Arkan mengingat Rian.
"Tidak usah. Rian sedang makan siang dengan Anisa di ruangannya" balas Arsen dengan suara dingin.
"Eh! Ka Anisa asistennya mama Amira ya ka" ucap Arkan dengan kaget.
"Heemmm"
"Wah apa mereka pacaran ka?" tanya Arkan dengan antusias.
Arsen mengangkat bahunya tanda tak tahu menjawab pertanyaan Arkan. Ia tidak perduli dengan ucapan Arkan lagi karena saat ini ia sedang sibuk mencari tahu pengirim pesan rahasia itu.
__ADS_1
"Bangsat!" umpat Arsen dengan kesal.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Arkan menatap Mark bertanya apa yang terjadi dengan Arsen tapi dibalas gelengan kepala oleh Marka tanda ia tak tahu.
"Aku tahu aku tampan jadi tidak perlu menatap aku seperti itu" ucap Arsen dengan suara dingin.
"Ckk! Percaya diri banget situ kalau tampan!" decak Arkan dengan kesal.
"Kalau iri bilang saja bocah" ejek Arsen sambil tersenyum mencemooh.
"Ka Arsen" sarkas Arkan dengan mata melotot tajam merasa kesal.
Hehehehe..............
Arsen terkekeh melihat wajah Arkan yang terlihat sangat kesal dan memerah. Ia yakin Arkan sangat ingin memukul tapi ia tidak berani.
Tak berselang lama pesanan mereka diantar oleh seorang karyawan tim IT yang mengambil pesanan mereka dari office boy yang mengantarnya tadi.
Setelah makan Arkan segera pergi menemui kakaknya di BakerTech sedangkan Mark ia membantu Arsen mencari tahu pengirim pesan tersebut.
~ Roma, Italia ~
Waktu sudah menunjukkan pukul 18:00 setempat dimana matahari perlahan-lahan terbenam dan digantikan dengan bulan, menandakan hari sudah malam.
Seila yang sudah membawa suaminya ke rumah sakit memilih untuk menginap di hotel tempat yang sudah disiapkan sang kakak, dengan pengawalan. ketat apa lagi keadaan suaminya sangat parah.
Sedangkan Simon ia harus di rawat di rumah sakit karena keadaannya sangat parah.
~ Mansion Massimo ~
Kabar tentang Linda Massimo yang sudah sadar dari komanya sudah sampai ke telinga anak-anaknya dan sejak sore mereka semua sudah berada di mansion utama Massimo.
Denis, Amira, dan Leila yang masih berada disana duduk dengan diam di ruang kelaurga tidak perduli dengan tatapan keluarga besar Massimo yang menatap mereka dengan tatapan tidak suka.
Apa lagi Martin dan Laura yang menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian. Mereka berpikir jika Amira dan Denis berada disni pasti ingin mengambil warisan dari daddy mereka.
Denis mengerutkan keningnya membaca pikiran Martin, ia penasaran apa yang direncanakan oleh Martin dan ia yakin saat ini keberadaannya tidak aman lagi.
Thomas
^^^"Suruh Sean kirim anak buahku 200 orang malam ini juga kesini"^^^
"Baik bos"
^^^"Tetap bersiaga dan segera bereskan jika ada hal yang mencurigakan"^^^
"Baik bos"
Denis lalu membuka video yang dikirim oleh Arsen kepadanya tentang apa yang terjadi kepada Sandro beberapa jam yang lalu.
"Kamu dan mama jangan kemana-mana tetap disini ya sayang" bisik Denis dengan suara lembut.
"Memangnya kamu mau kemana sayang?" tanya Leila dengan penasaran.
"Aku ingin menelpon Sandro dan Sean di luar sayang" jawab Denis.
"Cepat kembali ya sayang"
"Heemmm"
Denis segera keluar dari ruang kelaurga menuju depan mansion. Saat melewati Martin keduanya saling bertatapan dengan tatapan penuh kebencian mengeluarkan aura permusuhan.
Siapa gadis itu? Dia benar-benar tipe aku, batin Marcel anak pertama Martin yang menatap Leila dengan tatapan penuh napsu.
Ihh! Orang itu kenapa menatap aku kayak gitu ya, batin Leila merasa jijik melihat tatapan Marcel.
Sedangkan didalam kamar utama Alexandro terus memeluk istrinya yang menangis meraung-raung setelah ia menceritakan semuanya.
__ADS_1
"Aku benci kamu Alexandro" teriak Linda dengan suara tinggi.
"Maafkan aku Linda. Maafkan aku" ucap Alexandro dengan tulus.
"KEMBALIKAN ANAK AKU ALEXANDRO! KEMBALIKAN DEMIAN ANAKKU" teriak Linda dengan histeris.
"DEMIAN.............hiks hiks hiks hiks" ucapnya lagi dengan tangis yang menyayat hati.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Alexandro terus memeluk istrinya tidak perlu punggungnya yang dipukul sang istri. Ia tidak merasa sakit sedikit pun karena saat ini yang lebih sakit adalah hatinya.
Maafkan aku Linda, batin Alexandro dengan perasaan bersalah yang amat dalam.
Didepan mansion Denis segera mengambil hpnya dan menghubungi Sandro untuk menanyakan keadaannya.
"Halo bos" ucap Sandro dari seberang.
^^^"Bagaimana keadaanmu?" tanya Denis to the point.^^^
"Tidak ada cidera serius dan hanya lebam serta luka luar sana bos" jawab Sandro.
^^^"Aku pikir kamu akan menghajar pak tua itu" ucap Denis dengan suara dingin.^^^
"Untuk saat ini tidak bos karena aku tahu disini aku bersalah karena tidak meminta restunya saat menikahi istriku bos, jadi anggap saja itu sebagai permintaan maaf aku. Tapi untuk kedepannya aku tidak akan diam lagi jika dia mengusik rumah tangga aku bos" papar Sandro menjelaskan maksudnya kenapa ia tidak memukul Roy tadi.
^^^"Terserah kamu saja"^^^
"Iya bos dan maaf bos karena aku tidak bisa berada di samping bos"
^^^"Jangan pikirkan itu. Lebih baik pikiran saja keadaan kamu saat ini"^^^
"Baik bos"
^^^"Besok pagi kalian pulanglah lebih dulu ke Indonesia" titah Denis dengan suara tegas.^^^
"Lalu bagaimana dengan bos? Apa bos masih lama disini?" tanya Sandro dengan cepat.
^^^"Aku harus menemani nenek aku beberapa saat dulu sebelum pulang karena aku tidak tahu harus kesini kapan lagi" jawab Denis.^^^
"Baiklah bos. Aku mohon bos, nyonya, dan nyonya besar jaga diri selama dirimu"
^^^"Heemmm"^^^
Denis lalu mematikan panggilannya sepihak karena tak ada lagi yang ingin ia bicarakan. Ia lalu menelpon Sean untuk menanyakan apa sudah mengirim anak buahnya atau belum.
Selesai menelpon Denis segera masuk ke dalam mansion karena tidak ingin keluarga sialan itu berbuat macam-macam kepada mama dan istrinya.
Sampai didalam sana rahangnya mengeras dengan tatapan berkilat tajam melihat Marcel anak Martin yang menatap istrinya dengan tatapan penuh napsu.
Grep..................bugh...............
Denis menarik rambut Marcel dan langsung memukulnya tepat di rahang dengan kuat. Semuanya disana seketika kaget melihat apa yang barusan dilakukan oleh Denis.
"Marcel" pekik keluarganya Massimo dengan kaget.
"Apa yang kamu lakukan anak sialan!" bentak Martin dengan suara tinggi.
"Jadi dia anakmu pak tua?" tanya Denis dengan tatapan membunuh.
"Beraninya kamu memukul anakku sialan! Dasar anak miskin tidak tahu diri apa ini didikan ibu miskinmu itu! Hah!" hardik Martin dengan suara menggelar menghina Denis.
Plak............plak.............
Denis kembali menampar Martin di kedua pipinya membuat semuanya syok tak menyangka Denis akan melakukan hal itu.
Leila dan Amira sampai menutup mulut melihat kekejaman anak dan suami mereka saat ini. Keduanya tahu jika saat ini emosi Denis sudah tidak bisa dikontrol.
"BERANINYA MULUT KOTORMU ITU MENGHINA MAMA AKU BANGSAT!" maki Denis dengan suara tinggi.
__ADS_1
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue..............